Lompat ke konten utama

This Time Tomorrow

oleh Emma Straub · April 2026 · 13 menit baca

Ulang Tahun yang Tidak Seperti yang Direncanakan

Daftar isi

Ulang Tahun yang Tidak Seperti yang Direncanakan 

Bayangkan Anda bangun di hari ulang tahun ke-40. 

Anda melihat ke cermin dan melihat kerutan di sudut mata. Rambut abu-abu yang mulai bermunculan. Tubuh yang tidak sebugar dulu. Dan yang lebih buruk dari semua itu—hidup yang tidak seperti yang Anda bayangkan 20 tahun lalu. 

Pekerjaan yang membosankan di sekolah swasta elite, bukan karir glamor yang Anda impikan. Masih single, bukan menikah dengan cinta sejati. Tinggal di apartemen yang sama dengan ayah Anda yang sekarang sekarat—bukan punya rumah sendiri di lingkungan keren. 

Anda bertanya pada diri sendiri: "Di mana aku salah? Kapan hidupku berbelok ke arah ini?"

Lalu sesuatu yang ajaib—atau mungkin mengerikan—terjadi. 

Anda tertidur dengan pertanyaan itu di pikiran. Dan ketika Anda bangun keesokan harinya, Anda bukan lagi berusia 40 tahun. 

Anda berusia 16 tahun. 

Kembali ke tahun 1996. Kembali ke momen kritis dalam hidup Anda. Dengan semua pengetahuan dari 24 tahun ke depan masih utuh di kepala Anda. 

Ini kesempatan yang kebanyakan orang hanya bisa mimpi: kesempatan kedua untuk membuat semuanya benar. 

Tapi pertanyaannya: Apa yang sebenarnya perlu "diperbaiki"? Dan apakah mengubah masa lalu akan benar-benar membuat masa depan lebih baik? 

Ini adalah premis "This Time Tomorrow"—novel penuh hati dari Emma Straub tentang waktu, pilihan, penyesalan, dan belajar mencintai hidup yang kita punya, bahkan ketika itu tidak sempurna.


Bagian 1: Alice di 40—Hidup yang "Seharusnya" Lebih Baik 

Pagi yang Tidak Menyenangkan 

Alice Stern bangun di pagi ulang tahunnya yang ke-40 dengan perasaan yang familiar: kekecewaan yang samar tapi konstan. 

Dia bekerja sebagai admisi officer di Belvedere Academy—sekolah swasta di Upper West Side New York tempat dia dulu bersekolah. Bukan pekerjaan yang buruk, tapi juga bukan yang dia impikan. Dia menghabiskan hari-harinya menilai esai aplikasi siswa yang penuh privilege, menenangkan orang tua yang cemas, dan berpura-pura bahwa ini adalah karir yang memuaskan. 

Dia masih single—sudah lama tidak ada hubungan serius. Kencan online yang tidak berujung kemana-mana. Swipe kanan dan kiri tanpa koneksi nyata. 

Dan yang paling berat: ayahnya, Leonard, sekarat. 

Leonard Stern—penulis fiksi ilmiah cult klasik, ayah tunggal yang membesarkannya dengan cinta dan imajinasi liar—sekarang terbaring di rumah sakit, pikirannya memudar karena tumor otak. 

Alice mengunjungi dia setiap hari, duduk di samping tempat tidurnya, memegang tangan yang dulu menulis cerita petualangan luar biasa, dan mencoba untuk tidak menangis. 

Makan Malam dengan Sam—Cermin Kehidupan yang Berbeda

Malam hari ulang tahunnya, Alice makan malam dengan sahabatnya sejak kecil, Sam. 

Sam yang dulu adalah gadis tomboy yang suka komik dan petualangan sekarang sudah menikah, punya dua anak, dan hidup di Brooklyn dengan rumah brownstone yang indah. 

Mereka makan, tertawa, mengenang masa kecil. Tapi Alice tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa hidupnya adalah versi yang lebih buruk dari apa yang seharusnya. 

Sam bertanya, dengan nada yang terlalu hati-hati, "Jadi... ada orang spesial?"

Alice menggelengkan kepala. "Tidak. Masih mencari." 

Sam tersenyum simpati—jenis senyuman yang membuat Alice ingin berteriak: "Aku baik-baik saja! Hidupku baik-baik saja!" 

Tapi apakah benar?

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Malam itu, sendirian di apartemen ayahnya—apartemen tempat dia tumbuh, tempat yang sekarang terasa seperti museum masa lalunya—Alice memikirkan hidup yang berbeda. 

Bagaimana jika dia kuliah di tempat lain, bukan di kampus dekat rumah?

Bagaimana jika dia lebih berani mengambil risiko karir? 

Bagaimana jika dia membuat pilihan berbeda tentang cinta, persahabatan, pekerjaan?

Dia tertidur dengan pertanyaan-pertanyaan itu—dan bangun di dunia yang berbeda.


Bagian 2: Kembali ke 16—Kesempatan Kedua Dimulai

Bangun di Tahun 1996 

Alice membuka mata dan langsung tahu ada yang salah—atau benar, tergantung bagaimana Anda melihatnya. 

Kamarnya berbeda. Poster yang sudah lama hilang ada di dinding. Musik dari tahun 90-an terdengar dari radio. Dan ketika dia melihat ke cermin—wajah 16 tahun menatapnya kembali. 

Tapi ini bukan mimpi. Kesadarannya, memorinya, pengetahuannya dari 40 tahun—semua masih ada. Hanya tubuhnya yang kembali ke 16. 

Dia meraih kalender. 1996. Hari ulang tahunnya yang ke-16. 

Hari yang sama 24 tahun lalu. 

Alice panik. Lalu tertawa. Lalu menangis. Lalu... berpikir. 

Ini kesempatan. Kesempatan untuk mengubah segalanya. Dengan pengetahuan 24 tahun ke depan, dia bisa membuat pilihan yang lebih baik. Dia bisa menciptakan hidup yang lebih baik. 

Leonard yang Sehat—Hadiah Terbesar 

Tapi sebelum Alice mulai merencanakan cara mengubah masa depannya, dia melihat sesuatu yang membuat hatinya hampir berhenti: ayahnya, Leonard, sehat dan hidup. 

Tidak ada tumor. Tidak ada rumah sakit. Hanya Leonard dengan senyuman lebar, energi penuh, mata yang jernih. 

Leonard yang membuat pancake untuk sarapan. Leonard yang bertanya tentang hari Alice di sekolah. Leonard yang membuat lelucon bodoh dan memeluknya erat. 

Di momen itu, Alice menyadari: Ini bukan tentang mengubah pekerjaan atau pasangan. Ini tentang mendapat waktu lagi dengan ayahnya. 

Dia memeluk Leonard dan menangis—dan Leonard, bingung tapi penuh kasih, memeluknya kembali. 

Dunia yang Familiar tapi Berbeda 

Alice pergi ke sekolah dan semuanya familiar tapi aneh. 

Belvedere Academy terlihat sama—gedung Gothic yang megah di Upper West Side. Tapi teman-temannya adalah versi muda dari orang yang dia ingat. Sam masih tomboy dengan rambut pendek dan jeans robek. Guru-gurunya lebih muda. Teknologi masih primitif—tidak ada smartphone, tidak ada media sosial, bahkan internet masih dial-up. 

Dan yang paling aneh: semua orang memperlakukan dia seperti remaja 16 tahun, padahal di dalam dia adalah wanita 40 tahun. 

Alice harus berpura-pura tidak tahu jawaban di kelas yang sudah dia pelajari puluhan tahun lalu. Harus pura-pura peduli dengan drama remaja yang sekarang terlihat sangat kecil. Harus menavigasi dunia yang sudah dia tinggalkan.


Bagian 3: Eksperimen Mengubah Masa Depan

Membuat Pilihan Berbeda 

Alice memutuskan untuk eksperimen: Apa yang terjadi jika dia mengubah keputusan-keputusan kunci dalam hidupnya? 

Eksperimen 1: Mengubah Pilihan Kuliah 

Di kehidupan aslinya, Alice kuliah di NYU—dekat rumah, aman, nyaman. Tapi dia selalu bertanya-tanya bagaimana jika dia kuliah jauh—Stanford, atau mungkin sekolah di Eropa? 

Jadi dia mulai mengubah aplikasi kuliahnya. Menulis esai yang lebih berani. Melamar ke tempat yang lebih ambisius. 

Eksperimen 2: Berinvestasi dengan Pengetahuan Masa Depan 

Dia tahu perusahaan mana yang akan sukses: Google, Apple, Amazon. Dia bisa memberitahu ayahnya untuk berinvestasi, membuat mereka kaya. 

Eksperimen 3: Mengubah Hubungan 

Dia ingat nama anak laki-laki yang pernah menyukainya tapi dia tolak. Bagaimana jika dia memberi mereka kesempatan? Bagaimana jika dia lebih terbuka pada cinta? 

Konsekuensi yang Tak Terduga 

Tapi Alice segera belajar bahwa mengubah satu hal mengubah segalanya. 

Ketika dia membuat pilihan berbeda, dia tidur dan bangun di versi masa depan yang berbeda. Kadang dia 40 lagi, tapi dalam realitas yang diubah. 

Dalam satu versi, dia menikah tapi tidak bahagia. Dalam versi lain, dia kaya tapi kesepian. Dalam satu versi, dia punya karir yang "sukses" tapi tidak pernah dekat dengan ayahnya. 

Dan yang paling menghancurkan: Dalam beberapa versi, Leonard meninggal lebih cepat. 

Alice menyadari bahwa tidak ada kombinasi pilihan yang menciptakan kehidupan yang "sempurna." Setiap pilihan datang dengan trade-off. Setiap keuntungan datang dengan kehilangan.


Bagian 4: Apa yang Benar-Benar Penting 

Waktu dengan Leonard 

Setelah beberapa kali melompat antara 16 dan 40, antara masa lalu dan masa depan yang berbeda, Alice mulai mengerti sesuatu yang penting: 

Yang dia inginkan bukanlah mengubah hidupnya—yang dia inginkan adalah lebih banyak waktu dengan ayahnya. 

Jadi dia berhenti mencoba "memperbaiki" masa depan. Dan mulai hanya... ada di masa lalu. 

Dia menghabiskan waktu dengan Leonard. Berbicara tentang buku-bukunya. Mendengar cerita-cerita yang dia lupa. Memasak bersama. Berjalan-jalan di Central Park. Hanya duduk bersama di sofa, menonton TV bodoh, dan tertawa. 

Dia menyadari: selama ini, di kehidupan aslinya, dia terlalu sibuk mencoba "menjadi seseorang" sehingga dia tidak cukup menghargai menjadi putri Leonard. 

Percakapan yang Tidak Pernah Terjadi 

Dalam salah satu momen terindah dalam buku, Alice dan Leonard yang berusia 16 tahun berbicara—tapi Alice berbicara sebagai orang dewasa, dengan pengetahuan dari masa depan. 

Leonard bercerita tentang ketakutannya sebagai ayah tunggal. Tentang bagaimana dia tidak yakin dia melakukan pekerjaan yang baik. Tentang bagaimana dia berharap Alice akan punya hidup yang luar biasa. 

Alice menangis dan berkata (meskipun Leonard muda tidak mengerti sepenuhnya), "Kamu ayah terbaik yang bisa aku minta. Dan aku mencintaimu." 

Leonard tersenyum—senyuman yang hangat dan penuh cinta—dan berkata, "Aku juga mencintaimu, sayang." 

Ini adalah percakapan yang Alice tidak pernah cukup katakan di kehidupan nyatanya. Terlalu banyak hal yang tidak terkatakan. Terlalu banyak asumsi bahwa selalu akan ada waktu. 

Persahabatan Sam—Menghargai yang Asli 

Alice juga mulai menghargai persahabatannya dengan Sam dengan cara baru. 

Di masa sekarang, dia sering merasa iri pada kehidupan Sam yang "sempurna"—suami, anak, rumah. Tapi di masa lalu, dia melihat Sam yang masih mencari jati diri, yang tidak yakin tentang masa depannya, yang juga takut.

Alice menyadari: Mereka berdua hanya berusaha sebaik yang mereka bisa. Sam tidak punya kehidupan yang sempurna—dia hanya punya kehidupan yang berbeda. Dengan tantangan yang berbeda. 

Dan persahabatan mereka—yang bertahan 24 tahun melalui semua perubahan—itu adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tidak perlu "diperbaiki."


Bagian 5: Memilih Kehidupan yang Anda Punya

Kembali untuk Terakhir Kalinya 

Setelah beberapa kali bolak-balik, Alice memilih untuk kembali ke kehidupan aslinya—ke 40 tahun, ke pekerjaan yang "biasa-biasa saja", ke status single, ke apartemen ayahnya. 

Tapi dia kembali dengan perspektif yang berbeda. 

Dia tidak lagi melihat hidupnya sebagai "gagal" atau "kurang dari." Dia melihatnya sebagai hidupnya—dengan semua pilihan yang dia buat, dengan semua momen yang dia alami, dengan semua orang yang dia cintai. 

Leonard yang Sekarat—Goodbye yang Sesungguhnya 

Alice pergi ke rumah sakit untuk melihat Leonard yang sekarat. 

Dia duduk di samping tempat tidurnya, memegang tangannya, dan berbicara—menceritakan semua hal yang dia alami dalam perjalanan waktu (meskipun Leonard tidak bisa mengerti). 

Dia bercerita tentang betapa dia mencintainya. Tentang betapa dia adalah ayah yang luar biasa. Tentang betapa semua yang dia punya sekarang—bahkan hal-hal yang tidak sempurna—adalah karena cinta Leonard. 

Dan meskipun Leonard tidak bisa merespons dengan kata-kata, Alice merasakan kedamaian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. 

Ini adalah goodbye yang sesungguhnya—tidak terburu-buru, tidak dengan penyesalan yang menggantung, tetapi dengan apresiasi dan cinta yang penuh. 

Hidup yang Baru—Dengan Mata yang Baru 

Setelah Leonard meninggal, Alice menghadapi kehidupannya dengan cara yang berbeda. 

Pekerjaan di Belvedere tidak berubah—tapi perspektifnya berubah. Dia tidak lagi melihatnya sebagai "pekerjaan yang gagal," tetapi sebagai pekerjaan yang memberinya stabilitas, koneksi dengan masa lalunya, dan kesempatan membantu anak-anak muda. 

Status single-nya tidak berubah—tapi dia tidak lagi merasa "kurang lengkap." Dia terbuka pada kemungkinan cinta, tapi tidak lagi desperately mencari untuk "memperbaiki" hidupnya dengan hubungan. 

Apartemen ayahnya tidak berubah—tapi sekarang dia melihatnya bukan sebagai kegagalan untuk "pindah," tetapi sebagai rumah penuh dengan kenangan yang dia hargai.


Bagian 6: Pelajaran dari Perjalanan Waktu 

1. Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau 

Alice menghabiskan 40 tahun pertama hidupnya berpikir bahwa dia membuat pilihan yang salah. Bahwa ada versi yang lebih baik dari hidupnya di luar sana. 

Tapi ketika dia benar-benar bisa mencoba versi-versi berbeda itu, dia menemukan: setiap kehidupan punya masalahnya sendiri. 

Pelajaran: Berhenti membandingkan hidup Anda dengan versi khayalan yang "sempurna." Setiap pilihan punya trade-off. 

2. Waktu dengan Orang yang Kita Cintai Adalah yang Terpenting 

Alice bisa kaya, bisa punya karir glamor, bisa menikah—tapi tidak ada dari itu yang lebih berharga dari waktu dengan Leonard. 

Waktu yang dia habiskan dengan ayahnya—makan malam bersama, berbicara tentang buku, hanya ada bersama—itu adalah inti dari kehidupan yang baik. 

Pelajaran: Jangan menunda waktu dengan orang yang Anda cintai karena Anda "terlalu sibuk" membangun kehidupan yang "sukses." Waktu adalah hal yang tidak bisa kita beli kembali. 

3. Kesempurnaan Adalah Ilusi 

Alice mencoba ratusan kombinasi pilihan berbeda, mencoba menciptakan kehidupan yang "sempurna." 

Tidak ada yang bekerja—karena kesempurnaan tidak ada. 

Pelajaran: Berhenti mengejar sempurna. Kejar "cukup baik" dengan apresiasi dan syukur.

4. Kita Tidak Bisa Mengontrol Segalanya 

Tidak peduli pilihan apa yang Alice buat, beberapa hal tetap terjadi: Leonard tetap sakit. Beberapa hubungan tetap gagal. Beberapa kesempatan tetap terlewat. 

Pelajaran: Ada hal-hal di luar kontrol kita. Dan itu oke. Hidup bukan tentang mengontrol setiap outcome—hidup adalah tentang bagaimana kita merespons apa yang terjadi. 

5. Penyesalan Adalah Bagian dari Kehidupan—dan Itu Oke 

Alice punya penyesalan. Hal-hal yang dia harap dia lakukan berbeda. Tapi dia belajar bahwa penyesalan tidak berarti hidupnya gagal.

Penyesalan berarti dia peduli. Berarti dia manusia. Berarti dia terus belajar. 

Pelajaran: Jangan biarkan penyesalan melumpuhkan Anda. Gunakan sebagai pengingat untuk hidup dengan lebih sadar mulai sekarang.


Bagian 7: Pertanyaan untuk Hidup Anda 

Jika Anda Bisa Kembali ke 16... 

Emma Straub menulis buku ini sebagai eksplorasi fantasi universal: Apa yang akan Anda ubah jika Anda bisa kembali ke masa lalu? 

Tapi jawabannya mungkin mengejutkan Anda—seperti Alice, Anda mungkin menemukan bahwa: 

  • Pilihan yang Anda sesali sebenarnya membawa Anda ke orang yang Anda cintai
  • "Kesalahan" yang Anda buat mengajarkan pelajaran yang membentuk siapa Anda sekarang
  • Hidup yang "sempurna" yang Anda bayangkan mungkin tidak sebahagia yang Anda kira

Pertanyaan untuk Anda Hari Ini 

Daripada berkhayal tentang mengubah masa lalu, Straub mengajak kita bertanya:

Apa yang Anda hargai dalam hidup Anda saat ini yang mungkin Anda abaikan?

Mungkin: 

  • Hubungan yang Anda anggap remeh karena mereka "selalu ada"
  • Pekerjaan yang "biasa-biasa saja" tapi sebenarnya memberi Anda stabilitas dan tujuan
  • Rutinitas sederhana yang membawa kedamaian
  • Orang-orang yang mencintai Anda apa adanya

Apa yang akan Anda lakukan hari ini jika Anda tahu ini adalah kesempatan terakhir? 

Karena kebenaran yang keras adalah: kita tidak tahu. Setiap hari bisa jadi terakhir kali kita melihat seseorang. Terakhir kali kita punya kesempatan untuk mengatakan "Aku mencintaimu." 

Jangan tunggu sampai terlambat—atau sampai Anda mendapat mesin waktu ajaib—untuk mulai menghargai hidup yang Anda punya.


Penutup: Besok Dimulai Hari Ini 

Alice Stern mendapat kesempatan yang kebanyakan dari kita tidak pernah dapat: kembali ke masa lalu dan mencoba lagi. 

Tapi apa yang dia pelajari adalah sesuatu yang kita semua bisa pelajari tanpa mesin waktu: 

Hidup yang baik bukan tentang membuat semua pilihan yang "benar." Hidup yang baik adalah tentang menghargai pilihan yang kita buat dan orang-orang yang kita cintai. 

Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi kita bisa memilih—hari ini, saat ini—untuk: 

  • Menelepon orang yang kita cintai dan mengatakan kita mencintai mereka
  • Berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain
  • Menemukan apresiasi dalam hal-hal yang "biasa-biasa saja"
  • Hidup dengan lebih sadar dan hadir
  • Melepaskan penyesalan yang melumpuhkan

Seperti yang Alice temukan: Besok yang lebih baik dimulai dengan cara kita hidup hari ini.

Jadi pertanyaannya bukan: "Apa yang akan Anda ubah jika Anda bisa kembali ke masa lalu?" 

Pertanyaannya adalah: "Apa yang akan Anda lakukan berbeda mulai hari ini, sehingga 24 tahun dari sekarang, Anda tidak menyesal?"


Tentang Buku Asli 

"This Time Tomorrow" diterbitkan pada tahun 2022 dan menjadi bestseller New York Times. Novel ini adalah karya yang sangat personal untuk Emma Straub, terinspirasi oleh kehilangan ayahnya sendiri. 

Emma Straub adalah penulis Amerika yang dikenal dengan novel-novel yang hangat, penuh hati, dan eksplorasi mendalam tentang hubungan keluarga dan persahabatan. Buku-bukunya termasuk "The Vacationers" dan "All Adults Here." 

Straub menulis "This Time Tomorrow" sebagai love letter untuk ayahnya dan eksplorasi tentang pertanyaan universal: Apa yang akan kita lakukan berbeda jika kita tahu waktu terbatas? 

Novel ini menggabungkan elemen fiksi ilmiah (time travel) dengan kedalaman emosional sastra literari, menciptakan cerita yang both fantastical dan deeply relatable. 

Untuk pengalaman lengkap dari prosa Straub yang hangat, detail emosional hubungan ayah-anak, dan nuansa karakter Alice yang kompleks, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi keajaiban dari tulisan Straub yang membuat Anda tertawa dan menangis dalam halaman yang sama hanya bisa dialami langsung. 

Sekarang pergilah dan hubungi seseorang yang Anda cintai. Katakan pada mereka betapa mereka berarti. Jangan tunggu sampai besok—karena besok mungkin tidak pernah datang. 

Dan ingat: Hidup yang Anda punya sekarang, dengan semua ketidaksempurnaannya, adalah hidup yang layak untuk dijalani sepenuhnya. 

Karena pada akhirnya, seperti yang Alice pelajari: This time tomorrow bisa saja terlambat. Jadi hidup hari ini dengan cinta, dengan apresiasi, dengan hadir.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: Veronica
Kembali ke atas

Buku serupa