Lompat ke konten utama

Number the Stars

oleh Lois Lowry · Mei 2026 · 14 menit baca

Ketika Masa Kecil Bertemu Perang

Daftar isi

Ketika Masa Kecil Bertemu Perang

Bayangkan Anda berusia 10 tahun dan hidup Anda tiba-tiba berubah. 

Tidak ada lagi berlari bebas di jalanan Copenhagen. Tidak ada lagi toko permen dengan cokelat manis. Tidak ada lagi lampu-lampu terang di malam hari. 

Sebaliknya, ada tentara berseragam hijau di setiap sudut jalan. Ada aturan jam malam yang ketat. Ada pertanyaan-pertanyaan menakutkan tentang "siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi." 

Dan yang paling mengerikan—sahabat terbaik Anda, Ellen, tiba-tiba menjadi "berbahaya" hanya karena dia Yahudi. 

Inilah dunia Annemarie Johansen pada tahun 1943, ketika Nazi menduduki Denmark. 

Tapi ini bukan hanya cerita tentang perang. Ini bukan hanya cerita tentang ketakutan dan kehilangan. 

Ini adalah cerita tentang bagaimana bintang-bintang bisa memberi harapan bahkan dalam kegelapan paling kelam. 

Cerita tentang bagaimana seorang anak berusia 10 tahun bisa menjadi pahlawan tanpa pedang atau senjata—hanya dengan keberanian dan cinta. 

"Number the Stars" adalah salah satu novel anak-anak paling berpengaruh yang pernah ditulis tentang Holocaust. Ditulis oleh Lois Lowry dan memenangkan Newbery Medal, buku ini mengajarkan kepada generasi muda bahwa kepahlawanan tidak selalu datang dalam bentuk yang dramatis. 

Kadang, kepahlawanan adalah seorang gadis kecil yang berjalan melalui hutan gelap untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang dia cintai.


Bagian 1: Copenhagen yang Berubah—Ketika Bermain Menjadi Bahaya 

Berlari di Jalan yang Tidak Aman 

Copenhagen, 1943. Annemarie Johansen dan sahabatnya Ellen Rosen sedang berlari pulang dari sekolah, seperti yang selalu mereka lakukan setiap hari. 

Tapi hari itu berbeda. 

Di ujung jalan, mereka melihat dua tentara Nazi berdiri dengan senapan di pundak. Seragam hijau yang menakutkan. Boots hitam yang berkilau. Mata yang dingin dan mengawasi. 

"Halt!" teriak salah satu tentara ketika melihat dua gadis kecil itu berlari.

Annemarie dan Ellen berhenti, jantung berdebar kencang. 

"Mengapa kalian berlari?" tanya tentara itu dalam bahasa Denmark yang kaku.

"Kami... kami hanya bermain," jawab Annemarie dengan suara bergetar.

Tentara itu menatap mereka tajam, lalu akhirnya mengizinkan mereka pergi. 

Tapi sesuatu telah berubah dalam hidup Annemarie. Berlari—hal yang paling alami bagi anak-anak—kini menjadi sesuatu yang mencurigakan. 

Kehidupan di Bawah Pendudukan 

Di rumah, Mama menjelaskan kepada Annemarie mengapa Copenhagen berubah. 

"Jerman menduduki Denmark," katanya dengan suara lembut tapi sedih. "Mereka mengontrol negara kita sekarang." 

Annemarie tidak sepenuhnya mengerti apa arti "pendudukan." Yang dia tahu: 

  • Tidak ada lagi mentega untuk roti
  • Tidak ada lagi lampu terang di malam hari
  • Papa berbicara dengan suara berbisik tentang "perlawanan"
  • Dan yang paling penting, Ellen—sahabat terbaiknya—dalam bahaya karena dia Yahudi

Ellen Rosen—Sahabat yang Berbeda Agama 

Ellen Rosen adalah gadis yang persis seperti Annemarie dalam segala hal—kecuali satu: dia Yahudi.

Mereka bersekolah di tempat yang sama, bermain permainan yang sama, memiliki mimpi yang sama. Ellen pandai, baik hati, dan sudah seperti saudara bagi keluarga Johansen. 

Tapi sekarang, Nazi mulai membuat aturan khusus untuk orang Yahudi: 

  • Mereka harus memakai bintang kuning di pakaian
  • Mereka tidak boleh pergi ke tempat-tempat tertentu
  • Sekolah mereka ditutup
  • Dan yang paling menakutkan—ada rencana untuk "merelokasi" mereka

Annemarie tidak mengerti mengapa Ellen harus diperlakukan berbeda. Bagi dia, Ellen tetaplah Ellen—gadis yang tertawa keras saat mereka bermain, yang selalu berbagi permen, yang menangis saat menonton film sedih. 

Mengapa agama bisa membuat seseorang menjadi musuh?


Bagian 2: Malam yang Mengubah Segalanya

Paman Henrik dan Rencana Pelarian 

Suatu malam, Papa pulang dengan wajah serius. Dia berbicara dalam bisikan dengan Mama di dapur. 

Annemarie mendengar kata-kata yang menakutkan: "Nazi akan mengambil semua orang Yahudi Denmark dalam beberapa hari. Mereka harus pergi. Sekarang." 

Ellen tidak bisa pulang ke rumahnya. Terlalu berbahaya. 

"Ellen akan menginap di sini malam ini," kata Mama kepada Annemarie. "Katakan kepada siapa pun yang bertanya bahwa dia adalah saudara sepupu Anda." 

Tapi bagaimana cara Ellen lolos dari Copenhagen? Bagaimana cara mencapai tempat yang aman? 

Papa punya rencana: mereka akan pergi ke rumah Paman Henrik di Gilleleje, sebuah desa nelayan di pantai utara Denmark. Dari sana, perahu-perahu kecil bisa mengangkut orang-orang Yahudi menyeberang ke Swedia—negara netral yang aman. 

Kalung Bintang Daud—Simbol Identitas dan Bahaya 

Sebelum tidur, Ellen melepas kalung emas dengan Bintang Daud—simbol agama Yahudi.

"Aku tidak bisa memakainya," katanya dengan sedih. "Jika tentara melihat ini..." 

Annemarie mengambil kalung itu dan memegangnya erat. Emas itu terasa hangat dan berat di tangannya. 

"Aku akan menjaganya," janjinya kepada Ellen. "Ketika perang berakhir, aku akan mengembalikannya." 

Kalung itu bukan hanya perhiasan. Itu adalah simbol dari siapa Ellen sebenarnya—identitas yang harus dia sembunyikan untuk bertahan hidup. 

Tentara di Pintu 

Tengah malam, suara ketukan keras di pintu membangunkan seluruh rumah.

BANG! BANG! BANG! 

"Aufmachen! Buka pintu!" 

Tentara Nazi.

Mama dengan cepat membangunkan Annemarie dan Ellen. "Ellen, lepas kalung itu. Annemarie, sembunyikan. Cepat!" 

Annemarie memasukkan kalung Bintang Daud ke dalam kepalan tangannya, emas itu menekan kulitnya. 

Tentara masuk dengan senapan teracung. Mereka mencari keluarga Rosen.

"Siapa anak ini?" tanya salah satu tentara, menunjuk Ellen. 

"Itu Lise," jawab Mama dengan tenang. "Saudara sepupu Annemarie." 

Tentara itu menatap Ellen dengan tajam. Ellen memiliki rambut gelap—tidak seperti rambut pirang kebanyakan orang Denmark. 

"Dia tidak mirip dengan mereka," katanya curiga. 

Annemarie merasakan jantungnya berhenti berdetak. Jika mereka ketahuan... 

Tapi Papa dengan tenang mengeluarkan foto baby Lise—saudara Annemarie yang meninggal bertahun-tahun lalu saat masih bayi. 

"Inilah Lise waktu kecil," katanya. "Dia memang punya rambut gelap." 

Tentara itu akhirnya pergi. Tapi mereka tahu—keluarga Johansen sedang dalam pengawasan.

Ellen tidak aman lagi di Copenhagen.


Bagian 3: Perjalanan ke Pantai 

Gilleleje—Desa Nelayan yang Menjadi Harapan 

Keesokan harinya, Annemarie, Ellen, Mama, dan Kirsti (adik kecil Annemarie) berangkat dengan kereta api ke Gilleleje untuk "mengunjungi Paman Henrik." 

Tapi ini bukan kunjungan biasa. 

Gilleleje adalah desa nelayan kecil di pantai utara Denmark. Dari sini, perahu-perahu kecil bisa menyeberang ke Swedia dalam beberapa jam—jika mereka berhasil menghindari patroli Nazi di laut. 

Paman Henrik adalah nelayan yang pemberani. Rumahnya yang kecil dekat pantai menjadi tempat transit rahasia untuk pengungsi Yahudi. 

Tante Birte yang Tidak Ada 

Malam itu, Paman Henrik memberitahu bahwa akan ada "pemakaman untuk Tante Birte yang meninggal mendadak." 

Annemarie bingung. Dia tidak ingat punya Tante Birte. 

Tapi segera dia mengerti: ini bukan pemakaman sungguhan. Ini adalah cara untuk menyembunyikan pertemuan rahasia. 

Satu per satu, orang-orang mulai berdatangan ke rumah Paman Henrik. Mereka semua Yahudi yang mencoba melarikan diri. Keluarga dengan anak-anak kecil. Orang tua dengan wajah takut. Remaja yang mencoba terlihat berani. 

Ellen dan keluarganya juga di antara mereka. 

Rencana Pelarian yang Berbahaya 

Paman Henrik menjelaskan rencananya: 

"Tengah malam, saya akan membawa kalian semua dengan perahu ke Swedia. Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Kalian harus sangat tenang—tidak ada suara, tidak ada cahaya." 

Tapi ada masalah besar: patroli Nazi dengan anjing-anjing pelacak sering memeriksa perahu-perahu di laut. 

Jika ketahuan, mereka semua akan ditangkap—atau lebih buruk lagi.


Bagian 4: Malam Pemisahan yang Menyakitkan

Pamit yang Tidak Terlupakan 

Sebelum berangkat ke pantai, Ellen memeluk Annemarie erat. 

"Terima kasih," bisiknya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah menjadi saudara untukku."

Annemarie merasakan air mata di pipinya. Ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu. 

"Aku akan menjaga kalungmu," janjinya lagi. "Dan ketika perang berakhir, kami akan bermain lagi seperti dulu." 

Ellen tersenyum melalui air matanya. "Aku akan menunggumu di Swedia. Atau kamu yang datang ke sana untuk mengunjungiku." 

Mereka tidak tahu bahwa perang akan berlangsung bertahun-tahun lagi. Mereka tidak tahu bahwa dunia mereka tidak akan pernah kembali sama. 

Yang mereka tahu adalah persahabatan mereka lebih kuat daripada kebencian para Nazi.

Perjalanan Malam ke Pantai 

Tengah malam, sekelompok orang berjalan dalam kegelapan menuju pantai. 

Mama, Annemarie, dan Kirsti mengantar mereka sampai ke perahu. Tidak ada kata-kata—terlalu berbahaya untuk berbicara. 

Annemarie melihat Ellen berjalan dengan keluarganya menuju perahu kecil yang akan membawa mereka melintasi laut berbahaya. 

Gadis berusia 10 tahun itu tidak tahu bahwa dia sedang menyaksikan salah satu operasi penyelamatan paling berani dalam sejarah.


Bagian 5: Paket yang Terjatuh—Misi Berbahaya

Paket Misterius 

Keesokan paginya, Mama menemukan sesuatu di jalan—paket kecil yang terjatuh dari kantong Paman Henrik semalam. 

"Ini pasti penting," katanya dengan cemas. "Henrik pasti memerlukannya untuk perahu." 

Tapi Mama tidak bisa mengantarkannya—kakinya terkilir saat mengantar para pengungsi semalam. 

"Annemarie," katanya. "Kamu harus membawa ini ke Paman Henrik di pelabuhan."

Annemarie melihat paket itu. Kecil, terbungkus kertas cokelat, tidak terlihat istimewa. 

Dia tidak tahu bahwa di dalam paket itu ada serbuk khusus yang bisa mengelabui anjing-anjing pelacak Nazi—hal yang bisa menyelamatkan hidup semua orang di perahu. 

Berjalan Melalui Hutan 

Jalan tercepat ke pelabuhan adalah melalui hutan kecil. Annemarie pernah berjalan di sana berkali-kali bersama Papa. 

Tapi hari itu berbeda. Dia berjalan sendirian, membawa paket misterius, sementara tentara Nazi mungkin mengawasi dari mana saja. 

Setiap suara membuat jantungnya berdebar. Ranting yang patah. Burung yang terbang. Angin yang berdesir melalui dedaunan. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Annemarie merasakan apa artinya menjadi berani. 

Bukan karena dia tidak takut. Dia sangat takut. 

Tapi dia tetap berjalan karena dia tahu—hidup orang-orang yang dicintainya bergantung padanya. 

Dihadang Tentara 

Di tengah hutan, yang terburuk terjadi. 

"Halt! Berhenti!" 

Dua tentara Nazi keluar dari balik pohon, senapan teracung ke arahnya.

"Apa yang kamu lakukan di sini, anak kecil?" salah satu dari mereka bertanya dalam bahasa Denmark yang kasar. 

Annemarie merasakan tubuhnya gemetar. Paket itu terasa berat seperti batu di tangannya.

Jika mereka menemukan paket itu... 

Dengan suara yang menggetar, dia berkata: "Saya... saya membawakan makan siang untuk Paman Henrik. Dia nelayan di pelabuhan." 

"Makan siang?" tentara itu curiga. "Coba lihat." 

Annemarie membuka paket dengan tangan bergetar, berharap tidak ada yang mencurigakan di dalamnya. 

Tentara itu melihat ke dalam paket dan menemukan... roti dan keju. 

Paman Henrik yang cerdas sudah menyembunyikan serbuk khusus itu di dalam roti!

"Hmm," tentara itu mengembalikan paket. "Pergi sana. Dan jangan bermain-main di hutan lagi."

Annemarie berlari secepat kakinya bisa membawanya.


Bagian 6: Operasi yang Berhasil—Kemenangan Kecil

Paket Sampai Tepat Waktu 

Annemarie sampai di pelabuhan tepat saat Paman Henrik sedang mempersiapkan perahu untuk perjalanan siang hari yang "normal." 

"Ah, paket itu!" katanya lega saat melihat Annemarie. "Ini sangat penting. Terima kasih, gadis pemberani." 

Dia tidak menjelaskan apa isi paket itu. Annemarie baru mengetahui bertahun-tahun kemudian bahwa serbuk dalam roti itu menyelamatkan hidup Ellen dan puluhan pengungsi lainnya. 

Ellen Selamat 

Beberapa hari kemudian, Paman Henrik memberitahu bahwa semua pengungsi—termasuk Ellen dan keluarganya—berhasil sampai dengan selamat di Swedia. 

Annemarie menangis—campuran antara lega dan sedih. Ellen aman, tapi mereka terpisah oleh laut dan perang. 

Kalung yang Tetap Dijaga 

Annemarie terus menyimpan kalung Bintang Daud Ellen. Setiap malam, dia memegangnya sambil berdo'a untuk keselamatan sahabatnya. 

Kalung itu mengingatkannya bahwa Ellen masih hidup, masih berada di luar sana, masih berharap suatu hari mereka bisa bermain bersama lagi.


Bagian 7: Denmark yang Melawan—Pelajaran tentang Keberanian 

Perlawanan Sipil 

Seiring waktu, Annemarie mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya.

Denmark tidak hanya "diduduki" Nazi—Denmark melawan dengan caranya sendiri.

Orang-orang Denmark melakukan "perlawanan sipil": 

  • Mereka menolak bekerja sama dengan Nazi
  • Mereka menyembunyikan orang-orang Yahudi
  • Mereka menyabotase transportasi dan pabrik
  • Mereka membantu operasi penyelamatan rahasia

King Christian X, raja Denmark, menjadi simbol perlawanan—dia menolak melarikan diri dan terus tinggal bersama rakyatnya. 

Kepahlawanan Sehari-hari 

Annemarie menyadari bahwa kepahlawanan tidak selalu berupa tindakan besar dan dramatis.

Kadang kepahlawanan adalah: 

  • Mama yang berbohong kepada tentara untuk melindungi Ellen
  • Papa yang menyembunyikan foto baby untuk menyelamatkan hidup seseorang
  • Paman Henrik yang mempertaruhkan hidupnya setiap malam membawa pengungsi
  • Dirinya sendiri—gadis 10 tahun yang berani berjalan sendirian melalui hutan untuk menyelamatkan orang lain 

Bintang-bintang sebagai Harapan 

Setiap malam, Annemarie melihat ke langit dan menghitung bintang-bintang.

Dia ingat cerita yang diceritakan Papa tentang King Christian dan bintang-bintang: 

"Ketika orang Denmark merasa putus asa, mereka melihat ke bintang-bintang dan mengingat bahwa cahaya selalu mengalahkan kegelapan." 

Bintang Daud di kalung Ellen. Bintang-bintang di langit malam. Semuanya simbol harapan bahwa kegelapan tidak akan berlangsung selamanya.


Bagian 8: Pelajaran dari Annemarie 

1. Keberanian Bukan Berarti Tidak Takut 

Annemarie sangat takut saat berjalan sendirian melalui hutan. Dia gemetar saat berhadapan dengan tentara Nazi. 

Tapi dia tetap melakukan apa yang harus dilakukan. 

Pelajaran: Keberanian bukan tidak merasakan takut. Keberanian adalah melakukan hal yang benar meskipun Anda takut. 

2. Persahabatan Melampaui Perbedaan 

Annemarie dan Ellen berasal dari agama yang berbeda. Tapi persahabatan mereka lebih kuat dari kebencian Nazi. 

Pelajaran: Perbedaan agama, ras, atau budaya tidak membuat seseorang menjadi musuh. Yang membuat seseorang menjadi teman atau musuh adalah tindakan mereka, bukan identitas mereka. 

3. Tindakan Kecil Bisa Mengubah Segalanya 

Annemarie hanya seorang anak berusia 10 tahun. Dia tidak memimpin tentara atau membuat keputusan besar. 

Tapi dengan mengantarkan paket kecil, dia membantu menyelamatkan puluhan hidup. 

Pelajaran: Anda tidak perlu menjadi orang dewasa atau memiliki kekuatan besar untuk membuat perbedaan. Tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta bisa mengubah dunia. 

4. Dalam Situasi Sulit, Keluarga adalah Kunci 

Keluarga Johansen mempertaruhkan hidup mereka untuk melindungi Ellen. Mereka memperlakukan dia seperti anak mereka sendiri. 

Pelajaran: Keluarga bukan hanya tentang darah. Keluarga adalah orang-orang yang rela mengorbankan segalanya untuk melindungi Anda. 

5. Harapan Harus Dijaga Hidup 

Meskipun perang berlangsung bertahun-tahun, Annemarie terus menjaga kalung Ellen dan berharap mereka akan bertemu lagi.

Pelajaran: Dalam situasi tergelap sekalipun, harapan adalah hal yang membuat kita tetap hidup. Jangan pernah menyerah pada harapan.


Penutup: Setelah Perang—Ketika Bintang-bintang Bersinar Lagi 

Perang Berakhir 

Tahun 1945, perang berakhir. Nazi dikalahkan. Denmark bebas. 

Annemarie, kini berusia 13 tahun, berlari ke kantor pos setiap hari mencari surat dari Ellen.

Dan suatu hari—akhirnya ada surat! 

Ellen selamat. Dia tinggal di Stockholm bersama keluarganya. Dia bersekolah di sana, belajar bahasa Swedia, membuat teman baru. 

Tapi dia tidak melupakan Denmark. Dia tidak melupakan Annemarie. 

Kalung yang Dikembalikan 

Dalam suratnya, Ellen menulis: 

"Annemarie terkasih, apakah kamu masih menyimpan kalungku? Aku sangat merindukan kalung itu. Tapi lebih dari itu, aku merindukan sahabatku." 

Annemarie memegang kalung Bintang Daud yang sudah dia jaga selama bertahun-tahun. Emas itu sudah agak kusam, tapi masih indah. 

Dia menulis balasan: 

"Ellen tersayang, kalungmu aman bersamaku. Dan suatu hari, aku akan datang ke Swedia untuk mengembalikannya—atau kamu datang pulang ke Denmark. Persahabatan kita tidak akan pernah hilang, seperti bintang-bintang yang tidak akan pernah padam." 

Denmark yang Bangga 

Bertahun-tahun kemudian, dunia mengetahui bahwa Denmark menyelamatkan 99% populasi Yahudi mereka—rekor yang luar biasa dibandingkan negara lain di Eropa. 

Mereka melakukan ini bukan dengan tentara atau senjata, tapi dengan keberanian sipil, solidaritas, dan cinta kemanusiaan. 

Annemarie—dan ribuan Denmark lainnya—membuktikan bahwa orang biasa bisa melakukan hal luar biasa ketika mereka memilih cinta daripada kebencian. 

Bintang-bintang yang Tetap Bersinar

Setiap malam, Annemarie masih melihat ke langit dan menghitung bintang-bintang.

Sekarang dia mengerti pesan yang lebih dalam dari cerita Papa tentang King Christian: 

"Bintang-bintang akan terus bersinar, berapa pun gelapnya malam. Dan selama ada orang yang memilih untuk menjadi cahaya bagi orang lain, kegelapan tidak akan pernah menang." 

Pertanyaan untuk Anda 

Dalam hidup Anda hari ini: 

  • Siapa "Ellen" dalam hidup Anda—orang yang membutuhkan perlindungan atau bantuan?
  • Keberanian kecil apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu orang lain?
  • Bagaimana Anda bisa menjadi "bintang" yang memberikan cahaya dalam kegelapan orang lain?
  • Apakah Anda pernah harus memilih antara keamanan diri sendiri dan melindungi orang lain?

Dunia hari ini masih penuh dengan "Ellen-Ellen" yang membutuhkan perlindungan. Pengungsi, anak-anak yang di-bully, orang yang didiskriminasi karena perbedaan. 

Dan dunia masih membutuhkan "Annemarie-Annemarie"—orang-orang yang mau mengambil risiko kecil untuk melindungi yang lemah. 

Anda tidak perlu menunggu menjadi dewasa untuk menjadi pahlawan. Anda tidak perlu memiliki kekuatan super atau senjata. 

Yang Anda butuhkan hanya hati yang berani dan tangan yang mau membantu. 

Karena seperti yang ditunjukkan Annemarie: bintang-bintang terbesar adalah mereka yang bersinar untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.


Tentang Buku Asli 

"Number the Stars" diterbitkan tahun 1989 oleh Lois Lowry dan memenangkan Newbery Medal tahun 1990 sebagai novel anak-anak terbaik. 

Lois Lowry menulis buku ini setelah terinspirasi oleh kisah nyata seorang teman yang membantu penyelamatan orang Yahudi Denmark selama Perang Dunia II. Dia ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa kepahlawanan bisa datang dalam bentuk yang sederhana dan dapat diakses oleh mereka. 

Cerita ini berdasarkan fakta sejarah yang luar biasa: Denmark berhasil menyelamatkan hampir seluruh populasi Yahudi mereka (sekitar 7,200 orang) melalui operasi penyelamatan massal ke Swedia pada tahun 1943. Operasi ini melibatkan ribuan warga Denmark biasa yang mempertaruhkan hidup mereka. 

Untuk pemahaman lengkap tentang kedalaman karakter Annemarie, detail kehidupan di Denmark yang diduduki Nazi, dan pesan moral yang kaya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi buku lengkapnya menawarkan pengalaman yang mengharukan dan mendidik yang telah menginspirasi jutaan pembaca muda di seluruh dunia. 

Sekarang pergilah dan jadilah bintang untuk orang lain. Karena seperti yang diajarkan Annemarie: dalam kegelapan, bahkan cahaya terkecil bisa memberikan harapan yang tak terhingga. 

Bintang mana yang akan Anda nyalakan hari ini?

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: Where The Crawdads Sing
Kembali ke atas

Buku serupa