The Return
oleh Hisham Matar · Maret 2026 · 13 menit baca
33 Tahun Menunggu Jawaban yang Tidak Pernah Datang
Daftar isi
33 Tahun Menunggu Jawaban yang Tidak Pernah Datang
Bayangkan ini: Ayah Anda menghilang. Tidak mati—setidaknya Anda tidak tahu pasti. Tidak pulang—meskipun Anda menunggu setiap hari selama 33 tahun. Hanya... hilang.
Tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Tidak ada pemakaman untuk menutup luka. Tidak ada kepastian untuk melangkah maju.
Yang Anda punya hanyalah pertanyaan yang menggerogoti setiap hari:
Apakah dia masih hidup? Di mana dia? Apakah dia menderita? Apakah dia memikirkan saya? Apakah dia tahu bahwa saya tidak pernah berhenti mencari?
Ini adalah kehidupan Hisham Matar—penulis Libya yang ayahnya, Jaballa Matar, diculik oleh rezim Muammar Gaddafi pada tahun 1990 dan tidak pernah terlihat lagi.
Selama 33 tahun, Hisham hidup dalam limbo—wilayah abu-abu antara harapan dan keputusasaan, antara kehidupan dan kematian, antara mengingat dan melupakan.
"The Return" adalah kisah tentang pulang—pulang ke Libya setelah 33 tahun pengasingan, pulang ke rumah masa kecil yang sudah tidak ada lagi, pulang ke pencarian yang mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban.
Tapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang bagaimana kita hidup dengan kehilangan yang tidak pernah selesai.
Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan itu sendiri. Yang paling menyakitkan adalah tidak tahu.
Mari kita mulai perjalanan ini.
Bagian 1: Masa Kecil di Libya—Sebelum Segalanya Hancur
Tripoli Tahun 1970-an—Rumah yang Hangat
Hisham lahir di New York tahun 1970, tapi tumbuh di Tripoli, Libya. Masa kecilnya penuh dengan matahari Mediterania, bau laut, dan suara keluarga besar yang berkumpul.
Ayahnya, Jaballa Matar, adalah seorang diplomat Libya—cerdas, berwibawa, dicintai oleh anak-anaknya. Ibunya, seorang wanita yang lembut tapi kuat, menjaga rumah sebagai tempat kehangatan di tengah kekacauan politik.
Hisham mengingat momen-momen sederhana: sarapan bersama keluarga, ayahnya membaca koran sambil minum kopi, suara tawa saudara-saudaranya, bau makanan ibunya.
"Masa kecil," tulis Hisham, "adalah tempat di mana kita tidak tahu bahwa kita bahagia sampai kebahagiaan itu diambil."
Tapi di balik kehangatan keluarga, ada gelombang gelap yang mendekat.
Gaddafi Naik—Awal dari Pengasingan
Tahun 1969, Muammar Gaddafi merebut kekuasaan melalui kudeta militer. Rezimnya brutal: menghilangkan lawan politik, membungkam kritik, menanamkan ketakutan.
Jaballa Matar, sebagai diplomat, melihat dari dalam bagaimana rezim bekerja. Dan dia tidak bisa diam.
Dia mulai berbicara—dengan hati-hati, dengan kode, dengan orang-orang yang bisa dipercaya. Dia bergabung dengan gerakan oposisi yang ingin mengembalikan demokrasi ke Libya.
Ini adalah pilihan yang mulia. Ini juga pilihan yang berbahaya.
Tahun 1979, ketika Hisham berusia sembilan tahun, keluarga mereka terpaksa melarikan diri dari Libya. Mereka menjadi pengungsi politik di Kairo, Mesir.
Hisham ingat malam terakhir mereka di Tripoli. Ayahnya membangunkannya, berkata dengan lembut: "Kita akan pergi sebentar. Kita akan pulang."
Mereka tidak pernah pulang.
Bagian 2: Pengasingan di Kairo—Hidup dalam Bayangan
Hidup sebagai Pengungsi
Di Kairo, keluarga Matar hidup dalam ketidakpastian. Mereka bukan turis. Bukan warga negara. Hanya pengungsi yang menunggu—entah kapan—bisa pulang.
Jaballa terus bekerja dengan gerakan oposisi Libya dari pengasingan. Rumah mereka menjadi tempat pertemuan bagi aktivis, penulis, pemikir yang menentang Gaddafi.
Hisham muda mendengarkan percakapan orang dewasa tentang revolusi, keadilan, pengorbanan. Dia tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia merasakan beratnya—beban yang dibawa ayahnya setiap hari.
Ayahnya sering berkata: "Suatu hari, Libya akan bebas. Dan kita akan pulang."
Tapi hari itu tidak datang. Tahun berganti tahun. Hisham tumbuh menjadi remaja, kemudian dewasa muda—selalu dengan status "sementara" yang tidak pernah berakhir.
12 Maret 1990—Hari yang Mengubah Segalanya
Hisham, berusia 19 tahun, sedang kuliah di London ketika dia menerima telepon dari ibunya.
Suaranya gemetar. "Ayahmu hilang."
Jaballa Matar, bersama keponakan Hisham (yang juga bernama Jaballa), diculik di Kairo oleh agen Libya. Mereka diseret dari jalanan, dimasukkan ke mobil, dan dibawa ke Libya.
Tidak ada pengadilan. Tidak ada tuduhan resmi. Tidak ada hak untuk pengacara.
Mereka hanya... hilang.
Hisham ingat momen itu dengan detail yang menyakitkan: di mana dia berdiri, bagaimana suara ibunya terdengar, perasaan dunia yang tiba-tiba berhenti berputar.
"Dalam sekejap," tulis Hisham, "masa depan yang saya bayangkan—ayah tua, cucu-cucu bermain di pangkuannya, kami pulang bersama ke Libya—semuanya lenyap."
Yang tersisa hanya pertanyaan yang tidak akan terjawab selama 33 tahun.
Bagian 3: Mencari dalam Kegelapan—Tahun-Tahun Tanpa Jawaban
Penjara Abu Salim—Neraka yang Tersembunyi
Melalui bisikan, rumor, dan kontak rahasia, keluarga Matar mengetahui bahwa Jaballa ditahan di penjara Abu Salim—penjara paling terkenal di Libya untuk tahanan politik.
Abu Salim adalah tempat di mana orang hilang tanpa jejak. Di mana penyiksaan adalah rutinitas. Di mana harapan mati perlahan.
Pada tahun 1996, terjadi pembantaian massal di Abu Salim: 1.270 tahanan dibunuh dalam satu hari setelah protes terhadap kondisi penjara. Rezim Gaddafi menyembunyikan kejadian ini selama bertahun-tahun.
Apakah Jaballa salah satu korban? Tidak ada yang tahu. Tidak ada daftar nama. Tidak ada konfirmasi.
Keluarga Matar hidup dalam ketidaktahuan yang menyiksa.
Surat dari Penjara—Secercah Harapan
Sesekali, surat diselundupkan keluar dari penjara. Kadang melalui tahanan yang dibebaskan. Kadang melalui sipir yang bersimpati.
Surat-surat ini pendek, disensor, samar. Tapi mereka adalah bukti: Jaballa masih hidup.
Salah satu surat yang Hisham terima: "Kepada anakku yang tercinta. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Teruslah belajar. Jadilah orang baik. Aku mencintaimu."
Hanya beberapa kalimat. Tapi cukup untuk membuat Hisham terus berharap—dan terus menderita.
Karena harapan, dalam konteks seperti ini, adalah pisau bermata dua. Harapan membuat Anda bertahan. Tapi harapan juga membuat Anda tidak bisa melangkah maju.
Kampanye Internasional—Suara di Padang Gurun
Hisham dan keluarganya mengkampanyekan pembebasan Jaballa ke seluruh dunia. Mereka menulis surat ke PBB, Amnesty International, Human Rights Watch. Mereka berbicara di konferensi. Mereka bertemu dengan pejabat pemerintah.
Semua orang berjanji untuk membantu. Semua orang menyatakan simpati.
Tidak ada yang berubah.
Gaddafi tetap berkuasa. Abu Salim tetap tertutup. Jaballa tetap hilang.
Hisham belajar pelajaran pahit: di dunia politik internasional, satu orang yang hilang tidak cukup penting untuk mengubah kebijakan.
Tapi bagi keluarga itu, satu orang itu adalah segalanya.
Bagian 4: Menjadi Penulis—Menulis sebagai Cara Bertahan
Kata-Kata sebagai Pelarian
Di tengah pencarian yang tidak pernah berakhir, Hisham menemukan penyelamatan dalam menulis.
Dia mulai menulis novel—bukan tentang ayahnya secara langsung, tetapi tentang kehilangan, tentang pengasingan, tentang identitas yang terpecah.
Novel pertamanya, "In the Country of Men," diterbitkan tahun 2006 dan dinominasikan untuk Man Booker Prize. Novel kedua, "Anatomy of a Disappearance," lebih langsung berbicara tentang kehilangan ayah.
Menulis memberikan Hisham cara untuk mengolah rasa sakit yang tidak bisa dia ungkapkan. Kata-kata menjadi wadah untuk perasaan yang terlalu besar untuk dipendam.
"Saya menulis," katanya, "bukan untuk melupakan, tetapi untuk mengingat dengan cara yang tidak menghancurkan saya."
Paradoks Kesuksesan
Sementara karir Hisham sebagai penulis berkembang—buku bestseller, penghargaan internasional, reputasi sebagai salah satu penulis Arab terbaik di generasinya—ayahnya masih hilang.
Ironi yang menyakitkan: Hisham sukses di dunia yang ayahnya tidak pernah lihat. Dia ingin berbagi setiap pencapaian dengan ayahnya. Tapi ayahnya tidak ada di sana.
"Setiap kesuksesan," tulis Hisham, "terasa hambar tanpa orang yang paling ingin saya banggakan."
Bagian 5: Revolusi Libya—Harapan yang Terlambat
2011—Rezim Gaddafi Jatuh
Februari 2011, rakyat Libya bangkit melawan Gaddafi dalam apa yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Arab Spring.
Setelah 42 tahun berkuasa dengan tangan besi, rezim Gaddafi mulai runtuh. Pada Oktober 2011, Gaddafi ditangkap dan dibunuh.
Libya bebas.
Tapi untuk keluarga Matar, kebebasan ini datang terlambat.
Setelah 33 tahun menunggu, setelah Jaballa menghilang selama tiga dekade lebih, tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup untuk melihat Libya bebas.
Hisham menghadapi dilema: Haruskah dia pulang?
Pulang ke negara yang dia tinggalkan sebagai anak kecil. Pulang ke rumah yang mungkin sudah tidak ada. Pulang dengan risiko menemukan jawaban yang paling dia takuti: ayahnya sudah mati.
Tapi tidak pulang berarti tidak akan pernah tahu.
Jadi pada Maret 2012, setelah 33 tahun pengasingan, Hisham Matar kembali ke Libya.
Bagian 6: Kembali ke Tripoli—Tanah Air yang Asing
Melintasi Perbatasan—Momen yang Ditunggu 33 Tahun
Ketika mobil Hisham melintasi perbatasan dari Tunisia ke Libya, dia merasakan emosi yang bertabrakan: kegembiraan, ketakutan, kesedihan, kelegaan.
"Saya akhirnya pulang," pikirnya. Tapi apa artinya pulang jika orang yang paling Anda cintai tidak ada di sana?
Pemandangan Libya memicu kenangan: bukit yang sama, pohon yang sama, bahkan bau udara yang sama seperti masa kecilnya.
Tapi segalanya juga berbeda. Negara dalam kekacauan pasca-revolusi. Rumah-rumah hancur. Orang-orang kehilangan keluarga. Trauma di mana-mana.
Mencari Rumah Masa Kecil
Hisham pergi ke rumah masa kecilnya di Tripoli—rumah yang dia tinggalkan sebagai anak berusia sembilan tahun.
Rumah itu masih berdiri. Tapi sudah ditempati orang lain. Rezim Gaddafi telah menyita properti keluarga Matar dan memberikannya kepada pendukung rezim.
Hisham berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, tapi dia tidak bisa masuk. Dia hanya berdiri di sana, mengingat—ayahnya membaca di teras, ibunya memasak di dapur, dia dan saudara-saudaranya bermain di halaman.
"Rumah," tulis Hisham, "bukan hanya tempat. Rumah adalah waktu—waktu ketika orang yang Anda cintai masih bersama Anda."
Dan waktu itu tidak bisa dikembalikan.
Bagian 7: Mencari Jejak Ayah—Perjalanan ke Penjara Abu Salim
Bertemu Mantan Tahanan
Hisham berbicara dengan puluhan mantan tahanan Abu Salim yang selamat. Mereka berbagi cerita tentang kondisi mengerikan di penjara: sel sempit, penyiksaan, kelaparan, isolasi.
Beberapa dari mereka ingat Jaballa Matar. "Ayahmu adalah pria yang baik," kata salah satu dari mereka. "Dia memberikan kami harapan. Dia berbicara tentang kamu—tentang betapa bangganya dia padamu."
Cerita-cerita ini menghangatkan hati Hisham. Tapi juga membuatnya hancur—membayangkan ayahnya menderita di tempat seperti itu selama bertahun-tahun.
Mengunjungi Abu Salim
Hisham mengunjungi penjara Abu Salim. Sekarang sudah kosong—tahanan dibebaskan setelah revolusi.
Dia berjalan melalui koridor gelap. Melihat sel-sel kecil. Menyentuh dinding yang pernah memenjarakan ayahnya.
Di satu sel, seseorang telah menulis di dinding: "Allah adalah harapanku."
Hisham berdiri di sana, dalam keheningan yang berat. Dia mencoba merasakan kehadiran ayahnya. Mencoba memahami penderitaannya.
Tapi yang dia rasakan hanyalah ketiadaan.
Ayahnya tidak ada di sana. Mungkin sudah lama tidak ada di sana. Atau mungkin tidak pernah meninggalkan tempat itu.
Tidak Ada Jawaban
Setelah berminggu-minggu mencari, berbicara dengan ratusan orang, mengikuti setiap petunjuk—Hisham masih tidak menemukan jawaban pasti.
Tidak ada yang tahu apakah Jaballa mati dalam pembantaian 1996. Tidak ada yang tahu apakah dia bertahan setelah itu. Tidak ada yang tahu di mana dia dimakamkan jika dia mati.
Yang dia dapatkan hanyalah probabilitas: kemungkinan besar ayahnya mati di Abu Salim. Kemungkinan besar dia adalah salah satu dari 1.270 korban pembantaian. Kemungkinan besar dia tidak akan pernah ditemukan.
Tapi "kemungkinanbesar" bukan kepastian. Dan tanpa kepastian, luka tidak pernah benar-benar sembuh.
Bagian 8: Berdamai dengan Ketidaktahuan—Pelajaran Paling Sulit
Hidup dengan Ambiguitas
Di akhir perjalanannya, Hisham menyadari sesuatu yang dalam:
Beberapa pertanyaan tidak memiliki jawaban. Dan kita harus belajar hidup dengan itu.
Dia tidak akan pernah tahu dengan pasti apa yang terjadi pada ayahnya. Dia tidak akan pernah bisa memeluknya lagi, mengatakan selamat tinggal, atau mendengar suaranya.
Tapi dia juga menyadari: pencarian itu sendiri adalah bentuk cinta.
Setiap tahun yang dia habiskan mencari, setiap surat yang dia tulis, setiap orang yang dia wawancarai—itu semua adalah cara dia mengatakan kepada ayahnya: "Aku tidak pernah melupakanmu."
Menulis sebagai Monumen
"The Return" adalah monumen Hisham untuk ayahnya. Bukan monumen batu atau marmer—tetapi monumen kata-kata.
Dengan menulis buku ini, Hisham memastikan bahwa Jaballa Matar tidak akan dilupakan. Bahwa ceritanya—dan cerita ribuan orang Libya lainnya yang hilang—akan tetap hidup.
"Menulis," kata Hisham, "adalah cara saya memberikan ayah saya kehidupan yang rezim Gaddafi coba ambil."
Makna "Pulang"
Hisham menyadari bahwa "pulang" bukan hanya tentang tempat fisik.
Dia pulang ke Libya. Tapi Libya yang dia ingat—Libya masa kecilnya, Libya di mana ayahnya ada—sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa adalah Libya baru, dengan luka dan trauma sendiri.
Tapi dalam prosesnya, Hisham menemukan pulang dalam arti yang berbeda:
Pulang ke diri sendiri. Pulang ke identitasnya sebagai pria Libya. Pulang ke kenyataan bahwa kehilangan adalah bagian darinya—dan itu tidak apa-apa.
Penutup: Kehilangan yang Tidak Pernah Selesai
"The Return" memenangkan Pulitzer Prize untuk Biography pada 2017. Tapi penghargaan ini tidak mengubah kenyataan: Jaballa Matar masih hilang.
Saat buku ini diterbitkan, Hisham masih tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi pada ayahnya. Dan mungkin dia tidak akan pernah tahu.
Tapi buku ini mengajarkan kita sesuatu yang profound tentang kehilangan:
1. Kehilangan Tanpa Penutupan adalah Beban yang Unik
Ketika seseorang meninggal, ada pemakaman. Ada proses berduka. Ada titik—meskipun menyakitkan—di mana Anda bisa mulai melangkah maju.
Tapi ketika seseorang hilang, Anda hidup dalam limbo abadi. Anda tidak bisa sepenuhnya berduka karena masih ada harapan. Anda tidak bisa sepenuhnya berharap karena realitasnya sangat gelap.
Pelajaran: Bagi yang kehilangan orang tanpa jawaban—Anda tidak sendirian dalam rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan ini.
2. Cinta Tidak Membutuhkan Kehadiran Fisik
Hisham mencintai ayahnya dengan mendalam—meskipun mereka tidak bertemu selama 33 tahun. Meskipun ayahnya mungkin sudah mati. Meskipun mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Cinta itu tetap nyata. Cinta itu tetap membentuk siapa Hisham menjadi.
Pelajaran: Cinta tidak berakhir ketika seseorang pergi. Cinta adalah sesuatu yang kita bawa selamanya.
3. Menulis (atau Seni) Adalah Cara Kita Memproses yang Tidak Bisa Diproses
Hisham tidak bisa membawa ayahnya kembali. Tapi dia bisa menulis tentangnya. Dan dalam menulis, dia menemukan cara untuk hidup dengan kehilangan.
Pelajaran: Ketika realitas terlalu berat, seni—menulis, melukis, musik—bisa menjadi wadah untuk rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan.
4. Identitas Kita Dibentuk oleh Kehilangan Kita
Hisham adalah penulis Libya yang hidup di London. Dia adalah anak dari pengungsi politik. Dia adalah anak yang ayahnya diculik oleh diktator.
Semua ini membentuk siapa dia. Kehilangan bukan sesuatu yang terpisah dari identitasnya—kehilangan adalah bagian integral darinya.
Pelajaran: Kita tidak perlu "melampaui" kehilangan kita. Kehilangan menjadi bagian dari siapa kita—dan itu tidak apa-apa.
Pertanyaan untuk Anda
Hisham Matar menulis:
"Saya telah belajar bahwa beberapa pertanyaan tidak memiliki jawaban, dan tugas kita bukan untuk menemukan jawaban, tetapi untuk hidup dengan pertanyaan itu dengan cara yang bermartabat."
Jadi sekarang pertanyaannya untuk Anda:
- Kehilangan apa yang Anda belum sepenuhnya berduka karena tidak ada penutupan?
- Pertanyaan apa yang Anda tunggu jawabannya—yang mungkin tidak akan pernah dijawab?
- Bagaimana Anda bisa hidup dengan pertanyaan itu dengan bermartabat?
Anda mungkin tidak kehilangan ayah Anda seperti Hisham. Tapi kita semua kehilangan sesuatu—atau seseorang—yang meninggalkan lubang yang tidak pernah terisi.
Dan mungkin, seperti Hisham, kita perlu belajar bahwa hidup dengan kehilangan bukan tentang menemukan jawaban. Hidup dengan kehilangan adalah tentang menemukan cara untuk tetap mencintai, tetap mengingat, tetap hidup—bahkan ketika yang kita cintai tidak ada lagi.
Ini adalah perjalanan paling sulit yang harus dilakukan manusia.
Tapi ini juga perjalanan yang membuat kita paling manusiawi.
Selamat datang di perjalanan Anda sendiri untuk pulang—pulang ke diri Anda yang tetap bisa mencintai bahkan dalam kehilangan.
Tentang Buku Asli
"The Return: Fathers, Sons and the Land in Between" diterbitkan pada tahun 2016 dan memenangkan Pulitzer Prize for Biography pada 2017, serta masuk dalam daftar panjang Man Booker Prize.
Hisham Matar lahir di New York tahun 1970 dari orang tua Libya, tumbuh di Tripoli dan Kairo, dan tinggal di London sejak tahun 1986. Dia adalah penulis dua novel yang diakui secara internasional sebelum menulis memoir ini.
Hingga hari ini, nasib Jaballa Matar masih belum diketahui dengan pasti. Dia adalah salah satu dari ribuan orang Libya yang "hilang" di bawah rezim Gaddafi—dan keluarga mereka masih mencari jawaban.
Untuk pengalaman lengkap yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Matar menulis dengan prosa yang indah, reflektif, dan penuh dengan observasi yang tajam tentang kehilangan, identitas, dan makna pulang. Ringkasan ini hanya menangkap garis besar—buku asli memberikan kedalaman emosional yang tidak bisa diringkas.
Sekarang pergilah dan peluk orang-orang yang Anda cintai. Katakan yang perlu dikatakan. Karena seperti yang diajarkan Hisham kepada kita:
Kita tidak pernah tahu kapan "selamat tinggal sementara" menjadi "selamat tinggal selamanya."