Skip to main content

Accountable

by Michael O'Leary & Warren Valdmanis · January 2026 · 12 min read

Kesalahan Satu Kalimat yang Mengubah Dunia

Table of contents

Kesalahan Satu Kalimat yang Mengubah Dunia 

13 September 1970. The New York Times Magazine menerbitkan artikel yang akan mengubah wajah kapitalisme untuk 50 tahun ke depan. 

Penulisnya adalah Milton Friedman—ekonom paling berpengaruh abad ke-20, pemenang Nobel, penasihat presiden. 

Artikelnya berjudul: "The Social Responsibility of Business Is to Increase Its Profits." 

Dan di dalamnya, ada satu kalimat yang menjadi doktrin perusahaan-perusahaan di seluruh dunia: 

"Satu-satunya tanggung jawab sosial bisnis adalah meningkatkan keuntungan untuk pemegang sahamnya." 

Satu kalimat. 13 kata. Dan dalam beberapa dekade, kalimat ini menjadi hukum tidak tertulis di setiap ruang rapat, setiap keputusan bisnis, setiap strategi perusahaan. 

Karyawan? Bukan prioritas—mereka hanya "sumber daya" yang harus diminimalisasi biayanya.

Komunitas? Bukan urusan perusahaan—itu urusan pemerintah. 

Lingkungan? Hanya masalah jika ada regulasi yang memaksa. 

Satu-satunya hal yang penting: keuntungan pemegang saham. 

Dan selama 50 tahun, doktrin ini menghasilkan: 

  • Stagnasi upah (produktivitas naik 77%, upah hanya naik 12%)
  • Kesenjangan wealth yang belum pernah terjadi (3 orang terkaya di Amerika punya lebih banyak dari 50% populasi terbawah)
  • Krisis iklim yang semakin memburuk
  • Erosi kepercayaan publik terhadap bisnis

Tapi ada masalah: Friedman salah

Michael O'Leary dan Warren Valdmanis—dua investor profesional yang menghabiskan puluhan tahun di Wall Street—menulis "Accountable" untuk membuktikan satu hal: 

Perusahaan yang bertanggung jawab terhadap semua stakeholder (karyawan, komunitas, lingkungan, pelanggan) tidak hanya lebih baik secara moral—mereka juga lebih menguntungkan dalam jangka panjang. 

Dan mereka punya data untuk membuktikannya. 

Mari kita mulai dengan membongkar mitos terbesar dalam bisnis modern.


Bagian 1: Mitos Shareholder Primacy 

Kesalahan Friedman 

Argumen Friedman sederhana dan menarik: 

"CEO bukanlah elected officials. Mereka tidak dipilih rakyat untuk menyelesaikan masalah sosial. Tugas mereka adalah menghasilkan return untuk investor yang mempercayakan uang mereka. Jika CEO menggunakan uang perusahaan untuk 'tanggung jawab sosial', mereka pada dasarnya mencuri dari pemegang saham." 

Kedengarannya logis, kan? 

Tapi ada tiga kesalahan fatal dalam logika ini: 

Kesalahan 1: Asumsi Bahwa Pemegang Saham "Memiliki" Perusahaan 

Secara hukum, pemegang saham tidak memiliki perusahaan. Mereka memiliki saham—klaim atas keuntungan residual setelah semua stakeholder lain dibayar. 

Perusahaan adalah entitas legal yang terpisah. Perusahaan punya kontrak dengan karyawan, pelanggan, supplier, komunitas. Pemegang saham hanya satu dari banyak pihak yang punya klaim. 

Kesalahan 2: Asumsi Bahwa "Short-term Profit" = "Long-term Value" 

Friedman mengasumsikan bahwa memaksimalkan keuntungan jangka pendek akan otomatis menghasilkan nilai jangka panjang. 

Realita? Perusahaan-perusahaan yang obsessed dengan quarterly earnings sering mengorbankan investasi jangka panjang—R&D, training karyawan, sustainability—untuk hasil jangka pendek. 

Hasilnya: profit sekarang, collapse nanti. 

Kesalahan 3: Asumsi Bahwa Kepentingan Pemegang Saham Homogen 

Tidak semua pemegang saham sama. Ada yang hold untuk 50 tahun (Warren Buffett). Ada yang hold untuk 50 detik (high-frequency traders). 

Mengoptimalkan untuk trader yang hold 50 detik menghancurkan nilai untuk investor jangka panjang. 

Dampak Nyata dari Doktrin Friedman

Sejak 1970-an, perusahaan-perusahaan Amerika mengadopsi shareholder primacy dengan religius. 

Hasilnya? 

1. Stagnasi Upah Dari 1948-1973, produktivitas naik 97%, upah naik 91%. Karyawan mendapat bagian yang fair. 

Dari 1973-2018 (era Friedman), produktivitas naik 77%, upah hanya naik 12%. Ke mana perginya sisanya? Ke pemegang saham dan eksekutif C-suite. 

2. Buyback Frenzy Dari 2009-2018, perusahaan S&P 500 menghabiskan $5.3 triliun untuk stock buybacks—membeli kembali saham mereka sendiri untuk menaikkan harga saham. 

Uang yang bisa digunakan untuk R&D, kenaikan gaji, sustainability—digunakan untuk manipulasi harga saham jangka pendek. 

3. Collapse Kepercayaan Tahun 1975, 75% orang Amerika percaya pada bisnis. Tahun 2020? Hanya 18%. 

Mengapa? Karena orang melihat perusahaan hanya peduli pada pemegang saham, bukan pada karyawan, komunitas, atau planet. 

Doktrin Friedman tidak hanya salah secara moral—dia salah secara ekonomi.


Bagian 2: Stakeholder Capitalism—Model yang Lebih Baik 

Siapa Stakeholder Anda? 

Stakeholder adalah semua pihak yang terpengaruh oleh keputusan perusahaan Anda: 

1. Karyawan - yang membangun produk Anda 

2. Pelanggan - yang membeli produk Anda 

3. Supplier - yang menyediakan bahan baku 

4. Komunitas - tempat Anda beroperasi 

5. Lingkungan - planet yang menyediakan resources 

6. Pemegang Saham - yang investasi di perusahaan Anda 

Perhatikan: pemegang saham ada di list. Mereka penting. Tapi mereka bukan satu-satunya yang penting. 

Case Study: Costco vs. Walmart 

Mari kita bandingkan dua retailer raksasa dengan filosofi berbeda: 

Walmart - Shareholder Primacy 

  • Strategi: Minimalisasi biaya labor sebisa mungkin
  • Upah rata-rata: $14.76/jam (2019)
  • Turnover rate: 44% per tahun
  • Reputation: Dituduh "memeras" karyawan

Costco - Stakeholder Model 

  • Strategi: Bayar karyawan dengan baik, mereka akan peduli pada pelanggan
  • Upah rata-rata: $24.50/jam (hampir 2x Walmart!)
  • Turnover rate: 6% per tahun
  • Reputation: "Best employer" di retail

Tunggu—kalau Costco bayar karyawan hampir 2x lebih banyak, pasti mereka kurang profitable, kan? 

Salah

Dari 2010-2020: 

  • Return saham Costco: 390%
  • Return saham Walmart: 180%

Costco menghasilkan return 2x lebih tinggi untuk pemegang saham—sambil membayar karyawan 2x lebih banyak. 

Bagaimana? Karena: 

  • Turnover rendah = biaya training lebih rendah
  • Karyawan bahagia = customer service lebih baik
  • Customer service baik = customer loyalty tinggi
  • Customer loyalty tinggi = repeat business
  • Repeat business = profit jangka panjang

Memperlakukan karyawan dengan baik BUKAN trade-off melawan profit. Ini DRIVER dari profit jangka panjang.


Bagian 3: Tiga Pilar Perusahaan yang Accountable

O'Leary dan Valdmanis mengidentifikasi tiga area di mana perusahaan harus accountable:

Pilar 1: Karyawan 

Perusahaan yang Accountable: 

  • Bayar living wage (upah yang cukup untuk hidup layak)
  • Berikan benefits yang layak (healthcare, cuti, pensiun)
  • Investasi dalam training dan development
  • Ciptakan budaya inklusif dan aman
  • Berikan pathway untuk career advancement

Contoh: Gravity Payments 

2015. Dan Price, CEO Gravity Payments (perusahaan payment processing), membuat keputusan radikal: dia potong gajinya sendiri dari $1.1 juta ke $70,000, dan naikkan gaji minimum semua karyawan ke $70,000. 

Wall Street dan media skeptis: "Ini bunuh diri bisnis!" 

Enam tahun kemudian: 

  • Revenue tumbuh 3x
  • Karyawan tumbuh 2x
  • Customer retention di atas 90%
  • Hampir tidak ada turnover

Price membuktikan: Bayar orang dengan baik, mereka akan bekerja dengan luar biasa.

Pilar 2: Komunitas 

Perusahaan yang Accountable: 

  • Bayar pajak yang fair (tidak tax evasion melalui offshore havens)
  • Support ekonomi lokal (hiring local, membeli dari supplier lokal)
  • Berkontribusi pada community development
  • Transparent tentang dampak operasi mereka

Contoh: Patagonia 

Patagonia tidak hanya menjual jaket outdoor. Mereka committed pada protecting the outdoors. 

  • 1% dari revenue (bukan profit—revenue!) untuk environmental causes
  • Mendorong customer untuk tidak membeli jika mereka tidak benar-benar butuh
  • Program "Worn Wear" untuk repair dan resell produk bekas
  • Aktif dalam political advocacy untuk environment

Hasilnya? Brand loyalty yang luar biasa. Customer yang rela bayar premium. Dan profitability yang konsisten. 

Pilar 3: Lingkungan 

Perusahaan yang Accountable: 

  • Reduce carbon footprint
  • Sustainable sourcing
  • Circular economy model (reduce waste)
  • Transparent reporting tentang environmental impact

Contoh: Unilever under Paul Polman 

Ketika Paul Polman menjadi CEO Unilever (2009-2018), dia membuat komitmen radikal: menggandakan size bisnis sambil mengurangi separuh environmental footprint. 

Banyak yang skeptis: "Tidak mungkin!" 

Hasilnya setelah 9 tahun: 

  • Revenue naik 50%
  • Profit naik 300%
  • Carbon footprint per product turun 52%
  • Waste turun 97%

Polman membuktikan: Sustainability bukan cost—ini opportunity.


Bagian 4: Membongkar Mitos "Purpose vs. Profit"

Mitos: "Kamu harus pilih antara doing good atau making money" 

Realita: Perusahaan yang focus pada purpose OUTPERFORM yang hanya focus pada profit. 

Study oleh Raj Sisodia (Firms of Endearment): 

  • Perusahaan "stakeholder-focused" menghasilkan return 10.5x lebih tinggi dari S&P 500 dalam periode 15 tahun
  • Companies dengan strong purpose dan culture punya employee engagement 3x lebih tinggi
  • Employee engagement lebih tinggi = productivity lebih tinggi = profitability lebih tinggi

Mitos: "Investor tidak peduli purpose—mereka hanya mau profit"

Realita: Investor besar semakin demand accountability

Larry Fink, CEO BlackRock (asset manager terbesar di dunia dengan $10 triliun), menulis surat tahunan ke CEO: 

"Purpose bukan marketing gimmick. Companies yang tidak melayani stakeholder mereka akan gagal melayani pemegang saham mereka." 

BlackRock sekarang vote melawan boards yang tidak address climate risk, diversity, atau employee welfare. 

Mengapa? Karena mereka investor jangka panjang. Dan mereka tahu perusahaan yang mengabaikan stakeholder collapse dalam jangka panjang. 

Mitos: "Ini hanya trend. Nanti juga hilang." 

Realita: Ini perubahan struktural. 

Data dari JUST Capital menunjukkan: 

  • 92% American percaya companies harus serve all stakeholders, not just shareholders
  • $17 triliun dalam ESG (Environmental, Social, Governance) assets globally
  • Fortune 500 CEOs secara kolektif menyatakan commitment pada stakeholder capitalism (Business Roundtable, 2019)

Ini bukan trend. Ini paradigm shift.


Bagian 5: Framework JUST Capital—Mengukur What Matters 

O'Leary dan Valdmanis co-founded JUST Capital—organisasi yang ranking perusahaan berdasarkan apa yang American public percaya penting. 

Metodologi 

Mereka survey 100,000+ orang Amerika untuk menentukan: "Apa yang membuat perusahaan 'just'?" 

Hasilnya, 5 prioritas utama: 

1. Perlakukan karyawan dengan baik (37% priority) 

  • Fair pay
  • Benefits
  • Safety
  • Diversity & inclusion

2. Customer treatment (20%) 

  • Product quality
  • Fair pricing
  • Privacy & data security

3. Environmental impact (14%) 

  • Carbon emissions
  • Waste management
  • Sustainable sourcing

4. Community support (12%) 

  • Job creation
  • Charitable giving
  • Tax fairness

5. Governance & ethics (10%) 

  • Ethical leadership
  • Transparency
  • Anti-corruption

Dengan framework ini, JUST Capital ranking perusahaan—dan track performance mereka.

Temuan Mengejutkan 

Perusahaan di top 100 JUST ranking outperform pasar: 

  • Return 2.5x lebih tinggi dari Russell 1000
  • Volatility lebih rendah
  • Resilience lebih tinggi selama krisis (COVID-19)

Pasar menghadiahi perusahaan yang accountable.


Bagian 6: Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Untuk CEO dan Business Leaders 

1. Define Purpose Beyond Profit 

Tanyakan: "Mengapa perusahaan ini exist—selain untuk make money?" Contoh: 

  • Patagonia: "We're in business to save our home planet"
  • Microsoft: "Empower every person and organization to achieve more"
  • Unilever: "Make sustainable living commonplace"

2. Align Incentives 

Jangan hanya bonus CEO berdasarkan stock price. Include metrics seperti: 

  • Employee satisfaction
  • Customer retention
  • Carbon reduction
  • Community impact

3. Transparent Reporting 

Publish data tentang: 

  • Pay equity (berapa gap antara CEO dan median worker?)
  • Diversity numbers
  • Environmental impact
  • Tax payments by country

4. Long-term Mindset 

Stop quarterly earnings guidance yang membuat CEO obsessed dengan short-term. 

Berkshire Hathaway tidak pernah berikan quarterly guidance—mereka fokus pada decades, bukan quarters. 

Untuk Investor 

1. Vote Your Values 

Sebagai pemegang saham, Anda punya hak vote. Gunakan untuk: 

  • Support shareholder resolutions tentang climate, diversity, dll
  • Vote melawan excessive executive pay
  • Demand transparency

2. Allocate Capital Intentionally 

Invest di perusahaan yang align dengan values Anda. Tools seperti JUST ETF atau ESG funds membuat ini mudah. 

3. Engage, Don't Just Exit 

Daripada jual saham ketika perusahaan bermasalah, engage dengan management. Push untuk perubahan. 

Untuk Konsumen 

1. Vote with Your Wallet 

Setiap pembelian adalah vote. Support companies yang treat workers, communities, dan planet dengan baik. 

2. Demand Transparency 

Tanyakan: 

  • Bagaimana produk ini dibuat?
  • Apakah workers dibayar fair wage?
  • Apa environmental footprint?

Perusahaan yang refuse transparansi biasanya punya sesuatu yang disembunyikan.

3. Spread the Word 

Share companies yang melakukan hal baik. Call out yang melakukan hal buruk. Social media membuat consumer voice sangat powerful.


Bagian 7: Masa Depan Kapitalisme 

Dua Jalan 

Kita di persimpangan. 

Jalan 1: Status Quo 

Terus dengan shareholder primacy. Maximize short-term profit. Ignore stakeholders. Hasilnya: 

  • Kesenjangan semakin lebar
  • Climate crisis semakin parah
  • Collapse kepercayaan pada institusi
  • Political instability
  • Akhirnya, system collapse 

Jalan 2: Accountable Capitalism 

Perusahaan serve all stakeholders. Balance profit dengan purpose. 

Hasilnya: 

  • Ekonomi yang lebih inklusif
  • Planet yang lebih sustainable
  • Societal cohesion
  • Capitalism yang survive dan thrive 

Mengapa Ini Penting Sekarang 

COVID-19 membuktikan pentingnya stakeholder model. 

Perusahaan yang sudah invest dalam karyawan, komunitas, dan resilience—mereka survive dan bahkan thrive. 

Perusahaan yang hanya fokus pada short-term profit dan memotong semua "unnecessary costs"—banyak yang collapse. 

Climate crisis, inequality, dan social unrest bukan "future problems." Ini now problems.

Dan bisnis bukan bystander. Bisnis adalah part of solution—atau part of problem.


Penutup: Pertanggungjawaban Dimulai dari Pilihan

O'Leary dan Valdmanis menutup buku dengan reminder powerful: 

"Kita semua punya peran. CEO yang membuat keputusan strategis. Investor yang allocate capital. Konsumen yang pilih produk. Employee yang pilih di mana bekerja. 

Setiap pilihan adalah vote untuk jenis kapitalisme yang kita inginkan."

Pertanyaan untuk Anda 

Jika Anda business leader: 

  • Apakah Anda treat karyawan sebagai "cost to minimize" atau "asset to invest in"?
  • Apakah Anda measure success hanya dari quarterly earnings atau juga dari dampak jangka panjang?
  • Apakah board dan executive incentives align dengan stakeholder value atau hanya shareholder value?

Jika Anda investor: 

  • Apakah portfolio Anda reflect values Anda?
  • Apakah Anda vote di shareholder meetings—atau let decisions dibuat oleh others?
  • Apakah Anda hold untuk long-term atau trade untuk short-term gain?

Jika Anda konsumen: 

  • Apakah Anda tahu bagaimana produk yang Anda beli dibuat?
  • Apakah Anda willing bayar sedikit lebih mahal untuk produk dari company yang ethical?
  • Apakah Anda speak up ketika companies berperilaku buruk?

Jika Anda employee: 

  • Apakah Anda bekerja untuk company yang treat Anda dengan respect?
  • Apakah Anda proud dengan apa yang company Anda lakukan di dunia?
  • Apakah Anda willing leave jika values tidak align?

Lima Prinsip Accountable Capitalism 

1. Profit Adalah Hasil, Bukan Tujuan 

Tujuan adalah create value untuk stakeholders. Profit adalah hasil natural dari doing that well.

2. Long-term > Short-term 

Quarterly earnings adalah noise. Decade-long impact adalah signal.

3. Transparency Adalah Kekuatan 

Companies yang punya sesuatu untuk disembunyikan akan collapse. Transparency builds trust.

4. Stakeholders Bukan Zero-Sum 

Treating employees well doesn't mean sacrificing shareholders. Ini positive-sum game.

5. Purpose Drives Performance 

Companies dengan clear purpose outperform karena purpose attract best talent, loyal customers, dan patient capital.


Tentang Buku Asli 

"Accountable: The Rise of Citizen Capitalism" diterbitkan pada tahun 2020, di tengah pandemi yang mengekspos ketidaksetaraan dan fragility dari sistem ekonomi kita. 

Michael O'Leary adalah co-founder JUST Capital dan mantan CEO Young & Rubicam. Warren Valdmanis adalah Director of Two Sigma Impact dan sebelumnya bekerja di Bain Capital. 

Kedua penulis menghabiskan puluhan tahun di Wall Street—mereka bukan idealis anti-kapitalis. Mereka kapitalis yang percaya bahwa capitalism bisa dan harus bekerja untuk semua orang. 

Buku ini dipuji oleh business leaders dari Paul Polman (ex-CEO Unilever) hingga Darren Walker (President Ford Foundation) hingga akademisi seperti Rebecca Henderson (Harvard Business School). 

Untuk pemahaman lengkap tentang data, case studies, dan framework implementasi, sangat disarankan membaca buku aslinya. O'Leary dan Valdmanis memberikan puluhan contoh konkret, research yang detail, dan actionable steps yang tidak bisa sepenuhnya diringkas. 

Ringkasan ini menangkap filosofi inti dan prinsip utama, tetapi buku asli menawarkan depth, nuance, dan tools praktis untuk mengimplementasikan accountable capitalism—apakah Anda CEO, investor, atau concerned citizen. 

Sekarang pergilah dan pilih jenis kapitalisme yang Anda inginkan—bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. 

Karena seperti yang O'Leary dan Valdmanis buktikan: 

"Kapitalisme yang hanya serve pemegang saham akan self-destruct. Kapitalisme yang serve semua stakeholder akan thrive for generations." 

Pertanyaannya: Kapitalisme yang mana yang Anda pilih untuk build?

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Developing the Leaders Around You
Back to top

Similar books