Cursed Daughters
by Oyinkan Braithwaite · April 2026 · 13 min read
Hari Pemakaman yang Juga Hari Kelahiran
Table of contents
Hari Pemakaman yang Juga Hari Kelahiran
Bayangkan ini: Hari pemakaman seseorang yang Anda cintai. Langit Lagos mendung. Keluarga menangis. Tubuh yang Anda kenal—penuh hidup, penuh tawa, penuh hasrat—kini dingin di dalam peti.
Dan di hari yang sama—di momen yang sama keluarga menurunkan peti ke tanah—Anda melahirkan.
Bayi prematur. Lima bulan lebih cepat dari seharusnya. Terlalu kecil, terlalu rapuh, seharusnya tidak bertahan.
Tapi dia bertahan.
Dan ketika perawat membawa bayi itu kepada Anda—ketika Anda melihat wajahnya untuk pertama kali—Anda tahu: Ini bukan hanya bayi baru. Ini adalah seseorang yang kembali.
Mata yang sama. Bentuk wajah yang sama. Bahkan ekspresi yang sama—seperti sedang melihat sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya dia tahu.
"Dia kembali," bisik bibi Anda dengan air mata. "Monife kembali."
Dan sejak momen itu, bayi ini—anak Anda, darah daging Anda—bukan lagi hanya milik Anda. Dia adalah reinkarnasi. Dia adalah kesempatan kedua. Dia adalah kutukan yang terus berulang.
Selamat datang di dunia keluarga Falodun—di mana setiap perempuan yang lahir membawa beban generasi, di mana cinta selalu berakhir dengan patah hati, dan di mana pertanyaan yang paling menakutkan bukan "Apakah kutukan itu nyata?" tapi "Apakah kita yang membuatnya nyata?"
Oyinkan Braithwaite—penulis bestseller "My Sister, the Serial Killer"—menulis Cursed Daughters sebagai saga tiga generasi tentang perempuan Nigeria yang percaya mereka terkutuk dalam hal cinta. Tentang Monife yang mati karena patah hati. Tentang Ebun yang melahirkan di hari pemakaman sepupunya. Dan tentang Eniiyi—gadis yang tumbuh dengan bayangan perempuan yang mati sebelum dia lahir.
Ini tentang apakah kita ditakdirkan mengulangi kesalahan orang tua kita. Tentang perbedaan antara kutukan dan trauma yang diturunkan. Dan tentang apa artinya berani mencintai ketika semua sejarah keluargamu mengatakan: Jangan.
Bagian 1: Kutukan yang Memulai Semuanya
Feranmi dan Istri Pertama yang Marah
Semuanya dimulai beberapa generasi lalu dengan Feranmi Falodun—perempuan cantik, berkulit gelap, penuh percaya diri.
Dia melihat pria yang sudah menikah. Dia menginginkannya. Dan dalam satu malam yang penuh nafsu, mereka bersama.
Ketika keluarga Feranmi mengetahui, mereka menuntut: Pria itu harus membayar harga pengantin penuh. Dia harus menikahi Feranmi—mau tidak mau.
Jadi dia menikahi Feranmi. Tapi dia sudah punya istri pertama.
Dan istri pertama itu—dengan amarah yang membakar, dengan rasa sakit yang dalam—mengucapkan kutukan:
"Tidak akan baik bagimu. Tidak ada pria yang akan menyebut rumahmu sebagai rumah. Jika mereka mencoba, mereka tidak akan punya kedamaian. Anak perempuanmu terkutuk. Mereka akan mengejar pria, tapi pria akan seperti air di telapak tangan mereka. Cucu perempuanmu akan mencintai dengan sia-sia. Cicit perempuanmu akan berjuang untuk pengakuan, tapi mereka akan jatuh di bawah perempuan lain. Anak perempuanmu, anak dari anak perempuanmu, dan semua perempuan yang akan datang akan menderita demi pria."
Dan sejak hari itu, generasi demi generasi perempuan Falodun hidup dengan kutukan ini.
Rumah Falodun—Tempat Kembalinya yang Patah Hati
Di Lagos, berdiri rumah besar keluarga Falodun—mansion tua yang terbagi dua: sayap timur dan sayap barat.
Di rumah ini, tiga generasi perempuan Falodun yang ditinggalkan pria tinggal bersama:
Nenek-nenek:
- Bunmi (Grandma West) - Ditinggal suaminya yang sekarang tinggal di London dengan keluarga baru. Dia tidak pernah menerima kenyataan ini. Setiap minggu, dia mengunjungi Mama G—dukun lokal—membeli ramuan dan mantra untuk membuat mantan suaminya kembali.
- Kemi (Grandma East) - Ibu dari Ebun. Sudah menikah empat kali, tidak ada yang bertahan. Bahkan di usia 50-an, dia masih mengejar pria—dengan Spandex dan Wonderbra, menolak untuk menyerah.
Generasi tengah:
- Ebun - Ibu dari Eniiyi. Perempuan yang memutuskan untuk tidak jatuh cinta sama sekali—lebih baik tidak mencoba daripada gagal.
Generasi termuda:
- Eniiyi - Gadis yang lahir di hari pemakaman Monife, yang seluruh keluarga percaya adalah reinkarnasi dari sepupu yang mati itu.
Setiap perempuan di rumah ini punya cerita patah hati. Setiap perempuan di rumah ini kembali ke mansion Falodun ketika pria meninggalkan mereka. Karena itulah yang selalu terjadi.
Atau setidaknya, itulah yang mereka percaya.
Bagian 2: Monife—Perempuan yang Memilih Laut
Gadis yang Terlalu Bebas
Monife adalah perempuan yang seharusnya tidak ada di tahun 1990-an Nigeria.
Dia cantik, percaya diri, artistik. Dia melukis. Dia bermimpi. Dia tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentangnya.
Ketika keluarganya pindah kembali ke Nigeria dari Inggris, Monife merasa terkurung—di rumah besar ini, di kota Lagos yang penuh dengan aturan tidak tertulis tentang bagaimana gadis yang baik seharusnya berperilaku.
Tapi Monife bukan gadis yang baik. Dan dia tidak ingin menjadi satu.
Di rumah Falodun, dia menemukan Ebun—sepupu yang pendiam, pemalu, kesepian. Monife mengangkatnya dari kesepian itu. Monife menjadi teman pertamanya, cahaya pertamanya.
Tapi Monife juga punya sisi gelap—momen-momen di mana dia menarik diri, di mana kesedihan menguasainya, di mana tidak ada yang bisa menjangkaunya.
Kalu—Anak Emas yang Terlarang
Lalu Monife bertemu Kalu.
Kalu adalah "Golden Boy"—tampan, pintar, dari keluarga kaya. Jenis pria yang semua orang inginkan untuk anak perempuan mereka.
Dan Monife jatuh cinta. Cinta yang dalam, cinta yang membakar, cinta yang membuat dunia terasa lebih hidup.
Kalu juga jatuh cinta padanya. Mereka berjanji akan bersama selamanya.
Tapi keluarga Kalu tidak setuju. Mereka sudah merencanakan pernikahan Kalu dengan Ada—gadis dari keluarga yang "tepat."
Kalu menikahi Ada. Tapi dia tidak meninggalkan Monife.
Mereka terus berhubungan diam-diam. Monife menjadi "perempuan lain"—posisi yang dia benci, tapi tidak bisa tinggalkan karena dia masih mencintainya.
Kehamilan, Kehilangan, dan Laut
Monife hamil. Dan Ada, istri Kalu, juga hamil.
Tapi Monife kehilangan bayinya.
Dan di tengah kesedihan itu, Kalu memilih—dia memilih Ada. Dia memilih keluarga yang sah. Dia meninggalkan Monife.
Monife hancur. Tidak hanya kehilangan bayi. Tidak hanya kehilangan cinta. Tapi kehilangan harapan bahwa dia bisa mengalahkan kutukan.
Di usia 25 tahun, Monife berjalan ke pantai Elegushi. Dia masuk ke laut. Dan dia tidak pernah keluar.
"Tragedi sudah terjadi," tulis Braithwaite. "Dan ini hanyalah konsekuensi yang tak terhindarkan."
Bagian 3: Eniiyi—Gadis yang Lahir dengan Beban
Kelahiran yang Penuh Misteri
Ebun melahirkan lima bulan lebih cepat—di hari yang sama keluarga memakamkan Monife.
Bayinya sangat kecil. Terlalu kecil untuk seharusnya hidup.
Tapi dia hidup. Dan ketika mereka melihatnya—mata yang lebar dan menurun, bentuk wajah, bahkan ekspresi—tidak ada yang bisa menyangkal: Bayi ini adalah Monife.
Bunmi—ibu dari Monife yang baru kehilangan anak perempuannya—langsung mengambil alih. Dia menamakan bayi itu Motitunde, yang artinya "Aku kembali lagi."
Ebun menamakan putrinya Eniiyioluwa. Tapi semua orang memanggilnya Eniiyi—dan semua orang percaya dia adalah Monife yang kembali.
Tumbuh dengan Hantu
Eniiyi tumbuh dengan beban yang tidak pernah dia minta.
Setiap kali dia melakukan sesuatu—menggambar seperti Monife, tersenyum seperti Monife, memilih warna yang sama seperti Monife dulu pilih—keluarga berbisik: "Lihat? Dia benar-benar Monife."
Kamar Monife dijaga seperti kuil. Foto-fotonya ada di mana-mana. Cerita tentangnya diceritakan berulang kali.
Dan Eniiyi—sejak kecil—bermimpi tentang Monife. Di mimpinya, Monife diam. Tidak bicara. Hanya menatap Eniiyi dengan tatapan yang Eniiyi tidak mengerti.
Tapi satu hari, di mimpi, Monife berbicara melalui mulut Eniiyi: "Tidak lagi."
Apa yang tidak lagi? Eniiyi tidak tahu.
Melarikan Diri dengan Sains
Eniiyi memutuskan untuk melarikan diri—bukan secara fisik (meskipun dia kuliah di London), tapi secara intelektual.
Dia belajar genetika. Dia menjadi konselor genetik—seseorang yang membantu keluarga memahami penyakit turunan, pola genetik, bagaimana trauma bisa meninggalkan jejak epigenetik.
"Kutukan bukan nyata," Eniiyi berkata pada dirinya sendiri. "Ini semua bisa dijelaskan dengan sains."
Tapi di malam-malam gelap, ketika Monife muncul di mimpinya, Eniiyi tidak begitu yakin.
Bagian 4: Zubby—Ketika Sejarah Berulang
Penyelamatan di Pantai
Eniiyi, sekarang dewasa, kembali ke Lagos. Dia berjalan di pantai Elegushi—pantai yang sama di mana Monife mati.
Dia melihat seseorang tenggelam. Tanpa berpikir, dia melompat ke air dan menyelamatkan pria itu.
Pria itu adalah Zubby. Tampan, baik hati, hidup.
Dan Eniiyi jatuh cinta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Eniiyi merasa seperti dirinya sendiri—bukan bayangan Monife, bukan reinkarnasi, hanya Eniiyi.
Rahasia yang Menghancurkan
Tapi ketika Ebun—ibu Eniiyi—bertemu Zubby, wajahnya pucat.
"Tidak," dia berbisik. "Bukan dia. Tidak boleh dia."
Eniiyi tidak mengerti. Sampai dia mengetahui kebenaran:
Zubby adalah anak Kalu.
Kalu—pria yang menghancurkan Monife. Kalu—yang membuat Monife hamil lalu meninggalkannya. Kalu—alasan Monife berjalan ke laut.
Dan sekarang, Eniiyi—yang semua orang percaya adalah Monife yang kembali—jatuh cinta dengan anak dari pria yang membunuh Monife.
Kutukan berulang. Sejarah berputar kembali.
Pilihan: Sains atau Juju?
Eniiyi berdiri di persimpangan.
Dia perempuan yang percaya pada sains. Dia konselor genetik. Dia tahu bahwa kutukan bukan nyata—atau setidaknya, tidak dengan cara yang supranatural.
Tapi dia juga tahu bahwa setiap perempuan Falodun telah kehilangan cinta mereka. Dia tahu bahwa ibunya, neneknya, semua leluhur perempuannya—tidak ada yang bertahan dengan pria yang mereka cintai.
Jadi Eniiyi melakukan sesuatu yang dia bersumpah tidak akan pernah lakukan:
Dia pergi ke Mama G—dukun yang sama yang Bunmi kunjungi setiap minggu.
"Bantulah saya," pintanya. "Bagaimana cara menghentikan kutukan?"
Bagian 5: Benarkah Kutukan Itu Nyata?
Kekuatan dari Kepercayaan
Cursed Daughters tidak pernah memberikan jawaban sederhana tentang apakah kutukan itu nyata atau tidak.
Yang ditunjukkan Braithwaite adalah sesuatu yang lebih kompleks: Kutukan memiliki kekuatan karena perempuan Falodun percaya padanya.
Ketika seorang perempuan percaya dia tidak akan bisa mempertahankan pria, dia bertindak dengan cara yang akhirnya mengusir pria itu:
- Bunmi terlalu putus asa, terlalu mengejar
- Kemi terlalu tidak stabil, melompat dari pria ke pria
- Ebun terlalu dingin, menolak untuk membuka hati
Dan Monife? Dia mencintai terlalu dalam, terlalu total—sampai ketika cinta itu pergi, tidak ada yang tersisa.
Self-Fulfilling Prophecy
Braithwaite mengajukan pertanyaan: Apakah kutukan menciptakan penderitaan—atau apakah kepercayaan pada kutukan yang menciptakan penderitaan?
Ini adalah self-fulfilling prophecy: Ramalan yang terwujud karena kita percaya padanya dan bertindak sesuai dengan kepercayaan itu.
Eniiyi—dengan latar belakang genetika—memahami ini secara intelektual. Dia tahu tentang trauma intergenerasi. Dia tahu tentang epigenetik—bagaimana trauma bisa meninggalkan jejak di DNA yang diturunkan ke generasi berikutnya.
Tapi mengetahui tidak sama dengan merasakan. Dan ketika Eniiyi jatuh cinta dengan Zubby, semua pengetahuan itu terasa tidak cukup.
Bagian 6: Ebun—Ibu yang Berusaha Melindungi
Rahasia yang Disimpan
Salah satu karakter paling kompleks dalam novel ini adalah Ebun—ibu dari Eniiyi.
Ebun adalah perempuan yang memutuskan untuk tidak jatuh cinta. "Jika aku tidak jatuh cinta," pikirnya, "kutukan tidak bisa menyakitiku."
Jadi ketika dia hamil dengan Eniiyi, dia menolak untuk memberitahu siapa ayahnya. Bahkan kepada putrinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Eniiyi berkali-kali sepanjang hidupnya.
Ebun tidak pernah menjawab. Karena menjawab berarti mengakui kebenaran: Bahwa dia pernah mencintai. Dan bahwa cinta itu—seperti semua cinta dalam keluarga Falodun—berakhir.
Cinta yang Mencekik
Ketika Eniiyi jatuh cinta dengan Zubby, Ebun panik.
Bukan hanya karena Zubby adalah anak Kalu. Tapi karena Ebun melihat apa yang dia takutkan sepanjang hidup: Putrinya mengulangi sejarah.
Jadi Ebun melakukan apa yang dia pikir harus dilakukan—dia mencoba menghentikan hubungan itu. Dengan cara apapun.
Tapi cinta yang lahir dari ketakutan—cinta yang berusaha melindungi dengan mengontrol—bisa sama merusaknya dengan kebencian.
Bagian 7: Pelajaran dari Keluarga Falodun
1. Kutukan Paling Kuat Adalah yang Kita Percayai
Entah kutukan Falodun nyata secara supernatural atau tidak, itu kurang penting dari fakta ini: Kutukan memiliki kekuatan karena perempuan percaya padanya.
Ketika kita percaya kita tidak pantas dicintai, kita bertindak dengan cara yang membuat ramalan itu jadi kenyataan.
Pelajaran: Cerita yang kita percayai tentang diri kita—"Aku selalu gagal," "Aku tidak pantas dicintai," "Aku akan berakhir seperti ibu/ayahku"—bisa menjadi kutukan yang kita ciptakan sendiri.
2. Trauma Diturunkan—Tapi Bisa Dipatahkan
Braithwaite menunjukkan bagaimana trauma tidak hanya psikologis—tapi bisa meninggalkan jejak biologis melalui epigenetik.
Perempuan Falodun tidak hanya mewarisi cerita tentang kutukan. Mereka mewarisi ketakutan, pola perilaku, cara mereka berhubungan dengan cinta.
Pelajaran: Kita mungkin mewarisi trauma dari generasi sebelum kita—tapi kita tidak harus mengulanginya. Menyadari pola adalah langkah pertama untuk memutuskannya.
3. Identitas Bukan Takdir
Eniiyi menghabiskan hidupnya dipercaya sebagai reinkarnasi Monife. Semua orang mengatakan: "Kamu adalah dia. Kamu akan menjadi seperti dia."
Tapi Eniiyi bertanya: "Siapa aku jika aku bukan Monife? Siapa aku jika aku bukan kutukan?"
Pelajaran: Orang akan selalu mencoba mendefinisikan siapa Anda—berdasarkan keluarga, sejarah, ekspektasi. Tapi hanya Anda yang bisa memutuskan siapa Anda sebenarnya.
4. Cinta yang Sehat Bukan yang Menyelamatkan—Tapi yang Membebaskan
Semua perempuan Falodun mengejar cinta dengan harapan bahwa cinta akan "menyelamatkan" mereka dari kutukan.
Tapi cinta yang sehat bukan yang menyelamatkan Anda dari masalah Anda—cinta yang sehat adalah yang memberi Anda ruang untuk tumbuh, untuk sembuh, untuk menjadi diri sendiri.
Pelajaran: Jangan cari cinta untuk melarikan diri dari dirimu. Cari cinta yang membuat kamu lebih menjadi dirimu.
5. Keluarga Adalah Sumber Luka—Dan Kesembuhan
Keluarga Falodun menyakiti satu sama lain—dengan rahasia, dengan ekspektasi, dengan kutukan yang mereka percayai.
Tapi mereka juga mencintai satu sama lain dengan cara yang dalam, rumit, manusiawi.
Pelajaran: Keluarga tidak sempurna. Mereka akan melukai kita. Tapi mereka juga bisa menjadi tempat di mana kita belajar mencintai—dengan semua ketidaksempurnaan.
Penutup: Memutus Lingkaran—Atau Tidak?
Oyinkan Braithwaite tidak memberikan ending yang rapi dan sempurna untuk Cursed Daughters.
Dia tidak mengatakan: "Dan Eniiyi memecahkan kutukan dan hidup bahagia selamanya."
Karena hidup tidak seperti itu. Dan kutukan—entah itu nyata atau tidak—tidak bisa dikalahkan hanya dengan satu keputusan heroik.
Yang ditawarkan Braithwaite adalah sesuatu yang lebih kompleks, lebih nyata:
Kemungkinan.
Kemungkinan bahwa Eniiyi bisa membuat pilihan berbeda dari Monife. Kemungkinan bahwa cinta bisa bertahan—jika dia berani tidak hidup dalam bayangan masa lalu. Kemungkinan bahwa kutukan hanya sekuat kita membiarkannya.
Tapi kemungkinan bukan jaminan. Dan itulah yang membuat novel ini begitu kuat.
Pertanyaan untuk Anda
Oyinkan Braithwaite menulis Cursed Daughters untuk membuat kita bertanya:
- Kutukan apa yang Anda percayai tentang diri Anda? "Aku selalu gagal dalam hubungan." "Aku seperti ibu/ayahku." "Aku tidak pantas bahagia."
- Apakah Anda menjalani hidup—atau menjalani cerita yang orang lain ceritakan tentang Anda?
- Siapa yang mendefinisikan siapa Anda? Keluarga? Sejarah? Atau Anda sendiri?
- Jika Anda adalah Eniiyi—jatuh cinta dengan anak dari pria yang menghancurkan keluarga Anda—apakah Anda akan berani mencoba?
Dan yang paling penting:
Apakah kita ditakdirkan mengulangi kesalahan generasi sebelum kita—atau apakah kita bisa memilih jalan yang berbeda?
Perempuan Falodun hidup dalam rumah besar di Lagos—rumah yang penuh dengan hantu masa lalu, dengan foto-foto dari perempuan yang sudah mati, dengan cerita yang diceritakan berulang kali.
Tapi rumah itu juga penuh dengan hidup. Dengan tawa. Dengan cinta—cinta yang rumit, tidak sempurna, tapi nyata.
Dan di tengah semua kutukan, semua trauma, semua sejarah yang menyakitkan—ada harapan.
Bukan harapan yang naif. Bukan harapan yang mengatakan "Semuanya akan baik-baik saja."
Tapi harapan yang berkata: "Kita bisa mencoba. Dan mencoba itu sudah cukup berani."
Tentang Buku Asli
Cursed Daughters diterbitkan pada September 2025 dan langsung menjadi sensasi literatur internasional.
Buku ini terpilih sebagai Read with Jenna Book Club Pick dan masuk daftar Best Books of the Year oleh TIME, NPR, dan USA Today.
Oyinkan Braithwaite adalah penulis Nigeria yang sebelumnya menulis bestseller internasional My Sister, the Serial Killer (2018). Dia lulus dari Creative Writing dan Law dari Kingston University dan tinggal di Lagos, Nigeria.
Braithwaite menulis Cursed Daughters di periode yang sangat berbeda dari novel pertamanya—dia menikah, hamil, merawat ayahnya yang sakit. Dan pengalaman hidup itu membentuk novel ini menjadi lebih dewasa, lebih berlapis, lebih tentang tanggung jawab dan pilihan.
Novel ini dipuji karena:
- Penggabungan realisme magis dengan drama keluarga yang realistis
- Karakter perempuan yang kompleks dan tidak stereotip
- Eksplorasi mendalam tentang budaya Yoruba, kepercayaan, dan modernitas Nigeria
- Struktur non-linear yang melompat antara waktu dan perspektif dengan mulus
- Humor gelap yang muncul bahkan di tengah tragedi
Untuk pengalaman penuh dari suara Braithwaite yang tajam dan lembut sekaligus, detail kehidupan Lagos yang hidup, dan kompleksitas emosional karakter-karakternya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—keajaiban penuh dari storytelling Braithwaite hanya bisa dirasakan dari membaca langsung.