Why Nations Fail
oleh Daron Acemoğlu & James A. Robinson · Januari 2026 · 14 menit baca
Dua Kota dengan Nasib yang Sangat Berbeda
Daftar isi
Dua Kota dengan Nasib yang Sangat Berbeda
Bayangkan Anda berdiri di tengah-tengah kota Nogales.
Satu langkah ke utara, Anda berada di Nogales, Arizona, Amerika Serikat. Rumah-rumah bersih dan terawat. Jalan-jalan mulus. Sekolah-sekolah bagus dengan komputer dan perpustakaan lengkap. Rumah sakit dengan teknologi modern. Pendapatan rata-rata $30,000 per tahun. Harapan hidup 75 tahun. Tingkat kriminalitas rendah.
Satu langkah ke selatan—melintasi pagar pembatas—Anda berada di Nogales, Sonora, Meksiko. Rumah-rumah sederhana, banyak yang tidak punya sistem saluran air yang layak. Jalan berlubang. Sekolah kekurangan dana dan buku. Fasilitas kesehatan minim. Pendapatan rata-rata $10,000 per tahun. Harapan hidup 70 tahun. Tingkat kriminalitas tinggi.
Dua kota. Satu nama. Dipisahkan hanya oleh pagar.
Orang yang tinggal di kedua sisi? Mereka punya leluhur yang sama, budaya yang sama, makanan yang sama, bahkan seringkali keluarga yang sama. Cuacanya identik. Topografinya sama. Tidak ada perbedaan geografis yang signifikan.
Lalu mengapa satu sisi tiga kali lebih kaya dari sisi lainnya?
Ini adalah pertanyaan yang mengubah ekonomi modern.
Daron Acemoğlu dan James Robinson—profesor MIT dan Harvard—menghabiskan 15 tahun meneliti pertanyaan ini. Mereka meneliti ratusan negara, ribuan tahun sejarah, dari Kekaisaran Romawi hingga Korea Utara modern.
Dan mereka menemukan jawaban yang mengejutkan—jawaban yang menentang hampir semua teori konvensional tentang kemakmuran dan kemiskinan.
Jawabannya bukan geografi. Bukan budaya. Bukan agama. Bukan IQ. Bukan keberuntungan.
Jawabannya adalah institusi—aturan main yang menentukan bagaimana masyarakat berfungsi, siapa yang mendapat kekuasaan, dan bagaimana kekayaan didistribusikan.
Buku "Why Nations Fail" adalah salah satu buku ekonomi paling berpengaruh di abad ke-21. Buku yang menjelaskan mengapa beberapa negara sejahtera sementara yang lain terjebak dalam kemiskinan—dan apa yang bisa dilakukan tentang itu.
Mari kita mulai dengan membongkar mitos-mitos yang salah.
Bagian 1: Teori yang Salah—Dan Mengapa Kita Harus Meninggalkannya
Teori Geografi: "Negara Tropis Selalu Miskin"
Teori populer mengatakan: Negara-negara di daerah tropis miskin karena cuaca panas, penyakit tropis, tanah yang kurang subur.
Kedengarannya masuk akal, kan?
Tapi Nogales membuktikan ini salah. Dua sisi kota itu punya cuaca yang identik. Tapi satu sisi tiga kali lebih kaya.
Atau lihat Singapura—negara tropis kecil yang lebih kaya per kapita daripada banyak negara Eropa. Atau Botswana di Afrika yang tumbuh lebih cepat dari Korea Selatan dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara itu, Afghanistan dan Nepal di iklim yang lebih sejuk tetap miskin. Rusia dengan iklim dingin mengalami kemiskinan ekstrem di era Soviet.
Geografi bisa memberi tantangan atau keuntungan. Tapi geografi bukan takdir.
Teori Budaya: "Beberapa Budaya Tidak Cocok untuk Kemakmuran"
Teori ini mengatakan: Beberapa budaya lebih "cocok" untuk kemakmuran—mereka punya work ethic yang baik, nilai-nilai yang tepat. Budaya lain tidak.
Max Weber mengatakan Protestantisme menciptakan "semangat kapitalisme." Yang lain mengatakan budaya Konfusianisme membuat Asia Timur sukses.
Masalahnya? Teori ini tidak konsisten dengan fakta.
Korea Selatan vs Korea Utara—orang yang sama, budaya yang sama, sejarah yang sama sampai 1945. Sekarang? Selatan 10 kali lebih kaya dari Utara. Utara mengalami kelaparan massal sementara Selatan adalah kekuatan ekonomi global.
Apa yang berubah? Bukan budaya—itu masih sama. Yang berubah adalah institusi politik dan ekonomi.
Atau lihat Jerman Timur vs Jerman Barat sebelum reunifikasi. Orang Jerman yang sama. Budaya yang sama. Tapi Barat berkembang pesat sementara Timur stagnan di bawah komunisme Soviet.
Budaya penting. Tapi budaya tidak menentukan nasib bangsa.
Teori Ketidaktahuan: "Pemimpin Tidak Tahu Cara yang Benar"
Teori ini mengatakan: Negara-negara miskin karena pemimpin mereka tidak tahu kebijakan ekonomi yang tepat. Jika kita ajarkan mereka ekonomi yang benar, masalah selesai.
Kedengarannya baik hati. Tapi naif.
Robert Mugabe di Zimbabwe tahu persis apa yang dia lakukan ketika dia mengambil tanah dari petani produktif dan memberikannya kepada kroni-kroninya. Hasilnya? Produksi pangan runtuh. Hiperinflasi. Kelaparan.
Apakah Mugabe bodoh? Tidak. Dia sangat cerdas. Tapi tujuannya bukan membuat Zimbabwe sejahtera—tujuannya adalah mempertahankan kekuasaan dan memperkaya dirinya sendiri dan elite-nya.
Pemimpin di negara-negara miskin sering kali tahu kebijakan apa yang akan membuat negara mereka sejahtera. Mereka memilih untuk tidak melakukannya karena itu akan mengancam kekuasaan mereka.
Masalahnya bukan ketidaktahuan. Masalahnya adalah insentif.
Bagian 2: Institusi—Kunci yang Sebenarnya
Institusi Ekonomi: Inklusif vs Ekstraktif
Acemoğlu dan Robinson berpendapat bahwa perbedaan utama antara negara kaya dan miskin adalah institusi ekonomi mereka.
Institusi Ekonomi Inklusif:
- Menjamin hak kepemilikan untuk mayoritas orang
- Sistem hukum yang adil dan diterapkan secara merata
- Layanan publik yang menyediakan kesempatan yang setara
- Kebebasan untuk memulai bisnis dan berinovasi
- Akses ke pendidikan dan peluang ekonomi
- Hasil: Insentif untuk bekerja, berinovasi, dan berinvestasi → pertumbuhan ekonomi
Institusi Ekonomi Ekstraktif:
- Hak kepemilikan hanya untuk elite kecil
- Hukum yang tidak adil atau tidak ditegakkan
- Akses ke peluang ekonomi dibatasi untuk kroni penguasa
- Kebebasan ekonomi terbatas—semua harus melalui izin dan suap
- Mayoritas rakyat dieksploitasi untuk memperkaya elite
- Hasil: Tidak ada insentif untuk bekerja keras atau berinovasi → stagnasi
Contoh sederhana:
Di negara dengan institusi inklusif, jika Anda punya ide bisnis bagus, Anda bisa:
- Mendaftarkan perusahaan dengan mudah
- Mendapat pinjaman bank berdasarkan merit
- Bersaing secara adil di pasar
- Jika sukses, Anda bisa menikmati keuntungan
Di negara dengan institusi ekstraktif, jika Anda punya ide bisnis bagus:
- Anda harus menyuap pejabat untuk mendapat izin
- Anda tidak bisa dapat pinjaman kecuali punya koneksi politik
- Kompetitor yang dekat dengan penguasa mendapat perlakuan istimewa
- Jika Anda terlalu sukses, pejabat bisa mengambil bisnis Anda
Dalam sistem mana Anda akan bekerja keras dan berinovasi?
Institusi Politik: Akar dari Segalanya
Tapi pertanyaan lebih dalam: Mengapa beberapa negara punya institusi ekonomi inklusif dan yang lain ekstraktif?
Jawabannya: Institusi politik.
Institusi Politik Inklusif:
- Kekuasaan tersebar luas (checks and balances)
- Rakyat punya suara dalam pemerintahan (demokrasi)
- Pergantian kekuasaan yang damai
- Rule of law—tidak ada yang di atas hukum
- Media bebas dan kebebasan berbicara
- Hasil: Elite tidak bisa mengeksploitasi rakyat tanpa konsekuensi → mereka membuat institusi ekonomi inklusif
Institusi Politik Ekstraktif:
- Kekuasaan terkonsentrasi di tangan sedikit orang (dictator, oligarki)
- Rakyat tidak punya suara nyata
- Kekuasaan dipertahankan melalui kekerasan dan repres
- Hukum hanya untuk rakyat biasa, elite kebal
- Media dikontrol, kebebasan dibungkam
- Hasil: Elite bisa mengeksploitasi rakyat tanpa takut → mereka membuat institusi ekonomi ekstraktif untuk memperkaya diri
Ringkasnya:
- Institusi politik ekstraktif → institusi ekonomi ekstraktif → kemiskinan
- Institusi politik inklusif → institusi ekonomi inklusif → kemakmuran
Bagian 3: Sejarah Penting—Critical Junctures dan Small Differences
Mengapa Inggris Menjadi Kaya Pertama?
Pada tahun 1600-an, Inggris tidak lebih kaya atau lebih maju dari Spanyol, Prancis, atau Kekaisaran Ottoman.
Apa yang berubah?
The Glorious Revolution of 1688.
Raja James II mencoba menjadi absolute monarch—mengendalikan segalanya tanpa parlemen. Tapi parlemen melawan dan menang. Mereka membatasi kekuasaan raja dan membuat konstitusi yang memberikan hak lebih kepada rakyat.
Hasilnya:
- Pemerintah tidak bisa lagi merampas properti sesuka hati
- Pengusaha dan penemu merasa aman untuk berinvestasi
- Hak paten dilindungi—inventor bisa untung dari penemuan mereka
- The Industrial Revolution dimulai di Inggris karena orang punya insentif untuk berinovasi
Sementara itu, di Spanyol, raja masih absolut. Mereka menggunakan emas dari Amerika Selatan untuk membiayai perang, bukan membangun ekonomi. Mereka menindas inovasi yang mengancam elite lama. Hasilnya? Spanyol tertinggal.
Pelajaran: Small difference dalam institusi politik (Inggris membatasi kekuasaan raja, Spanyol tidak) + critical juncture (Industrial Revolution) = perbedaan besar dalam nasib jangka panjang.
Korea Selatan vs Korea Utara—Eksperimen Alami Terbesar
Tahun 1945. Korea dibagi jadi dua—Utara diduduki Soviet, Selatan diduduki Amerika.
Orang yang sama. Budaya yang sama. Sejarah yang sama. Tapi institusi yang sangat berbeda.
Korea Utara:
- Institusi politik ekstraktif: dictator Kim Il-sung dan dinasti-nya
- Institusi ekonomi ekstraktif: ekonomi komando, semua kepemilikan oleh negara
- Tidak ada insentif untuk bekerja keras—semua upah sama
- Tidak ada kebebasan untuk berinovasi atau berbisnis
- Hasil: Kelaparan pada 1990-an menewaskan jutaan orang. GDP per kapita $1,800.
Korea Selatan:
- Institusi politik mulai inklusif (meskipun ada masa otoriter, akhirnya menjadi demokrasi)
- Institusi ekonomi inklusif: hak kepemilikan, pasar bebas, investasi dalam pendidikan
- Insentif kuat untuk bekerja keras dan berinovasi
- Hasil: Dari negara miskin pada 1960-an menjadi ekonomi $1.6 triliun. GDP per kapita $35,000. Samsung, Hyundai, LG—global brands.
60 tahun. Orang yang sama. Institusi yang berbeda. Hasil yang spektakuler berbeda.
Bagian 4: Lingkaran Setan—Mengapa Sulit Keluar
Ketika yang Kaya Makin Kaya, yang Miskin Makin Miskin
Salah satu insight paling powerful dari buku ini: Institusi ekstraktif menciptakan lingkaran setan yang sulit dipatahkan.
Begini cara kerjanya:
1. Elite memiliki kekuasaan politik ekstraktif (dictator, oligarki)
2. Mereka membuat institusi ekonomi ekstraktif untuk memperkaya diri sendiri
3. Kekayaan yang mereka ekstrak memberi mereka lebih banyak kekuasaan politik
4. Dengan kekuasaan lebih besar, mereka memperkuat institusi ekstraktif
5. Repeat cycle...
Contoh: Zimbabwe
Robert Mugabe berkuasa sejak 1980. Awalnya Zimbabwe punya ekonomi yang lumayan—"breadbasket of Africa."
Tapi Mugabe menggunakan kekuasaan politik untuk:
- Mengambil tanah dari petani produktif (kebanyakan kulit putih)
- Memberikan tanah kepada kroni-kroninya yang tidak tahu bertani
- Mencetak uang tanpa henti untuk membiayai rejim-nya
- Menindas oposisi dengan kekerasan
Hasilnya:
- Produksi pangan runtuh 70%
- Hiperinflasi—harga dobel setiap hari
- GDP per kapita turun 50% dalam 10 tahun
- Jutaan orang melarikan diri dari negara
Tapi Mugabe tetap berkuasa sampai 2017 karena dia menggunakan kekayaan yang dia ekstrak untuk membayar tentara dan polisi yang menjaga kekuasaannya.
Ini adalah lingkaran setan: Kekuasaan → ekstraksi → lebih banyak kekuasaan → lebih banyak ekstraksi.
Mengapa Elite Tidak Mau Reformasi?
Pertanyaan logis: "Jika institusi inklusif membuat negara lebih kaya, mengapa elite tidak mengadopsinya? Mereka juga akan lebih kaya!"
Jawaban Acemoğlu dan Robinson: Karena elite takut kehilangan kekuasaan.
Dengan institusi ekstraktif, elite punya kekuasaan absolut. Mereka mendapat bagian besar dari kue kecil.
Dengan institusi inklusif, kue menjadi lebih besar, tapi elite harus berbagi kekuasaan. Dan mereka takut begitu mereka berbagi kekuasaan, mereka akan kehilangan semuanya.
Contoh: Uni Soviet
Gorbachev mencoba reformasi (glasnost dan perestroika) untuk membuat ekonomi Soviet lebih produktif. Tapi begitu dia membuka sedikit kebebasan politik, seluruh sistem runtuh.
Elite Soviet yang melihat ini belajar: Jangan pernah beri rakyat kebebasan, atau kamu akan kehilangan segalanya.
Ini mengapa reformasi sangat sulit. Elite lebih memilih miskin dengan kekuasaan absolut daripada kaya tapi harus berbagi kekuasaan.
Bagian 5: Harapan—Lingkaran Kebajikan
Ketika Institusi Baik Menciptakan Lebih Banyak Institusi Baik
Kabar baiknya: Institusi inklusif juga menciptakan lingkaran—tapi lingkaran kebajikan.
Begini cara kerjanya:
1. Institusi politik inklusif memberi rakyat suara
2. Rakyat menuntut institusi ekonomi inklusif (hak kepemilikan, peluang, pendidikan)
3. Pertumbuhan ekonomi terjadi, menciptakan kelas menengah yang lebih besar
4. Kelas menengah menuntut lebih banyak hak politik dan akuntabilitas
5. Institusi politik menjadi lebih inklusif
6. Repeat cycle...
Contoh: Botswana
Ketika Botswana merdeka dari Inggris pada 1966, mereka adalah salah satu negara termiskin di dunia.
Tapi mereka punya sesuatu yang langka di Afrika: pemimpin yang memilih institusi inklusif.
Seretse Khama (presiden pertama) dan penerusnya:
- Membuat konstitusi yang membatasi kekuasaan presiden
- Menjamin hak kepemilikan
- Investasi besar dalam pendidikan dan kesehatan
- Ketika diamond ditemukan, mereka tidak mencurinya—mereka menggunakan revenue untuk rakyat
Hasilnya:
- Botswana tumbuh rata-rata 9% per tahun selama 30 tahun
- Dari negara termiskin menjadi upper-middle income
- Demokrasi yang stabil—pergantian kekuasaan yang damai
Botswana membuktikan: Afrika bisa sejahtera jika institusinya inklusif.
Inggris, Amerika, dan Jalan Panjang Menuju Inklusivitas
Penting untuk diingat: Tidak ada negara yang lahir dengan institusi inklusif sempurna.
Inggris butuh ratusan tahun—dari Magna Carta (1215) ke Glorious Revolution (1688) ke Reform Act (1832) untuk memperluas hak suara.
Amerika Serikat punya institusi yang lebih inklusif dari kebanyakan negara pada 1776, tapi masih punya slavery sampai 1865 dan diskriminasi rasial sampai 1960-an.
Pelajaran: Perjalanan menuju institusi inklusif adalah proses panjang dan bertahap, bukan revolusi semalaman.
Bagian 6: Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk Negara Miskin: Tidak Ada Jalan Pintas
Acemoğlu dan Robinson blak-blakan: Tidak ada formula ajaib untuk membuat negara kaya dengan cepat.
Anda tidak bisa:
- Hanya memberikan bantuan luar negeri (aid) → itu sering berakhir di kantong elite
- Hanya mengajarkan "good policies" → elite tahu tapi tidak mau melakukannya
- Hanya menunggu "pemimpin yang baik" → sistem ekstraktif menarik pemimpin yang korup
Yang dibutuhkan adalah perubahan fundamental dalam institusi politik.
Tapi bagaimana melakukannya?
Tidak ada jawaban mudah. Tapi ada prinsip:
1. Tekanan dari bawah: Rakyat harus menuntut perubahan. Tidak ada yang memberi inklusivitas—harus direbut.
2. Membangun koalisi luas: Perubahan berkelanjutan butuh koalisi yang lebih luas dari elite sempit.
3. Memanfaatkan critical junctures: Krisis ekonomi, perubahan teknologi, tekanan internasional bisa jadi momen untuk reformasi.
4. Reformasi bertahap tapi konsisten: Perubahan radikal sering gagal. Perubahan bertahap yang terus-menerus lebih mungkin berhasil.
Untuk Negara Kaya: Jangan Complacent
Acemoğlu dan Robinson memperingatkan: Institusi inklusif bukan jaminan permanen.
Bahkan negara kaya bisa mundur jika:
- Elite ekonomi menangkap institusi politik (regulatory capture)
- Ketimpangan ekstrem menciptakan oligarki
- Rakyat menjadi apatis dan berhenti menuntut akuntabilitas
- Populisme ekstrem merusak checks and balances
Contoh peringatan: Roma dulu republik dengan institusi yang relatif inklusif. Tapi lambat laun menjadi kekaisaran ekstraktif. Dan akhirnya runtuh.
Pelajaran: Inklusivitas harus terus diperjuangkan, bukan dianggap sebagai given.
Bagian 7: Kesimpulan—Institusi, Institusi, Institusi
Tiga Pelajaran Utama
Setelah 15 tahun penelitian dan 500+ halaman analisis, Acemoğlu dan Robinson menyimpulkan:
1. Institusi adalah penentu utama kemakmuran
Bukan geografi. Bukan budaya. Bukan keberuntungan. Institusi politik dan ekonomi menentukan apakah negara sejahtera atau miskin.
2. Perubahan institusi adalah hasil perjuangan politik
Elite yang berkuasa jarang sukarela memberikan kekuasaan. Perubahan menuju inklusivitas biasanya hasil dari perjuangan rakyat yang menuntut hak mereka.
3. Sejarah penting—tapi bukan takdir
Small differences di masa lalu + critical junctures menciptakan divergensi besar. Tapi tidak ada negara yang "ditakdirkan" untuk miskin. Perubahan selalu mungkin.
Pertanyaan untuk Kita
Buku ini bukan hanya untuk ekonom atau politisi. Ini untuk kita semua.
Jika Anda tinggal di negara dengan institusi ekstraktif:
- Apakah Anda akan menerima status quo atau berjuang untuk perubahan?
- Bagaimana Anda bisa berkontribusi untuk memperluas inklusivitas?
Jika Anda tinggal di negara dengan institusi inklusif:
- Apakah Anda complacent atau waspada terhadap erosi institusi?
- Apakah Anda aktif menuntut akuntabilitas dari elite?
Seperti Acemoğlu dan Robinson tulis:
"Negara gagal bukan karena mereka ditakdirkan gagal oleh geografi atau budaya. Negara gagal karena elite politik mereka memilih institusi yang mengekstrak kekayaan dari mayoritas rakyat untuk memperkaya diri sendiri."
Dan sebaliknya:
"Negara berhasil karena rakyat mereka berhasil membangun institusi yang membatasi kekuasaan elite dan memberikan insentif kepada semua orang untuk bekerja, berinovasi, dan berinvestasi."
Kembali ke Nogales
Mari kita kembali ke Nogales—kota yang terbelah oleh pagar.
Mengapa satu sisi tiga kali lebih kaya dari sisi lainnya?
Bukan karena orang di Arizona lebih pintar atau lebih rajin.
Bukan karena cuaca atau tanah di Arizona lebih baik.
Tapi karena institusi di Arizona memberi insentif kepada orang untuk bekerja keras, berinovasi, dan berinvestasi—dengan jaminan bahwa mereka bisa menikmati hasil kerja mereka.
Sementara institusi di Sonora, Meksiko, penuh dengan korupsi, birokrasi yang melumpuhkan, dan elite yang lebih peduli memperkaya diri daripada membangun ekonomi.
Perbedaan institusi. Itulah segalanya.
Dan institusi bisa berubah—jika rakyat menuntutnya.
Penutup: Pilihan Ada di Tangan Kita
Acemoğlu dan Robinson menutup buku dengan nada yang realistis tapi optimis:
"Tidak ada jalan mudah menuju kemakmuran. Tidak ada resep yang bisa ditiru begitu saja dari satu negara ke negara lain. Setiap masyarakat harus menemukan jalannya sendiri."
"Tapi satu hal yang pasti: Kemakmuran berkelanjutan hanya mungkin di bawah institusi inklusif—institusi yang memberikan kesempatan dan insentif kepada mayoritas rakyat, bukan hanya elite sempit."
Untuk negara-negara yang masih terjebak dalam kemiskinan, ada harapan. Botswana membuktikannya. Korea Selatan membuktikannya. Banyak negara lain yang perlahan bergerak dari ekstraktif ke inklusif.
Tapi perubahan tidak datang dari langit. Perubahan datang dari rakyat yang berani menuntut hak mereka.
Dan untuk negara-negara yang sudah sejahtera, ada peringatan. Inklusivitas bukan warisan yang dijamin. Setiap generasi harus memperjuangkannya kembali.
Seperti yang Jefferson katakan: "The price of liberty is eternal vigilance."
Jadi, apa yang akan Anda lakukan?
Apakah Anda akan menerima institusi yang mengekstrak—atau berjuang untuk institusi yang inklusif?
Pilihan ada di tangan kita semua.
Tentang Buku Asli
"Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty" diterbitkan pada Maret 2012 dan langsung menjadi international bestseller.
Daron Acemoğlu adalah profesor ekonomi di MIT dan salah satu ekonom paling berpengaruh di dunia. Pada Oktober 2024, dia menerima Nobel Prize dalam Ekonomi untuk karyanya tentang institusi dan pembangunan ekonomi.
James A. Robinson adalah professor di University of Chicago Harris School of Public Policy. Dia juga menerima Nobel Prize dalam Ekonomi bersama Acemoğlu pada 2024.
Buku ini adalah hasil dari 15 tahun kolaborasi dan riset intensif, menganalisis data dari ratusan negara dan ribuan tahun sejarah. Mereka mengunjungi puluhan negara—dari Uzbekistan hingga Sierra Leone hingga Colombia—untuk memahami secara langsung bagaimana institusi bekerja (atau tidak bekerja).
Buku ini telah diterjemahkan ke 30+ bahasa dan digunakan sebagai buku wajib di universitas-universitas top di seluruh dunia. Pengaruhnya terasa dari ruang kelas hingga ruang kebijakan—mengubah cara kita berpikir tentang pembangunan ekonomi.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana institusi membentuk nasib bangsa, sangat disarankan membaca buku aslinya. Acemoğlu dan Robinson memberikan puluhan studi kasus mendalam, analisis sejarah yang detail, dan argumen yang nuanced tentang kompleksitas perubahan institusional.
Ringkasan ini menangkap framework utama dan pelajaran inti, tetapi buku asli menawarkan kedalaman dan kekayaan contoh yang akan mengubah cara Anda memahami dunia.
Sekarang pergilah—dan pikirkan institusi apa yang Anda ingin bangun atau ubah.
Karena seperti Acemoğlu dan Robinson buktikan: Institusi menentukan nasib bangsa. Dan institusi dibentuk oleh pilihan manusia.
Kita semua punya peran dalam membentuk institusi—dan dengan demikian, masa depan kita.