Losing My Virginity
oleh Richard Branson · Desember 2025 · 17 menit baca
Surat Perpisahan di Maroko
Daftar isi
Surat Perpisahan di Maroko
Maroko, 7 Januari 1997. Pukul 5:30 pagi.
Richard Branson terbangun sebelum istrinya, Joan. Dari seberang kota Marrakech, ia mendengar suara muezzin memanggil orang untuk sholat subuh.
Hari itu, ia akan mencoba sesuatu yang gila—mengelilingi dunia dengan balon udara. Peluang untuk mati? Cukup besar.
Ia merobek selembar kertas dari notebooknya dan mulai menulis surat kepada anak-anaknya, Holly dan Sam. Surat untuk berjaga-jaga kalau ia tidak kembali.
"Kehidupan kadang terasa tidak nyata," tulisnya.
Ini adalah Richard Branson—pria yang tidak pernah bisa berhenti mencari petualangan berikutnya. Yang tidak puas hanya duduk di kantor mengurus bisnis. Yang perlu merasakan adrenalin, risiko, kemungkinan kegagalan yang membuat hidup terasa benar-benar hidup.
Tapi untuk mengerti mengapa pria ini bisa berada di Maroko siap menantang maut, kita perlu kembali ke awal. Ke masa kecil seorang anak dyslexia yang dianggap bodoh oleh sekolahnya. Yang terakhir kali bertemu dengan kepala sekolahnya mendengar kata-kata: "Branson, kamu akan berakhir di penjara atau menjadi jutawan."
Ternyata, keduanya hampir terjadi.
Bagian 1: Anak yang "Bodoh"
Richard Branson lahir pada 18 Juli 1950 di Surrey, Inggris. Masa kecilnya adalah blur—kabur—tapi beberapa momen menonjol dengan jelas.
Ibunya, Eve Branson, adalah wanita yang luar biasa. Ia percaya bahwa anak-anaknya harus mandiri, dan ia tidak percaya pada metode pengasuhan konvensional.
Ketika Richard berusia 4 tahun, ibunya menghentikan mobil beberapa mil dari rumah, menurunkannya, dan berkata, "Cari jalan pulang sendiri melewati ladang."
Richard tersesat total. Tapi ia belajar sesuatu: kalau kau tersesat, jangan panik. Terus bergerak. Tanyakan orang. Cari jalan.
Ketika Richard berusia 11 tahun, ibunya membangunkannya pukul 4 pagi di musim dingin Januari yang gelap. "Hari ini kamu akan bersepeda ke Bournemouth," katanya sambil memberikan beberapa sandwich dan sebuah apel.
Bournemouth berjarak 50 mil. Tidak ada GPS. Tidak ada ponsel. Hanya anak 11 tahun dengan sepeda dan petunjuk samar.
Richard bersepeda. Dan ia sampai.
Latihan-latihan gila ibunya ini bukan tentang menyiksa anak. Ini tentang membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan keyakinan bahwa "kamu bisa melakukan hal-hal yang terasa mustahil."
Perjuangan dengan Dyslexia
Tapi di sekolah, Richard menderita. Ia menderita dyslexia parah—kondisi yang pada tahun 1950-an tidak dipahami atau bahkan diakui.
Guru-gurunya berpikir ia bodoh. Malas. Tidak fokus.
Richard tidak bisa membaca dengan baik. Matematika adalah mimpi buruk. Ia sering duduk di kelas merasa bodoh, merasa bahwa semua orang di sekelilingnya lebih pintar, lebih cepat, lebih baik.
Tapi ada satu hal yang Richard bisa lakukan dengan sangat baik: berbicara dengan orang. Ia punya kemampuan alami untuk berhubungan dengan orang, membuat mereka tertarik, membuat mereka mau membantu.
Di sekolah berasrama Stowe, Richard merasa seperti ikan di luar air. Sistem pendidikan tradisional Inggris—dengan aturan kaku, hierarki yang ketat, dan penekanan pada akademis—membunuhnya.
Tapi alih-alih menyerah, Richard menemukan outletnya: entrepreneurship.
Bagian 2: Student Magazine—Awal Segalanya
Usia 16 tahun. Kebanyakan remaja mengkhawatirkan ujian dan pacaran. Richard Branson memutuskan untuk memulai majalah nasional.
Idenya sederhana tapi berani: majalah untuk siswa, oleh siswa, tentang hal-hal yang benar-benar peduli siswa—bukan versi watered-down yang dibuat oleh orang dewasa.
Student Magazine akan meliput musik (rock and roll yang sedang mengubah dunia), politik (protes perang Vietnam, gerakan hak sipil), seksualitas (topik yang masih tabu di Inggris konservatif tahun 1960-an), dan kehidupan remaja yang sesungguhnya.
Richard tidak punya uang. Tidak punya pengalaman. Tidak punya tim profesional. Yang ia punya adalah keberanian untuk mengangkat telepon dan menelepon siapa pun.
Ia menelepon John Lennon. Dan entah bagaimana, John Lennon mengangkat. Dan setuju untuk wawancara.
Ia menelepon Mick Jagger. Keith Richards. Yoko Ono. Orang-orang yang seharusnya tidak pernah merespons anak 16 tahun.
Tapi mereka merespons. Karena ada sesuatu tentang antusiasme Richard—optimisme naif yang menular—yang membuat orang ingin membantu.
Student Magazine sukses. Bukan dalam arti menghasilkan banyak uang (mereka hampir selalu sekarat finansial), tapi dalam arti menciptakan buzz, menarik perhatian, dan membangun nama "Virgin" untuk pertama kalinya.
Dari Majalah ke Rekaman
Saat mengerjakan Student, Richard memperhatikan sesuatu: orang-orang obsessed dengan rekaman musik. Mereka akan membayar 40 shilling untuk album Beatles baru—harga yang mereka tidak akan bayar untuk makanan mewah.
Tapi satu-satunya tempat untuk membeli rekaman adalah toko rekaman besar seperti WH Smith yang mahal dan tidak personal.
Richard punya ide: bagaimana kalau kita menjual rekaman melalui mail order dengan harga lebih murah?
Ia menempatkan iklan kecil di edisi terakhir Student: "Virgin Mail Order Records."
Respons luar biasa. Order mengalir masuk. Dan yang paling brilian: pelanggan membayar di muka, memberikan Virgin modal untuk membeli rekaman.
Bisnis rekaman mail order berkembang pesat. Tapi Richard ingin lebih.
1971, ia membuka toko rekaman fisik pertama di Oxford Street, London. Bukan toko biasa—ini adalah experience. Pelanggan bisa duduk, mendengarkan rekaman sebelum membeli, nongkrong, merasa seperti bagian dari komunitas.
Virgin Records lahir.
Bagian 3: The Sex Pistols dan Membangun Kerajaan Musik
Virgin Records tumbuh—dari satu toko menjadi chain, dari retailer menjadi label rekaman.
Tapi lompatan besar datang ketika Richard menandatangani artis yang tidak ada label lain yang mau menyentuhnya: Sex Pistols.
Sex Pistols adalah kontroversial. Mereka kasar, vulgar, dan merepresentasikan semua yang dibenci oleh establishment Inggris. Label rekaman besar menganggap mereka terlalu berisiko.
Richard melihat peluang. "Jika semua orang bilang jangan lakukan sesuatu," ia berpikir, "mungkin itu justru yang harus kita lakukan."
Ia menandatangani Sex Pistols. Dan meskipun band ini meledak dengan skandal dan akhirnya bubar, album mereka menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah punk rock.
Lebih penting lagi, keputusan itu menetapkan reputasi Virgin sebagai label yang berani, yang tidak takut mengambil risiko, yang mendukung artis daripada hanya mengikuti tren.
Selama 1970-an dan 1980-an, Virgin Records tumbuh menjadi salah satu label independen terbesar di dunia, menandatangani artis seperti Rolling Stones, Janet Jackson, Phil Collins, Boy George, dan banyak lagi.
Tapi ada masalah: sukses di industri musik membuat Richard bosan. Ia butuh tantangan baru. Ia butuh petualangan.
Dan kemudian, takdir memberikannya satu.
Bagian 4: Lahirnya Virgin Atlantic—Dari Kekesalan Menjadi Airline
Puerto Rico, 1978.
Richard, yang sekarang berusia 28 tahun, sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi kekasihnya di British Virgin Islands. Penerbangannya dibatalkan oleh American Airlines.
Ia terdampar di bandara dengan puluhan penumpang frustrasi lainnya.
Kebanyakan orang akan mengeluh, menunggu, dan menerima nasib mereka. Richard Branson bukanlah kebanyakan orang.
Ia bertanya kepada counter charter berapa biaya untuk menyewa pesawat ke Virgin Islands. Jawabannya: $2,000.
Richard melakukan perhitungan cepat. Jika ia bisa menjual 39 kursi dengan harga $39 per kursi, ia akan mendapat $1,521. Tidak cukup untuk $2,000, tapi cukup dekat.
Ia mengambil papan tulis, menulis: "VIRGIN AIRWAYS - $39 per kursi ke BVI" dan berkeliling bandara menjual tiket.
Semua 39 kursi terjual.
Richard tidak hanya mendapat penerbangan gratis—ia baru saja mengoperasikan penerbangan charter pertamanya. Dan ide itu menempel di kepalanya.
Memulai Airline Tanpa Tahu Apapun
Beberapa tahun kemudian, seseorang bernama Randolph Fields menelepon Richard dengan pitch gila: "Mari kita mulai airline."
Richard tidak tahu apa-apa tentang industri penerbangan. Tapi itulah tepatnya mengapa ia tertarik.
Ia meneliti pasar dan menemukan peluang: rute transatlantik antara London dan New York didominasi oleh British Airways dan beberapa carrier besar lainnya. Layanannya buruk, harganya tinggi, dan pelanggan diberlakukan seperti sapi.
"Kita bisa melakukan ini dengan lebih baik," pikir Richard.
Tapi ada masalah besar: airline membutuhkan modal besar. Boeing 747 mahal. Infrastruktur mahal. Lisensi dan regulasi rumit.
Richard pergi ke Boeing dengan proposal. "Aku tidak punya cukup uang untuk membeli pesawat," katanya dengan jujur. "Tapi bagaimana kalau aku lease selama setahun? Jika tidak berhasil, aku kembalikan pesawatnya."
Boeing, terkesan dengan kejujuran dan kepercayaan diri Richard, setuju.
22 Juni 1984: Virgin Atlantic terbang untuk pertama kalinya dari London Gatwick ke Newark dengan satu Boeing 747.
Richard berdiri di bandara mengenakan sweater pilot sambil menyambut setiap penumpang secara personal. Ia ingin mereka tahu: ini bukan hanya airline. Ini adalah pengalaman.
Virgin Atlantic fokus pada hal-hal yang diabaikan airline lain:
- Hiburan di pesawat (TV untuk setiap kursi—sesuatu yang revolusioner pada tahun 1984)
- Makanan yang benar-benar enak
- Layanan yang ramah dan personal
- Harga yang kompetitif
- Sedikit sentuhan humor dan kesenangan
Pelanggan mencintainya. Virgin Atlantic tumbuh—perlahan tapi pasti.
Tapi kesuksesan ini tidak luput dari perhatian. Dan perhatian itu datang dari tempat yang sangat berbahaya: British Airways.
Bagian 5: Perang dengan British Airways—"Dirty Tricks"
British Airways (BA) adalah raksasa. Airline nasional Inggris dengan ratusan pesawat, ribuan karyawan, dan dukungan penuh dari pemerintah.
Virgin Atlantic adalah nyamuk yang mengganggu.
Awalnya, Lord King—ketua BA—menganggap Richard tidak lebih dari gangguan kecil. "Dia terlalu tua untuk rock and roll dan terlalu muda untuk terbang," ejek Lord King.
Tapi ketika Virgin mulai mendapat slot di Heathrow Airport—wilayah suci BA—dan ketika pelanggan mulai beralih dari BA ke Virgin, Lord King marah.
Dalam meeting rahasia dengan eksekutif senior BA, ia berkata: "Lakukan sesuatu tentang Branson itu."
Apa yang terjadi selanjutnya akan dikenang sebagai salah satu skandal bisnis paling terkenal dalam sejarah: "Dirty Tricks Campaign."
Operasi Rahasia
BA membentuk tim rahasia di belakang pintu terkunci dengan satu misi: menghancurkan Virgin Atlantic dengan cara apapun yang diperlukan.
Yang mereka lakukan:
1. Meretas sistem komputer Virgin untuk mengakses informasi penumpang dan booking
2. Menyamar sebagai staf Virgin, menelepon pelanggan Virgin dan berbohong bahwa penerbangan mereka dibatalkan, lalu menawarkan mereka pindah ke BA
3. Menyewa detektif swasta untuk mengikuti Richard, menyelidiki kehidupan pribadinya, bahkan menggeledah sampahnya untuk mencari informasi yang bisa digunakan melawannya
4. Menyebarkan rumor palsu ke media tentang masalah keuangan Virgin dan karakterisasi Richard sebagai showman yang tidak dapat dipercaya
5. Menghubungi pelanggan Virgin di rumah dan di bandara, mencoba membujuk mereka untuk beralih ke BA
Ini bukan persaingan bisnis normal. Ini adalah perang.
"David vs Goliath"
Richard mendapat informasi tentang kampanye kotor BA dari seorang whistleblower—karyawan BA yang merasa malu dengan perilaku perusahaannya.
Ia bisa saja diam. Bisnis kecil melawan raksasa sangat berisiko. Tapi itu bukan gaya Richard Branson.
Pada Januari 1991, Virgin mengajukan keluhan ke European Commission tentang taktik BA. BA menyangkal semuanya dan bahkan menuduh Richard membuat-buat tuduhan untuk publisitas.
Lalu, pada 1992, Thames Television menyiarkan dokumenter "Dirty Tricks" yang mengungkap seluruh operasi BA ke publik.
Skandalnya meledak. Media Inggris menyebutnya sebagai "pertarungan David vs Goliath." Richard mengajukan gugatan libel terhadap BA.
Kemenangan dan Air Mata
Untuk membiayai lawsuit—yang sangat mahal—Richard harus membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya: menjual Virgin Records, bisnis yang ia bangun dari nol, yang ia cintai lebih dari apapun.
EMI membeli Virgin Records seharga hampir $1 miliar.
Richard menandatangani kontrak dengan air mata mengalir di wajahnya. Ia merasa seperti menjual anaknya sendiri.
Tapi ia perlu uang itu untuk melawan BA. Dan melawan ia lakukan.
11 Januari 1993: BA menyerah.
Mereka setuju untuk menyelesaikan kasus di hari pertama pengadilan. BA membayar £500,000 kepada Richard pribadi, £110,000 kepada Virgin Atlantic, dan sekitar £3 juta untuk biaya hukum—total lebih dari $10 juta dalam nilai hari ini.
Lebih penting dari uang adalah permintaan maaf publik. BA dan Lord King harus merilis pernyataan bersama yang meminta maaf atas kampanye "dirty tricks."
Ini adalah kemenangan libel terbesar dalam sejarah Inggris pada waktu itu.
"BA Bonus"
Richard mengambil £610,000 dari settlement dan membagikannya kepada semua karyawan Virgin Atlantic sebagai bonus Natal—yang ia sebut "BA Bonus."
Ia tidak menyimpan sepeser pun untuk dirinya sendiri.
Kemenangan ini bukan hanya soal uang. Ini tentang prinsip. Tentang membuktikan bahwa perusahaan kecil dengan integritas bisa mengalahkan raksasa korup.
Loyalitas pelanggan terhadap Virgin Atlantic meroket. Orang-orang tidak hanya membeli tiket pesawat—mereka membeli nilai, prinsip, dan underdog yang berani melawan establishment.
Bagian 6: Filosofi Bisnis—"Screw It, Let's Do It"
Sepanjang karirnya, Richard Branson mengembangkan filosofi bisnis yang sangat berbeda dari kebanyakan CEO:
1. Bersenang-senang Adalah Bagian dari Bisnis
Kebanyakan orang berpikir bisnis dan kesenangan adalah dua hal terpisah. Bekerja keras di kantor, bersenang-senang di akhir pekan.
Richard menolak dikotomi ini. "Mengapa tidak bisa keduanya?" tanyanya.
Setiap bisnis Virgin dirancang untuk menyenangkan—bagi karyawan dan pelanggan. Kantor Virgin bukan tempat formal yang kaku. Ini adalah tempat di mana orang bisa menjadi diri mereka sendiri, berkreasi, tertawa.
Perayaan ulang tahun Alibaba ke-10, Richard naik panggung mengenakan kostum panggung lengkap dan menyanyikan lagu Elton John di depan 17,000 karyawan. Ia pernah berdandan seperti pengantin wanita untuk meluncurkan Virgin Brides. Ia mengenakan kostum bajak laut saat Virgin Atlantic mendapat slot di Heathrow.
Ini bukan hanya publicity stunt. Ini adalah pengingat: jangan terlalu serius dengan diri sendiri. Hidup terlalu pendek untuk tidak bersenang-senang.
2. Fokus pada Pelanggan yang Tersakiti
Richard selalu mencari pasar di mana pelanggan "diperas" atau dilayani dengan buruk oleh pemain incumbent.
Airlines? Pelanggan diberlakukan seperti sapi dan harga tinggi. Rekaman? Distribution monopoli dan harga tinggi. Mobile phones? Kontrak membingungkan dan layanan buruk. Trains? Tidak tepat waktu dan kotor.
Virgin masuk ke pasar-pasar ini dengan satu misi: memperlakukan pelanggan dengan lebih baik.
3. Lindungi Downside, Biarkan Upside Mengurus Dirinya Sendiri
Richard adalah risk-taker, tapi ia bukan gambler bodoh.
Setiap kali ia memulai venture baru, ia selalu bertanya: "Apa yang paling buruk yang bisa terjadi? Dan bisakah aku bertahan dari itu?"
Dengan Virgin Atlantic, ia merundingkan deal dengan Boeing di mana ia bisa mengembalikan pesawat setelah setahun jika bisnis gagal. Ini membatasi downside-nya.
Dengan banyak bisnis Virgin lainnya, ia membentuk joint venture atau partnership di mana risiko dibagi.
"Jika kau bisa membatasi kerugianmu," kata Richard, "kau bisa mengambil lebih banyak risiko."
4. Desentralisasi dan Autonomy
Virgin Group bukan perusahaan monolitik dengan headquarters besar dan manajemen hierarkis.
Sebaliknya, ini adalah koleksi dari 200-300 perusahaan kecil, masing-masing dijalankan secara independen dengan CEO mereka sendiri.
Richard percaya bahwa small is beautiful. Perusahaan kecil lebih cepat, lebih fleksibel, lebih dekat dengan pelanggan, dan lebih menyenangkan untuk bekerja.
5. "Screw It, Let's Do It"
Ini adalah mantra Richard. Ketika menghadapi keputusan sulit, ketika ragu, ketika takut—ia mengatakan pada dirinya sendiri: "Ah, bodo amat, ayo lakukan."
Ini bukan tentang ceroboh. Ini tentang tidak membiarkan ketakutan menahan kamu. Tentang memahami bahwa analisis berlebihan adalah musuh tindakan.
Hampir setiap bisnis besar Virgin dimulai dengan momen "screw it, let's do it"—Virgin Records, Virgin Atlantic, Virgin Mobile, Virgin Trains.
Bagian 7: Petualangan yang Nyaris Membunuhnya
Richard Branson tidak puas hanya dengan membangun bisnis. Ia butuh petualangan fisik—tantangan yang menempatkan hidupnya dalam bahaya nyata.
Melintasi Atlantik dengan Speedboat
1986. Richard memutuskan untuk memecahkan rekor melintasi Atlantik dengan speedboat—"Blue Riband."
Mengapa? "Karena tidak ada yang bisa melakukannya."
Percobaan pertama hampir membunuhnya. Perahu menabrak puing dan mulai tenggelam. Richard dan krunya harus diselamatkan oleh helicopter.
Tapi ia tidak menyerah. Tahun berikutnya, ia mencoba lagi dan berhasil memecahkan rekor.
Balon Udara Melintasi Atlantik dan Pasifik
Lalu Richard menjadi obsessed dengan balon udara.
1987: Ia dan Per Lindstrand mencoba menjadi orang pertama yang melintasi Atlantik dengan balon udara. Mereka hampir berhasil—tapi balon mendarat di air lepas pantai Irlandia dan Richard harus melompat ke laut yang dingin dan berenang 2 mil ke pantai dalam badai. Ia hampir mati.
Tapi mereka berhasil mencatat rekor.
1991: Mereka mencoba melintasi Pasifik. Lagi-lagi, hampir mati—balon crash landing di gurun Kanada dalam suhu beku. Tapi lagi, mereka pecahkan rekor.
Richard juga mencoba—berkali-kali—untuk menjadi orang pertama yang mengelilingi dunia dengan balon udara. Setiap percobaan hampir membunuhnya. Pada salah satu percobaan, balon hampir jatuh ke Pegunungan Atlas di Maroko (scene pembuka dari buku ini).
Mengapa Ia Melakukannya?
Orang sering bertanya kepada Richard: "Mengapa kau melakukan ini? Kau punya segalanya—kekayaan, keluarga, bisnis sukses. Mengapa mempertaruhkan semuanya?"
Jawabannya sederhana: "Karena itulah hidup. Hidup bukan tentang bermain aman. Hidup tentang mendorong batas, merasakan ketakutan, dan melakukannya juga."
Untuk Richard, petualangan fisik dan petualangan bisnis adalah sama. Keduanya tentang mengambil risiko, menghadapi ketakutan, dan menemukan apa yang kau mampu lakukan.
Bagian 8: Pelajaran untuk Hidup
1. Dyslexia Bukan Kutukan
Richard kesulitan membaca. Ia tidak pernah bisa mengeja dengan baik. Matematika membingungkannya.
Tapi dyslexia memaksa ia untuk mengembangkan skill lain:
- Komunikasi verbal yang kuat - Karena ia tidak bisa menulis dengan baik, ia menjadi sangat baik berbicara dengan orang
- Delegasi - Ia tidak bisa melakukan semuanya sendiri, jadi ia belajar membangun tim dan mempercayai orang
- Berpikir berbeda - Otaknya tidak bekerja seperti orang lain, yang membuatnya melihat peluang yang orang lain lewatkan
"Jangan biarkan apa yang kau tidak bisa lakukan menghalangi apa yang bisa kau lakukan," kata Richard.
2. Berubah Itu Bagus
Virgin dimulai sebagai majalah siswa. Lalu menjadi mail-order records. Lalu toko rekaman. Lalu label rekaman. Lalu airline. Lalu trains, mobile phones, space travel, dan ratusan bisnis lainnya.
Banyak orang akan bilang ini kurang fokus. Richard melihatnya berbeda: "Kehilangan virginitas bisnis berulang kali—memasuki industri baru, mempelajari sesuatu yang baru—itulah yang membuatku hidup."
Kemampuan untuk terus reinvent yourself, untuk tidak terjebak dalam satu identitas, adalah kunci kesuksesan jangka panjang.
3. People First, Always
Richard bisa membagikan £610,000 BA settlement kepada dirinya sendiri. Tapi ia memberikannya kepada karyawan.
Ketika ia harus menjual Virgin Records—bisnis yang ia cintai—ia memastikan semua karyawan diurus dengan baik.
Sepanjang karirnya, Richard menempatkan karyawan di atas pemegang saham. "Jaga karyawanmu," katanya, "dan mereka akan menjaga pelangganmu. Dan pelanggan akan menjaga pemegang sahammu."
4. Reputasi Adalah Segalanya
Ketika BA mencoba menghancurkan reputasi Virgin dengan rumor palsu, Richard melawan—meskipun mahal, meskipun berisiko.
"Reputasi membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun dan bisa hancur dalam sehari," kata Richard. "Lindungi nama baikmu dengan nyawa mu jika perlu."
5. Nikmati Perjalanannya
Pada akhir buku, Richard merefleksikan: "Aku tidak melakukan semua ini untuk menjadi kaya. Aku melakukannya karena menyenangkan, menantang, dan karena aku tidak bisa membayangkan melakukan hal lain."
Uang adalah hasil sampingan. Kesenangan, tantangan, pertumbuhan—itulah tujuan sebenarnya.
Penutup: Hidup sebagai Petualangan
Buku "Losing My Virginity" berakhir pada Januari 1993, setelah kemenangan melawan British Airways. Richard baru berusia 43 tahun.
Tapi kisahnya jauh dari selesai. Setelah buku ini, ia akan:
- Meluncurkan Virgin Mobile, Virgin Trains, Virgin Money
- Membeli pulau pribadi (Necker Island) dengan deal yang mustahil
- Mendirikan Virgin Galactic untuk space tourism
- Menjadi advocate untuk perubahan iklim dan filantropi
- Terus mencoba petualangan gila—dari kite-surfing dengan model di punggungnya hingga menyelam ke dasar laut
Richard Branson adalah bukti hidup bahwa kau tidak perlu memilih antara sukses dan kesenangan, antara bisnis dan petualangan, antara menghasilkan uang dan membuat perbedaan.
Pelajaran terbesar dari hidupnya:
Jangan biarkan siapapun memberitahumu bahwa kau tidak bisa melakukan sesuatu karena kau tidak punya gelar yang tepat, atau kau tidak dari latar belakang yang tepat, atau kau tidak cukup pintar.
Guru-guru Richard bilang ia bodoh. Ia membuktikan mereka salah dengan membangun kerajaan bernilai miliaran dolar.
Kepala sekolahnya bilang ia akan berakhir di penjara atau menjadi jutawan. Ia hampir keduanya—tapi menjadi jutawan (sebenarnya billionaire) yang mengubah dunia.
Seperti yang Richard Branson katakan:
"Hidupku tidak pernah merupakan rencana bisnis yang dirancang dengan hati-hati. Itu adalah serangkaian keputusan yang diambil dalam sekejap mata tanpa berpikir terlalu banyak. Dan aku tidak akan mengubah apapun."
Jadi, apa yang menghentikanmu?
Screw it. Let's do it.
Tentang Buku Asli
Losing My Virginity: How I Survived, Had Fun, and Made a Fortune Doing Business My Way pertama kali diterbitkan pada tahun 1998.
Buku ini mencakup 43 tahun pertama kehidupan Richard Branson—dari masa kecil hingga kemenangan melawan British Airways pada 1993. Ini adalah Volume 1 dari autobiografinya.
Ditulis dengan bantuan Edward Whitley, buku ini adalah kombinasi memoir personal, panduan bisnis, dan kisah petualangan yang menginspirasi. Richard menulis dari catatan harian yang ia buat sepanjang hidupnya, memberikan detail dan autentisitas yang jarang ditemukan dalam autobiografi CEO.
Buku ini menjadi bestseller internasional dan diterjemahkan ke banyak bahasa. Ia menginspirasi generasi entrepreneur untuk berpikir berbeda tentang bisnis—bahwa bisnis bisa menyenangkan, bisa bermakna, dan bisa menjadi kendaraan untuk petualangan, bukan hanya profit.
Sejak publikasi, Richard telah menulis beberapa buku lain termasuk Business Stripped Bare (2008) dan The Virgin Way (2014).
Untuk pengalaman penuh dari kehidupan luar biasa Richard Branson, sangat disarankan membaca buku aslinya. Cerita-ceritanya lucu, inspiratif, kadang mengharukan, dan selalu entertaining.
Ringkasan ini disusun untuk memberikan esensi dari perjalanan Richard Branson, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan kegembiraan membaca kisah lengkapnya dengan kata-kata sendiri.
Sekarang pergilah dan bangun sesuatu yang luar biasa.
Dan ingat: jangan terlalu serius dengan dirimu sendiri.
Hidup terlalu pendek untuk tidak bersenang-senang.