Daftar isi
Uang yang Tersenyum
Suatu hari, saya menghadiri sebuah pesta. Seorang wanita yang baru saya temui tiba-tiba meminta sesuatu yang aneh: "Bolehkah saya melihat dompet Anda?"
Sedikit ragu, saya menyerahkannya. Dia membuka dompet saya dan mulai memeriksa uang kertas satu per satu.
"Yang ini bagus," katanya sambil tersenyum. "Yang ini juga bagus. Dan yang ini... sempurna!"
Dia mengembalikan dompet saya dengan ucapan selamat. "Uang Anda semua bahagia. Semuanya tersenyum."
Saya bingung. Sebagai penulis yang telah menulis lebih dari 100 buku tentang uang, saya pikir saya sudah tahu segalanya. Tapi ini? Uang bisa tersenyum?
Wanita misterius itu menjelaskan: uang membawa energi dari cara ia diberikan dan diterima. Uang yang diberikan dengan amarah atau rasa bersalah adalah uang yang tidak bahagia. Uang yang diberikan dengan sukacita dan cinta adalah uang yang bahagia.
Momen itulah yang mengubah cara saya memandang uang selamanya.
Selama 25 tahun, saya telah mewawancarai lebih dari 12.000 orang kaya di Jepang. Saya telah mempelajari rahasia kekayaan mereka, strategi investasi mereka, kebiasaan mereka.
Tapi yang paling mengejutkan dari semua penelitian saya ini: Orang yang paling kaya bukan selalu yang paling bahagia. Dan orang yang paling bahagia tidak selalu yang paling kaya.
Perbedaan sebenarnya bukan pada jumlah uang yang mereka miliki. Perbedaannya adalah pada hubungan mereka dengan uang.
Selamat datang di dunia Happy Money—di mana kita belajar bahwa bukan berapa banyak uang yang Anda miliki yang penting, tetapi bagaimana perasaan Anda tentang uang itu.
Bagian 1: Apa Arti Uang Bagi Anda?
Misteri Uang
Coba tanyakan 100 orang, "Apa arti uang bagi Anda?" Anda akan mendapat 100 jawaban berbeda.
Bagi sebagian orang, uang adalah keamanan. Dompet tebal berarti tidur nyenyak di malam hari.
Bagi yang lain, uang adalah kekuasaan. Kemampuan untuk mengendalikan, mempengaruhi, mendominasi.
Ada yang melihat uang sebagai kebebasan—tiket untuk hidup sesuai keinginan, tanpa aturan orang lain.
Beberapa orang percaya uang adalah cinta—cara untuk menunjukkan perhatian, untuk membahagiakan orang yang dicintai.
Tapi ada juga yang melihat uang sebagai iblis—sumber dari semua masalah, penyebab perselisihan, penghancur hubungan.
Semua pandangan ini benar. Dan semua salah.
Karena uang itu sendiri netral. Uang adalah apa yang kita proyeksikan padanya.
Seperti cermin, uang memantulkan kembali kepercayaan, ketakutan, harapan, dan trauma kita.
Permainan Uang
Izinkan saya mengajukan pertanyaan yang berbeda: Bagaimana jika uang adalah permainan?
Dalam permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Tapi orang bijak tahu bahwa cara Anda bermain lebih penting daripada menang atau kalah.
Anda bisa menang dengan curang dan merasa hampa. Atau Anda bisa kalah dengan bermain jujur dan merasa bangga.
Dalam permainan uang, kemenangan sejati bukanlah tentang mengumpulkan angka terbesar di rekening bank. Kemenangan sejati adalah ketika Anda bisa tidur nyenyak, bangun dengan damai, dan menjalani hari tanpa kecemasan tentang uang.
Ini bukan tentang berapa banyak yang Anda miliki. Ini tentang bagaimana perasaan Anda tentang apa yang Anda miliki.
Bagian 2: Happy Money vs Unhappy Money
Energi dalam Setiap Rupiah
Bayangkan uang sebagai air. Air bisa bersih dan menyegarkan, atau bisa keruh dan beracun. Sama seperti air, uang membawa energi—dan energi itu ditentukan oleh emosi yang menyertainya.
Happy Money adalah uang yang mengalir dengan perasaan:
- Syukur ketika Anda menerimanya
- Sukacita ketika Anda memberikannya
- Penghargaan ketika Anda membelanjakan nya
- Kepuasan ketika Anda menabungnya
Unhappy Money adalah uang yang terikat dengan:
- Kecemasan saat Anda mengejarnya
- Amarah ketika Anda membayarnya
- Rasa bersalah ketika Anda menerimanya
- Ketakutan akan kehilangan nya
Mari saya berikan contoh konkret:
Anda pergi ke restoran yang luar biasa. Makanan enak, layanan sempurna, suasana indah. Anda membayar dengan hati penuh syukur—"Terima kasih atas pengalaman yang indah ini." Itu Happy Money.
Sekarang bayangkan Anda makan di tempat yang sama, tapi layanannya buruk, makanannya dingin. Anda membayar sambil kesal—"Ini pemborosan uang!" Itu Unhappy Money.
Jumlah uangnya sama. Tapi energinya sangat berbeda.
Siklus yang Menguatkan Diri
Inilah yang paling mengagumkan tentang Happy Money dan Unhappy Money: keduanya menciptakan siklus yang menguatkan diri.
Ketika Anda mengirim Happy Money ke dunia, energi positif itu kembali kepada Anda. Orang yang menerima uang Anda dengan syukur akan lebih cenderung melayani Anda dengan lebih baik, merekomendasikan Anda ke orang lain, kembali berbisnis dengan Anda.
Ketika Anda mengirim Unhappy Money, hal sebaliknya terjadi. Energi negatif menciptakan lebih banyak negativitas. Orang merasa diperlakukan tidak adil, mereka memberikan layanan yang buruk, mereka menghindari transaksi dengan Anda di masa depan.
Anda tidak bisa mengontrol berapa banyak uang yang datang kepada Anda. Tapi Anda bisa mengontrol energi apa yang Anda kirim dengan uang itu.
Dan dalam jangka panjang, energi itu yang menentukan apakah lebih banyak uang—atau lebih banyak masalah—yang datang dalam hidup Anda.
Bagian 3: Money IQ vs Money EQ
Kecerdasan yang Berbeda
Di sekolah, kita diajarkan Money IQ—matematika keuangan. Cara menghitung bunga. Cara membuat anggaran. Cara berinvestasi.
Semua itu penting. Tapi tidak cukup.
Karena masalah keuangan sejati jarang tentang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Masalah sebenarnya adalah kita tidak melakukan apa yang kita tahu harus kita lakukan.
Mengapa?
Karena kita tidak punya Money EQ—kecerdasan emosional tentang uang.
Money IQ adalah tentang angka. Money EQ adalah tentang perasaan.
Money IQ bertanya: "Berapa tingkat pengembalian investasi ini?"
Money EQ bertanya: "Mengapa saya selalu merasa cemas tentang uang bahkan ketika saya punya cukup?"
Lima Emosi Beracun
Dalam penelitian saya, saya menemukan lima emosi negatif yang menghalangi kemakmuran finansial:
1. Kecemasan (Anxiety) Kekhawatiran konstan tentang masa depan. "Bagaimana jika uang habis?" "Bagaimana jika saya kehilangan pekerjaan?" "Bagaimana jika..."
Kecemasan membuat Anda terjebak dalam mode survival—tidak pernah bisa benar-benar menikmati apa yang Anda miliki karena terlalu sibuk khawatir tentang apa yang mungkin terjadi.
2. Ketakutan (Fear) Ketakutan menciptakan kontraksi. Anda memegang erat uang Anda, takut untuk membelanjakannya, takut untuk menginvestasikannya, bahkan takut untuk menikmatinya.
Ironisnya, ketakutan tentang kehilangan uang sering menciptakan kondisi yang membuat Anda benar-benar kehilangannya—karena Anda membuat keputusan dari tempat panik, bukan kebijaksanaan.
3. Keraguan (Doubt) "Apakah saya layak mendapatkan uang sebanyak ini?" "Apakah saya benar-benar bisa sukses?" "Apakah ini akan berhasil?"
Keraguan diri adalah sabotase paling halus. Anda mungkin punya peluang di depan mata, tapi keraguan membuat Anda tidak mengambilnya.
4. Rasa Bersalah (Guilt) "Saya tidak seharusnya membeli ini." "Saya membuang-buang uang." "Saya egois karena menginginkan lebih."
Rasa bersalah mengubah setiap pembelanjaan menjadi beban, setiap keinginan menjadi dosa.
5. Pengabaian (Neglect) Tidak mau melihat laporan bank. Tidak membuat anggaran. Tidak merencanakan masa depan.
Pengabaian adalah cara halus untuk mengatakan, "Saya tidak peduli tentang diri saya sendiri."
Meningkatkan Money EQ
Kabar baiknya: Money EQ bisa ditingkatkan. Berikut caranya:
Kenali pola emosi Anda. Kapan Anda merasa cemas tentang uang? Apa yang memicu ketakutan? Sadari tanpa menghakimi.
Lacak cerita masa kecil. Apa yang orang tua Anda katakan tentang uang? Apa pengalaman finansial pertama yang Anda ingat?
Praktikkan rasa syukur. Setiap kali uang datang atau pergi, katakan "terima kasih." Bahkan ketika membayar tagihan—"Terima kasih karena saya punya listrik, air, internet."
Ubah bahasa Anda. Jangan katakan "Saya tidak mampu." Katakan "Saya memilih untuk tidak mengalokasikan uang saya untuk ini sekarang."
Rayakan kemenangan kecil. Membayar hutang? Rayakan. Menabung 100 ribu? Rayakan. Setiap langkah positif layak diakui.
Bagian 4: Trauma Uang dari Masa Kecil
Luka yang Tidak Terlihat
Hubungan kita dengan uang dibentuk jauh sebelum kita mendapat gaji pertama. Itu dimulai di masa kecil—dari cara orang tua kita berbicara tentang uang, dari apa yang kita lihat dan rasakan.
Izinkan saya berbagi beberapa cerita dari orang-orang yang saya wawancarai:
Kisah 1: "Uang Selalu Kurang" Seorang wanita bercerita bahwa setiap kali dia meminta sesuatu, ibunya selalu berkata, "Kita tidak punya cukup uang." Bahkan untuk hal kecil seperti es krim.
Sekarang dia sudah dewasa dan menghasilkan uang sangat baik. Tapi dia tidak bisa menikmati uangnya. Setiap pembelanjaan dipenuhi kecemasan. Rekeningnya penuh, tapi hatinya merasa kosong.
Kisah 2: "Uang Membuat Orang Berubah" Seorang pria melihat ayahnya berubah ketika bisnis keluarga sukses. Ayahnya menjadi arogan, menjauh dari teman lama, sibuk dengan pekerjaan.
Sekarang ketika dia sendiri mulai sukses, dia secara tidak sadar menyabotase kesuksesannya. Ketakutan bawah sadarnya: "Jika saya kaya, saya akan menjadi seperti ayah saya."
Kisah 3: "Uang Harus Diraih dengan Penderitaan" Seorang wanita tumbuh melihat ayahnya bekerja keras di pabrik, pulang dengan tubuh lelah dan sakit. Pesannya jelas: uang datang dari penderitaan.
Sekarang dia tidak bisa menerima uang yang datang dengan mudah. Ketika ada peluang yang menguntungkan tapi tidak "terasa seperti kerja keras," dia menolaknya.
Menyembuhkan Luka Finansial
Langkah pertama penyembuhan adalah awareness—menyadari bahwa Anda membawa luka itu.
Lalu, tanyakan pada diri sendiri:
- Apa kepercayaan tentang uang yang saya warisi dari orang tua?
- Mana yang masih melayani saya? Mana yang menghalangi saya?
- Cerita baru apa yang ingin saya tulis tentang uang?
Ingat: Anda tidak harus setuju dengan narasi yang diwarisi. Anda bisa menulis cerita baru.
Bagian 5: Tipe-Tipe Kepribadian Uang
Siapa Anda dalam Permainan Uang?
Dalam penelitian saya, saya menemukan beberapa kepribadian uang yang berbeda. Kenali diri Anda:
The Spender (Pembelanja) Anda suka menghabiskan uang. Belanja membuat Anda bahagia. Masalahnya: Anda sering menghabiskan lebih dari yang Anda miliki.
Pelajaran: Belanja boleh, tapi dengan kesadaran. Tanyakan: "Apakah ini membawa kebahagiaan jangka panjang atau hanya kepuasan sesaat?"
The Saver (Penabung) Anda merasa aman dengan banyak uang di bank. Tapi Anda jarang menikmatinya. Hidup Anda penuh perhitungan.
Pelajaran: Uang adalah alat, bukan tujuan. Apa gunanya uang jika tidak pernah meningkatkan kualitas hidup Anda?
The Worrier (Pencemas) Tidak peduli berapa banyak yang Anda miliki, Anda selalu khawatir itu tidak cukup. Anda tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan uang.
Pelajaran: Kecemasan bukan strategi keuangan. Buatlah rencana konkret, lalu percayai prosesnya.
The Avoider (Penghindari) Anda tidak mau memikirkan uang sama sekali. Tagihan? Nanti saja. Rekening bank? Jangan dilihat. Anggaran? Tidak punya.
Pelajaran: Mengabaikan tidak membuat masalah hilang. Mengabaikan hanya membuat masalah tumbuh lebih besar di kegelapan.
The Money Monk (Biksu Uang) Anda percaya uang itu jahat. Orang kaya itu serakah. Kemiskinan itu mulia.
Pelajaran: Uang netral. Yang buruk adalah keserakahan, bukan uangnya. Kemiskinan tidak membuat Anda lebih spiritual.
The Giver (Pemberi) Anda suka memberi, tapi sering dengan mengorbankan kebutuhan sendiri. Anda merasa bersalah menyimpan uang untuk diri sendiri.
Pelajaran: Anda tidak bisa memberi dari gelas kosong. Isi gelas Anda dulu, baru beri dari overflow.
Kebanyakan kita adalah kombinasi dari beberapa tipe. Yang penting adalah mengenali pola Anda dan memahami dari mana itu berasal.
Bagian 6: Aliran Uang—Flow dan Stock
Uang Seperti Air
Orang Jepang punya filosofi tentang uang yang indah: uang itu seperti air.
Air harus mengalir. Jika Anda bendung air, ia akan menjadi keruh, stagnan, berbau. Tapi jika Anda biarkan mengalir—masuk dan keluar—ia tetap segar, bersih, hidup.
Sama dengan uang.
Ada dua aspek uang yang perlu dipahami:
Flow (Aliran): Uang yang masuk dan keluar. Gaji Anda, pengeluaran Anda, sirkulasi sehari-hari.
Stock (Cadangan): Uang yang Anda simpan. Tabungan, investasi, aset.
Orang yang hidupnya paling damai adalah mereka yang punya flow yang sehat dan stock yang cukup.
Flow yang Sehat
Flow yang sehat berarti:
Menerima dengan rasa syukur. Ketika uang masuk—baik dari gaji, hadiah, atau sumber lain—ucapkan terima kasih. Rasakan kebahagiaan menerimanya.
Memberi dengan sukacita. Ketika uang keluar—baik untuk tagihan, belanja, atau memberi—lakukan dengan hati terbuka. Jangan dengan kesal atau terpaksa.
Tidak menahan terlalu erat. Jangan takut membelanjakan uang untuk hal yang benar-benar penting bagi Anda. Uang yang tidak pernah digunakan adalah uang yang mati.
Tidak menghamburkan tanpa kesadaran. Setiap pengeluaran adalah voting—Anda memilih untuk mendukung bisnis tertentu, nilai tertentu, gaya hidup tertentu. Pilih dengan bijak.
Stock yang Cukup
Stock yang cukup adalah jumlah uang yang membuat Anda merasa aman dan bebas.
Untuk setiap orang, angkanya berbeda. Bagi sebagian orang, itu adalah dana darurat 6 bulan. Bagi yang lain, itu adalah bisa pensiun dini.
Yang penting bukan angkanya, tapi perasaan yang diciptakannya.
Jika Anda punya 1 miliar tapi tetap cemas, stock Anda belum "cukup" secara emosional. Jika Anda punya 100 juta dan merasa damai, itu "cukup."
Kunci nya bukan mendapatkan lebih banyak. Kuncinya adalah mencapai titik di mana Anda merasa "ini sudah baik."
Bagian 7: Rasa Syukur—Jantung Happy Money
Arigatou—Terima Kasih
Dalam bahasa Jepang, "terima kasih" adalah "arigatou." Kata ini berasal dari "arigatai," yang berarti "sulit terjadi" atau "langka."
Ketika Anda mengatakan "arigatou," Anda tidak hanya berkata "terima kasih." Anda berkata, "Saya menyadari betapa langka dan berharganya ini."
Inilah inti dari Happy Money: rasa syukur.
Eksperimen 30 Hari
Saya mengajak Anda melakukan eksperimen sederhana selama 30 hari:
Setiap kali uang masuk, katakan "Arigatou" atau "Terima kasih." Bahkan jika itu hanya kembalian dari kasir.
Setiap kali uang keluar, katakan "Arigatou" atau "Terima kasih." Bahkan ketika membayar tagihan listrik.
Apa yang akan terjadi?
Setelah beberapa hari, Anda akan mulai merasakan pergeseran. Uang yang dulu terasa seperti beban atau sumber stress akan mulai terasa seperti...teman.
Setelah beberapa minggu, Anda akan menemukan bahwa cara orang berinteraksi dengan Anda tentang uang berubah. Kasir lebih ramah. Pelayan lebih perhatian. Kesepakatan bisnis lebih lancar.
Mengapa? Karena energi yang Anda kirim ke dunia berubah. Dan dunia meresponnya.
Rasa Syukur Bukan Penyangkalan
Penting untuk memahami: rasa syukur bukan berarti berpura-pura semuanya sempurna.
Jika Anda berjuang secara finansial, bersyukur tidak berarti berkata, "Saya senang saya miskin."
Rasa syukur berarti menemukan hal-hal untuk disyukuri bahkan di tengah kesulitan.
"Saya bersyukur punya atap di atas kepala." "Saya bersyukur punya kesehatan untuk bekerja." "Saya bersyukur punya keluarga yang mendukung."
Rasa syukur membuka mata Anda untuk melihat kelimpahan yang sudah ada, bahkan ketika Anda mengerjakan mendapatkan lebih banyak.
Bagian 8: Seni Memberi dan Menerima
Dua Sisi Koin
Banyak orang berfokus pada satu sisi: menerima. Bagaimana mendapatkan lebih banyak uang?
Tapi Happy Money memahami bahwa memberi dan menerima adalah dua sisi dari koin yang sama.
Anda tidak bisa terus menerima tanpa pernah memberi. Seperti bernapas—Anda tidak bisa terus menghirup tanpa menghembuskan.
Dan Anda tidak bisa terus memberi tanpa menerima. Gelas kosong tidak punya apa-apa untuk dituangkan.
Memberi dengan Benar
Memberi yang sejati adalah memberi tanpa mengharapkan balasan.
Tapi banyak dari kita "memberi" dengan agenda tersembunyi:
- Agar orang menyukai kita
- Agar terlihat murah hati
- Agar orang merasa berhutang budi
Itu bukan memberi. Itu manipulasi.
Memberi yang sejati adalah seperti matahari yang bersinar—ia bersinar karena itulah nature-nya, bukan karena mengharapkan bunga tumbuh.
Menerima dengan Benar
Anehnya, menerima sering lebih sulit daripada memberi.
Ketika seseorang ingin mentraktir Anda makan, Anda berkata, "Tidak usah, saya bisa bayar sendiri."
Ketika seseorang memuji Anda, Anda menyangkal, "Ah, itu bukan apa-apa."
Ketika seseorang memberi Anda hadiah, Anda merasa bersalah dan segera berpikir, "Saya harus membalasnya."
Ketika Anda menolak menerima, Anda merampas kebahagiaan orang yang ingin memberi.
Menerima dengan benar berarti:
- Katakan "terima kasih" dengan tulus
- Nikmati apa yang diberikan
- Jangan segera merasa "berhutang"
- Percaya bahwa Anda layak menerimanya
Bagian 9: Mitos Kelangkaan vs Realitas Kelimpahan
Kebohongan Terbesar
Salah satu kebohongan terbesar yang kita percayai tentang uang adalah: Uang itu terbatas.
"Jika orang lain kaya, berarti lebih sedikit untuk saya." "Jika saya memberi, saya akan kekurangan." "Ada yang menang, ada yang kalah."
Ini adalah mindset kelangkaan (scarcity). Dan itu adalah penjara mental.
Kebenaran Kelimpahan
Realitanya: uang—seperti cinta, kebahagiaan, peluang—tidak terbatas.
Bayangkan Anda menyalakan lilin dengan lilin Anda. Apakah lilin Anda menjadi redup? Tidak. Sekarang ada dua lilin yang menyala.
Ketika Anda membantu orang lain sukses, Anda tidak kehilangan kesuksesan. Anda menciptakan lebih banyak kesuksesan di dunia—dan itu sering kembali kepada Anda dalam cara yang tidak terduga.
Mindset kelimpahan (abundance) percaya: Ada cukup untuk semua orang.
Tidak berarti Anda harus memberi semua uang Anda. Ini bukan tentang naif atau bodoh secara finansial.
Ini tentang menjalani hidup dari tempat kelimpahan, bukan ketakutan.
Penutup: Lima Langkah Happy Money
Praktek Sehari-Hari
Setelah membaca ini, mungkin Anda bertanya: "Apa yang harus saya lakukan sekarang?" Berikut lima langkah praktis untuk mengundang Happy Money dalam hidup Anda:
Langkah 1: Ucapkan Terima Kasih Setiap kali uang masuk atau keluar, katakan "terima kasih." Latihan sederhana ini akan mengubah energi Anda tentang uang.
Langkah 2: Lihat Uang Sebagai Tamu Perlakukan uang seperti tamu yang datang berkunjung. Sambut dengan hangat ketika datang. Lepaskan dengan damai ketika pergi. Jangan pegang terlalu erat atau dorong pergi dengan kasar.
Langkah 3: Bersihkan Trauma Masa Lalu Identifikasi kepercayaan tentang uang yang Anda warisi. Mana yang membantu? Mana yang merugikan? Lepaskan yang merugikan dengan rasa kasih.
Langkah 4: Tingkatkan Money EQ Anda Perhatikan emosi Anda tentang uang. Sadari pola. Perlahan ubah dari kecemasan menjadi kepercayaan, dari ketakutan menjadi kedamaian.
Langkah 5: Beri dan Terima dengan Sukacita Praktikkan memberi tanpa mengharapkan balasan. Praktikkan menerima tanpa rasa bersalah. Kedua nya sama pentingnya.
Perjalanan, Bukan Tujuan
Happy Money bukan tentang menjadi jutawan dalam semalam. Ini bukan formula cepat kaya.
Happy Money adalah tentang mengubah hubungan Anda dengan uang—dari ketakutan menjadi cinta, dari kekurangan menjadi kelimpahan, dari stress menjadi damai.
Dan perubahan ini tidak terjadi dalam satu hari. Ini adalah perjalanan seumur hidup.
Tapi saya janjikan ini: Ketika hubungan Anda dengan uang berubah, hidup Anda akan berubah.
Anda akan menemukan bahwa:
- Uang mengalir lebih mudah
- Peluang datang lebih sering
- Hubungan menjadi lebih baik
- Stress berkurang
- Kebahagiaan meningkat
Bukan karena Anda tiba-tiba jadi kaya. Tetapi karena Anda akhirnya berdamai dengan uang.
Tentang Buku Asli
Happy Money: The Japanese Art of Making Peace with Your Money ditulis oleh Ken Honda dan diterbitkan pada 2019.
Ken Honda adalah penulis bestseller di Jepang dengan lebih dari 7 juta buku terjual. Dia adalah orang Jepang pertama yang terpilih masuk Transformational Leadership Council.
Selama lebih dari 25 tahun, Ken telah mempelajari hubungan manusia dengan uang—mewawancarai lebih dari 12.000 orang kaya di Jepang untuk memahami apa yang membuat beberapa dari mereka bahagia sementara yang lain menderita meskipun kaya.
Buku ini menggabungkan filosofi Zen Jepang dengan psikologi modern dan kebijaksanaan keuangan praktis. Hasilnya adalah pendekatan unik yang tidak hanya mengajarkan cara mengelola uang, tetapi cara menyembuhkan hubungan emosional kita dengan nya.
Happy Money menjadi bestseller internasional dan diterjemahkan ke banyak bahasa. Buku ini dipuji oleh Jack Canfield, Marci Shimoff, dan banyak pemimpin self-development lainnya.
Untuk pengalaman penuh dari kebijaksanaan Ken Honda, sangat disarankan membaca buku aslinya.