Lompat ke konten utama

Complete Works of Plato

oleh Plato · Desember 2025 · 14 menit baca

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Daftar isi

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda berjalan di pasar Athena, 399 tahun sebelum Masehi. 

Seorang pria tua, tidak tampan, bertelanjang kaki, menghampiri Anda. Rambutnya berantakan. Perutnya buncit. Hidungnya pesek seperti boxer yang sering dipukul. 

Dia tersenyum dan bertanya dengan nada polos: "Permisi, Anda tampak seperti orang bijak. Bisakah Anda jelaskan pada saya—apa itu keberanian?" 

Anda berpikir: Mudah saja. Keberanian adalah tidak takut dalam pertempuran. 

"Menarik," dia mengangguk. "Tapi bukankah ada tentara yang nekat dan bodoh yang berlari ke medan perang tanpa strategi? Apakah mereka berani? Atau bodoh?" 

Anda berpikir lagi: Oke, keberanian adalah tahu kapan harus maju dan kapan mundur. 

"Ahh," dia tersenyum lebih lebar. "Jadi keberanian adalah pengetahuan? Pengetahuan tentang apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak?" 

Anda mulai berkeringat. Ini lebih rumit dari yang Anda kira. 

"Tapi jika keberanian adalah pengetahuan," dia melanjutkan, "dan pengetahuan adalah kebajikan... apakah semua kebajikan sebenarnya adalah bentuk pengetahuan? Dan jika seseorang benar-benar tahu apa yang baik, apakah mungkin dia melakukan yang jahat?" 

Sekarang kepala Anda pusing. Pertanyaan sederhana tentang keberanian berubah menjadi pertanyaan tentang sifat pengetahuan, kebajikan, dan kebaikan itu sendiri. 

Dan pria tua ini? Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tersenyum dan berkata: "Saya sendiri tidak tahu. Tapi bukankah lebih baik kita tahu bahwa kita tidak tahu, daripada berpikir kita tahu padahal tidak?"

Selamat. Anda baru saja di-Socrates-kan. 

Pria tua itu adalah Socrates—guru terbesar yang tidak pernah menulis sepatah kata pun. Dan pemuda yang mengikutinya, mendengarkan setiap percakapannya, dan menuliskan semuanya adalah Plato

Plato menulis 35+ dialog sepanjang hidupnya. Tidak ada satu pun yang memberikan jawaban final. Semua adalah pertanyaan yang mengarah ke pertanyaan lain. 

Dan 2.400 tahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu masih mengubah cara kita berpikir.

kita mulai.


Bagian 1: Metode Socrates—Seni Bertanya 

Kebijaksanaan Dimulai dengan "Saya Tidak Tahu" 

Socrates terkenal karena Oracle di Delphi menyebutnya "manusia paling bijaksana di Athena." 

Socrates bingung. Dia tidak merasa bijaksana. Jadi dia memutuskan untuk menguji pernyataan ini dengan mencari orang yang lebih bijaksana darinya. 

Dia mendatangi politikus yang terkenal bijak. Dia bertanya tentang keadilan, kepemimpinan, kebajikan. Dan melalui serangkaian pertanyaan, Socrates mengungkap bahwa politikus itu tidak benar-benar tahu apa yang dia klaim tahu. 

Dia mencoba dengan penyair. Dengan pengrajin. Dengan guru-guru bijak yang disebut sofis. 

Hasilnya sama: Semua orang berpikir mereka tahu, tapi ketika ditekan dengan pertanyaan, pengetahuan mereka runtuh. 

Akhirnya Socrates mengerti: Oracle benar. Dia adalah yang paling bijaksana—bukan karena dia tahu lebih banyak, tapi karena dia satu-satunya yang tahu bahwa dia tidak tahu. 

Ini adalah fondasi dari Metode Socrates: Jangan mulai dengan menyatakan kebenaran. Mulai dengan mengakui ketidaktahuan. Lalu ajukan pertanyaan sampai kebenaran muncul—atau sampai kita menyadari betapa kompleksnya pertanyaan itu. 

Dialog Euthyphro: Apa Itu Kesalehan? 

Di dialog "Euthyphro," Socrates bertemu dengan seorang pria bernama Euthyphro yang akan menuntut ayahnya sendiri karena pembunuhan. 

Socrates bertanya: "Kamu pasti sangat yakin apa yang saleh dan apa yang tidak, jika kamu berani menuntut ayahmu sendiri. Bisakah kamu ajari saya—apa itu kesalehan?" 

Euthyphro menjawab dengan percaya diri: "Kesalehan adalah apa yang disukai para dewa." 

Socrates mengangguk: "Tapi para dewa sering tidak setuju satu sama lain, kan? Zeus memenjarakan ayahnya, Cronus. Jadi jika para dewa tidak setuju, bagaimana kita tahu apa yang saleh?" 

Euthyphro mencoba lagi: "Oke, kesalehan adalah apa yang semua dewa sukai." 

Socrates tersenyum: "Pertanyaan yang lebih dalam—apakah sesuatu itu saleh karena dewa menyukainya? Atau dewa menyukainya karena itu saleh?" 

Perbedaan ini tampak kecil. Tapi ini mengubah segalanya:

  • Jika sesuatu saleh karena dewa menyukainya, maka moralitas adalah arbitrer—tergantung pada kehendak dewa yang bisa berubah.
  • Jika dewa menyukai sesuatu karena itu saleh, maka ada standar kebaikan yang independen dari dewa—dan itulah yang harus kita cari.

Euthyphro tidak bisa menjawab. Dia terburu-buru pergi, kepalanya pusing. 

Dan Socrates? Dia tetap tidak tahu apa itu kesalehan. Tapi dia sudah menunjukkan bahwa pertanyaan ini jauh lebih dalam dari yang orang kira. 

Pelajaran: Kebanyakan kita hidup dengan asumsi yang tidak pernah kita pertanyakan. Metode Socrates memaksa kita untuk memeriksa asumsi itu—dan sering kali, kita menemukan fondasinya retak.


Bagian 2: Teori Bentuk—Realitas di Balik Penampakan

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Socrates sering bertanya tentang definisi: Apa itu keadilan? Apa itu keindahan? Apa itu keberanian? 

Orang-orang memberikan contoh: 

  • "Keindahan adalah wajah Helen dari Troy."
  • "Keberanian adalah tentara yang tidak mundur."
  • "Keadilan adalah memberi setiap orang apa yang pantas mereka terima."

Tapi Socrates tidak puas dengan contoh. Dia ingin esensi

Apa yang membuat semua hal indah menjadi indah? Apa yang sama antara wajah cantik, matahari terbenam, dan simfoni yang indah? 

Harus ada sesuatu—Bentuk Keindahan—yang membuat semua hal indah menjadi indah.

Dunia Bentuk vs Dunia Penampakan 

Plato mengembangkan ide ini menjadi teori lengkap: 

Ada dua dunia: 

1. Dunia yang Terlihat (Dunia Penampakan) 

  • Dunia fisik yang kita lihat dengan mata
  • Berubah. Sementara. Tidak sempurna.
  • Meja yang Anda lihat adalah salinan tidak sempurna dari ide "meja"
  • Keindahan yang Anda lihat adalah bayangan dari Keindahan sejati

2. Dunia Bentuk (Dunia Ide) 

  • Dunia abstrak yang kita pahami dengan pikiran
  • Kekal. Tidak berubah. Sempurna.
  • Bentuk Meja—idea sempurna dari "meja-ness"
  • Bentuk Keindahan—esensi murni dari keindahan itu sendiri

Menurut Plato, dunia fisik adalah bayangan dari dunia Bentuk. 

Seperti bayangan di dinding adalah versi terdistorsi dari objek asli, dunia fisik adalah versi terdistorsi dari dunia Ide.

Pelajaran: Jangan terpaku pada penampakan. Cari esensi di balik penampakan. Filosofi adalah tentang melihat melampaui permukaan ke realitas yang lebih dalam.


Bagian 3: Alegori Gua—Tentang Pencerahan

Kisah yang Mengubah Cara Kita Melihat Dunia 

Dalam dialog "Republic," Socrates menceritakan alegori yang akan dikenang selama ribuan tahun: 

Bayangkan sebuah gua bawah tanah. 

Di dalamnya, ada sekelompok orang yang dirantai sejak lahir. Mereka tidak bisa berbalik. Mereka hanya bisa melihat dinding di depan mereka. 

Di belakang mereka ada api. Antara api dan mereka, ada orang-orang yang membawa berbagai objek—patung, pohon, hewan. Cahaya api membuat objek-objek ini menciptakan bayangan di dinding. 

Tahanan melihat bayangan ini sepanjang hidup mereka. Mereka pikir bayangan adalah realitas. Mereka memberi nama pada bayangan. Mereka berdebat tentang bayangan mana yang paling indah, yang paling cepat. 

Mereka tidak tahu ada dunia di luar gua. 

Perjalanan Keluar 

Sekarang bayangkan satu tahanan dibebaskan. Dia dipaksa berdiri dan berbalik. 

Pertama, dia silau karena cahaya api. Matanya sakit. Dia ingin kembali ke bayangan yang nyaman dan familiar. 

Tapi dia dipaksa menaiki tangga keluar dari gua. 

Ketika dia sampai di luar—dunia nyata—dia benar-benar buta karena cahaya matahari. Terlalu terang. Terlalu asing. 

Perlahan-lahan, matanya menyesuaikan diri: 

  • Pertama dia bisa melihat bayangan di tanah
  • Lalu refleksi di air
  • Lalu objek nyata—pohon, gunung, orang
  • Akhirnya, dia bisa melihat matahari itu sendiri

Sekarang dia mengerti: Apa yang dia pikir sebagai realitas di gua hanyalah bayangan dari bayangan. 

Kembali ke Gua

Dia kembali ke gua untuk membebaskan teman-temannya. 

Tapi ketika dia mencoba menjelaskan dunia luar—matahari, warna, kehidupan—mereka pikir dia gila. 

"Tidak ada yang namanya matahari," kata mereka. "Bayangan adalah satu-satunya realitas." 

Dan jika dia mencoba membebaskan mereka dengan paksa, mereka akan membunuhnya untuk melindungi "kebenaran" mereka. 

Apa Artinya Ini? 

Alegori ini adalah peta perjalanan filosofis: 

Gua = Ketidaktahuan, ilusi, dunia penampakan 

Bayangan = Opini yang tidak diperiksa, asumsi yang kita warisi 

Api = Sumber cahaya palsu—otoritas yang tidak dipertanyakan, tradisi buta

Perjalanan keluar = Pendidikan, filosofi, pencarian kebenaran 

Matahari = Kebenaran tertinggi, Bentuk Kebaikan 

Kembali ke gua = Tanggung jawab filosof untuk mendidik orang lain 

Pelajaran: Kebanyakan kita hidup dalam gua—percaya bahwa apa yang kita lihat adalah semua yang ada. Filosofi adalah proses keluar dari gua, meskipun menyakitkan, meskipun menakutkan, untuk melihat realitas yang lebih besar. 

Dan ketika Anda melihat kebenaran, Anda punya tanggung jawab untuk kembali dan membantu orang lain—meskipun mereka tidak ingin dibantu.


Bagian 4: Jiwa dan Kebajikan—Hidup dengan Baik

Apology: Hidup yang Tidak Diperiksa 

Di usia 70 tahun, Socrates diadili atas tuduhan "merusak pemuda" dan "tidak percaya pada dewa-dewa kota." 

Dalam pembelaannya (yang Plato rekam dalam dialog "Apology"), Socrates mengatakan kata-kata yang akan bergema sepanjang sejarah: 

"Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani." 

Apa artinya ini? 

Kebanyakan orang hidup dalam autopilot: 

  • Mereka mengikuti kebiasaan tanpa mempertanyakan
  • Mereka menerima nilai-nilai masyarakat tanpa pemeriksaan
  • Mereka mengejar uang, status, kesenangan—karena semua orang melakukannya

Socrates mengatakan: Berhenti. Tanyakan. Mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan? Apa yang benar-benar berharga dalam hidup? 

Jika Anda tidak memeriksa hidup Anda—nilai-nilai Anda, tujuan Anda, cara Anda hidup—Anda tidak benar-benar hidup. Anda hanya ada

Phaedo: Filosofi sebagai Persiapan untuk Mati 

Di hari terakhir hidupnya, menunggu eksekusi, Socrates berbicara dengan murid-muridnya tentang kematian. 

Murid-muridnya menangis. Tapi Socrates tenang, bahkan gembira. 

"Filosofi," katanya, "adalah latihan untuk mati." 

Apa maksudnya? 

Tubuh memiliki nafsu—lapar, haus, keinginan seksual. Nafsu ini mengalihkan kita dari kebenaran. Mereka membuat kita fokus pada hal-hal sementara, tidak penting. 

Filosof belajar untuk memisahkan diri dari tubuh—untuk hidup dalam pikiran dan jiwa, tidak tergantung pada kesenangan fisik. 

Kematian adalah pemisahan final jiwa dari tubuh. Jadi jika Anda sudah berlatih sepanjang hidup Anda, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan—itu adalah pembebasan.

Socrates minum racun hemlock dengan tangan yang stabil. Tidak ada drama. Tidak ada keluhan. 

Dia hidup sesuai prinsipnya sampai nafas terakhir. 

Pelajaran: Jangan takut pada kematian. Takutlah pada hidup yang sia-sia—hidup tanpa makna, tanpa kebajikan, tanpa pemeriksaan.


Bagian 5: Republic—Keadilan dan Masyarakat Ideal

Pertanyaan Besar: Apa Itu Keadilan? 

Dialog terpanjang dan paling berpengaruh dari Plato adalah "Republic"—percakapan tentang keadilan. 

Pertanyaan dimulai sederhana: Apa itu keadilan? Dan mengapa kita harus adil?

Berbagai jawaban diusulkan: 

  • "Keadilan adalah memberi setiap orang apa yang menjadi hak mereka"
  • "Keadilan adalah kepentingan orang yang lebih kuat"
  • "Keadilan adalah kontrak sosial—kita setuju untuk tidak menyakiti orang lain agar tidak disakiti"

Socrates tidak puas dengan jawaban-jawaban ini. 

Tiga Bagian Jiwa 

Untuk memahami keadilan, Socrates mengatakan, kita harus memahami jiwa manusia. Jiwa memiliki tiga bagian: 

1. Rasional (Reason) 

  • Bagian yang berpikir, menalar, mencari kebenaran
  • Seperti auriga (pengemudi kereta) yang harus memimpin

2. Spirited (Spirit/Thumos) 

  • Bagian yang merasa emosi, keberanian, kehormatan
  • Seperti kuda putih yang mulia—kuat tapi perlu arahan

3. Appetitive (Appetite) 

  • Bagian yang menginginkan kesenangan fisik—makanan, seks, uang
  • Seperti kuda hitam yang liar—kuat tapi berbahaya jika tidak dikontrol

Keadilan dalam jiwa adalah ketika ketiga bagian ini bekerja dalam harmoni—dengan Rasional memimpin, Spirit mendukung, dan Appetite dikontrol. 

Jiwa yang adil adalah jiwa yang seimbang

Masyarakat Ideal

Plato kemudian membayangkan masyarakat yang ideal—yang mencerminkan struktur jiwa:

1. Penguasa Filosof (Guardians) 

  • Orang-orang paling bijaksana memimpin
  • Mereka dilatih dalam filosofi, matematika, dialektika
  • Mereka tidak memiliki properti pribadi atau keluarga—untuk menghindari korupsi

2. Prajurit (Auxiliaries) 

  • Orang-orang dengan keberanian melindungi negara
  • Mereka dilatih dalam seni perang dan kehormatan

3. Produsen (Producers) 

  • Petani, pedagang, pengrajin yang memenuhi kebutuhan material

Masyarakat adil adalah ketika setiap kelas melakukan fungsi mereka dan tidak mencoba mengambil alih fungsi lain. 

Kritik Modern 

Hari ini, kita mungkin tidak setuju dengan banyak ide Plato: 

  • Sistem kasta kaku
  • Penguasa yang tidak dipilih demokratis
  • Sensor seni dan puisi

Tapi pertanyaan intinya tetap relevan: Apa itu keadilan? Dan bagaimana kita menciptakan masyarakat yang baik?


Bagian 6: Symposium—Tentang Cinta 

Malam Pesta yang Mengubah Cara Kita Memahami Cinta

Dialog "Symposium" berlangsung di pesta minum anggur di Athena. 

Sekelompok pria (filosof, penyair, politikus) memutuskan untuk tidak mabuk malam itu. Sebagai gantinya, mereka akan memberikan pidato memuji Eros—dewa cinta. 

Setiap orang memberikan pidato, masing-masing memberikan teori berbeda tentang cinta: 

  • Cinta adalah keinginan untuk keindahan
  • Cinta adalah pencarian untuk pasangan yang hilang (mitos manusia awalnya punya empat tangan, empat kaki, dan dipotong jadi dua oleh Zeus)
  • Cinta adalah keinginan untuk keabadian melalui keturunan atau karya seni

Tangga Cinta Socrates 

Lalu Socrates berbicara. Dia mengatakan dia tidak tahu tentang cinta, tapi dia pernah diajarkan oleh wanita bijak bernama Diotima. 

Diotima mengajarkan bahwa cinta adalah tangga—perjalanan naik dari cinta terendah ke cinta tertinggi: 

Anak tangga 1: Cinta pada satu tubuh yang indah → Hasrat fisik pada satu orang 

Anak tangga 2: Cinta pada semua tubuh yang indah → Menyadari keindahan bukan hanya satu orang, tapi pola yang lebih besar 

Anak tangga 3: Cinta pada jiwa yang indah → Menghargai karakter, kebijaksanaan lebih dari penampilan fisik 

Anak tangga 4: Cinta pada pengetahuan dan institusi yang indah → Menghargai keindahan dalam hukum, sistem, ilmu 

Anak tangga 5: Cinta pada Keindahan itu sendiri → Pemahaman tentang Bentuk Keindahan—esensi murni dari keindahan, kekal dan tidak berubah 

Cinta tertinggi bukan cinta romantis. Itu adalah cinta filosofis—keinginan untuk kebenaran, kebaikan, keindahan dalam bentuk murni mereka. 

Pelajaran: Cinta fisik bukan sesuatu yang buruk. Tapi itu adalah langkah pertama dalam perjalanan yang lebih dalam. Cinta sejati adalah cinta pada kebaikan, kebenaran, dan keindahan itu sendiri.


Bagian 7: Warisan Plato—Pertanyaan yang Tidak Pernah Mati 

Mengapa Plato Masih Penting? 

Alfred North Whitehead, filosof abad 20, pernah berkata: "Seluruh tradisi filosofi Barat adalah catatan kaki untuk Plato." 

Apa artinya? 

Hampir setiap pertanyaan filosofis besar yang kita tanyakan hari ini pertama kali diajukan oleh Plato: 

  • Apa itu keadilan?
  • Apa itu keindahan?
  • Bagaimana kita harus hidup?
  • Apa itu realitas?
  • Apa itu pengetahuan?
  • Bagaimana kita menciptakan masyarakat yang baik?

Dan yang paling penting: Metode Socrates—bertanya, memeriksa, tidak pernah berhenti mencari—adalah fondasi dari pemikiran kritis. 

Pelajaran untuk Hidup Hari Ini 

1. Pertanyakan Asumsi Anda 

Kebanyakan kita hidup dengan keyakinan yang tidak pernah kita periksa. Plato mengajarkan: Jangan terima begitu saja. Tanyakan mengapa. 

2. Cari Esensi, Bukan Penampakan 

Jangan terpaku pada permukaan. Apakah itu kesuksesan, kebahagiaan, atau kebenaran—cari apa yang benar-benar penting di balik penampakan. 

3. Hidup yang Tidak Diperiksa Tidak Layak Dijalani 

Berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan? Apa yang benar-benar berharga bagi saya? 

4. Kebijaksanaan Dimulai dengan "Saya Tidak Tahu" 

Orang yang paling berbahaya adalah yang pikir mereka tahu segalanya. Orang yang paling bijaksana adalah yang tahu bahwa mereka tidak tahu.

5. Filosofi Bukan Tentang Jawaban—Tapi Tentang Pertanyaan yang Lebih Baik 

Plato tidak memberikan sistem lengkap. Dia memberikan metode—cara bertanya, cara berpikir, cara mencari kebenaran.


Penutup: Percakapan yang Tidak Pernah Berakhir

Socrates mati 2.400 tahun yang lalu. Plato 2.300 tahun yang lalu. 

Tapi pertanyaan mereka tidak mati. 

Setiap generasi harus bertanya lagi: Apa itu keadilan? Apa itu kebaikan? Bagaimana kita harus hidup? 

Dan setiap generasi akan menemukan jawaban yang sedikit berbeda—karena dunia berubah, teknologi berkembang, nilai-nilai bergeser. 

Tapi metode Socrates—bertanya dengan jujur, memeriksa dengan hati-hati, tidak puas dengan jawaban mudah—itu kekal. 

Hari ini, di dunia yang penuh dengan informasi tapi sedikit kebijaksanaan, di dunia yang penuh dengan opini tapi sedikit pemikiran kritis, kita membutuhkan Socrates lebih dari sebelumnya. 

Kita membutuhkan orang yang berani bertanya: "Mengapa?" 

Kita membutuhkan orang yang tidak puas dengan "karena semua orang melakukannya" atau "karena selalu begitu." 

Kita membutuhkan orang yang keluar dari gua, melihat matahari, dan kembali untuk membebaskan yang lain—meskipun tidak populer, meskipun berbahaya. 

Seperti yang Socrates katakan: "Saya tidak bisa mengajarkan apa pun kepada siapa pun. Saya hanya bisa membuat mereka berpikir." 

Jadi sekarang giliran Anda: Pikirkan

Apa yang Anda anggap benar yang mungkin salah? Apa yang Anda kejar yang mungkin tidak penting? Hidup seperti apa yang benar-benar layak dijalani? 

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah. Tapi mereka penting. 

Dan seperti yang Plato tunjukkan: Kehidupan yang baik dimulai dengan pertanyaan yang jujur.


Tentang Karya Asli 

"Plato: Complete Works" yang diedit oleh John M. Cooper (diterbitkan 1997 oleh Hackett Publishing) adalah kumpulan komprehensif dari 35+ dialog Plato dalam terjemahan Inggris modern. 

Plato hidup sekitar 428-348 SM di Athena. Dia adalah murid Socrates dan guru Aristoteles—tiga nama yang membentuk fondasi filosofi Barat. 

Karya-karya Plato ditulis dalam bentuk dialog—percakapan antara Socrates dan berbagai karakter. Ini bukan kebetulan: Plato percaya bahwa kebenaran tidak bisa diajarkan seperti fakta, tapi harus ditemukan melalui percakapan dan pemeriksaan. 

Dialog-dialog paling berpengaruh termasuk: 

  • Apology, Crito, Phaedo: Percobaan, penjara, dan kematian Socrates
  • Republic: Tentang keadilan dan masyarakat ideal (kira-kira 200 halaman)
  • Symposium: Tentang cinta dan keindahan
  • Phaedrus: Tentang retorika dan jiwa
  • Theaetetus: Tentang pengetahuan
  • Timaeus: Tentang penciptaan alam semesta

Untuk pemahaman lengkap tentang pemikiran Plato, sangat disarankan membaca dialog-dialog lengkap. Mereka bukan hanya filosofi—mereka adalah karya sastra yang indah, penuh drama, humor, dan humanitas. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi dari beberapa ide utama. Pengalaman membaca dialog asli—menyaksikan pikiran Socrates bekerja, melihat bagaimana dia memandu percakapan, merasakan frustrasi dan pencerahan karakter lain—tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Tapi jika ada satu pelajaran yang bisa diambil dari Plato, itu adalah ini: 

Jangan pernah berhenti bertanya. Jangan pernah berhenti mencari. Dan jangan pernah puas dengan jawaban yang belum Anda periksa sendiri. 

Sekarang pergilah dan berpikirlah—seperti yang Socrates ingin Anda lakukan.

Karena seperti dia katakan di detik-detik terakhir hidupnya: 

"Sudah waktunya kita pergi—saya untuk mati, dan Anda untuk hidup. Siapa yang mendapat bagian yang lebih baik hanya diketahui oleh Tuhan."

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: 10% Happier
Kembali ke atas

Buku serupa