Lompat ke konten utama

Totto-Chan

oleh Tetsuko Kuroyanagi · Maret 2026 · 15 menit baca

Hari Ketika Segalanya Berubah

Daftar isi

Hari Ketika Segalanya Berubah 

Bayangkan Anda berusia enam tahun dan baru saja dikeluarkan dari sekolah. 

Bukan karena Anda bodoh. Bukan karena Anda nakal. Tapi karena guru-guru tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Anda. 

Anda terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak bergerak. Terlalu banyak bicara. Terlalu... berbeda

"Putri Anda mengganggu seluruh kelas," kata guru kepada ibu Anda. "Dia tidak bisa fokus. Dia membuka-tutup meja ratusan kali sehari hanya untuk mendengar bunyinya. Dia memanggil pemusik jalanan dari jendela saat pelajaran. Dia bahkan berbicara dengan burung walet di atap!" 

Guru itu menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Kami tidak bisa mengajar anak seperti ini."

Ini adalah kisah nyata Tetsuko Kuroyanagi—yang dunia kenal sebagai Totto-chan.

Di sekolah pertamanya, dia adalah masalah. Gangguan. Anak yang "tidak normal." 

Tapi kemudian ibunya membawanya ke tempat yang berbeda. Sekolah kecil bernama Tomoe Gakuen. Dan di sana, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata kepadanya: 

"Kamu benar-benar gadis yang baik, kau tahu itu." 

Orang itu adalah Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi. Dan kalimat sederhana itu mengubah hidup Totto-chan selamanya. 

"Totto-Chan: The Little Girl at the Window" adalah memoar yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi tentang masa kecilnya di Tomoe Gakuen—sekolah paling tidak biasa di Jepang, di masa paling kelam (Perang Dunia II). 

Ini bukan sekadar cerita nostalgia masa kecil. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana pendidikan seharusnya—tentang melihat keunikan sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Tentang mencintai anak apa adanya, bukan memaksa mereka menjadi cetakan yang sama.

Mari kita masuk ke dunia Tomoe Gakuen—dunia di mana kelas diadakan di gerbong kereta, di mana anak-anak memilih sendiri apa yang ingin mereka pelajari, di mana tidak ada yang "salah" atau "aneh." 

Dunia di mana setiap anak adalah benar-benar anak yang baik.


Bagian 1: Pertemuan Pertama—Empat Jam yang Mengubah Segalanya 

Gerbang Tomoe Gakuen 

Hari pertama Totto-chan di Tomoe, dia terpesona sejak melihat gerbangnya. 

Bukan gerbang megah dari besi atau kayu mahal. Hanya dua pohon pendek yang tumbuh begitu dekat sehingga cabang-cabangnya saling bertemu di atas, membentuk lengkungan alami. 

"Pohon hidup!" pikir Totto-chan dengan kagum. "Bahkan gerbangnya hidup!"

Ini adalah petunjuk pertama bahwa sekolah ini berbeda. 

Lalu dia melihat gedung sekolahnya. Atau lebih tepatnya—gerbong kereta bekas yang disusun membentuk kelas! 

Enam gerbong kereta sungguhan, yang dulu dipakai untuk perjalanan, sekarang menjadi ruang kelas. Setiap gerbong untuk satu kelas. 

Bagi kebanyakan anak, ini mungkin aneh. Tapi bagi Totto-chan yang selalu memimpikan naik kereta, ini adalah surga

Mendengarkan Selama Empat Jam 

Mama membawa Totto-chan ke kantor Kepala Sekolah. Seorang pria paruh baya dengan senyum hangat dan mata yang penuh minat. 

"Ceritakan tentang dirimu," kata Kepala Sekolah Kobayashi. "Ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan." 

Dan Totto-chan mulai berbicara. 

Dia cerita tentang anjing di rumah lamanya. Tentang kereta yang lewat. Tentang burung walet yang dia ajak bicara. Tentang guru yang melarangnya membuka-tutup meja. Tentang segalanya yang ada di pikirannya. 

Dia bicara dan bicara dan bicara. 

Dan Kepala Sekolah Kobayashi mendengarkan

Tidak menginterupsi. Tidak melihat jam. Tidak bilang "sudah cukup" atau "sekarang waktunya diam."

Dia duduk di kursinya, condong ke depan, mendengarkan setiap kata dengan serius—seolah Totto-chan adalah orang paling penting di dunia. 

Empat jam kemudian, ketika Totto-chan akhirnya kehabisan cerita, Kepala Sekolah tersenyum dan berkata: 

"Baiklah. Sekarang kamu murid sekolah ini." 

Lalu dia menambahkan kalimat yang akan Totto-chan ingat seumur hidupnya:

"Kamu benar-benar gadis yang baik, kau tahu itu." 

Tidak ada yang pernah berkata seperti itu sebelumnya. Di sekolah lama, dia "anak bermasalah." Di rumah, meskipun Mama mencintainya, semua orang bingung dengan tingkahnya. 

Tapi di sini, orang dewasa pertama yang dia temui mengatakan: Kamu baik. Kamu berharga. Apa adanya. 

Totto-chan jatuh cinta pada sekolah ini sejak detik itu.


Bagian 2: Sekolah yang Berbeda—Filosofi Tomoe Gakuen

"Dari Laut dan Dari Gunung" 

Setiap hari, anak-anak membawa bekal untuk makan siang. Tapi Kepala Sekolah punya aturan unik: 

Bekal harus berisi "sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung." 

"Dari laut" bisa ikan, rumput laut, atau makanan laut lainnya. "Dari gunung" bisa sayuran, buah, atau makanan yang tumbuh di darat. 

Mengapa? Untuk memastikan anak-anak makan gizi seimbang—tapi dengan cara yang puitis dan menyenangkan, bukan dengan ceramah membosankan tentang nutrisi. 

Sebelum makan, Kepala Sekolah akan berkeliling memeriksa setiap bekal. Jika ada anak yang hanya punya "dari laut" atau hanya "dari gunung," istrinya (yang semua anak panggil "Mama Kepala Sekolah") akan menambahkan yang kurang dari dapur. 

Tidak ada anak yang merasa miskin atau malu. Semua merasa diperhatikan.

Memilih Pelajaran Sendiri 

Di pagi hari, guru menulis semua mata pelajaran hari itu di papan tulis: matematika, bahasa Jepang, sains, musik, melukis. 

Lalu guru berkata: "Mulailah dari mana yang kalian suka." 

Anak-anak bisa memilih mau belajar apa dulu. Kalau kamu suka matematika, kerjakan soal matematika. Kalau kamu suka menulis, tulis komposisi. Kalau kamu suka sains, lakukan eksperimen. 

Guru berkeliling membantu siapa saja yang butuh. Tidak ada yang dipaksa mengikuti kecepatan yang sama. 

Hasilnya? 

Anak-anak yang suka satu mata pelajaran bisa mendalami lebih cepat. Anak-anak yang butuh waktu lebih lama tidak merasa tertinggal karena mereka bisa mengerjakan dengan kecepatan mereka sendiri. 

Dan yang paling menakjubkan: karena tidak dipaksa, anak-anak justru lebih termotivasi belajar. 

Jalan-Jalan Edukatif

Jika anak-anak selesai mengerjakan semua tugas sebelum siang, mereka bisa pergi jalan-jalan!

Bukan jalan-jalan biasa. Ini adalah petualangan belajar. 

Kepala Sekolah membawa mereka ke kuil untuk belajar sejarah. Ke sawah untuk belajar biologi. Ke sungai untuk mengamati ekosistem. Ke kuburan untuk belajar menghormati kematian tanpa takut. 

Anak-anak belajar dengan mengalami, bukan hanya mendengar ceramah. 

Totto-chan ingat bagaimana mereka belajar tentang pohon dengan memanjatnya. Belajar tentang burung dengan mengamati sarangnya. Belajar tentang musim dengan merasakan daun gugur di tangan mereka. 

Pengetahuan bukan sesuatu di buku. Pengetahuan adalah hidup.


Bagian 3: Anak-Anak yang Berbeda—Penerimaan Tanpa Syarat 

Yasuaki-chan yang Lumpuh 

Salah satu teman Totto-chan adalah Yasuaki-chan—anak laki-laki yang lumpuh karena polio. Dia tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Tangannya juga lemah. 

Di sekolah biasa, Yasuaki mungkin di-bully atau dikasihani. Tapi di Tomoe, dia adalah bagian keluarga. 

Suatu hari, Totto-chan mengajak Yasuaki memanjat pohonnya—pohon favorit yang dia klaim sebagai "pohonku." 

Yasuaki melihat dengan sedih. "Aku tidak bisa memanjat." 

"Aku akan bantu!" kata Totto-chan dengan percaya diri. 

Dia menyeret tangga. Mendorong Yasuaki dari belakang. Menariknya dari depan. Membutuhkan waktu lama dan banyak usaha—tapi akhirnya Yasuaki ada di cabang pohon, duduk di sebelah Totto-chan. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yasuaki melihat dunia dari atas pohon.

Dan dia menangis—bukan karena sedih, tapi karena bahagia

Kepala Sekolah tidak melarang ini karena "berbahaya." Dia membiarkan anak-anak belajar menolong satu sama lain. Belajar bahwa disabilitas bukan halangan untuk berteman. 

Takahashi yang Cebol 

Takahashi adalah anak laki-laki yang tubuhnya tidak tumbuh normal—sangat pendek untuk usianya. 

Tapi Kepala Sekolah dengan jenius mendesain kegiatan yang membuat Takahashi bersinar. 

Dalam olahraga dan permainan, Kepala Sekolah sering membuat lomba yang menguntungkan anak pendek—seperti merangkak di bawah rintangan atau masuk ke ruang sempit. 

Dan Takahashi sering menang! 

Ini bukan "kasihan" atau "perlakuan khusus yang memalukan." Ini adalah desain yang inklusif—menciptakan lingkungan di mana setiap anak punya kesempatan untuk merasa mampu.

Takahashi tumbuh dengan percaya diri, bukan malu pada tubuhnya. 

Tomoe Menerima Semua Anak 

Tomoe juga punya anak-anak dengan kondisi lain: 

  • Anak dari keluarga miskin yang bekalnya sederhana
  • Anak Korea yang mengalami diskriminasi di sekolah lain (Jepang menjajah Korea saat itu)
  • Anak dengan masalah perilaku seperti Totto-chan
  • Anak yang "terlambat" secara akademis

Semua diterima. Semua dicintai. Semua diberi tempat untuk tumbuh. 

Kepala Sekolah percaya: Tidak ada anak yang "rusak." Hanya ada sistem pendidikan yang belum belajar cara mendidik mereka.


Bagian 4: Pelajaran Hidup dari Kepala Sekolah Kobayashi

"Kamu Benar-Benar Gadis yang Baik" 

Sepanjang tahun, setiap kali Kepala Sekolah bertemu Totto-chan, dia mengatakan kalimat yang sama: 

"Totto-chan, kamu benar-benar gadis yang baik, kau tahu itu." 

Apakah Totto-chan selalu berperilaku sempurna? Tidak. 

Dia tetap impulsif. Dia jatuh ke septic tank karena ingin tahu. Dia kehilangan dompet kesayangannya di toilet. Dia melakukan hal-hal "bodoh" yang dilakukan anak-anak. 

Tapi Kepala Sekolah tidak pernah marah. Dia tidak pernah berkata, "Kamu anak nakal" atau "Kamu memalukan." 

Dia selalu berkata: "Kamu gadis yang baik." 

Mengapa? 

Karena dia tahu kata-kata yang kita dengar tentang diri kita akan menjadi kepercayaan diri kita. 

Jika anak terus-menerus dengar "kamu nakal," "kamu bodoh," "kamu bermasalah"—mereka akan percaya itu tentang diri mereka. 

Tapi jika mereka terus dengar "kamu baik," "kamu berharga," "kamu mampu"—mereka akan tumbuh menjadi orang yang percaya mereka bisa melakukan hal-hal baik. 

Kepala Sekolah Kobayashi sedang membangun fondasi harga diri Totto-chan dan semua muridnya. 

Tidak Ada Kompetisi, Hanya Kolaborasi 

Di Tomoe tidak ada ranking. Tidak ada ujian yang membandingkan anak satu dengan lainnya. Tidak ada piala untuk "anak terpintar" atau "anak terbaik." 

Mengapa? 

Karena Kepala Sekolah percaya setiap anak jenius dengan caranya sendiri. 

Totto-chan jenius dalam bercerita dan berimajinasi. Yasuaki jenius dalam kesabaran dan kebaikan. Takahashi jenius dalam kecekatan. Anak lain jenius dalam musik, melukis, matematika.

Jika kita membuat mereka berkompetisi dalam satu kriteria ("siapa yang paling pintar matematika?"), kita akan membuat sebagian besar anak merasa gagal. 

Tapi jika kita menghormati berbagai jenis kecerdasan, setiap anak punya kesempatan untuk merasa mampu. 

Rhythm dan Musik untuk Semua 

Kepala Sekolah sangat percaya pada kekuatan musik dan rhythm. 

Setiap hari dimulai dengan bernyanyi. Anak-anak belajar eurhythmics—gerakan tubuh yang mengikuti musik. Ini membantu koordinasi, ekspresi diri, dan rasa percaya diri. 

Bahkan untuk anak dengan disabilitas fisik, musik memberi mereka cara mengekspresikan diri yang tidak bergantung pada kemampuan tubuh yang "normal." 

Musik adalah bahasa universal yang bisa diakses semua anak.


Bagian 5: Mama yang Bijaksana 

Menyembunyikan Kebenaran dengan Cinta 

Ingat di awal, Totto-chan dikeluarkan dari sekolah pertama? 

Mama tidak pernah memberitahu Totto-chan. 

Dia hanya berkata, "Kita akan mencoba sekolah baru yang mungkin lebih kamu suka."

Tidak ada kata "dikeluarkan." Tidak ada kata "kamu bermasalah." Tidak ada rasa malu.

Mengapa Mama melakukan ini? 

Karena dia tidak ingin Totto-chan tumbuh dengan rasa malu atau merasa dia "rusak." 

Mama memahami bahwa anak kecil tidak perlu dibebani dengan label negatif. Yang dia butuhkan adalah kesempatan untuk tumbuh dengan percaya diri. 

Totto-chan baru tahu dia "dikeluarkan" bertahun-tahun kemudian, setelah dia sudah dewasa dan sukses. Saat itu, dia tidak terluka—dia hanya kagum pada kebijaksanaan Mama. 

Membiarkan Anak Menjadi Dirinya Sendiri 

Mama tidak pernah mencoba "memperbaiki" Totto-chan. 

Dia tidak bilang, "Jangan terlalu banyak bicara." Dia tidak bilang, "Jangan terlalu banyak bertanya." Dia tidak mencoba membuat Totto-chan menjadi anak "normal." 

Dia hanya mencari lingkungan yang tepat di mana Totto-chan bisa berkembang apa adanya. 

Ini adalah pelajaran untuk semua orang tua: Terkadang masalahnya bukan anak Anda. Masalahnya adalah sistem yang tidak dirancang untuk anak seperti mereka.


Bagian 6: Bayangan Perang 

Realitas di Balik Kebahagiaan 

Cerita Totto-chan terjadi di tahun 1940-an—di tengah Perang Dunia II. 

Jepang dalam perang melawan banyak negara. Bom sekutu mulai jatuh di Tokyo. Makanan semakin langka. Banyak ayah dipanggil untuk berperang. 

Tapi di Tomoe, Kepala Sekolah Kobayashi menciptakan oasis kebahagiaan di tengah kekacauan. 

Dia tidak ingin perang mengambil masa kecil anak-anak. Dia tidak ingin kebencian dan ketakutan meracuni pikiran mereka. 

Jadi dia terus mengajar dengan cinta. Terus mengadakan jalan-jalan. Terus mengatakan pada setiap anak, "Kamu gadis/anak yang baik." 

Akhir yang Menyedihkan 

Pada tahun 1945, bom pembakar Amerika jatuh di Tokyo. 

Tomoe Gakuen—sekolah yang terbuat dari gerbong kayu—terbakar habis. 

Kepala Sekolah Kobayashi berdiri di depan api yang melahap sekolahnya—sekolah yang dia bangun dengan cinta, sekolah yang menjadi rumah bagi begitu banyak anak yang "berbeda." 

Tapi dia tidak menangis dalam keputusasaan. 

Dia berdiri di sana dengan anaknya dan berkata: 

"Sekolah apa yang akan kita bangun selanjutnya?" 

Bahkan dalam kehancuran, dia masih punya harapan. Masih punya visi. 

Sayangnya, Kepala Sekolah Kobayashi meninggal tak lama setelah perang, sebelum dia bisa membangun sekolah baru. 

Tapi visinya tidak mati bersamanya.


Bagian 7: Warisan Totto-Chan 

Dari Anak "Bermasalah" Menjadi Ikon 

Tetsuko Kuroyanagi—Totto-chan kecil yang dikeluarkan dari sekolah—tumbuh menjadi salah satu selebriti paling dicintai di Jepang. 

Dia menjadi aktris, pembawa acara TV, duta UNICEF, dan penulis. Dia menggunakan platformnya untuk membela anak-anak di seluruh dunia. 

Bagaimana ini terjadi? 

Karena Tomoe Gakuen dan Kepala Sekolah Kobayashi tidak mencoba mematahkan keunikannya. Mereka memeliharanya. 

Energinya yang berlebihan? Di Tomoe, dia belajar menyalurkannya menjadi kreativitas. 

Rasa ingin tahunya yang berlebihan? Dia belajar menjadi pendengar yang baik dan pengamat yang tajam. 

Ketidakmampuannya diam? Dia jadi pembawa acara TV yang brilian karena dia bisa bicara dan terhubung dengan orang dengan natural. 

Yang di sekolah lama dianggap "masalah," di sekolah yang tepat menjadi "kekuatan."

Menulis Buku Ini sebagai Ucapan Terima Kasih 

Tetsuko menulis "Totto-Chan" pada tahun 1981, puluhan tahun setelah masa kecilnya.

Mengapa? 

Sebagai ucapan terima kasih kepada Kepala Sekolah Kobayashi yang sudah meninggal. Untuk memastikan filosofinya tidak dilupakan. Untuk menunjukkan pada dunia bahwa pendidikan bisa—dan seharusnya—berbeda. 

Buku ini menjadi fenomena global. Terjual 25 juta eksemplar. Diterjemahkan ke 35+ bahasa. 

Bukan karena ceritanya spektakuler atau dramatis. Tapi karena pesan sederhananya menyentuh hati universal: 

Setiap anak berharga. Setiap anak punya potensi. Yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang percaya pada mereka.


Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua 

1. Dengarkan Anak-Anak dengan Serius 

Kepala Sekolah Kobayashi mendengarkan Totto-chan selama empat jam. 

Kapan terakhir kali Anda mendengarkan anak—atau siapa pun—dengan sepenuh perhatian selama bahkan sepuluh menit? 

Mendengarkan adalah bentuk cinta yang paling murni. Itu berkata, "Kamu penting. Kata-katamu penting. Aku peduli pada apa yang kamu pikirkan dan rasakan." 

Anak-anak tahu ketika kita benar-benar mendengarkan vs hanya menunggu giliran bicara.

2. Kata-Kata Membentuk Identitas 

"Kamu gadis yang baik." 

Enam kata sederhana. Tapi kata-kata itu membentuk identitas Totto-chan. 

Apa yang Anda katakan pada anak di sekitar Anda—anak Anda sendiri, keponakan, murid, atau anak muda yang Anda temui? 

Apakah Anda lebih sering berkata: 

  • "Kamu nakal" atau "Kamu baik"?
  • "Kamu bodoh" atau "Kamu pintar dengan caramu sendiri"?
  • "Kamu selalu bikin masalah" atau "Kamu punya energi luar biasa"?

Kata-kata kita menjadi suara di kepala mereka. Pastikan suara itu membangun, bukan menghancurkan. 

3. Tidak Ada Anak yang "Rusak"—Hanya Sistem yang Tidak Cocok

Totto-chan "bermasalah" di sekolah biasa. Tapi di Tomoe, dia berkembang.

Apakah Totto-chan yang berubah? Tidak. Sistemnya yang berbeda. 

Ini berlaku untuk semua: Ketika seseorang "gagal" di satu lingkungan, bukan berarti mereka gagal sebagai manusia. Mungkin mereka hanya perlu lingkungan yang berbeda—lingkungan yang menghargai kekuatan unik mereka. 

4. Belajar Bisa (dan Seharusnya) Menyenangkan 

Kenapa pendidikan harus membosankan? Kenapa belajar harus terasa seperti hukuman?

Tomoe membuktikan: Anak-anak secara natural ingin belajar. Kita yang membunuh rasa ingin tahu mereka dengan sistem yang kaku dan punishment. 

Jika kita membuat belajar menyenangkan, relevan, dan terhubung dengan kehidupan nyata—anak-anak akan belajar lebih cepat dan lebih dalam. 

5. Perbedaan Adalah Kekuatan, Bukan Kelemahan 

Yasuaki lumpuh. Takahashi cebol. Totto-chan terlalu aktif. 

Di sekolah biasa, mereka akan di-bully, dikasihani, atau diminta "mengatasi kelemahan mereka." 

Di Tomoe, mereka dirayakan apa adanya. Dan mereka semua berkontribusi pada komunitas dengan cara unik mereka. 

Bayangkan dunia di mana setiap orang merasa mereka bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa malu. Itulah dunia yang Tomoe ciptakan dalam skala kecil. 

6. Orang Tua: Kadang Peran Terbaik Adalah Melindungi, Bukan Memperbaiki 

Mama tidak mencoba "memperbaiki" Totto-chan. Dia hanya melindunginya dari label negatif dan mencari lingkungan yang tepat. 

Kadang peran terbaik kita sebagai orang tua atau mentor adalah: 

  • Melindungi harga diri mereka
  • Mencari tempat di mana mereka bisa berkembang
  • Percaya pada mereka bahkan ketika dunia tidak percaya

Kita tidak harus "memperbaiki" anak. Kita harus mencintai dan mendukung mereka untuk menemukan jalan mereka sendiri.


Penutup: Pertanyaan untuk Anda 

Totto-chan menulis di akhir bukunya: 

"Kepada Kepala Sekolah Kobayashi yang sudah tiada: Terima kasih telah mendengarkanku. Terima kasih telah percaya padaku. Terima kasih telah mengatakan, 'Kamu gadis yang baik.'" 

Sekarang pertanyaan untuk Anda: 

Untuk anak-anak di hidup Anda—atau untuk diri Anda sendiri jika Anda merasa "berbeda": 

  • Apakah ada seseorang yang benar-benar mendengarkan Anda seperti Kepala Sekolah Kobayashi mendengarkan Totto-chan?
  • Apakah Anda mendengarkan anak-anak di sekitar Anda dengan sepenuh perhatian?
  • Apakah Anda mengatakan pada mereka (dan pada diri sendiri), "Kamu benar-benar baik"?

Untuk pendidik, orang tua, dan siapa pun yang bekerja dengan anak: 

  • Apakah sistem Anda menghormati keunikan setiap anak, atau memaksa mereka masuk cetakan yang sama?
  • Apakah Anda melihat "masalah perilaku" atau "energi yang belum tersalurkan"?
  • Apakah Anda menciptakan lingkungan di mana anak bisa jadi diri mereka sendiri?

Untuk diri sendiri: 

Jika Anda pernah merasa "berbeda," "tidak cocok," atau "bermasalah"—ingatlah Totto-chan. 

Dia dikeluarkan dari sekolah di usia enam tahun. Tapi dengan lingkungan yang tepat dan orang-orang yang percaya padanya, dia tumbuh menjadi ikon yang menginspirasi jutaan orang. 

Mungkin Anda tidak "rusak." Mungkin Anda hanya belum menemukan "Tomoe Gakuen" Anda. 

Dan jika Anda sudah menemukannya—jadilah "Kepala Sekolah Kobayashi" untuk orang lain. Dengarkan mereka. Percaya pada mereka. Katakan pada mereka: 

"Kamu benar-benar orang yang baik, kau tahu itu." 

Karena kata-kata sederhana itu bisa mengubah hidup seseorang—seperti yang mereka lakukan untuk Totto-chan.


Tentang Buku Asli 

"Totto-Chan: The Little Girl at the Window" (judul Jepang: "Madogiwa no Totto-chan") pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 di Jepang. 

Ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi—gadis kecil yang menjadi subjek buku ini—sebagai memoar masa kecilnya dan sebagai tribute kepada Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi yang sudah meninggal. 

Buku ini menjadi buku terlaris dalam sejarah Jepang, dengan lebih dari 25 juta eksemplar terjual di seluruh dunia. Diterjemahkan ke lebih dari 35 bahasa. 

Tomoe Gakuen adalah sekolah nyata yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi berdasarkan filosofi pendidikan Dalton Plan dan Eurythmics. Sekolah ini beroperasi dari 1937 hingga terbakar dalam pemboman Tokyo tahun 1945. 

Tetsuko Kuroyanagi menjadi salah satu tokoh media paling berpengaruh di Jepang. Dia adalah pembawa acara talk show terlama di Jepang ("Tetsuko no Heya" - "Ruang Tetsuko" sejak 1976) dan menjadi Duta Goodwill UNICEF sejak 1984, mengadvokasi hak-hak anak di seluruh dunia. 

Untuk pengalaman lengkap dari kehangatan, humor, dan kebijaksanaan dalam cerita ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Setiap cerita pendek dalam buku adalah permata kecil yang penuh dengan insight tentang masa kecil, pendidikan, dan sifat manusia. 

Sekarang tutup buku ini. Lalu temukan seorang anak—atau ingat diri Anda saat kecil—dan katakan: 

"Kamu benar-benar anak yang baik, kau tahu itu." 

Dan lihatlah keajaiban yang terjadi.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: How to Stop Time
Kembali ke atas

Buku serupa