Lompat ke konten utama

Packing for Mars

oleh Mary Roach · Desember 2025 · 13 menit baca

Pertanyaan yang Tidak Ada di Film

Daftar isi

Pertanyaan yang Tidak Ada di Film 

Bayangkan ini: Anda ditawari tiket gratis ke Mars. Perjalanan enam bulan. Tinggal di sana selama setahun. Lalu enam bulan pulang. 

Terdengar luar biasa, kan? Petualangan seumur hidup. Kesempatan menjadi bagian dari sejarah manusia. 

Tapi sebelum Anda menandatangani kontrak, Mary Roach—jurnalis sains dengan specialisasi bertanya pertanyaan yang membuat orang tidak nyaman—punya beberapa pertanyaan untuk Anda: 

"Bagaimana Anda akan buang air besar di pesawat ruang angkasa?"

Tunggu, apa? 

"Apa yang terjadi jika Anda muntah dalam helm astronot Anda?" 

Err... 

"Bagaimana Anda akan mandi selama 18 bulan tanpa shower yang benar?" 

"Apa yang Anda lakukan jika tiba-tiba sangat, sangat ingin berhubungan seks—tapi Anda terjebak di kapsul kecil dengan lima orang lain selama setahun?" 

Oke, sekarang perjalanan ke Mars mulai terdengar kurang glamor. 

Inilah masalahnya: Film Hollywood menunjukkan astronot sebagai pahlawan heroik yang melakukan spacewalk dramatis dan menyelamatkan misi dengan kecerdasan brilian. Yang tidak mereka tunjukkan? Astronot yang berjuang dengan toilet yang tersumbat, atau yang harus membersihkan kotoran yang mengambang di kabana karena sistem ventilasi gagal. 

Mary Roach menghabiskan bertahun-tahun menginvestigasi sisi perjalanan ruang angkasa yang tidak pernah dibahas di konferensi pers NASA. Dia bertanya pertanyaan-pertanyaan yang

dianggap "tidak penting" atau "memalukan." Dia mengunjungi fasilitas simulasi Mars. Dia wawancara astronot tentang hal-hal yang mereka tidak pernah ditanya dalam interview normal. 

Dan yang dia temukan mengejutkan, lucu, dan sangat manusiawi. 

"Packing for Mars" bukan tentang roket atau matematika orbital. Ini tentang kenyataan brutal bahwa manusia adalah makhluk biologis dengan kebutuhan biologis—dan kebutuhan itu tidak hilang hanya karena Anda berada 300 km di atas Bumi. 

Siap untuk truth yang tidak glamor tentang perjalanan luar angkasa? 

Mari kita mulai dengan toilet.


Bagian 1: Toilet Tersulit di Alam Semesta 

Masalah yang Tidak Ada di Film 

Di film "The Martian," Matt Damon terlihat cool bertani kentang di Mars. Yang tidak Anda lihat? Dia buang air di mana. Dan bagaimana. 

Ternyata, ini adalah salah satu masalah terbesar dalam perjalanan ruang angkasa. 

Di Bumi, toilet bekerja dengan gravitasi. Sederhana. Gravitasi menarik... semuanya... ke bawah. Flush. Selesai. 

Di luar angkasa? Tidak ada "bawah." Tidak ada gravitasi. Segala sesuatu—termasuk kotoran Anda—akan mengambang. 

Toilet Luar Angkasa: Engineering Marvel yang Memalukan

NASA menghabiskan jutaan dolar mengembangkan toilet luar angkasa. Inilah cara kerjanya: 

Untuk buang air kecil: Ada semacam selang vakum yang "menghisap" urin. Terdengar sederhana. Tapi ada masalah: 

1. Ukuran berbeda untuk pria dan wanita—NASA harus menyediakan "adapter" yang berbeda. Ini menjadi awkward dalam briefing: "Anda ukuran small, medium, atau large?" 

2. Anda harus aim dengan sempurna—kalau meleset sedikit, urin akan tersedot ke tempat yang salah atau lebih buruk, mengambang di kabin. 

3. Suara hisapan sangat keras—bayangkan vacuum cleaner industrial. Tidak ada privasi audio. 

Untuk buang air besar: Ini jauh lebih rumit. 

Ada "lubang" kecil—diameter hanya 10 cm—dengan sistem vakum yang menghisap kotoran ke kantong. Anda harus duduk dengan sempurna aligned. Sedikit salah posisi, dan... well, bencana. 

Roach menulis dengan humor kering: "Astronot harus berlatih aim dengan 'toilet training camera' yang menunjukkan apakah mereka aligned dengan benar. Tidak ada yang melamar jadi astronot dengan bayangan harus latihan buang air di depan kamera." 

Disaster Toilet Terkenal 

Misi Apollo 10, 1969. Tiga astronot. Tujuh hari dalam kapsul kecil.

Tiba-tiba, sesuatu yang cokelat mengambang melewati komandan. 

"Ada kotoran mengambang di sini," kata komandan dengan frustrasi.

"Bukan punyaku," kata astronot kedua. 

"Aku tidak pikir itu punyaku," kata yang ketiga. 

"Aku rasa itu punyaku," akhirnya salah satu mengakui. 

Sistem pembuangan gagal. Dan sekarang mereka harus menangkap kotoran yang mengambang dengan tisu dan memasukkannya ke kantong sampah. 

Ini adalah realitas perjalanan ruang angkasa yang tidak pernah Anda lihat di poster recruitment NASA.


Bagian 2: Makan Tanpa Rasa—Problem Indra di Zero Gravity 

Mengapa Makanan Luar Angkasa Terasa Hambar 

Roach mewawancarai astronot tentang makanan. Konsensus universal: "Semuanya terasa seperti karton." 

Tapi ini bukan karena makanannya jelek. Ini karena hidung Anda tidak bekerja dengan benar di luar angkasa. 

Di Bumi, gravitasi menarik cairan tubuh ke bawah. Di luar angkasa, cairan bergeser ke atas—ke kepala Anda. Hasilnya? Astronot semua mengalami kongesti hidung permanen. Seperti flu yang tidak pernah sembuh. 

Dan ketika hidung Anda tersumbat, makanan tidak punya rasa. 80% dari "rasa" sebenarnya datang dari penciuman, bukan pengecapan. 

Solusi astronot? Saus pedas. Banyak saus pedas. 

Hampir semua astronot membawa botol Tabasco atau sambal ke luar angkasa. Ini satu-satunya cara membuat makanan terasa seperti... sesuatu. 

Makanan Mengambang—Krisis Krumb 

Masalah kedua: remah roti. 

Kenapa tidak ada roti di luar angkasa? Karena remah-remah kecil akan mengambang. Dan mengambang masuk ke mata, hidung, telinga. Atau lebih buruk—masuk ke ventilasi atau panel kontrol elektronik. 

Roach menulis: "Satu remah roti bisa menonaktifkan sistem life support senilai miliaran dolar."

Jadi astronot makan tortilla. Tidak ada remah. 

Eksperimen Aneh: Simulator Muntah Zero-G 

Salah satu investigasi paling absurd Roach adalah mengunjungi laboratorium yang meneliti muntah di luar angkasa. 

Pertanyaannya: Apa yang terjadi jika Anda muntah dalam helm tertutup di luar angkasa? 

Ini bukan pertanyaan akademis. Banyak astronot mengalami space sickness—mual parah di hari-hari pertama. Jika mereka sedang spacewalk dan tiba-tiba muntah...

Muntahan akan mengambang dalam helm. Menutupi visor. Masuk ke hidung dan mulut. Anda bisa tersedak muntah Anda sendiri. 

Solusi NASA? Mereka mendesain "muntah bag" khusus yang bisa digunakan bahkan dalam helm. Tapi tetap—ini adalah skenario nightmare.


Bagian 3: Seks, Privasi, dan Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanya 

Gajah di Ruangan (atau Kapsul) 

Roach mencoba mendapat jawaban untuk pertanyaan yang semua orang ingin tahu tapi tidak ada yang mau tanya: Apakah astronot pernah berhubungan seks di luar angkasa? 

NASA's official answer: "Tidak." 

Roach skeptis. 

Dia mencoba mewawancarai astronot. Mereka menghindari pertanyaan. Dia mencoba bicara dengan psikolog NASA. Mereka redirect. 

Tapi dia menemukan clues: 

1. Astronot adalah manusia normal—mereka punya hasrat normal. Dan beberapa misi berlangsung 6+ bulan. 

2. Pasangan suami-istri pernah terbang bersama—Mark Lee dan Jan Davis adalah pasangan menikah pertama yang terbang bersama di shuttle tahun 1992. 

3. Russian space program lebih terbuka—ada rumor (tidak pernah dikonfirmasi) tentang eksperimen "conjugal visit" di stasiun luar angkasa Soviet. 

Masalah Privasi 

Bahkan jika ada keinginan, bagaimana? 

Space station tidak punya kamar pribadi. Semua orang tidur di "sleep pods" kecil yang hanya dikurtinkan. Suara berjalan ke mana-mana. Anda bisa mendengar segala sesuatu. 

Roach menemukan satu fakta menarik: astronot bisa request "private family conference"—waktu di mana mereka boleh bicara dengan keluarga tanpa NASA monitoring. 

Tapi apakah waktu itu digunakan untuk... aktivitas lain? Roach menulis dengan cerdas: "Saya tidak bisa membuktikan apa pun. Tapi saya juga tidak bisa membayangkan enam bulan tanpa... well." 

Reproduksi di Luar Angkasa 

Pertanyaan yang lebih serius: Bisakah manusia bereproduksi di Mars?

Eksperimen dengan tikus menunjukkan: radiasi luar angkasa merusak DNA sperma dan ovum. Konsepsi mungkin, tapi risiko cacat genetik sangat tinggi. 

Belum lagi masalah kehamilan tanpa gravitasi. Tidak ada yang tahu apakah fetus bisa berkembang normal tanpa gravitasi untuk membantu perkembangan tulang dan otot. 

NASA belum siap membahas ini secara publik. Tapi untuk kolonisasi jangka panjang, ini adalah pertanyaan yang harus dijawab.


Bagian 4: Psikologi—Jangan Benci Rekan Anda (Atau Anda Semua Mati) 

Eksperimen Mars500 

Roach mengunjungi fasilitas di Moscow yang menjalankan eksperimen paling ekstrem: Mars500. 

Enam relawan dikunci dalam simulator pesawat ruang angkasa selama 520 hari—durasi perjalanan pulang-pergi ke Mars. 

Tidak ada jendela nyata. Tidak ada keluar. Tidak ada kontak fisik dengan dunia luar. Hanya enam orang dalam ruang sempit selama hampir dua tahun. 

Mengapa? Untuk mempelajari psikologi isolasi ekstrem. 

Bahaya: Cabin Fever dan Kegilaan 

Apa yang terjadi ketika Anda terjebak dengan orang yang sama dalam ruang kecil selama berbulan-bulan? 

Anda mulai membenci hal-hal kecil: 

  • Cara seseorang mengunyah
  • Cara mereka bernapas
  • Joke yang mereka ulangi
  • Kebiasaan kecil yang normal—tapi setelah 100 kali, membuat Anda ingin berteriak

Russian space program punya sejarah kelam: ada laporan perkelahian fisik antar kosmonot. Satu kasus, kru hampir membatalkan misi karena dua anggota tidak bisa berhenti bertengkar. 

Strategi Survival 

NASA sekarang screening ketat untuk kompatibilitas psikologis. Mereka tidak cari orang paling cerdas—mereka cari orang yang bisa not drive others crazy in small spaces. 

Roach menemukan karakteristik yang dicari: 

  • Low ego—tidak butuh jadi pusat perhatian
  • High empathy—bisa membaca mood orang lain
  • Even temperament—tidak mudah marah atau depresi
  • Sense of humor—bisa tertawa tentang situasi absurd
  • Fleksibilitas—bisa adapt ketika rencana berubah

Ironisnya, karakteristik yang membuat seseorang astronot hebat (kompetitif, perfeksionis, individualis) bisa membuat mereka nightmare roommate di luar angkasa.

 


Bagian 5: Hygiene—Anda Tidak Akan Mandi Selama Setahun 

Mandi Tanpa Air Mengalir 

Di stasiun luar angkasa, Anda tidak bisa mandi seperti normal. Air tidak "jatuh." Tetesan air akan mengambang dan masuk ke mana-mana. 

Solusi? "Sponge bath" dengan handuk basah. 

Roach mewawancarai astronot yang menghabiskan 6 bulan di ISS: "Anda tidak benar-benar merasa bersih. Ever." 

Prosedur "mandi": 

1. Basahi handuk kecil dengan air hangat 

2. Tambahkan sedikit sabun no-rinse (seperti sabun bayi) 

3. Lap tubuh Anda 

4. Gunakan handuk kedua untuk "bilas" (mengusap sabun) 

5. Selesai. 

Waktu total: 10-15 menit. Dan Anda hanya boleh melakukan ini 2-3 kali seminggu karena air sangat terbatas. 

Masalah Bau 

Tanpa mandi yang benar selama berbulan-bulan, bagaimana dengan bau?

Kabar baik: sistem ventilasi di ISS sangat baik. Bau tidak bertahan lama. 

Kabar buruk: Anda tetap tahu Anda bau. Dan rekan Anda tahu. Tapi tidak ada yang menyebutkannya karena... well, semua orang bau. 

Sikat Gigi Luar Angkasa 

Hal simpel seperti sikat gigi jadi rumit: 

Anda tidak bisa berkumur dan meludah. Kemana ludah Anda? 

Solusi: Gunakan pasta gigi yang bisa ditelan. Sikat gigi. Telan pasta dan busa.

Atau, opsi kedua: ludah ke handuk. 

Roach menulis: "Hidup di luar angkasa membuat Anda appreciate toilet dan wastafel dengan cara yang Anda tidak pernah bayangkan."


Bagian 6: Bahaya yang Sungguhan—Radiasi, Otot, dan Tulang 

Radiasi: Silent Killer 

Di Bumi, kita dilindungi dari radiasi cosmic oleh atmosfer dan medan magnet planet. Di luar angkasa? Tidak ada proteksi. 

Roach mempelajari data NASA: astronot yang menghabiskan 6 bulan di ISS menerima radiasi setara dengan puluhan tahun paparan di Bumi. 

Risikonya: 

  • Cancer (terutama leukemia)
  • Kerusakan mata (katarak dini)
  • Kerusakan otak (masalah kognitif jangka panjang)

Untuk perjalanan ke Mars, eksposur radiasi akan jauh lebih buruk. NASA belum punya solusi sempurna. 

Atrofi Otot dan Tulang 

Tanpa gravitasi, tubuh Anda berpikir: "Kenapa aku butuh otot dan tulang kuat? Tidak ada beban untuk ditahan." 

Jadi tubuh mulai mencerna otot dan tulang Anda sendiri. 

Astronot kehilangan: 

  • 1-2% bone density per bulan
  • 20% muscle mass dalam 6 bulan

Solusi? Exercise brutal setiap hari. Astronot harus workout 2+ jam sehari hanya untuk memperlambat atrofi. Mereka tidak bisa menghentikannya sepenuhnya. 

Bayangkan: Anda pergi ke Mars dengan tulang dan otot sehat. Setelah 6 bulan perjalanan, Anda tiba dengan tulang rapuh seperti orang tua dan otot lemah seperti orang yang tidak pernah exercise. 

Lalu Anda harus explore planet dengan kondisi fisik yang rusak.


Bagian 7: Mengapa Repot-Repot Pergi? 

Pertanyaan yang Tidak AdaJawaban Rasional 

Di akhir penelitiannya, Roac h sampai pada pertanyaan fundamental: Mengapa kita harus pergi ke Mars? 

Secara praktis, tidak ada alasan bagus: 

  • Sangat mahal (ratusan miliar dolar)
  • Sangat berbahaya (kemungkinan besar beberapa astronot akan mati)
  • Tidak ada resources berharga di Mars yang tidak bisa kita dapat di Bumi
  • Tidak ada kehidupan yang kita tahu
  • Tidak habitable—Anda tidak bisa bernapas, tidak ada air, radiasi mematikan

Robot bisa melakukan semua saintifik work tanpa risiko nyawa manusia.

Jadi mengapa? 

Jawaban Tidak Rasional (Tapi Manusiawi) 

Roach mewawancarai astronot, ilmuwan, engineers. Jawabannya selalu kembali ke sesuatu yang tidak bisa diukur: 

"Karena manusia perlu explore." 

"Karena ini adalah langkah berikutnya." 

"Karena someday Bumi mungkin tidak habitable, dan kita perlu backup planet."

"Karena ini inspirasional—ini membuat anak-anak ingin jadi scientist." 

Tidak ada jawaban yang 100% rasional. Tapi mungkin hal-hal terbaik yang manusia lakukan tidak pernah sepenuhnya rasional. 

Kita membangun katedral yang butuh 200 tahun untuk selesai. Kita membuat art yang tidak punya fungsi praktis. Kita menulis buku dan puisi. Kita explore. 

Mungkin pergi ke Mars adalah sama—sesuatu yang kita lakukan bukan karena masuk akal, tapi karena kita manusia, dan explore adalah bagian dari siapa kita.


Penutup: Glamor vs Realitas 

Mary Roach menutup bukunya dengan observasi yang beautiful: 

"Perjalanan luar angkasa di film adalah glamor, heroik, epic. Perjalanan luar angkasa di realitas adalah awkward, tidak nyaman, kadang gross, dan sangat manusiawi." 

Astronot bukan superhero tanpa cacat. Mereka adalah orang biasa yang harus berurusan dengan toilet yang rusak, bau badan yang tidak bisa dihilangkan, makanan yang terasa hambar, dan rekan kerja yang kebiasaan kecilnya sangat menjengkelkan setelah bulan kelima. 

Tapi mereka tetap pergi. Mereka berlatih bertahun-tahun. Mereka meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan. Mereka menanggung ketidaknyamanan yang akan membuat kebanyakan orang quit dalam seminggu. 

Mengapa? Karena ada sesuatu dalam jiwa manusia yang ingin tahu: "Apa yang ada di luar sana?" 

Pelajaran untuk Kita Semua 

Anda tidak perlu jadi astronot untuk mengambil sesuatu dari buku ini: 

1. Hal-hal hebat jarang glamor di proses 

Orang melihat hasil akhir—astronot floating di luar angkasa, beautiful Earth di background. Mereka tidak melihat 10 tahun training, puluhan ribu jam simulasi, dan masalah toilet. 

Dalam hidup Anda juga sama. Orang melihat kesuksesan Anda, tidak perjuangan di belakangnya. 

2. Detail kecil penting 

NASA menghabiskan jutaan dolar untuk toilet karena mereka tahu: jika astronot tidak bisa buang air dengan aman, misi gagal. Tidak peduli seberapa bagus roket Anda. 

Dalam project Anda: jangan abaikan "small stuff." Kadang small stuff adalah yang paling krusial.

3. Kompatibilitas matters lebih dari competence 

Untuk misi Mars, NASA lebih pilih astronot yang "cukup competent tapi easy to live with" daripada "genius tapi nightmare roommate." 

Dalam team Anda: skills bisa dipelajari. Personality yang toxic bisa merusak seluruh team.

4. Bertanya pertanyaan "bodoh" bisa lead ke insights terpenting

Roach tidak malu bertanya: "Bagaimana astronot buang air?" "Apa yang terjadi jika mereka kentut dalam spacesuit?" "Bisakah mereka masturbasi di luar angkasa?" 

Pertanyaan yang orang lain anggap tidak penting atau memalukan sering mengungkap truth yang paling berguna. 

5. Explore itu worth it—meskipun tidak practical 

Tidak ada alasan "rasional" untuk spending miliaran dolar pergi ke Mars. Tapi mungkin itu okay. 

Dalam hidup Anda juga: tidak semua yang worth doing punya ROI yang jelas. Kadang Anda lakukan sesuatu karena itu membuat hidup lebih interesting.


Tentang Buku Asli 

"Packing for Mars: The Curious Science of Life in the Void" diterbitkan pada tahun 2010 dan menjadi New York Times bestseller. 

Mary Roach adalah jurnalis sains terkenal dengan spesialisasi menulis tentang aspek-aspek aneh, awkward, dan sering diabaikan dari sains. Buku-buku lainnya termasuk "Stiff" (tentang mayat dalam penelitian sains), "Bonk" (tentang sains seks), dan "Gulp" (tentang sistem pencernaan). 

Gaya penulisan Roach adalah humor cerdas, investigasi jurnalistik mendalam, dan tidak takut bertanya pertanyaan yang membuat orang tidak nyaman. Dia menghabiskan bertahun-tahun meneliti untuk buku ini—mengunjungi NASA, JAXA (Japanese space agency), Russian space facilities, wawancara puluhan astronot dan ilmuwan. 

Untuk pemahaman lengkap tentang realitas absurd dan menakjubkan dari perjalanan luar angkasa, sangat disarankan membaca buku aslinya. Roach menulis dengan wit dan detail yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Buku ini bukan untuk orang yang mau mempertahankan ilusi romantis tentang perjalanan luar angkasa. Ini untuk orang yang ingin truth—meskipun truth itu kadang melibatkan muntah mengambang dan toilet yang tersumbat. 

Sekarang pergilah dan hargai toilet Anda. Seriously. 

Karena seperti yang astronot pelajari: tidak ada yang lebih berharga dari bathroom yang bekerja dengan benar. 

Dan jika Anda masih ingin pergi ke Mars setelah tahu semua ini? Well, NASA mungkin mencari orang seperti Anda.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: The Library Book
Kembali ke atas

Buku serupa