Taking Up Space
oleh Chelsea Kwakye & Ore Ogunbiyi · Januari 2026 · 15 menit baca
Satu-satunya di Ruangan
Daftar isi
Satu-satunya di Ruangan
Oktober 2015. Chelsea Kwakye berjalan memasuki ruang kuliah pertamanya di Cambridge—salah satu universitas paling bergengsi di dunia, tempat di mana Isaac Newton merumuskan hukum gravitasi, di mana Stephen Hawking mengajar, di mana perdana menteri dan pemenang Nobel dicetak.
Dia melirik sekeliling ruangan. 80 mahasiswa. Semua mata tertuju pada profesor di depan.
Lalu Chelsea menyadari sesuatu yang membuat perutnya mulas: Dia satu-satunya wanita kulit hitam di ruangan itu.
Bukan hanya minoritas. Bukan hanya "sedikit". Satu-satunya.
Dia duduk di bangku paling belakang, mencoba membuat dirinya sekecil mungkin. Mencoba tidak menarik perhatian. Mencoba—seperti yang akan dia lakukan berkali-kali selama tiga tahun berikutnya—untuk tidak mengambil terlalu banyak ruang.
Di ruang makan kampus, dia sering makan sendirian. Di perpustakaan, dia mendapat tatapan aneh ketika dia duduk di meja yang sama dengan mahasiswa kulit putih. Di pesta mahasiswa, seseorang bertanya: "Kamu pasti atlet atau penyanyi gospel, kan? Atau dapat beasiswa diversity?"
Tidak ada yang bertanya: "Kamu belajar apa?" atau "Apa passion kamu?" Asumsi sudah dibuat sebelum dia sempat membuka mulut.
Ore Ogunbiyi, co-author buku ini, mengalami hal serupa di Cambridge. Dia ingat momen ketika dosen—dengan niat baik—mengatakan padanya: "Sungguh menginspirasi melihat seseorang sepertimu di sini."
Seseorang seperti aku. Maksudnya: kulit hitam.
Bukan: pintar. Bukan: bekerja keras. Bukan: punya passion untuk subjek ini. Hanya: kulit hitam—dan itu sudah cukup mengejutkan untuk disebutkan.
Setelah bertahun-tahun mengalami momen-momen seperti ini—komentar yang tampaknya innocent tapi menyakitkan, tatapan yang membuat mereka merasa tidak diterima, kesendirian yang mendalam meskipun dikelilingi ribuan mahasiswa—Chelsea dan Ore memutuskan untuk bertanya:
"Apakah kami satu-satunya yang merasakan ini?"
Jadi mereka mulai mewawancarai wanita kulit hitam lainnya di Cambridge, Oxford, dan universitas elit lainnya di Inggris. Mereka berbicara dengan 40+ wanita—dari berbagai jurusan, berbagai latar belakang, berbagai generasi.
Dan yang mereka temukan mengejutkan sekaligus menghancurkan hati:
Tidak, mereka tidak sendirian. Hampir setiap wanita kulit hitam di ruang elit ini memiliki cerita yang sama.
"Taking Up Space" adalah kumpulan cerita-cerita itu. Tapi lebih dari itu—ini adalah manifesto tentang berani mengambil ruang di tempat yang tidak dirancang untuk kita. Dan mengubah ruang itu dalam prosesnya.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Ruang yang Tidak Dirancang untuk Kita
Sejarah Eksklusi
Cambridge didirikan tahun 1209. Selama 800 tahun pertama, institusi ini adalah domain eksklusif untuk pria kulit putih dari keluarga kaya.
Wanita baru boleh mendapat gelar Cambridge tahun 1948—700 tahun setelah universitas didirikan.
Wanita kulit hitam? Bahkan lebih langka.
Statistik yang Chelsea dan Ore temukan mengejutkan:
- Hanya 1-2% mahasiswa Cambridge adalah kulit hitam (di negara di mana 13% populasi adalah non-white)
- Di beberapa college Cambridge yang paling bergengsi, tidak ada satu pun mahasiswa kulit hitam dalam satu tahun intake
- Dari semua profesor di Cambridge, kurang dari 1% adalah wanita kulit hitam
Ketika Chelsea berjalan di koridor bersejarah Cambridge—dengan potret ratusan alumni terkenal terpajang di dinding—dia tidak melihat satu pun wajah yang terlihat seperti dia.
Pesan implisit jelas: "Tempat ini bukan untuk orang sepertimu."
"Kamu Dapat Beasiswa Diversity, Kan?"
Salah satu microaggression yang paling sering dialami wanita yang diwawancarai adalah asumsi bahwa mereka di sana bukan karena merit.
Seorang mahasiswa bernama Ama menceritakan:
"Di minggu pertama, saya bertemu teman sekelas. Kami ngobrol tentang jurusan, minat, dll. Lalu dia bertanya dengan santai: 'Jadi kamu dapat beasiswa diversity?'
Saya tertegun. Tidak ada yang bertanya itu pada teman kulit putih saya. Asumsinya: jika saya ada di sini, pasti ada program khusus yang 'membantu' saya masuk. Bukan karena saya punya nilai A-level sempurna. Bukan karena saya menang olimpiade matematika nasional.
Hanya karena kulit saya hitam."
Chelsea menulis: "Kami harus membuktikan keberadaan kami setiap hari. Teman-teman kulit putih kami tidak pernah harus melakukan itu. Keberadaan mereka di Cambridge diasumsikan natural. Kami? Selalu dipertanyakan."
Bagian 2: Microaggressions—Luka Seribu Sayatan
Apa Itu Microaggression?
Microaggression bukan rasisme terang-terangan—bukan slur atau kekerasan fisik. Ini adalah komentar atau tindakan kecil yang halus, sering tidak disengaja, tapi menyakitkan secara kumulatif.
Bayangkan seseorang menyayat kulit Anda dengan pisau kecil. Satu sayatan? Anda bisa ignore. Tapi 100 sayatan sehari, setiap hari, selama tiga tahun? Anda berdarah.
Katalog Microaggressions
Chelsea dan Ore mengumpulkan ratusan contoh dari wawancara mereka:
"Wow, kamu sangat artikulatif!" Implisit: Saya tidak mengharapkan orang kulit hitam bisa berbicara dengan baik.
"Boleh saya sentuh rambutmu? Pasti berbeda sekali teksturnya!" Implisit: Tubuhmu adalah objek eksotis untuk curiosity saya.
"Kamu datang dari mana? Tidak, maksud saya... originally dari mana?" Implisit: Kamu tidak bisa benar-benar British meskipun kamu lahir dan besar di London.
"Aku tidak pernah berpikir kamu sebagai 'hitam.' Bagiku kamu hanya... kamu." Implisit: Menjadi hitam adalah hal negatif, jadi aku akan 'melupakan' identitas rasial kamu sebagai compliment.
Di toko buku kampus, security selalu mengikuti mahasiswa kulit hitam. Implisit: Kami mencurigai kamu sebagai pencuri, bukan scholar.
Satu per satu, komentar ini terlihat kecil. "Jangan terlalu sensitif," kata orang. "Itu bukan apa-apa."
Tapi seperti yang seorang mahasiswa, Yomi, katakan:
"Ketika kamu mengalami 'bukan apa-apa' lima kali sehari, tujuh hari seminggu, itu bukan lagi 'bukan apa-apa.' Itu adalah serangan konstan pada keberadaanmu. Itu melelahkan."
Bagian 3: Tokenism—Dijadikan Simbol, Bukan Manusia
"Suara dari Perspektif Kulit Hitam"
Dalam seminar tentang literatur Afrika, profesor menoleh pada satu-satunya mahasiswa kulit hitam di kelas:
"Mungkin kamu bisa memberikan perspektif dari latar belakangmu tentang ini?"
Mahasiswa itu, Clara, membeku. Dia bukan dari Afrika. Dia lahir di Manchester. Dia tidak pernah membaca penulis yang dibahas sebelumnya. Tapi karena kulitnya hitam, dia diasumsikan sebagai representative untuk seluruh benua Afrika dan pengalaman kulit hitam di mana pun.
Ini adalah tokenism—ketika Anda bukan dilihat sebagai individu dengan pemikiran unik, tapi sebagai simbol untuk seluruh ras Anda.
Beban Representasi
Chelsea menulis tentang beban yang dia rasakan setiap hari:
"Ketika saya membuat presentasi di kelas, saya tidak hanya mewakili diri saya. Saya mewakili semua wanita kulit hitam. Jika saya gagal, mereka akan berpikir: 'Lihat, mahasiswa kulit hitam memang tidak bisa.'
Teman kulit putih saya tidak punya beban ini. Jika mereka gagal, itu hanya kegagalan personal. Tidak ada yang generalisir ke seluruh ras mereka."
Seorang mahasiswa lain, Nadia, menambahkan:
"Saya merasa harus selalu perfect. Saya tidak boleh terlambat—karena itu akan memperkuat stereotip. Saya tidak boleh marah—karena itu akan membuat saya terlihat seperti 'angry Black woman.' Saya tidak boleh terlalu percaya diri—karena saya akan dianggap arrogant.
Saya tidak pernah bisa hanya... menjadi manusia yang kadang sempurna, kadang berantakan. Saya harus menjadi superhuman."
Bagian 4: Imposter Syndrome—"Saya Tidak Seharusnya di Sini"
Suara di Kepala
Hampir setiap wanita yang diwawancarai melaporkan perjuangan dengan imposter syndrome—perasaan bahwa mereka tidak layak berada di ruang itu.
Ore menulis tentang pengalamannya:
"Minggu pertama di Cambridge, saya bangun setiap pagi dengan pikiran yang sama: 'Ini kesalahan. Mereka salah menerima saya. Suatu hari mereka akan menyadari saya tidak cukup pintar untuk di sini.'
Saya lulus sekolah menengah dengan nilai tertinggi di tahun saya. Saya menang kompetisi esai nasional. Saya mendapat tawaran dari tiga universitas top.
Tapi tidak ada yang cukup untuk membuat saya merasa saya berhak berada di sana."
Mengapa Imposter Syndrome Lebih Kuat untuk Wanita Kulit Hitam?
Karena external validation yang mereka terima sangat terbatas.
Ketika Anda tidak pernah melihat profesor yang terlihat seperti Anda, tidak pernah membaca tentang scholar kulit hitam dalam kurikulum, tidak pernah mendengar cerita sukses dari orang seperti Anda—mudah untuk percaya bahwa Anda adalah anomali yang tidak seharusnya ada.
Ditambah dengan microaggressions yang konstan mempertanyakan keberadaan Anda, imposter syndrome menjadi self-fulfilling prophecy:
"Mungkin mereka benar. Mungkin saya memang tidak seharusnya di sini."
Bagian 5: Mental Health Toll—Harga dari "Being the Only One"
Statistik yang Menghancurkan
Penelitian yang dikutip dalam buku menunjukkan:
- Mahasiswa kulit hitam di universitas elit Inggris 3x lebih mungkin mengalami depresi dibanding mahasiswa kulit putih
- 60% wanita kulit hitam melaporkan merasa terisolasi secara sosial
- 40% pernah mempertimbangkan untuk dropout—bukan karena akademis, tapi karena kesepian dan diskriminasi
Seorang mahasiswa, Kemi, menjelaskan:
"Saya datang ke Cambridge sangat excited. Saya pikir ini akan menjadi pengalaman terbaik dalam hidup saya.
Tapi dalam enam bulan, saya mengalami panic attacks. Saya tidak bisa tidur. Saya berhenti makan dengan baik. Saya mulai menghindari acara sosial karena saya lelah menjadi 'the only one.'
Kesuksesan akademis tidak berarti apa-apa jika kamu hancur secara emosional."
"Saya Harus Kuat"
Yang membuat situasi lebih buruk adalah stigma mencari bantuan.
Chelsea menulis:
"Ada ekspektasi bahwa wanita kulit hitam harus 'kuat.' Kita tidak boleh mengeluh. Kita tidak boleh lemah. Kita harus bisa handle everything.
Jadi ketika saya struggling dengan mental health, saya tidak mencari bantuan. Saya merasa itu akan membuktikan stereotip bahwa saya 'tidak cukup kuat' untuk berada di sini.
Butuh waktu dua tahun—dan satu breakdown yang serius—sebelum saya akhirnya pergi ke counselor."
Bagian 6: Sisterhood—Menemukan Community di Tengah Isolasi
"Saya Kira Saya Sendirian"
Turning point untuk Chelsea dan Ore adalah ketika mereka menemukan satu sama lain—dan komunitas kecil wanita kulit hitam lainnya di Cambridge.
Mereka membuat grup WhatsApp. Bertemu untuk kopi. Berbagi cerita—yang terlalu sering adalah cerita yang sama:
"Ini terjadi pada saya hari ini..."
"OMG, hal yang sama terjadi pada saya minggu lalu!"
Validasi itu powerful. Mengetahui bahwa Anda tidak gila. Bahwa pengalaman Anda nyata. Bahwa orang lain memahami.
Mentorship dan Legacy
Salah satu temuan paling penting dari buku ini adalah pentingnya mentorship dan representation.
Wanita yang punya mentor kulit hitam—seseorang yang telah melalui pengalaman serupa—melaporkan:
- Lebih sedikit imposter syndrome
- Lebih kuat menghadapi microaggressions
- Lebih percaya diri dalam ruang akademis
- Lebih mungkin untuk bertahan dan lulus
Seorang mahasiswa PhD, Adaeze, menjelaskan:
"Ketika saya bertemu supervisor kulit hitam pertama saya, saya menangis. Benar-benar menangis.
Karena untuk pertama kalinya, saya melihat bukti bahwa seseorang seperti saya bisa berhasil di ruang ini. Saya tidak lagi anomali. Saya adalah bagian dari legacy."
Bagian 7: Reclaiming Space—Dari Surviving ke Thriving
Dari "Membuat Diri Kecil" ke "Mengambil Ruang"
Salah satu momen paling powerful dalam buku adalah ketika Chelsea mendeskripsikan perubahan dalam dirinya dari tahun pertama ke tahun ketiga:
Tahun Pertama:
- Duduk di bangku belakang
- Tidak pernah mengangkat tangan di kelas
- Tidak join klub atau society
- Makan sendirian
- Mencoba "tidak mengganggu"
Tahun Ketiga:
- Memimpin society untuk mahasiswa kulit hitam
- Menulis artikel di koran kampus tentang race dan diversity
- Berbicara dalam panel diskusi
- Mentoring mahasiswa baru kulit hitam
- Mengambil ruang yang dia berhak ambil
Apa yang berubah? Bukan rasisme hilang. Bukan microaggressions berhenti.
Yang berubah adalah mindsetnya:
"Saya menyadari: ruang ini ADALAH untuk saya. Tidak peduli apa yang orang lain pikirkan. Saya punya hak yang sama untuk berada di sini. Dan saya tidak akan membuat diri saya kecil lagi."
Mendefinisikan Ulang Kesuksesan
Ore menulis tentang bagaimana dia berhenti mengukur kesuksesan hanya dari nilai akademis:
"Kesuksesan saya bukan hanya tentang mendapat first-class degree. Kesuksesan saya adalah:
- Bertahan meskipun sistem tidak dirancang untuk saya
- Menemukan dan membangun komunitas
- Menjadi mentor untuk mahasiswa baru kulit hitam
- Menggunakan suara saya untuk berbicara tentang ketidakadilan
- Membuka jalan untuk generasi berikutnya"
Bagian 8: Legacy—Mengubah Ruang untuk yang Datang Setelah Kita
Mengapa Mereka Menulis Buku Ini
Chelsea dan Ore bisa saja lulus, mendapat pekerjaan bagus, dan melupakan pengalaman menyakitkan mereka.
Tapi mereka memilih untuk mendokumentasikan dan berbagi cerita mereka. Mengapa? Ore menjelaskan:
"Kami menulis buku ini untuk tiga alasan:
Pertama, untuk wanita kulit hitam yang sedang struggling di ruang elit: Supaya mereka tahu mereka tidak sendirian. Supaya mereka punya bahasa untuk mendeskripsikan apa yang mereka alami. Supaya mereka tahu bahwa perasaan mereka valid.
Kedua, untuk institusi: Supaya mereka tidak bisa lagi berpura-pura bahwa masalah ini tidak ada. Data kami, cerita kami, adalah bukti. Sekarang mereka harus bertindak.
Ketiga, untuk wanita kulit hitam muda yang mempertimbangkan untuk apply: Kami tidak ingin menakut-nakuti mereka. Tapi kami juga tidak ingin mereka masuk tanpa persiapan. Kami ingin mereka tahu apa yang akan mereka hadapi—dan bahwa mereka bisa survive. Bahkan thrive."
Perubahan yang Mereka Lihat
Sejak buku ini diterbitkan tahun 2019, Chelsea dan Ore melihat perubahan:
- Cambridge dan Oxford membuat diversity initiatives yang lebih serius
- Lebih banyak scholarship untuk mahasiswa dari latar belakang underrepresented
- Lebih banyak support services untuk mental health dan wellbeing
- Lebih banyak wanita kulit hitam yang apply dan diterima
Tapi mereka juga realistis:
"Perubahan struktural butuh waktu puluhan tahun. Kami tidak akan melihat Cambridge menjadi truly inclusive dalam hidup kami.
Tapi setiap wanita kulit hitam yang sekarang bisa berjalan di koridor Cambridge dan melihat dirinya terwakili—dalam profesor, dalam peers, dalam kurikulum—itu adalah kemenangan."
Bagian 9: Pelajaran untuk Kita Semua
Ini Bukan Hanya tentang Cambridge
Meskipun buku ini fokus pada Cambridge dan Oxford, tema-tema ini universal.
Di Indonesia, pertanyaan serupa bisa ditanyakan:
- Siapa yang mendapat akses ke universitas top?
- Siapa yang merasa "belong" di ruang elit—dan siapa yang merasa seperti impostor?
- Bagaimana kita memperlakukan orang dari latar belakang yang berbeda?
Ganti "wanita kulit hitam di Cambridge" dengan:
- Mahasiswa dari daerah di universitas Jakarta
- Perempuan di ruang kerja yang didominasi pria
- Orang dari kelas ekonomi rendah di lingkungan korporat elit
Pola-pola eksklusi itu sama.
Untuk yang Merasa "Tidak Belong"
Chelsea dan Ore menulis pesan ini untuk siapa pun yang pernah merasa tidak diterima di ruang di mana mereka berada:
1. Perasaan Anda Valid Jika Anda merasa tidak belong, itu bukan karena ada yang salah dengan Anda. Itu karena ruang itu tidak dirancang dengan Anda dalam pikiran.
2. Anda Tidak Sendirian Cari komunitas Anda. Orang-orang yang memahami. Yang telah melalui hal serupa. Sisterhood dan brotherhood adalah survival mechanism.
3. Anda Berhak Berada di Sana Jangan biarkan siapa pun—melalui komentar, tatapan, atau asumsi—membuat Anda merasa bahwa Anda tidak layak. Jika Anda di sana, Anda earned it.
4. Mengambil Ruang Adalah Perlawanan Setiap kali Anda berbicara ketika Anda ingin diam. Setiap kali Anda duduk di bangku depan ketika Anda ingin bersembunyi di belakang. Setiap kali Anda exist with confidence di ruang yang tidak dirancang untuk Anda—itu adalah tindakan perlawanan.
5. Kesuksesan Anda Membuka Jalan Ketika Anda survive—bahkan thrive—di ruang itu, Anda membuat lebih mudah untuk orang berikutnya. Anda adalah legacy.
Untuk yang Punya Privilege
Buku ini juga berbicara pada orang yang tidak mengalami eksklusi ini—yang memiliki privilege:
1. Dengarkan Ketika seseorang berbagi pengalaman diskriminasi, jangan defensive. Jangan katakan "Tidak semua orang..." atau "Aku tidak pernah..." Dengarkan saja. Percayai pengalaman mereka.
2. Perhatikan Microaggressions Anda Apakah Anda pernah:
- Mengasumsikan seseorang ada di ruang itu karena diversity program?
- Minta seseorang "speak for their race"?
- Terheran-heran ketika seseorang dari latar belakang tertentu "artikulatif"? Ini microaggressions. Hentikan.
3. Gunakan Privilege Anda Jika Anda punya akses, platform, atau power—gunakan itu untuk membuka pintu bagi orang lain. Amplify suara yang kurang terdengar. Challenge sistem yang eksklusif.
Penutup: The Future Is About Taking Up Space
Chelsea dan Ore menutup buku mereka dengan visi untuk masa depan:
"Kami menulis buku ini bukan hanya untuk mendokumentasikan pain. Kami menulis untuk membayangkan future yang berbeda.
Future di mana wanita kulit hitam—dan semua orang dari latar belakang yang terpinggirkan—tidak harus berjuang untuk basic recognition.
Future di mana belonging bukan privilege, tapi hak.
Future di mana ruang elit bukan hanya untuk segelintir orang, tapi truly accessible untuk semua yang talented dan bekerja keras.
Future di mana taking up space bukan tindakan pemberontakan, tapi hal yang natural."
Pertanyaan untuk Anda
Jika Anda pernah merasa tidak belong:
- Di ruang mana Anda pernah merasa tidak diterima?
- Apa yang membuat Anda merasa seperti itu?
- Apakah Anda membuat diri Anda kecil—atau Anda berani mengambil ruang?
- Siapa komunitas Anda? Siapa yang membuat Anda merasa belong?
Jika Anda punya privilege:
- Apakah Anda pernah mempertanyakan mengapa ruang tertentu homogen?
- Apakah Anda pernah melihat seseorang struggling dan tidak melakukan apa-apa?
- Bagaimana Anda bisa menggunakan akses dan platform Anda untuk membuat ruang lebih inclusive?
Untuk kita semua:
- Ruang apa yang perlu kita ubah?
- Siapa yang kita exclude tanpa sadar?
- Bagaimana kita bisa membuat semua orang merasa bahwa mereka berhak berada di sana?
Tentang Buku Asli
"Taking Up Space: The Black Girl's Manifesto for Change" diterbitkan pada tahun 2019 dan langsung menjadi fenomena di Inggris.
Chelsea Kwakye dan Ore Ogunbiyi adalah mahasiswa Cambridge yang menulis buku ini berdasarkan pengalaman personal mereka dan wawancara dengan 40+ wanita kulit hitam di universitas elit Inggris.
Buku ini bukan hanya memoir—ini adalah investigasi, manifesto, dan call to action. Mereka mengkombinasikan storytelling personal yang powerful dengan data, research, dan analisis struktural.
Sejak publikasi, buku ini telah:
- Memenangkan multiple awards termasuk Waterstones Book of the Year
- Menginspirasi perubahan kebijakan di Cambridge dan Oxford
- Memicu percakapan nasional tentang diversity di pendidikan tinggi
- Menjadi required reading di banyak sekolah dan universitas
Chelsea dan Ore sekarang adalah aktivis, pembicara, dan konsultan diversity. Mereka terus bekerja untuk membuat ruang elit lebih accessible dan inclusive.
Untuk pemahaman lengkap tentang pengalaman wanita kulit hitam di ruang elit dan bagaimana kita semua bisa berkontribusi pada perubahan, sangat disarankan membaca buku aslinya.
Buku ini penuh dengan cerita yang akan membuat Anda marah, sedih, terinspirasi—dan semoga, termotivasi untuk bertindak.
Ringkasan ini menangkap tema dan cerita utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman emosional dan detail yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam beberapa ribu kata.
Sekarang pergilah dan ambil ruang yang Anda berhak ambil—tanpa meminta izin, tanpa membuat diri Anda kecil, tanpa apologize untuk keberadaan Anda.
Karena seperti yang Chelsea dan Ore buktikan: Ruang hanya akan berubah jika kita berani mengambilnya. Dan dengan mengambil ruang untuk diri kita, kita membuka jalan untuk orang lain.
The future is ours to take. Let's take it—unapologetically.