Lompat ke konten utama

Leonardo da Vinci

oleh Walter Isaacson · Desember 2025 · 16 menit baca

Senyuman yang Mengubah Dunia

Daftar isi

Senyuman yang Mengubah Dunia 

Dia duduk tenang dengan senyum yang hampir tidak terlihat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, atau mungkin turun—tergantung bagaimana Anda melihatnya. Setiap kali mata Anda bergerak melintasi wajahnya, senyum itu seperti hidup, berubah, berkedip antara kegembiraan dan kesedihan. 

Ini Mona Lisa—lukisan paling terkenal dalam sejarah manusia. 

Tapi keajaiban sebenarnya bukan pada lukisan itu sendiri. Keajaiban ada pada pikirannya yang menciptakannya. 

Leonardo da Vinci memulai melukis Mona Lisa pada 1503. Dia membawanya ke mana-mana, terus menyempurnakannya, menambah lapisan demi lapisan cat yang sangat tipis, hingga hari kematiannya pada 1519—16 tahun kemudian. 

Mengapa begitu lama? Mengapa begitu obsesif? 

Karena bagi Leonardo, lukisan ini bukan sekadar potret. Ini adalah puncak dari seumur hidupnya mempelajari anatomi, optik, matematika, cahaya, bayangan, geologi, psikologi manusia, dan ratusan topik lain yang tak terhitung jumlahnya. 

Untuk melukis senyuman itu, Leonardo membedah mayat manusia untuk memahami 52 otot di wajah. Dia mempelajari bagaimana cahaya memantul dari kornea mata. Dia mengamati bagaimana retina manusia melihat detail di tengah tetapi hanya bayangan di tepi. 

Hasilnya? Senyuman yang berubah tergantung bagaimana Anda melihatnya—karena ketika mata Anda menatap langsung ke bibir, sudut bibir terlihat sedikit turun. Tapi ketika mata Anda bergerak, bayangan dan cahaya menciptakan ilusi bahwa sudut bibir naik. 

Senyuman itu hidup. Dan rahasia kehidupan itu bukan sihir—itu adalah keingintahuan. 

Ini adalah kisah tentang pria yang ingin tahu segalanya yang bisa diketahui tentang segala hal di alam semesta, termasuk bagaimana kita sebagai manusia cocok di dalamnya.


Bagian 1: Anak Haram yang Beruntung 

Berkat dalam Penyamaran 

Leonardo da Vinci memiliki keberuntungan dilahirkan sebagai anak haram. 

Itu terdengar aneh, bukan? Tapi Walter Isaacson, penulis biografi ini, berpendapat itu adalah keberuntungan terbesar Leonardo. 

Lahir pada 15 April 1452 di desa kecil Vinci, Tuscany, Leonardo adalah anak dari Piero da Vinci—notaris yang sukses—dan seorang wanita petani bernama Caterina. Karena tidak sah, Leonardo tidak bisa mengikuti jejak ayahnya menjadi notaris atau mendapat pendidikan formal dalam bahasa Latin dan teks-teks klasik yang mendominasi pendidikan Renaisans. 

Bagi kebanyakan orang, ini akan menjadi kutukan. Tapi bagi Leonardo, ini adalah kebebasan. 

Dia tidak terikat oleh dogma Skolastik atau kebijaksanaan kuno yang sudah berdebu. Dia tidak perlu menerima apa yang ditulis Aristoteles atau Galen hanya karena mereka figur otoritas. 

Sebaliknya, Leonardo membangun pendidikannya sendiri berdasarkan observasi langsung, eksperimen, dan pertanyaan tanpa akhir. 

"Dideskripsikan lidah burung pelatuk," tulis Leonardo dalam salah satu daftar tugas-nya yang terkenal. 

Siapa yang peduli tentang lidah burung pelatuk? Leonardo peduli. Karena dia ingin tahu segalanya

Pendidikan dari Alam 

Tumbuh di pedesaan Tuscany, dikelilingi oleh ladang anggur, sungai yang berkelok, dan bukit yang bergulir, Leonardo belajar dengan mengamati alam. 

Dia mengamati bagaimana air mengalir. Bagaimana cahaya memantul. Bagaimana burung terbang. Bagaimana daun tersusun di cabang. 

Tidak ada buku yang bisa mengajarkan ini. Hanya mata yang tajam dan pikiran yang ingin tahu. 

Pendidikan Leonardo yang tidak konvensional ini memberinya keunggulan unik: dia tidak tahu apa yang "tidak mungkin." 

Ketika Anda tidak tahu bahwa sesuatu seharusnya tidak bisa dilakukan, Anda hanya melakukannya.


Bagian 2: Magang di Florence 

Masuk ke Workshop Verrocchio 

Pada usia 14 tahun, Leonardo menjadi magang di workshop Andrea del Verrocchio di Florence—salah satu workshop seni paling bergengsi di Italia. 

Di sana, Leonardo tidak hanya belajar melukis. Dia belajar segala hal: sculpting, metalwork, mekanika, arsitektur, bahkan bagaimana membuat perayaan teater yang megah. 

Workshop Renaisans bukan sekolah seni modern yang terspesialisasi. Mereka adalah tempat di mana seni, sains, engineering, dan craft semua bercampur menjadi satu. 

Dan Leonardo menyerap semuanya seperti spons. 

Salah satu cerita paling terkenal dari masa ini adalah ketika Verrocchio meminta Leonardo membantu melukis "The Baptism of Christ." Leonardo melukis seorang malaikat di sudut kiri lukisan. 

Ketika Verrocchio melihat malaikat Leonardo—begitu hidup, begitu sempurna, dengan teknik yang jauh melampaui kemampuannya sendiri—dia dikabarkan melempar kuasnya dan bersumpah tidak pernah melukis lagi. 

Siswa telah melampaui guru. 

Ketertarikan pada Segalanya 

Tapi Leonardo tidak puas hanya menjadi pelukis hebat. Pikirannya mengembara ke segala arah: 

Bagaimana otot-otot membuat tubuh bergerak? 

Mengapa langit biru? 

Bagaimana membuat mesin yang bisa terbang? 

Apa yang membuat air berputar dalam pusaran? 

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tampak tidak berhubungan dengan melukis. Tapi bagi Leonardo, semuanya berhubungan dengan melukis. 

Untuk melukis tubuh manusia dengan sempurna, Anda harus memahami anatomi. Untuk melukis pemandangan, Anda harus memahami geologi. 

Untuk melukis cahaya, Anda harus memahami optik. 

Untuk melukis air, Anda harus memahami hidrodinamika. 

Bagi Leonardo, tidak ada pemisahan antara seni dan sains. Keduanya adalah cara untuk memahami dan merepresentasikan kebenaran.


Bagian 3: Milan—Di mana Genius Berkembang

Surat Lamaran yang Luar Biasa 

Pada 1482, pada usia 30, Leonardo menulis surat kepada Ludovico Sforza, Duke of Milan, mencari pekerjaan. 

Isi suratnya mengejutkan: dia hampir tidak menyebut kemampuannya sebagai pelukis. Sebaliknya, dia menyebut dirinya sebagai insinyur militer. 

Dia klaim bisa merancang jembatan portable, senjata, tank, kapal selam, dan berbagai mesin perang lainnya. 

Di akhir surat, dia menambahkan, hampir sebagai catatan kaki: "Oh ya, dan saya juga bisa melukis." 

Leonardo tahu bahwa di masa perang, duke membutuhkan insinyur lebih dari pelukis. 

Apakah dia benar-benar bisa membuat semua mesin perang itu? Kebanyakan tidak pernah dibangun, jadi kita tidak tahu. Tapi keberanian dan imaginasinya membuat duke terkesan. 

Leonardo mendapat pekerjaan. 

Hampir Dua Dekade di Milan 

Milan menjadi rumah Leonardo selama hampir 20 tahun—periode paling produktif dalam hidupnya. 

Di sana, dia melukis beberapa karya masterpiece-nya, termasuk "The Last Supper." 

Tapi lebih dari itu, dia berkembang dalam lingkungan yang kolaboratif. Court Milan adalah tempat di mana para seniman, ilmuwan, musisi, engineer, dan pemikir berkumpul dan bertukar ide. 

Leonardo percaya bahwa ide lahir dari kolaborasi. 

Ini bukan genius yang terisolasi di menara gading. Ini adalah genius yang hidup, tertawa, berdebat, dan menciptakan bersama orang lain. 

Dalam notebook-nya, kita menemukan puluhan nama orang yang ingin dia diskusikan—tentang matematika, anatomi, optik, mekanika, segalanya. 

Steve Jobs kemudian akan mengatakan hal yang sama: tempat terbaik untuk inovasi adalah di mana orang-orang dengan minat beragam bertemu secara tidak sengaja. Itulah mengapa dia mendesain gedung Apple dengan atrium sentral.

Benjamin Franklin mendirikan klub di mana orang paling menarik di Philadelphia bertemu setiap Jumat. 

Leonardo menemukan itu di court Milan. 


The Last Supper: Drama Beku dalam Waktu 

Ketika Duke Ludovico meminta Leonardo melukis "The Last Supper" di dinding ruang makan biara Santa Maria delle Grazie, Leonardo menghadapi tantangan besar. 

Ini bukan lukisan pertama tentang Perjamuan Terakhir. Sudah ada ratusan. Tapi Leonardo ingin membuat sesuatu yang berbeda. 

Kebanyakan lukisan menangkap satu momen statis. Leonardo memahami sesuatu yang mendalam: tidak ada yang namanya momen yang terputus. 

Setiap instan mengandung apa yang datang sebelumnya dan apa yang datang sesudahnya. 

Jadi "The Last Supper" Leonardo adalah narasi dramatis. Dia menangkap momen tepat setelah Yesus berkata, "Salah satu dari kalian akan mengkhianati saya." 

Setiap murid bereaksi berbeda—terkejut, marah, bingung, menyangkal. Anda bisa membaca emosi di wajah mereka, dalam gestur tubuh mereka. 

Dan komposisinya—dengan Yesus di tengah, terisolasi namun menjadi pusat dari semua mata—telah mempengaruhi generasi seniman selama berabad-abad. 

Untuk mencapai ini, Leonardo menghabiskan waktu bertahun-tahun berjalan di sekitar Milan, membawa notebook-nya, membuat sketsa ekspresi orang. Dia mempelajari bagaimana emosi internal terwujud di wajah external. 

Seni dan psikologi. Lagi-lagi, tidak ada pemisahan.


Bagian 4: Notebooks—Jendela ke Pikiran Genius

7,200+ Halaman Keingintahuan 

Dari sekitar 20,000 hingga 28,000 halaman yang diperkirakan Leonardo tulis selama hidupnya, sekitar 7,200 halaman masih bertahan hari ini. 

Notebook-nya adalah hal yang paling mengungkapkan tentang bagaimana dia berpikir.

Di sana Anda menemukan: 

  • Sketsa anatomi yang mendetail
  • Desain untuk mesin terbang
  • Studi tentang pusaran air
  • Diagram tentang proporsi manusia ideal
  • Daftar belanja
  • Lelucon
  • Daftar tugas seperti "jelaskan lidah burung pelatuk"
  • Observasi tentang cara cahaya memantul dari berbagai permukaan

Semuanya bercampur aduk, tanpa organisasi yang jelas, seringkali dengan tulisan cermin (dari kanan ke kiri) yang hanya bisa dibaca dengan cermin. 

Mengapa tulisan cermin? Mungkin karena Leonardo kidal dan lebih mudah menulis dari kanan ke kiri. Atau mungkin untuk menjaga idenya tetap privat. Atau mungkin hanya karena dia suka berbeda. 

Belajar dengan Menggambar 

Bagi Leonardo, menggambar bukan hanya cara merekam. Menggambar adalah cara berpikir. 

Ketika dia menggambar jantung, dia tidak hanya menyalin apa yang dia lihat. Dia mencoba memahami bagaimana jantung bekerja. 

Dia bahkan membuat model kaca dari jantung sapi, mengisinya dengan lilin, lalu menaburkan biji rumput di air untuk mengamati bagaimana darah mengalir. 

Butuh 450 tahun untuk ahli anatomi menyadari bahwa Leonardo benar tentang sirkulasi darah di jantung. 

Tapi Leonardo tidak pernah mempublikasikan penemuannya. Mengapa? 

Ini salah satu misteri terbesar tentang Leonardo: dia membuat begitu banyak penemuan yang melampaui zamannya, tapi dia jarang membagikannya.

Mungkin karena baginya, proses lebih penting daripada produk. Kegembiraan ada dalam penemuan, bukan dalam publikasi. 

Atau mungkin dia terlalu perfeksionis. Dia selalu merasa perlu tahu lebih banyak, memperbaiki lebih banyak, sebelum berbagi.


Bagian 5: Genius yang Tidak Menyelesaikan

The Adoration of the Magi—Masterpiece yang Tidak Selesai 

Pada 1481, Leonardo mendapat komisi untuk melukis "The Adoration of the Magi" untuk biara di Florence. 

Gambar persiapannya menakjubkan—komposisi yang kompleks dengan puluhan figur, perspektif yang inovatif, emosi yang kuat. 

Tapi Leonardo tidak pernah menyelesaikannya. 

Mengapa? Karena dia lebih tertarik pada konsepsi daripada eksekusi

Seperti yang diketahui ayahnya dan orang-orang lain ketika mereka menyusun kontrak yang ketat untuk komisinya, Leonardo pada usia 29 lebih mudah terganggu oleh masa depan daripada fokus pada masa kini. 

Dia adalah genius yang tidak disiplin oleh ketekunan. 

Ini adalah contoh yang bagus dari apa yang psikolog sebut Sunk Cost Fallacy. Ternyata keras kepala "menyelesaikannya" ketika Anda bosan dengan proyek mungkin tidak se-produktif jangka panjang seperti berhenti dan pindah ke sesuatu yang segar yang menangkap minat Anda. 

Il Cavallo—Kuda yang Tidak Pernah Ada 

Duke Ludovico meminta Leonardo membuat patung kuda perunggu raksasa—setinggi 16 kaki—untuk menghormati pendiri dinasti Sforza. 

Leonardo bekerja di proyek ini selama 12 tahun. 

Dia mempelajari anatomi kuda dengan detail obsesif—mengukur, membuat sketsa, bahkan membedah kuda mati untuk memahami struktur internal mereka. 

Pada 1493, model tanah liat raksasa siap untuk ditampilkan. 

Tapi kemudian perang datang. Perunggu yang dialokasikan untuk patung digunakan untuk membuat meriam. 

Model tanah liat hancur ketika tentara Prancis menyerbu Milan dan menggunakannya untuk target latihan. 

Il Cavallo tidak pernah menjadi kenyataan.

Pola yang Muncul 

Leonardo punya pola: dia memulai dengan antusiasme yang luar biasa, menyelam deep ke dalam penelitian, membuat gambar persiapan yang brilian—lalu kehilangan minat dan pindah ke proyek berikutnya. 

Sebagian karena dia perfeksionis yang tidak pernah puas. 

Sebagian karena pikirannya tidak bisa diam—selalu ada sesuatu yang lebih menarik di cakrawala. 

Sebagian karena dia sering tidak punya dana untuk menyelesaikan proyek ambisius-nya.

Hasilnya? Hanya belasan lukisan lengkap dalam seluruh hidupnya. 

Tapi lukisan-lukisan itu termasuk Mona Lisa dan The Last Supper—dua lukisan paling terkenal dalam sejarah. 

Jadi mungkin kualitas lebih penting daripada kuantitas?


Bagian 6: Anatomi—Membedah Kematian untuk Memahami Kehidupan 

Di dalam Rumah Sakit 

Leonardo mendapat akses ke rumah sakit di Florence, Milan, dan Rome untuk membedah mayat. 

Ini bukan tugas yang menyenangkan. Mayat berbau. Tidak ada refrigerasi. Tidak ada anestesi atau sarung tangan. 

Tapi Leonardo tidak terhalangi. Keingintahuannya lebih kuat dari jijiknya. 

Dia membedah lebih dari 30 mayat selama hidupnya, membuat sketsa yang begitu detail dan akurat sehingga mereka masih digunakan dalam pendidikan medis hari ini. 

Menggambar Senyuman 

Untuk melukis senyuman Mona Lisa, Leonardo mengupas kulit dari wajah mayat dan menggambar 52 otot yang menggerakkan bibir. 

Dia ingin tahu persis bagaimana setiap otot berkontribusi pada ekspresi. 

Obsesinya dengan detail anatomi bukan hanya untuk seni. Dia benar-benar ingin memahami bagaimana tubuh manusia bekerja. 

Dia membuat penemuan tentang jantung, paru-paru, sistem vaskular, sistem saraf—banyak yang tidak akan dikonfirmasi hingga berabad-abad kemudian. 

Tapi lagi-lagi, dia tidak pernah mempublikasikan apa pun. 

Manusia sebagai Mikrokosmos 

Bagi Leonardo, manusia adalah mikrokosmos—cermin miniatur dari alam semesta. 

Dalam banyak lukisannya, termasuk Mona Lisa, Anda melihat sungai yang berkelok di latar belakang, seolah-olah terhubung ke pembuluh darah orang dalam potret. 

Ini adalah koneksi manusia dengan bumi, individu dengan kosmos. 

Leonardo melihat pola yang sama berulang di berbagai skala: pusaran dalam air terlihat seperti ikal rambut; cabang pohon bercabang seperti pembuluh darah; bentuk spiral di cangkang menyerupai spiral galaksi. 

Semua terhubung.


Bagian 7: Pelajaran dari Leonardo 

Pada akhir biografinya, Isaacson mengekstrak 25 pelajaran dari kehidupan Leonardo yang bisa kita terapkan. Berikut adalah yang paling kuat: 

1. Jadilah Ingin Tahu—Secara Gila-gilaan Ingin Tahu 

Genius Leonardo bukan bakat bawaan. Itu adalah hasil dari keingintahuan yang tak terpuaskan.

Setiap hari, tanyakan pada diri sendiri: Apa yang ingin saya pelajari hari ini? 

Buat daftar pertanyaan. Seperti Leonardo: "Jelaskan lidah burung pelatuk." "Mengapa langit biru?" "Bagaimana awan terbentuk?" 

Keingintahuan adalah otot. Semakin Anda latih, semakin kuat. 

2. Cari Pengetahuan Demi Pengetahuan Itu Sendiri 

Leonardo tidak mempelajari anatomi karena itu akan membuatnya kaya. Dia mempelajarinya karena dia ingin tahu. 

Dia tidak mendesain mesin terbang karena dia pikir seseorang akan membangunnya. Dia mendesainnya karena dia terpesona dengan penerbangan. 

Cintai pembelajaran untuk kepentingannya sendiri, bukan hanya untuk aplikasi praktis.

Ironinya? Pembelajaran yang "tidak berguna" ini sering menghasilkan inovasi paling berharga.

3. Observasi 

Leonardo bisa mengamati hal-hal yang orang lain lewatkan. 

Ketika dia melihat burung terbang, dia melihat lebih dari sekadar burung. Dia melihat bagaimana sayap bergerak, bagaimana bulu menyesuaikan, bagaimana ekor mengemudi. 

Latih diri Anda untuk benar-benar melihat. Bukan hanya melihat sekilas, tetapi benar-benar mengamati. 

4. Mulai dengan Detail 

Leonardo tidak melukis Mona Lisa dalam satu duduk. Dia membangunnya lapisan demi lapisan, setiap lapisan setebal rambut. 

Detail kecil itu penting. Kesempurnaan dalam detail kecil menciptakan keajaiban dalam keseluruhan.

5. Lihat Sesuatu dari Perspektif Berbeda 

Leonardo melukis "The Last Supper" dari berbagai sudut, mempelajari bagaimana perspektif berubah. 

Dalam hidup Anda, cobalah melihat masalah dari berbagai sudut. Bagaimana orang lain mungkin melihatnya? Apa yang Anda lewatkan? 

6. Pergi ke Persimpangan Humaniora dan Teknologi 

Kekuatan super Leonardo adalah kemampuannya menghubungkan seni dan sains. 

Di dunia yang semakin terspesialisasi, orang yang bisa menjembatani disiplin—yang bisa melihat pola di berbagai bidang—memiliki keunggulan besar. 

Steve Jobs mengatakan: Kemampuan untuk menggabungkan humaniora dan teknologi, seni dan engineering, membuat genius. 

7. Biarkan Fantasi Kabur dengan Realitas 

Leonardo punya imajinasi yang sangat aktif sehingga hampir berbatasan dengan fantasi. 

Dia membayangkan mesin yang tidak bisa dibangun pada zamannya. Dia menggambar makhluk mitologis bercampur dengan studi anatomi yang akurat. 

Jangan biarkan realitas membatasi imajinasi Anda. Mimpi besar, bahkan jika itu tampak tidak mungkin. 

8. Indulge Fantasy 

Leonardo mencintai teater dan pageant. Dia merancang kostum yang rumit, set yang megah, efek khusus yang spektakuler. 

Dia tidak melihat ini sebagai hal yang sembrono. Dia melihat ini sebagai bagian integral dari genius kreatif-nya. 

Bermain. Bersenang-senang. Biarkan imajinasi Anda liar. 

9. Ciptakan untuk Diri Sendiri, Bukan Hanya untuk Patron 

Leonardo melukis Mona Lisa bukan karena seseorang membayarnya. Dia melukisnya karena dia ingin. 

Dia menolak melukis potret Isabella d'Este—salah satu wanita paling kaya dan berkuasa di Italia—tapi melukis potret istri pedagang sutra yang tidak dikenal.

Ikuti passion Anda, bukan hanya uang. 

10. Kolaborasi 

Leonardo bukan genius yang terisolasi. Dia berkembang dalam lingkungan kolaboratif. Cari komunitas orang yang menginspirasi Anda. Berbagi ide. Berdebat. Belajar bersama.

11. Prokrastinasi Bisa Produktif 

Leonardo sering menunda menyelesaikan proyek. Tapi selama penundaan itu, dia belajar hal-hal baru yang membuat karya finalnya lebih baik. 

Mona Lisa adalah contoh sempurna. Karena dia tidak menyelesaikannya dengan cepat, dia punya waktu untuk mempelajari optik, anatomi, geologi—semua yang membuat lukisan itu luar biasa. 

Jangan terlalu cepat menyelesaikan. Terkadang, membiarkan ide matang menghasilkan hasil yang lebih baik. 

12. Sempurna Adalah Musuh dari Selesai 

Tapi di sisi lain, perfeksionisme Leonardo juga berarti banyak masterpiece potensial tidak pernah selesai. 

Ada keseimbangan. Terkadang Anda perlu melepaskan dan melanjutkan.

13. Lihat Dunia Seperti Anak-anak 

Leonardo menjaga keheranan kekanak-kanakan sepanjang hidupnya. 

Anak-anak bertanya "mengapa?" tentang segalanya. Leonardo tidak pernah berhenti bertanya.

Jangan biarkan dunia dewasa membunuh rasa ingin tahu natural Anda.

14. Tidak Apa-apa Menjadi Misfit 

Leonardo gay, vegetarian, kidal, mudah terganggu, dan kadang-kadang heretical.

Dia tidak cocok dengan norma zamannya. 

Tapi itu memberinya perspektif unik. Menjadi outsider membebaskannya untuk berpikir berbeda.

Rangkul keunikan Anda. Jangan mencoba menjadi seperti orang lain.

15. Tetap Belajar 

Leonardo tidak pernah berhenti belajar. Bahkan di 60-an, dia masih mengajukan pertanyaan baru, melakukan eksperimen baru, membuat penemuan baru. 

Belajar adalah perjalanan seumur hidup, bukan tujuan yang Anda capai.


Penutup: Warisan yang Hidup 

Leonardo da Vinci meninggal pada 2 Mei 1519, di Château du Clos Lucé di Prancis, di pelukan Raja Francis I. 

Dia meninggalkan hanya belasan lukisan lengkap, ribuan halaman notebook yang tidak pernah dipublikasikan, dan ratusan desain yang tidak pernah dibangun. 

Tapi warisannya jauh melampaui output fisik-nya. 

Leonardo menunjukkan kepada kita bahwa genius bukan tentang dilahirkan dengan bakat supernatural. Genius adalah tentang keingintahuan yang tak terpuaskan, observasi yang cermat, imajinasi yang bebas, dan keberanian untuk menghubungkan yang terputus. 

Dalam dunia yang semakin terspesialisasi, Leonardo mengingatkan kita akan kekuatan menjadi generalis—untuk melihat koneksi yang orang lain lewatkan. 

Di era di mana kita dibombardir dengan informasi, Leonardo mengingatkan kita untuk benar-benar mengamati, untuk benar-benar bertanya. 

Di dunia yang menghargai kecepatan, Leonardo mengingatkan kita bahwa karya agung membutuhkan waktu. 

Mona Lisa tidak dilukis dalam semalam. Itu adalah kulminasi dari seumur hidup keingintahuan. 

Dan mungkin itu adalah pelajaran terbesar: bahwa kehidupan yang dijalani dengan penuh keingintahuan, dengan mata terbuka lebar pada keajaiban dunia, adalah kehidupan yang bermakna—bahkan jika Anda tidak menyelesaikan setiap proyek yang Anda mulai. 

Jadi lihatlah dunia dengan mata Leonardo. 

Tanyakan: Mengapa langit biru? Bagaimana burung terbang? Apa yang membuat senyuman itu? 

Dan siapa tahu? Mungkin Anda akan membuat karya agung Anda sendiri.


Tentang Buku Asli 

Leonardo da Vinci ditulis oleh Walter Isaacson dan diterbitkan pada Oktober 2017 oleh Simon & Schuster. 

Walter Isaacson adalah profesor sejarah di Tulane University, mantan CEO Aspen Institute, mantan chairman CNN, dan mantan editor TIME Magazine. Dia telah menulis biografi bestselling tentang Benjamin Franklin, Albert Einstein, Steve Jobs, dan sekarang Leonardo da Vinci. 

Buku ini berbasis pada ribuan halaman dari notebook Leonardo yang mengagumkan dan penemuan baru tentang hidupnya. 

Isaacson menenun narasi yang menghubungkan seni Leonardo dengan sainsnya, menunjukkan bagaimana genius-nya didasarkan pada keterampilan yang bisa kita tingkatkan dalam diri kita sendiri. 

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi indah dan telah menjadi #1 New York Times Bestseller. 

Pada 2024, Ken Burns membuat serial dokumenter tentang Leonardo da Vinci untuk PBS, yang juga didasarkan sebagian pada buku Isaacson. 

Untuk benar-benar memahami kedalaman Leonardo—untuk melihat sketsa-sketsanya, membaca kutipan dari notebook-nya, dan merasakan perjalanan seumur hidupnya—sangat disarankan untuk membaca buku lengkapnya. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi. Buku penuh adalah karya seni tersendiri. 


Sekarang, pertanyaan untuk Anda: 

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki keingintahuan tanpa batas seperti Leonardo? 

Disiplin apa yang akan Anda jembatani? 

Pertanyaan apa yang akan Anda ajukan? 

Jangan tunggu izin. Jangan tunggu pendidikan sempurna. 

Mulai mengamati. Mulai bertanya. Mulai menghubungkan. 

Genius Anda menunggu untuk dibuka.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: Bloomberg by Bloomberg
Kembali ke atas

Buku serupa