How to Keep an Open Mind
oleh Sextus Empiricus · Desember 2025 · 13 menit baca
Filsuf yang Menemukan Kedamaian dalam Keraguan
Daftar isi
Filsuf yang Menemukan Kedamaian dalam Keraguan
Athena, abad ke-2 Masehi.
Sextus Empiricus—seorang dokter dan filsuf—berjalan melewati agora yang ramai. Di sekitarnya, orang-orang berdebat dengan penuh semangat.
Kaum Stoik berteriak: "Hanya kebajikan yang baik! Segala yang lain tidak penting!"
Kaum Epicurean membalas: "Tidak! Kesenangan adalah satu-satunya kebaikan sejati!"
Kaum Platonis menggeleng: "Kalian semua salah. Hanya Ide yang sempurna yang real. Dunia material adalah ilusi!"
Semua yakin mereka benar. Semua siap mati untuk keyakinan mereka. Dan semua menderita karena keyakinan itu—cemas bahwa mereka mungkin salah, frustrasi bahwa orang lain tidak setuju, marah pada ketidaksempurnaan dunia yang tidak sesuai dengan teori mereka.
Sextus mengamati ini semua dengan tenang. Dia tidak bergabung dalam debat. Dia tidak memilih sisi.
Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena dia menemukan sesuatu yang radikal—sesuatu yang berlawanan dengan semua yang diajarkan filsafat kuno:
Kedamaian pikiran tidak datang dari menemukan kebenaran. Kedamaian datang dari berhenti mencari kepastian absolut.
Ini adalah paradoks yang indah: ketika Anda berhenti bersikeras bahwa Anda tahu, Anda akhirnya menemukan ketenangan.
Sextus menyebutnya skeptisisme—bukan dalam arti modern "tidak percaya apa-apa," tapi dalam arti filosofis: seni menangguhkan penilaian.
Dan hampir 2.000 tahun kemudian, di era di mana semua orang yakin mereka benar tentang segalanya—politik, agama, diet, cara hidup—ajaran Sextus tidak pernah lebih relevan.
Mari kita pelajari bagaimana menjaga pikiran tetap terbuka di dunia yang mendorong kita untuk menutupnya.
Bagian 1: Masalah dengan Kepastian
Dogmatisme: Penyakit yang Tak Terlihat
Sextus memulai dengan diagnosis: kebanyakan penderitaan mental datang dari dogmatisme—keyakinan bahwa kita tahu kebenaran absolut.
Apa itu dogmatisme?
Bukan sekadar memiliki opini. Semua orang punya opini. Dogmatisme adalah ketika Anda percaya bahwa opini Anda adalah Kebenaran dengan K besar—dan semua yang tidak setuju adalah bodoh, jahat, atau tersesat.
Contoh dogmatisme:
- "Cara saya membesarkan anak adalah SATU-SATUNYA cara yang benar."
- "Jika Anda tidak setuju dengan pandangan politik saya, Anda adalah musuh."
- "Diet saya adalah yang terbaik. Semua diet lain berbahaya."
- "Agama/filosofi saya punya semua jawaban. Yang lain sesat."
Mengapa dogmatisme membuat kita menderita?
Pertama, dogmatisme membuat kita rapuh. Ketika dunia tidak sesuai keyakinan kita—dan dunia tidak pernah sepenuhnya sesuai—kita frustrasi, marah, atau putus asa.
Kedua, dogmatisme menciptakan konflik. Ketika semua orang yakin mereka benar, tidak ada ruang untuk dialog. Hanya debat kusir dan perang ideologi.
Ketiga, dogmatisme menutup pembelajaran. Jika Anda sudah "tahu" kebenaran, mengapa mendengarkan perspektif lain?
Kisah Pelukis dan Bayangan
Sextus menceritakan analogi yang powerful:
Bayangkan seorang pelukis yang sangat berbakat. Dia ingin melukis busa di mulut kuda dengan sempurna. Dia mencoba berkali-kali. Gagal. Semakin dia berusaha, semakin frustrasi dia.
Akhirnya, dalam kemarahan, dia melemparkan spons—yang basah dengan cat—ke kanvas.
Dan spons itu menciptakan efek busa yang sempurna yang tidak bisa dia buat dengan usaha.
Pelajarannya?
Kadang ketika kita berhenti berusaha terlalu keras untuk "tahu" atau "mengendalikan," kita menemukan apa yang kita cari.
Ini adalah inti dari skeptisisme Sextus: berhenti memaksakan kepastian, dan biarkan ketenangan datang dengan sendirinya.
Bagian 2: Sepuluh Cara Menuju Pikiran Terbuka
Sextus memberikan sepuluh "mode" atau cara untuk melatih pikiran skeptis—sepuluh argumen yang menunjukkan bahwa kepastian absolut adalah ilusi.
Mode 1: Perbedaan Antarspesies
Anjing melihat dunia dalam spektrum warna yang berbeda dari manusia. Lebah melihat ultraviolet. Ular melihat inframerah.
Siapa yang melihat "warna sebenarnya"?
Tidak ada jawaban objektif. Setiap spesies mengalami realitas berbeda berdasarkan organ sensorik mereka.
Pelajaran: Realitas yang Anda alami adalah realitas relatif terhadap indera Anda, bukan realitas absolut.
Mode 2: Perbedaan Antarmanusia
Dua orang mencicipi kopi yang sama.
Satu bilang: "Pahit." Yang lain: "Pas."
Siapa yang benar?
Keduanya—dari perspektif mereka. Rasa adalah pengalaman subjektif yang dipengaruhi oleh genetika, kebiasaan, dan konteks.
Pelajaran: Bahkan antarmanusia, pengalaman kita sangat berbeda. Apa yang "jelas benar" bagi Anda mungkin "jelas salah" bagi orang lain—dan keduanya valid dari perspektif masing-masing.
Mode 3: Perbedaan Indera
Anda memegang es batu. Mata Anda bilang "transparan dan keras." Kulit Anda bilang "dingin." Jika Anda jilat, lidah Anda bilang "tidak ada rasa."
Indera yang berbeda memberikan informasi yang berbeda tentang objek yang sama. Mana yang "benar"? Semua. Tidak ada. Tergantung indera mana yang Anda prioritaskan.
Pelajaran: Bahkan dalam satu orang, persepsi kita tidak konsisten. Kepercayaan pada satu indera saja adalah dogmatisme.
Mode 4: Keadaan dan Kondisi
Anggur yang sama terasa berbeda ketika Anda:
- Lapar vs kenyang
- Sehat vs sakit
- Muda vs tua
- Bahagia vs sedih
Kondisi internal Anda mengubah pengalaman Anda terhadap realitas eksternal.
Pelajaran: Penilaian kita tidak pernah "murni objektif"—selalu dipengaruhi oleh state internal kita saat itu.
Mode 5: Posisi, Jarak, dan Tempat
Tongkat terlihat bengkok ketika setengahnya ada di dalam air. Tapi ketika diangkat, dia lurus. Menara bundar dari jauh terlihat persegi dari dekat.
Matahari terlihat kecil dari Bumi, tapi sebenarnya jutaan kali lebih besar.
Pelajaran: Posisi pengamat mengubah apa yang diamati. Tidak ada "pandangan dari mana-mana"—semua pandangan adalah dari suatu tempat.
Mode 6: Campuran dan Kombinasi
Anda tidak pernah mengalami sesuatu dalam isolasi. Anda selalu mengalami sesuatu dalam konteks.
Warna abu-abu yang sama terlihat lebih terang di latar belakang hitam, lebih gelap di latar belakang putih.
Makanan yang sama terasa berbeda ketika dimakan dengan kombinasi berbeda.
Pelajaran: Objek tidak punya kualitas "murni"—kualitasnya muncul dari interaksi dengan konteks.
Mode 7: Kuantitas dan Komposisi
Satu gelas anggur membuat Anda rileks. Sepuluh gelas membuat Anda mabuk. Sedikit madu manis. Terlalu banyak menjijikkan.
Pelajaran: Tidak ada "esensi absolut" dari sesuatu. Efeknya berubah tergantung kuantitas.
Mode 8: Relativitas
Sextus mengatakan segala sesuatu adalah relatif terhadap sesuatu yang lain:
- Besar relatif terhadap kecil
- Cepat relatif terhadap lambat
- Baik relatif terhadap buruk
- Kiri relatif terhadap kanan
Tidak ada yang "besar secara absolut" atau "baik secara absolut"—hanya besar dibandingkan dengan sesuatu, baik dalam konteks tertentu.
Pelajaran: Kepastian absolut tidak mungkin karena semua penilaian kita adalah komparatif, bukan absolut.
Mode 9: Frekuensi dan Kelangkaan
Hal yang familiar terasa biasa. Hal yang langka terasa istimewa.
Orang kaya bosan dengan kaviar. Orang miskin terpukau dengan roti segar.
Matahari terbit indah—tapi jika Anda melihatnya setiap hari selama 30 tahun, Anda mungkin tidak lagi memperhatikan.
Pelajaran: Penilaian kita terhadap nilai dipengaruhi oleh seberapa sering kita mengalaminya—bukan kualitas intrinsiknya.
Mode 10: Budaya dan Kebiasaan
Apa yang dianggap sopan di satu budaya adalah kasar di budaya lain.
Apa yang dianggap cantik di satu era adalah aneh di era lain.
Apa yang dianggap moral di satu tempat adalah immoral di tempat lain.
Pelajaran: Sebagian besar "kebenaran" kita adalah produk dari kondisioning budaya, bukan insight universal.
Bagian 3: Epoché—Seni Menangguhkan Penilaian
Setelah menunjukkan bahwa kepastian absolut tidak mungkin, Sextus menawarkan solusi: epoché—penangguhan penilaian.
Apa Itu Epoché?
Epoché bukan:
- Mengatakan "tidak ada yang benar"
- Menjadi apatis atau tidak peduli
- Tidak punya opini sama sekali
Epoché adalah:
- Menahan diri dari mengklaim kepastian absolut
- Mengatakan "saya tidak tahu" ketika Anda benar-benar tidak tahu
- Memegang opini dengan ringan, bukan erat
Contoh Praktis
Dogmatisme: "Vaksin 100% aman dan siapa pun yang ragu adalah idiot."
Epoché: "Bukti menunjukkan vaksin umumnya aman dan efektif. Tapi saya tidak tahu semua yang ada untuk diketahui tentang ini. Saya membuat keputusan terbaik dengan informasi yang saya punya, tapi saya terbuka pada bukti baru."
Dogmatisme: "Pasangan saya HARUS mencintai saya dengan cara yang saya inginkan, atau hubungan ini salah."
Epoché: "Saya ingin dicintai dengan cara tertentu. Tapi mungkin harapan saya tidak realistis. Mungkin ada cara mencintai yang tidak saya pahami. Saya terbuka untuk belajar."
Mengapa Epoché Membebaskan
Ketika Anda berhenti bersikeras bahwa Anda harus tahu, beberapa hal terjadi:
1. Kecemasan berkurang. Anda tidak lagi ketakutan bahwa Anda mungkin salah.
2. Konflik berkurang. Anda tidak lagi merasa terancam ketika orang tidak setuju.
3. Pembelajaran meningkat. Anda akhirnya bisa mendengarkan perspektif lain dengan sungguh-sungguh.
4. Fleksibilitas meningkat. Ketika bukti baru muncul, Anda bisa mengubah pikiran tanpa merasa "gagal."
Bagian 4: Ataraxia—Ketenangan Melalui Ketidakpastian
Tujuan akhir skeptisisme Sextus adalah ataraxia—ketenangan jiwa.
Paradoks yang Indah
Ini adalah paradoks inti dari ajaran Sextus:
Kebanyakan orang berpikir: Saya akan tenang ketika saya menemukan Kebenaran.
Sextus mengajarkan: Anda akan tenang ketika Anda berhenti mencari Kebenaran absolut. Mengapa?
Karena pencarian kepastian adalah pencarian yang tidak pernah berakhir. Selalu ada keraguan baru. Selalu ada pertanyaan baru. Selalu ada kemungkinan bahwa Anda salah.
Dogmatisme adalah treadmill mental—Anda berlari dan berlari, tapi tidak pernah sampai.
Epoché adalah berhenti berlari. Dan di situlah Anda menemukan kedamaian.
Kehidupan Tanpa Keyakinan Dogmatis
Orang sering bertanya: "Jika Anda tidak yakin tentang apa pun, bagaimana Anda hidup?"
Sextus menjawab: Anda hidup menurut penampakan (appearances) tanpa mengklaim tahu realitas absolut.
Contoh:
- Madu terlihat manis bagi saya. Jadi saya makan madu. Tapi saya tidak klaim "madu adalah manis secara objektif untuk semua orang di semua waktu."
- Menyakiti orang terlihat salah bagi saya. Jadi saya tidak menyakiti orang. Tapi saya tidak klaim "saya punya akses ke kebenaran moral absolut."
- Bekerja keras terlihat mengarah pada hasil baik. Jadi saya bekerja keras. Tapi saya tidak klaim "saya tahu formula pasti untuk kesuksesan."
Anda bertindak berdasarkan yang terlihat paling masuk akal dalam momen itu—tanpa mengklaim kepastian absolut.
Bagian 5: Skeptisisme di Era Modern
Ajaran Sextus, yang ditulis 2.000 tahun lalu, terasa sangat relevan untuk era kita.
Era Post-Truth
Kita hidup di zaman di mana:
- Setiap orang punya "fakta" mereka sendiri
- Media sosial menciptakan echo chambers
- Nuance dianggap kelemahan
- Kepastian dihargai lebih dari kebenaran
Sextus menawarkan jalan keluar: berhenti bermain permainan kepastian.
Tidak perlu "menang" di setiap argumen. Tidak perlu meyakinkan semua orang bahwa Anda benar. Tidak perlu punya opini tentang semua hal.
Anda boleh berkata: "Saya tidak tahu."
Media Sosial dan Dogmatisme
Twitter, Facebook, Instagram—semua dirancang untuk mendorong kepastian cepat.
Like atau dislike. Setuju atau tidak setuju. Retweet atau block.
Tidak ada ruang untuk: "Ini rumit. Saya tidak yakin. Saya perlu berpikir lebih lanjut."
Sextus mengingatkan: Dunia itu rumit. Kepastian cepat adalah ilusi berbahaya.
Politik Identitas
Kita dibagi menjadi suku-suku: kiri vs kanan, liberal vs konservatif, progresif vs tradisional. Dan setiap suku yakin mereka benar secara moral.
Sextus akan bertanya: "Bagaimana jika kedua sisi punya poin valid? Bagaimana jika realitas lebih nuanced dari narasi kita?"
Epoché memungkinkan Anda untuk:
- Mendengarkan argumen dari semua sisi
- Mengakui kekuatan dan kelemahan setiap posisi
- Tidak merasa terpaksa untuk memilih "tim"
Bagian 6: Praktik Pikiran Terbuka
Bagaimana menerapkan ajaran Sextus dalam kehidupan sehari-hari?
1. Latihan "Saya Tidak Tahu"
Setiap hari, identifikasi satu hal yang Anda "yakin" tentangnya.
Lalu tanyakan: "Bagaimana saya bisa salah tentang ini?"
Tidak perlu mengubah keyakinan Anda. Hanya berlatih memegang keyakinan lebih ringan.
2. Dengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Menjawab
Ketika seseorang tidak setuju dengan Anda:
Jangan langsung berpikir: "Bagaimana saya bisa membuktikan mereka salah?"
Tanyakan: "Apa yang mereka lihat yang saya tidak lihat? Perspektif apa yang mereka punya yang saya lewatkan?"
3. Hindari Bahasa Absolut
Ganti:
- "Ini pasti benar" → "Ini terlihat benar bagi saya saat ini"
- "Semua orang tahu" → "Banyak orang percaya"
- "Tidak mungkin" → "Saya tidak melihat bagaimana, tapi saya mungkin melewatkan sesuatu"
4. Eksplorasi Perspektif Berlawanan
Ambil keyakinan kuat Anda. Cari argumen terbaik melawan keyakinan itu.
Bukan untuk mengubah pikiran—tapi untuk memahami kompleksitas.
5. Perhatikan Kapan Anda Defensif
Ketika Anda merasa defensive terhadap ide yang menantang keyakinan Anda, itu tanda: Anda memegang keyakinan itu terlalu erat.
Epoché mengajarkan: Keyakinan adalah alat, bukan identitas. Anda boleh melepasnya tanpa kehilangan diri Anda.
6. Terima Kontradiksi
Dunia penuh kontradiksi:
- Kebaikan bisa muncul dari niat buruk
- Keburukan bisa muncul dari niat baik
- Dua hal yang berlawanan bisa sama-sama benar dalam konteks berbeda
Kenyamanan dengan kontradiksi adalah tanda pikiran yang matang.
Bagian 7: Kritik dan Tanggapan
"Bukankah Skeptisisme Itu Self-Defeating?"
Kritik: "Jika Anda ragu segalanya, apakah Anda juga ragu skeptisisme Anda sendiri?"
Tanggapan Sextus: Ya, justru itu poinnya.
Skeptisisme bukan dogma baru. Skeptisisme adalah praktik, bukan doktrin.
Sextus tidak mengatakan "saya TAHU tidak ada yang bisa diketahui." Dia mengatakan "saya BELUM menemukan alasan untuk mengklaim kepastian absolut—tentang apa pun, termasuk skeptisisme itu sendiri."
"Tanpa Keyakinan, Bagaimana Anda Bertindak?"
Kritik: "Jika Anda tidak yakin tentang apa pun, Anda akan lumpuh."
Tanggapan: Penampakan cukup untuk tindakan.
Anda tidak perlu yakin 100% bahwa api itu panas untuk menghindarinya. Cukup terlihat panas.
Anda tidak perlu keyakinan dogmatis untuk hidup dengan baik. Anda hanya perlu bertindak berdasarkan apa yang terlihat paling masuk akal dengan informasi yang Anda punya.
"Bukankah Ini Relativisme Moral?"
Kritik: "Jika semua perspektif valid, bagaimana Anda mengutuk kejahatan?"
Tanggapan: Epoché tentang metafisika, bukan tentang etika praktis.
Sextus tidak bilang "pembunuhan tidak buruk." Dia bilang "pembunuhan terlihat buruk bagi saya, dan saya bertindak sesuai itu—tanpa mengklaim saya punya akses ke kebenaran moral absolut."
Perbedaannya halus tapi penting: Anda bisa punya nilai kuat dan bertindak berdasarkan nilai itu tanpa mengklaim Anda tahu Kebenaran dengan K besar.
Penutup: Kebebasan dalam Ketidaktahuan
Sextus Empiricus menawarkan sesuatu yang radikal—terutama di era kita yang terobsesi dengan kepastian:
Anda tidak perlu tahu semua jawaban untuk hidup dengan baik.
Anda tidak perlu memenangkan setiap argumen. Anda tidak perlu meyakinkan semua orang bahwa Anda benar. Anda tidak perlu memilih "sisi" dalam setiap debat.
Anda boleh tidak tahu. Dan itu OK.
Lebih dari OK—itu adalah jalan menuju ketenangan.
Pertanyaan untuk Anda
Coba renungkan:
1. Keyakinan apa yang Anda pegang begitu erat sehingga Anda defensive ketika ditantang?
Itu adalah dogma Anda. Dan dogma selalu membawa penderitaan.
2. Kapan terakhir kali Anda mengubah pikiran tentang sesuatu yang penting?
Jika jawabannya "lama sekali," mungkin pikiran Anda sudah tertutup.
3. Berapa banyak dari "kebenaran" Anda sebenarnya adalah asumsi yang belum diuji?
Sebagian besar, mungkin. Dan itu bukan masalah—kecuali Anda mengklaim mereka sebagai Kebenaran.
Hidup dengan Pikiran Terbuka
Bukan berarti tidak punya pendapat. Bukan berarti tidak bertindak. Bukan berarti apatis. Hidup dengan pikiran terbuka berarti:
- Memegang keyakinan ringan, bukan erat
- Terbuka pada bukti baru, bahkan jika itu tidak nyaman
- Nyaman dengan ketidaktahuan, bukan ketakutan akan itu
- Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya menunggu giliran bicara
Seperti yang Sextus tunjukkan hampir 2.000 tahun lalu:
Kedamaian bukan hasil dari menemukan semua jawaban. Kedamaian adalah hasil dari berhenti berpura-pura kita punya semua jawaban.
Jadi lepaskan kebutuhan untuk tahu. Lepaskan kebutuhan untuk benar.
Dan temukan kebebasan dalam tiga kata paling kuat dalam bahasa mana pun:
"Saya tidak tahu."
Tentang Buku dan Penulis Asli
Sextus Empiricus (160-210 M) adalah filsuf dan dokter Yunani-Romawi, salah satu eksponensi utama Skeptisisme Pyrrhonian—aliran filosofi yang didirikan oleh Pyrrho dari Elis.
Karya-karya Sextus yang bertahan:
- "Outlines of Pyrrhonism" (Garis Besar Skeptisisme Pyrrhonian)
- "Against the Mathematicians" (Melawan Para Ahli)
"How to Keep an Open Mind" adalah kompilasi modern dan terjemahan yang lebih accessible dari tulisan-tulisan klasiknya, sering kali bagian dari seri "Ancient Wisdom for Modern Readers."
Pengaruh Sextus:
- Mempengaruhi skeptisisme modern dan empirisme
- Inspirasi untuk filsuf seperti David Hume, Michel de Montaigne
- Dasar untuk metode ilmiah modern (keraguan metodologis)
- Relevan untuk epistemologi kontemporer dan filsafat ilmu
Untuk pemahaman lebih dalam tentang skeptisisme filosofis dan aplikasinya dalam kehidupan modern, sangat disarankan membaca teks asli atau terjemahan lengkap. Tulisan Sextus penuh dengan argumen halus, contoh detail, dan nuansa yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Tapi esensnya sederhana dan powerful: Dalam dunia yang penuh dengan orang yang yakin mereka benar, keberanian terbesar adalah mengakui bahwa Anda mungkin salah.
Sekarang pergilah dan praktikkan seni yang hilang ini: seni tidak tahu.
Karena seperti yang Socrates—guru dari guru skeptis—katakan:
"Satu-satunya hal yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa."
Dan dalam ketidaktahuan itu, ada kebebasan.