Lompat ke konten utama

These Summer Storms

oleh Sarah MacLean · April 2026 · 16 menit baca

Telepon yang Mengubah Segalanya

Daftar isi

Telepon yang Mengubah Segalanya 

Bayangkan Anda sedang duduk di kereta, scroll ponsel tanpa pikir, mencari video kucing lucu untuk melupakan hari yang melelahkan. 

Lalu ponsel Anda bergetar. 

Nama yang muncul di layar adalah nama yang tidak Anda lihat selama lima tahun. Nama yang membuat jantung Anda berhenti sejenak: 

Elisabeth Storm (never Mom). 

Tidak ada "Halo sayang, apa kabar?" Tidak ada "Kami merindukanmu." Hanya suara dingin dan terkontrol yang Anda kenal terlalu baik: 

"Ayahmu meninggal. Pemakaman hari Sabtu. Kamu harus datang." 

Klik. 

Lima tahun Anda membangun hidup sendiri—jauh dari nama Storm, dari miliaran dolar keluarga, dari pulau pribadi di Rhode Island, dari ekspektasi yang menghancurkan. Lima tahun Anda bekerja sebagai guru seni, tinggal di apartemen kecil di New York, membuktikan bahwa Anda bisa bertahan tanpa mereka. 

Dan sekarang, dengan satu panggilan telepon, semuanya runtuh. 

Ini adalah situasi Alice Storm—protagonis dalam novel debut kontemporer Sarah MacLean yang memukau ini. 

Tapi cerita ini bukan hanya tentang Alice. Ini tentang setiap orang yang pernah merasa tidak cukup baik untuk keluarganya. Tentang setiap orang yang pernah diasingkan karena tidak mau mengikuti aturan orang lain. Tentang setiap orang yang pernah pulang ke tempat yang dulunya rumah—dan menemukan bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar rumah.

Dan yang paling penting, ini tentang apa yang terjadi ketika badai—literal dan metaforis—datang dan mengungkap semua rahasia yang dikubur dalam. 

Mari kita masuk ke dalam badai ini.


Bagian 1: Keluarga Storm—Miliaran Dolar, Nol Kehangatan 

Franklin Storm—Patriark yang Menghancurkan 

Franklin Storm adalah salah satu dari mereka—tech billionaire yang namanya ada di headline, yang mengubah dunia dengan platform teknologi revolusioner, yang berbicara di TED Talks tentang inovasi dan masa depan. 

Di luar, dia adalah visioner. Genius. Filantropis. 

Di dalam keluarga, dia adalah tiran. 

Franklin percaya pada satu hal: keluarga Storm adalah exceptional. Mereka bukan seperti orang biasa. Mereka lebih pintar, lebih penting, lebih... lebih segalanya. 

Dan dengan kepercayaan itu datang kontrol yang mencekik. 

Setiap keputusan anak-anaknya harus disetujui. Setiap hubungan diperiksa. Setiap karir diarahkan. Tidak ada ruang untuk mimpi pribadi, passion yang tidak "produktif," atau—Tuhan melarang—ketidaksepakatan. 

Ketika Alice, pada usia 27 tahun, berani menentang ayahnya dalam masalah yang sangat pribadi dan penting baginya, Franklin membuat keputusan yang brutal: Dia mengusir Alice dari keluarga. 

Tidak ada diskusi. Tidak ada kesempatan kedua. Satu ketidaksepakatan, dan Anda keluar—dicoret dari warisan, dilarang mengunjungi pulau, dijauhi oleh saudara kandung yang terlalu takut untuk membela Anda. 

Dan sekarang, Franklin mati. Tapi bahkan dalam kematian, dia masih mengontrol.

Permainan Warisan Terakhir 

Ketika Alice tiba di pulau untuk pemakaman (maaf, "celebration"—Elisabeth bersikeras itu bukan pemakaman), dia menemukan bahwa ayahnya meninggalkan satu kejutan terakhir: 

Permainan warisan. 

Aturannya sederhana dan sadis: 

  • Semua anak Storm harus menghabiskan satu minggu penuh di pulau
  • Setiap anak diberi tugas spesifik yang harus diselesaikan
  • Hanya yang menyelesaikan tugas akan mendapat warisan mereka
  • Tidak ada yang boleh pergi sebelum minggu selesai

Ini adalah Franklin Storm sampai akhir—memanipulasi anak-anaknya bahkan dari kubur. 

Tapi ada twist: tugas-tugas yang dia berikan bukan tugas acak. Setiap tugas dirancang untuk memaksa anak-anaknya menghadapi kebenaran yang selama ini mereka hindari. 

Keluarga yang Retak 

Alice kembali ke rumah yang penuh dengan orang asing yang kebetulan berbagi DNA dengannya: 

Greta (35), kakak tertua. Sempurna di permukaan—MBA dari Harvard, menikah dengan pria "tepat," selalu mengikuti aturan. Tapi di balik fasad itu adalah wanita yang mengorbankan segalanya untuk persetujuan yang tidak pernah datang. Dia yang paling marah pada Alice—karena Alice berani melakukan apa yang Greta tidak pernah bisa: pergi. 

Sam (33), satu-satunya anak laki-laki. "Boy king" yang dimanjakan ayahnya, diberi posisi eksekutif di perusahaan meskipun tidak punya kualifikasi apapun. Entitled, defensif, dan sangat takut bahwa dunia akan menemukan dia tidak sepintar yang dia klaim. Dia melihat Alice sebagai ancaman terhadap warisannya. 

Emily (25), adik bungsu. Hippie yang suka kristal, astrologi, dan "vibes." Dia satu-satunya yang tetap berkomunikasi dengan Alice secara diam-diam selama pengasingan. Relatif tidak terluka oleh toxicity keluarga—atau setidaknya begitulah yang terlihat. 

Elisabeth, ibu mereka. Dingin seperti es martini yang selalu ada di tangannya. Wanita yang memilih status dan uang daripada anak-anaknya. Wanita yang tidak pernah membela mereka, tidak pernah memeluk mereka, tidak pernah mengatakan "I love you." 

Dan di tengah semua ini ada Jack Dean—tangan kanan Franklin yang loyal, pria misterius yang tahu semua rahasia keluarga Storm tapi tidak pernah membocorkannya. 

Jack yang tegas. Jack yang tampan. Jack yang... tunggu, bukankah Alice baru tidur dengan pria ini semalam sebelum menyadari siapa dia? 

Oh tidak.


Bagian 2: Malam Pertama—Keputusan Impulsif

Pertemuan di Bar 

Sebelum tiba di pulau, Alice singgah di sebuah bar coastal di Rhode Island. Dia butuh minum. Butuh waktu. Butuh... apapun untuk menunda kembali ke keluarga yang mengusirnya. 

Di bar itu, dia bertemu pria yang sempurna untuk malam itu. 

Tampan dengan cara yang understated—tidak terlalu dipoles, tidak seperti pria-pria yang biasa Alice temui di lingkaran keluarganya. Khaki dan t-shirt yang pas. Tangan yang kuat. Mata yang intens tapi tidak menilai. 

Mereka berbicara. Dia tidak tahu siapa Alice. Tidak peduli dengan nama Storm. Tidak bertanya tentang ayahnya atau uangnya atau skandal yang membuatnya diasingkan. 

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Alice merasa bebas. 

Jadi ketika pria itu bertanya apakah dia ingin keluar dari bar itu, Alice mengatakan ya. Dan ketika dia bertanya apakah dia ingin datang ke kamarnya, Alice mengatakan ya lagi. 

Satu malam. Tidak ada nama. Tidak ada janji. Hanya dua orang dewasa yang membutuhkan koneksi di malam yang sulit. 

Sempurna. 

Keesokan Paginya—Bencana 

Alice tiba di pulau dengan ferry pribadi keluarga. Rumah megah mereka—lebih seperti estate daripada rumah—berdiri megah menghadap laut. 

Dia masuk. Bertemu saudara-saudaranya dengan canggung. Mendengarkan ibu mereka memberikan instruksi dengan nada yang tidak membiarkan pertanyaan. 

Lalu pintu terbuka, dan Jack Dean masuk. 

Jack Dean. Tangan kanan ayahnya. Pria yang menjalankan perusahaan Franklin selama bertahun-tahun. Pria yang Alice seharusnya tidak pernah tiduri. 

Pria yang semalam dia tiduri. 

Mata mereka bertemu. Dia tahu. Dia tahu. Dan dari cara Elisabeth memandang mereka, sepertinya dia juga tahu—atau setidaknya curiga. 

Ini akan menjadi minggu terpanjang dalam hidup Alice.


Bagian 3: Tugas-Tugas yang Mengungkap 

Tugas Alice—Menghadapi Masa Lalu 

Setiap anak Storm diberi amplop dari ayah mereka. Di dalamnya: tugas yang harus diselesaikan untuk mendapat warisan. 

Tugas Alice sederhana tapi menghancurkan: Dia harus menulis eulogy untuk ayahnya dan membacakannya di pemakaman. 

Tunggu—eulogy? Untuk pria yang mengusirnya? Untuk ayah yang memilih reputasi di atas putrinya? Untuk tiran yang membuat masa kecilnya penuh dengan ketakutan akan kegagalan? 

Bagaimana dia bisa menulis sesuatu yang jujur tanpa membongkar semua kebusukan keluarga ini di depan publik? 

Dan lebih buruk: tugas itu memaksanya mengingat mengapa dia diasingkan—rahasia yang bahkan saudara-saudaranya tidak sepenuhnya tahu. 

Tugas Greta—Memilih untuk Diri Sendiri 

Tugas Greta: Habiskan satu hari melakukan apa yang benar-benar kamu inginkan, bukan apa yang orang lain harapkan. 

Kedengarannya mudah, bukan? Tapi bagi Greta yang telah menghabiskan 35 tahun hidupnya melakukan apa yang "seharusnya"—ini adalah tugas yang mengerikan. 

Dia tidak tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan itu. 

Tugas Sam—Akui Kegagalan 

Tugas Sam yang entitled: Akui di depan keluarga satu hal yang kamu gagal lakukan. 

Untuk pria yang selalu menutupi ketidakmampuannya dengan arrogance dan privilege—ini adalah mimpi buruk. 

Tugas Emily—Hadapi Kenyataan 

Tugas Emily yang tampaknya innocent: Temukan satu kebenaran tentang keluarga yang selama ini kamu hindari. 

Emily selalu menjadi yang "happy," yang tidak terlibat dalam drama. Tapi seperti yang akan dia temukan, tidak terlibat bukan berarti tidak terluka.


Bagian 4: Jack Dean—Pria di Tengah Badai 

Lebih dari Sekadar Assistant 

Jack Dean bukan hanya tangan kanan Franklin yang loyal. Dia adalah anak yatim piatu yang Franklin "selamatkan" (atau eksploitasi, tergantung bagaimana Anda melihatnya) dan beri kesempatan. 

Jack brilian. Lulusan MIT. Otak di balik banyak inovasi perusahaan Franklin—meskipun Franklin yang mendapat kredit. 

Tapi kenapa dia bertahan? Kenapa dia loyal pada pria yang jelas-jelas toxic? 

Karena Franklin memberinya sesuatu yang tidak pernah dia punya: tujuan. Keluarga (meskipun dysfunctional). Tempat di dunia. 

Dan sekarang Franklin mati, Jack tidak tahu siapa dia tanpa peran itu. 

Chemistry yang Tidak Bisa Disangkal 

Alice membenci Jack—atau setidaknya dia mencoba. 

Dia melihat Jack sebagai enabler ayahnya. Pria yang membiarkan Franklin melakukan semua hal mengerikan itu. Pria yang tidak pernah membela dia ketika dia diasingkan. 

Tapi ada masalah: dia tidak bisa berhenti memikirkan malam itu. Cara Jack menyentuhnya. Cara dia melihatnya. Cara—untuk pertama kalinya dalam hidup Alice—seseorang melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai "Alice Storm." 

Dan Jack juga merasa hal yang sama. Konflik dalam matanya setiap kali dia melihat Alice berkata segalanya: Dia ingin dia. Tapi dia juga loyal pada memori Franklin. Dia terjebak di antara masa lalu dan masa depan.


Bagian 5: Rahasia Mulai Terungkap 

Kebenaran tentang Pengasingan Alice 

Perlahan, melalui flashback dan percakapan, kita belajar mengapa Alice diusir. 

Lima tahun lalu, Alice menemukan sesuatu tentang ayahnya—sesuatu yang kotor, yang ilegal, yang bisa menghancurkan reputasinya. Dia mengkonfrontasi Franklin, memintanya untuk memperbaikinya. 

Tanggapan Franklin? Pilih: Diamlah dan tetap menjadi Storm, atau bicaralah dan kamu bukan lagi putri saya. 

Alice memilih integritas. Dan dia membayar harganya. 

Tapi twist yang menghancurkan: Jack tahu tentang ini sejak awal. Dia bahkan membantu Franklin menutupinya. Dan itulah mengapa Alice tidak bisa sepenuhnya memaafkannya—tidak peduli seberapa kuat chemistry mereka. 

Kebenaran tentang Greta 

Tugas Greta memaksanya mengakui: dia tidak mencintai suaminya. Dia menikahi dia karena dia "tepat" di atas kertas. Karena Franklin menyetujui. Karena itu yang seharusnya dilakukan putri Storm yang baik. 

Tapi di dalam hatinya, dia merasa terjebak. Dan lebih buruk—dia merasa iri pada Alice yang berani pergi. 

Kebenaran tentang Sam 

Sam akhirnya mengakui: dia tidak punya kemampuan untuk menjalankan perusahaan. Dia mendapat posisi karena nama, bukan merit. Dan dia takut semua orang akan menemukan dia adalah penipu. 

Kebenaran tentang Emily 

Emily menemukan sesuatu yang menghancurkan: dia tahu tentang kejahatan ayahnya sepanjang waktu. Dia memilih untuk mengabaikannya, bersembunyi di balik kristal dan positive vibes, karena mengakui kebenaran terlalu menyakitkan.


Bagian 6: Badai—Literal dan Metaforis 

Hurricane Datang 

Di tengah minggu, meteorologist memperingatkan: badai besar datang ke Rhode Island. 

Keluarga Storm seharusnya evakuasi. Tapi tentu saja, mereka Storm—mereka tidak lari dari badai. Mereka tetap di pulau mereka yang "aman." 

Atau setidaknya begitulah yang mereka pikir. 

Ketika angin mulai melolong dan hujan menghantam jendela, sesuatu terjadi: semua facade runtuh. 

Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada cara untuk menghindari satu sama lain. Mereka terjebak di rumah besar itu bersama—dengan semua kebohongan, dendam, dan luka yang belum sembuh. 

Confrontation Besar 

Di puncak badai, semua meledak. 

Alice mengkonfrontasi Jack: "Kamu tahu apa yang ayahku lakukan. Kamu membantunya menutupinya. Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" 

Jack membalas: "Kamu pikir kamu satu-satunya yang terluka? Kamu pikir kamu satu-satunya yang harus memilih antara integritas dan survival? Aku memilih survival karena aku tidak punya privilege sepertimu untuk pergi!" 

Greta mengkonfrontasi Sam: "Kamu selalu diperlakukan seperti raja sementara aku harus sempurna untuk mendapat sedikit perhatian ayah!" 

Sam membalas: "Kamu pikir menjadi 'golden boy' itu menyenangkan? Aku tidak bisa bernafas di bawah ekspektasi itu!" 

Emily mengkonfrontasi semuanya: "Kalian semua terlalu sibuk menyalahkan satu sama lain sehingga tidak melihat bahwa kita semua adalah korban ayah!" 

Dan Elisabeth—yang selama ini dingin dan terkontrol—akhirnya pecah. Dia mengakui kebenaran yang menghancurkan: "Aku tidak tahu bagaimana menjadi ibu. Aku hanya tahu bagaimana menjadi istri Franklin Storm. Dan itu bukan cukup untuk kalian. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu cara lain."


Bagian 7: Setelah Badai—Membangun Kembali

Keesokan Paginya 

Ketika badai reda dan matahari terbit, keluarga Storm bangun ke dunia yang berbeda.

Tidak ada listrik. Pohon-pohon tumbang. Kerusakan di mana-mana. 

Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diri mereka juga. 

Untuk pertama kalinya, mereka berbicara dengan jujur. Tidak ada pretense. Tidak ada facade. Hanya manusia yang rusak mencoba mencari tahu bagaimana menyembuhkan. 

Eulogy Alice 

Hari pemakaman tiba. Alice berdiri di depan tamu-tamu—tech moguls, politisi, selebriti—semua orang yang menganggap Franklin Storm sebagai genius. 

Dia membaca eulogy yang dia tulis. Tapi bukan eulogy yang mereka harapkan. 

Dia tidak berbohong dan mengatakan Franklin adalah ayah yang luar biasa. Tapi dia juga tidak membongkar semua dosa-dosanya di depan dunia. 

Sebagai gantinya, dia berbicara tentang kompleksitas: 

"Ayah saya adalah genius. Itu benar. Tapi dia juga manusia yang cacat. Dia membangun perusahaan yang mengubah dunia, tapi dia tidak selalu baik pada keluarganya. Dia visioner di luar, tapi tiran di dalam. 

Saya tidak akan berpura-pura dia sempurna. Tapi saya juga tidak akan mengurangi seluruh hidupnya menjadi kesalahan-kesalahannya. Dia adalah kedua-duanya—brilian dan brutal, visioner dan vengeful, luar biasa dan mengerikan. 

Dan mungkin itu pelajaran terakhirnya untuk kami: bahwa manusia adalah kompleks. Bahwa kita bisa mencintai seseorang dan juga terluka olehnya. Bahwa kita bisa menghormati pencapaian seseorang sambil mengakui kerusakan yang mereka lakukan. 

Kami, anak-anaknya, akan mengingat kedua-duanya. Kami tidak akan melupakan yang baik. Tapi kami juga tidak akan menyangkal yang buruk. 

Dan mungkin itulah warisan terbaik yang bisa kami berikan padanya: kebenaran." 

Ruangan hening. Beberapa orang uncomfortable. Tapi saudara-saudaranya—mereka mengerti. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdiri bersama.


Bagian 8: Pilihan-Pilihan yang Sulit 

Greta Memilih Dirinya Sendiri 

Setelah pemakaman, Greta membuat keputusan: dia akan bercerai. Bukan karena suaminya buruk, tapi karena dia tidak mencintainya. Dan dia layak mendapat lebih dari pernikahan yang nyaman tapi tanpa cinta. 

Untuk pertama kalinya, Greta memilih apa yang dia inginkan—bukan apa yang "seharusnya."

Sam Memulai dari Bawah 

Sam mengakui pada board perusahaan: dia tidak qualified untuk posisi CEO. Dia mundur. 

Tapi dia tidak menyerah. Dia meminta untuk mulai dari bawah—belajar bisnis dengan benar, membuktikan dirinya dengan merit, bukan nama. 

Ini menakutkan. Ini memalukan. Tapi ini juga membebaskan. 

Emily Berhenti Bersembunyi 

Emily menghadapi kenyataan bahwa dia tidak bisa menggunakan spiritualitas sebagai cara untuk menghindari masalah nyata. Dia memutuskan untuk menjadi lebih terlibat—dalam keluarga, dalam bisnis, dalam hidup. 

Kristal dan astrologi masih bagian dari hidupnya. Tapi sekarang dia juga membawa akuntabilitas. 

Jack dan Alice—Pertanyaan yang Belum Terjawab 

Jack datang ke Alice setelah semuanya selesai. 

"Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Aku tidak bisa membatalkan bahwa aku membantu ayahmu. Aku tidak bisa membuat keputusan yang berbeda lima tahun lalu—karena aku bukan orang yang sama saat itu. 

Tapi aku bisa berubah sekarang. Aku sudah mengajukan pengaduan ke authorities tentang apa yang Franklin lakukan. Aku sedang membuat perusahaan bertanggung jawab. Aku tidak minta maaf karena aku tahu kata-kata tidak cukup. 

Yang aku minta adalah kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bukan hanya 'tangan kanan Franklin' lagi. Kesempatan untuk menjadi Jack yang kamu temui di bar—pria yang tidak terikat pada masa lalu, pria yang bisa membangun masa depan yang berbeda. 

Dengan atau tanpamu. Tapi aku berharap denganmu."

Alice tidak langsung menjawab. Ini tidak mudah. Kepercayaan tidak dibangun dalam satu percakapan. 

Tapi dia mengatakan sesuatu: "Aku tidak bisa berjanji apa-apa sekarang. Tapi aku juga tidak menutup pintu. Buktikan padaku—bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Dan kita lihat." 

Itu cukup. Untuk sekarang.


Bagian 9: Pelajaran dari Badai 

1. Keluarga Toxic Tidak Harus Menentukan Anda 

Alice menghabiskan lima tahun berpikir bahwa pengasingannya adalah kegagalan. Tapi ternyata, itu adalah keselamatan. 

Kadang keputusan terbaik adalah pergi. Kadang mencintai keluarga berarti mencintai mereka dari jarak yang aman. 

Pelajaran: Anda tidak berutang loyalitas buta pada keluarga yang melukai Anda. Anda boleh memilih diri sendiri. 

2. Kesedihan Itu Kompleks 

Anda bisa bersedih untuk seseorang yang juga melukai Anda. Anda bisa menangisi kehilangan sambil lega bahwa mereka pergi. Emosi tidak harus masuk akal. 

Pelajaran: Izinkan diri Anda merasakan semua emosi—bahkan yang kontradiktif. Kesedihan tidak linear. 

3. Pengampunan Bukan untuk Mereka—Tapi untuk Anda 

Alice tidak memaafkan ayahnya karena dia layak. Dia memaafkan karena dia tidak ingin membawa kebencian itu selamanya. 

Pengampunan bukan berarti melupakan atau mengatakan "tidak apa-apa." Pengampunan berarti memutuskan untuk tidak membiarkan luka masa lalu mengendalikan masa depan Anda. 

Pelajaran: Maafkan untuk kebebasan Anda sendiri, bukan untuk orang lain.

4. Vulnerability Adalah Keberanian 

Semua karakter dalam buku ini bersembunyi di balik facade sampai badai memaksa mereka vulnerable. 

Dan vulnerability itu—meskipun menyakitkan—adalah apa yang akhirnya menyelamatkan mereka. 

Pelajaran: Kekuatan sejati bukan di facade. Kekuatan sejati adalah keberanian untuk menunjukkan siapa Anda sebenarnya—retak dan semua. 

5. Uang Tidak Menyelesaikan Masalah Manusiawi

Keluarga Storm punya pulau pribadi, miliaran dolar, akses ke segalanya. Tapi mereka tidak punya kehangatan, kejujuran, atau koneksi nyata. 

Pelajaran: Hal-hal yang paling penting dalam hidup—cinta, koneksi, kebahagiaan—tidak bisa dibeli.


Penutup: Setelah Badai Berlalu 

Di akhir buku, Alice berdiri di dermaga pulau, melihat ke laut. Badai telah berlalu. Langit cerah. 

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluarganya. Mereka semua rusak. Mereka semua masih punya banyak pekerjaan untuk dilakukan. 

Tapi untuk pertama kalinya, ada harapan. 

Greta sedang merencanakan hidup barunya. Sam sedang belajar kerendahan hati. Emily sedang belajar keberanian. Elisabeth sedang belajar bagaimana menjadi ibu—bahkan di usia ini, bahkan terlambat. 

Dan Jack? Jack sedang membuktikan bahwa orang bisa berubah. 

Alice tidak tahu apakah dia akan kembali ke pulau ini lagi. Dia tidak tahu apakah hubungan dengan saudara-saudaranya bisa diperbaiki sepenuhnya. 

Tapi dia tahu satu hal: Dia tidak lagi melarikan diri. 

Dia tidak lagi mendefinisikan dirinya melalui pengasingan, melalui penolakan ayahnya, melalui luka masa lalu. 

Dia Alice Storm. Bukan karena nama keluarga. Bukan karena uang. Tapi karena dia memilih untuk menjadi dirinya sendiri—dalam badai dan di luar badai. 

Pertanyaan untuk Anda 

Setelah membaca tentang perjalanan keluarga Storm, tanyakan pada diri sendiri: 

  • Facade apa yang Anda pertahankan untuk melindungi diri—dan apakah itu masih melayani Anda?
  • Pengampunan apa yang Anda tahan—bukan untuk orang lain, tapi untuk kebebasan Anda sendiri?
  • Kebenaran apa yang Anda hindari—dan apa yang akan terjadi jika Anda akhirnya menghadapinya?
  • Badai apa dalam hidup Anda—dan apa yang mungkin dia coba ungkapkan?

Badai tidak datang untuk menghancurkan kita. Badai datang untuk membersihkan apa yang tidak lagi melayani kita, untuk mengungkap apa yang perlu dilihat, untuk memaksa kita menghadapi apa yang kita hindari. 

Pertanyaannya bukan apakah badai akan datang—badai selalu datang. 

Pertanyaannya adalah: Ketika badai itu berlalu, siapa yang akan Anda pilih untuk menjadi?


Tentang Buku Asli 

"These Summer Storms" diterbitkan pada Juli 2025 dan menjadi national bestseller. Ini adalah debut novel kontemporer dari Sarah MacLean, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis historical romance bestselling New York Times. 

MacLean menulis lebih dari 16 novel yang telah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa. Dia adalah co-host podcast romance "Fated Mates" dan advokat vokal untuk genre romance sebagai feminist text. 

Novel ini mendapat pujian luar biasa: 

  • "Deliciously impossible to put down" — Jodi Picoult
  • "Addictive" — Ali Hazelwood
  • "If you ever wished Succession was sexier, you're going to devour this" — Book Enthusiast

Dipilih sebagai salah satu Best Books of the Year oleh TIME, The New York Times Book Review, NPR, Kirkus Reviews, dan Library Journal. 

Untuk pengalaman penuh tentang dinamika keluarga yang kompleks, chemistry yang membakar antara Alice dan Jack, dan semua nuansa emosional yang membuat novel ini begitu powerful, sangat disarankan membaca buku aslinya. 

Ringkasan ini menangkap esensi cerita, tapi buku lengkapnya menawarkan dialog tajam, deskripsi yang kaya tentang setting coastal Rhode Island, dan kedalaman emosional yang hanya bisa dialami melalui kata-kata MacLean sendiri. 

Sekarang pergilah dan hadapi badai Anda sendiri. 

Karena seperti yang ditunjukkan keluarga Storm: setelah badai terburuk berlalu, sering muncul ketenangan yang paling indah. 

Dan kadang, kita perlu kehilangan segalanya untuk menemukan apa yang benar-benar penting.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: Empire Falls
Kembali ke atas

Buku serupa