Lincoln in the Bardo
by George Saunders · March 2026 · 13 min read
Malam Ketika Presiden Kembali ke Pemakaman
Table of contents
Malam Ketika Presiden Kembali ke Pemakaman
Bayangkan ini: Malam yang dingin di bulan Februari 1862. Pemakaman Oak Hill, Washington D.C., diselimuti kegelapan. Di antara batu nisan dan makam keluarga yang megah, seorang pria berjalan sendirian.
Dia membuka pintu crypta—ruang penyimpanan jenazah sementara. Dia masuk. Dia membuka peti mati kecil. Dan dia mengangkat tubuh seorang anak laki-laki berusia 11 tahun.
Tubuh anaknya sendiri.
Abraham Lincoln—Presiden Amerika Serikat di tengah perang saudara yang paling berdarah dalam sejarah negara itu—memeluk jasad putranya, Willie, yang baru saja meninggal beberapa hari sebelumnya.
Dia tidak bicara. Tidak menangis dengan suara keras. Dia hanya memeluk. Seperti jika dia memeluk cukup erat, cukup lama, Willie akan kembali.
Saksi mata melaporkan Lincoln kembali ke pemakaman itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Di tengah malam. Sendirian. Untuk memeluk anaknya yang sudah mati.
Apa yang terjadi di malam-malam itu? Apa yang Lincoln rasakan? Apa yang dia pikirkan?
Dan—pertanyaan yang lebih aneh—apa yang Willie rasakan?
"Lincoln in the Bardo" adalah novel yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bukan dengan dokumenter sejarah. Bukan dengan biografi kering. Tapi dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya: melalui suara-suara orang mati yang mendiami pemakaman itu.
Ini adalah novel tentang kematian yang sebenarnya tentang kehidupan. Tentang kehilangan yang sebenarnya tentang cinta. Tentang melepaskan yang sebenarnya tentang menahan.
Bagian 1: Apa Itu Bardo?
Ruang Antara Hidup dan Mati
Dalam Buddhisme Tibet, "bardo" adalah keadaan transisi. Secara harfiah: ruang antara.
Ketika seseorang mati, jiwa mereka tidak langsung pergi ke surga, neraka, atau inkarnasi berikutnya. Mereka melewati bardo—tempat di mana mereka harus menghadapi kehidupan yang baru saja mereka tinggalkan dan membuat keputusan: maju atau menolak.
Dalam novel Saunders, pemakaman Oak Hill adalah bardo.
Tapi ada twist: hantu-hantu di sana tidak menyebut diri mereka "mati."
Mereka menyebut diri mereka "sakit." Mereka tidur di "kotak-sakit" (peti mati). Mereka tinggal di "tempat-sakit" (pemakaman). Mereka yakin suatu hari mereka akan "sembuh" dan kembali ke kehidupan normal.
Ini adalah penolakan kolektif terhadap kematian.
Dan semakin lama mereka menolak, semakin sulit untuk pergi.
Tiga Narator Utama
Novel ini punya ratusan suara, tapi tiga yang paling dominan:
Hans Vollman - Seorang pria yang meninggal tepat sebelum dia bisa bercinta dengan istrinya yang jauh lebih muda. Dia terjebak selamanya dalam keadaan ereksi abadi (ya, Saunders punya humor gelap). Dia yakin jika dia bisa kembali, dia akan menyelesaikan "urusan" itu dengan istrinya.
Roger Bevins III - Seorang pria muda gay yang bunuh diri setelah ditolak kekasihnya. Di detik-detik terakhir hidupnya, dia menyesali keputusannya—dan sekarang terjebak dalam tubuh yang punya banyak mata, banyak tangan, banyak hidung, karena di saat mati dia sangat ingin merasakan dunia lagi.
Reverend Everly Thomas - Seorang pendeta yang ketika mati, mendapat visi tentang tempat yang akan dia tuju setelah kematian. Tapi visi itu bukan surga yang dia khotbahkan—itu adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi dia menolak pergi, terjebak dalam ketakutan.
Ketiga hantu ini telah berada di bardo puluhan tahun. Dan ketika Willie Lincoln tiba, mereka melihat sesuatu yang mengkhawatirkan: anak kecil tidak seharusnya tinggal di bardo.
Anak-anak yang mati biasanya langsung pergi—karena mereka belum punya banyak keterikatan dengan dunia. Tapi Willie tinggal. Mengapa?
Karena ayahnya terus datang. Terus memeluknya. Terus menahannya di dunia ini dengan cinta yang tidak mau melepaskan.
Bagian 2: Malam Kematian Willie
Pesta di Gedung Putih
Ironi yang kejam: Malam ketika Willie berbaring sekarat di lantai atas Gedung Putih, Abraham dan Mary Lincoln mengadakan pesta besar di lantai bawah.
Ini adalah pesta diplomatik yang sudah direncanakan berbulan-bulan. Tidak bisa dibatalkan tanpa menimbulkan skandal politik. Jadi pesta tetap berlangsung—dengan musik, tarian, makanan mewah, dan tawa tamu-tamu—sementara seorang anak laki-laki kecil berjuang untuk hidup di kamar di atas.
Lincoln naik-turun tangga sepanjang malam. Sebentar di pesta, tersenyum paksa. Sebentar di kamar Willie, memegang tangan kecil yang panas karena demam.
Mary Lincoln kemudian menulis dalam suratnya: "Saya tidak pernah merasakan siksaan seperti itu. Mendengar musik sementara anak saya sekarat."
Willie meninggal tiga hari kemudian. Demam tifoid. Umur 11 tahun.
Lincoln yang Hancur
Saksi mata—pelayan, menteri, teman—semua melaporkan hal yang sama: mereka tidak pernah melihat Lincoln begitu hancur.
Pria yang memimpin negara melalui perang saudara yang paling brutal. Pria yang harus membuat keputusan yang mengirim ribuan pria muda untuk mati. Pria yang keras dan tegar—menangis tanpa henti selama berhari-hari.
Dia masuk kamar Willie dan mengunci diri di dalam selama berjam-jam. Dia menolak makan. Dia tidak tidur.
Dan kemudian, setelah pemakaman, dia melakukan sesuatu yang sangat tidak biasa: dia kembali ke pemakaman tengah malam untuk memeluk jasad Willie.
Beberapa sejarawan memperdebatkan apakah ini benar-benar terjadi. Tapi Saunders mengambil cerita ini dan bertanya: Apa yang terjadi jika ini benar? Apa artinya?
Bagian 3: Hantu-Hantu Pemakaman
Kehidupan Setelah Kematian yang Sangat Manusiawi
Salah satu kebrilian Saunders adalah bagaimana dia menggambarkan hantu-hantu bukan sebagai makhluk mistis, tapi sebagai manusia yang masih sangat manusiawi—dengan semua kelemahan, ketakutan, dan keinginan mereka.
Elson Farwell - Seorang pria yang selingkuh dengan banyak wanita selama hidupnya. Di bardo, dia dihantui oleh "lengan-lengan" dari semua pria yang dia khianati—tangan-tangan yang mencoba menariknya ke bawah.
Mrs. Blass - Seorang wanita yang obsesif tentang penampilan. Di bardo, dia terus-menerus melihat refleksi tubuhnya yang membusuk—tapi tetap mencoba "memperbaiki" penampilannya.
Lieutenant Cecil Stone - Seorang tentara muda yang mati dalam pertempuran. Dia terus mengulang detik-detik terakhirnya, percaya bahwa jika dia bisa "melakukannya dengan benar kali ini," dia akan selamat.
Setiap hantu terjebak dalam satu momen, satu penyesalan, satu keinginan yang tidak terpenuhi.
Dan semakin lama mereka tinggal, semakin mereka berubah. Tubuh mereka—atau apa yang mereka anggap sebagai tubuh—mulai bermutasi menjadi manifestasi fisik dari obsesi mereka.
Pesan Saunders jelas: Kita bisa mati secara fisik, tapi tetap terpenjara oleh hal-hal yang kita tidak bisa lepaskan.
Aturan Bardo
Ada aturan di dunia ini:
1. Hantu tidak bisa menyentuh yang hidup—kecuali dalam momen yang sangat jarang.
2. Anak-anak tidak boleh tinggal lama—jika mereka tinggal terlalu lama, sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada mereka.
3. Semakin lama Anda tinggal, semakin sulit untuk pergi—pada akhirnya, Anda akan sepenuhnya terjebak atau dipaksa pergi oleh kekuatan yang lebih besar.
Willie Lincoln melanggar semua aturan ini.
Bagian 4: Ketika Lincoln Datang
Momen yang Mengubah Segalanya
Ketika Lincoln pertama kali datang ke crypta dan membuka peti mati Willie, sesuatu yang luar biasa terjadi:
Hantu-hantu bisa merasakannya.
Biasanya, yang hidup tidak bisa melihat atau merasakan yang mati. Dan yang mati tidak bisa benar-benar menyentuh yang hidup.
Tapi cinta Lincoln begitu intens, kesedihannya begitu mendalam, sehingga menciptakan jembatan antara dua dunia.
Ketika Lincoln memeluk tubuh Willie, Willie—sebagai hantu—bisa merasakan pelukan itu.
Dan bukan hanya Willie. Hantu-hantu lain yang menyentuh Willie pada saat yang sama juga bisa merasakan cinta itu mengalir.
Vollman dan Bevins mencoba masuk ke dalam Lincoln—untuk merasakan apa yang dia rasakan. Dan apa yang mereka alami mengubah mereka selamanya:
Mereka merasakan kesedihan yang tak terbatas. Cinta yang tak terukur. Rasa sakit yang menghancurkan.
Tapi mereka juga merasakan sesuatu yang lain: tanggung jawab luar biasa.
Lincoln tidak hanya berduka untuk anaknya. Dia juga membawa beban ribuan anak lain yang mati dalam perang yang dia pimpin. Setiap surat dari ibu yang kehilangan anak. Setiap laporan dari medan pertempuran. Setiap keputusan yang mengirim pemuda untuk mati.
Willie hanyalah satu anak. Tapi bagi Lincoln, Willie adalah semua anak.
Dilema Hantu-Hantu
Vollman, Bevins, dan Reverend menghadapi pilihan moral:
Mereka bisa membiarkan Willie tinggal—yang berarti Willie akan dekat dengan ayahnya. Tapi semakin lama Willie tinggal, semakin besar bahaya bagi jiwa anak itu.
Atau mereka bisa membantu Willie pergi—yang berarti memisahkan ayah dan anak selamanya.
Cinta sejati kadang berarti melepaskan.
Tapi bagaimana Anda membuat orang yang sudah menderita sangat dalam untuk menderita lebih banyak lagi dengan melepaskan?
Bagian 5: Transformasi Lincoln
Dalam Pikiran Presiden
Salah satu momen paling powerful dalam novel adalah ketika hantu-hantu masuk ke dalam pikiran Lincoln dan melihat dunia melalui matanya.
Mereka melihat kenangan:
- Willie kecil berlari di kebun, tertawa
- Willie membaca buku dengan serius, matanya berkilau dengan kecerdasan
- Willie bertanya pertanyaan-pertanyaan sulit tentang kehidupan dan kematian
- Willie sakit di tempat tidur, memanggil "Papa"
Tapi mereka juga melihat beban yang dia pikul:
- Tumpukan surat dari keluarga yang memohon anak mereka tidak dikirim ke medan perang
- Laporan kematian: 500 mati hari ini, 300 esok hari, 1000 minggu depan
- Peta pertempuran dengan tanda merah—setiap tanda adalah puluhan nyawa
- Wajah-wajah tentara muda yang datang meminta berkah sebelum pergi berperang
Lincoln hidup dalam neraka moral setiap hari.
Setiap keputusan adalah pilihan antara nyawa. Melanjutkan perang berarti lebih banyak kematian. Menghentikan perang berarti negara terpecah dan perbudakan berlanjut.
Tidak ada jawaban yang benar. Hanya jawaban yang kurang salah.
Dan sekarang, di atas semua itu, dia kehilangan anaknya sendiri.
Momen Pelepasan
Pada kunjungan terakhir Lincoln ke crypta, dia berbicara—kepada Willie yang sudah mati, atau mungkin kepada dirinya sendiri:
Dia mengakui rasa sakitnya. Dia mengatakan betapa dia mencintai Willie. Betapa dia ingin Willie kembali.
Tapi kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya:
"Tapi kamu harus pergi sekarang. Papa harus membiarkanmu pergi."
Dia memeluk Willie untuk terakhir kalinya. Dia mencium keningnya. Dan dia berjalan keluar dari crypta.
Tidak kembali lagi.
Willie—yang telah menolak pergi karena dia tahu ayahnya membutuhkannya—akhirnya mendengar apa yang dia butuhkan: izin untuk pergi.
Bagian 6: Pengorbanan Bersama
Hantu-Hantu yang Akhirnya Peduli
Sesuatu yang luar biasa terjadi di pemakaman malam itu.
Ratusan hantu—yang selama ini hanya peduli pada penderitaan mereka sendiri—bersatu untuk membantu Willie.
Mereka yang telah terjebak puluhan tahun dalam penolakan mereka sendiri, tiba-tiba menemukan tujuan yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Beberapa hantu yang telah tinggal sangat lama—begitu lama hingga mereka hampir sepenuhnya berubah menjadi monster—membuat keputusan final: mereka akan menggunakan energi terakhir mereka untuk membantu Willie pergi.
Dalam membantu anak kecil itu melepaskan, mereka akhirnya belajar untuk melepaskan diri mereka sendiri.
Bevins, Vollman, dan Reverend
Ketiga narator utama kita menghadapi kebenaran mereka sendiri:
Bevins menyadari: Dia bunuh diri bukan karena dia tidak dicintai, tapi karena dia tidak bisa menerima cinta yang ditawarkan dengan syarat. Kehidupan selalu datang dengan syarat. Dan itu tidak apa-apa.
Vollman menyadari: Dia terpaku pada satu malam yang tidak pernah terjadi dengan istrinya. Tapi kehidupan yang dia jalani—meskipun tidak sempurna—penuh dengan momen-momen kecil yang indah yang dia abaikan.
Reverend menghadapi ketakutan terbesarnya: tempat yang dia lihat setelah kematian. Dan dia menyadari—mungkin itu bukan hukuman, mungkin itu hanya konsekuensi dari bagaimana dia hidup. Dan mungkin, bahkan sekarang, dia bisa memilih berbeda.
Satu per satu, mereka membuat keputusan: Sudah waktunya untuk pergi.
Bagian 7: Willie Pergi
Cahaya yang Datang
Ketika Willie akhirnya menerima bahwa dia harus pergi, sesuatu yang indah terjadi.
Cahaya datang—tidak menakutkan, tidak menghakimi, tapi hangat. Mengundang.
Dan Willie, dengan keberanian yang hanya dimiliki anak-anak, berjalan ke dalam cahaya itu.
Tapi sebelum dia pergi, dia berbalik dan berkata kepada hantu-hantu yang membantunya:
"Terima kasih. Kalian baik."
Kata-kata sederhana dari anak kecil. Tapi kata-kata yang mengubah segalanya bagi hantu-hantu yang sudah lama lupa bagaimana rasanya melakukan sesuatu yang baik.
Setelah Willie pergi, gelombang transformasi menyapu pemakaman.
Ratusan hantu—yang telah menolak kematian mereka selama puluhan, bahkan ratusan tahun—tiba-tiba melihat cahaya yang sama. Dan satu per satu, mereka membuat pilihan untuk pergi.
Tidak semua. Beberapa masih terlalu takut. Beberapa masih terlalu terikat.
Tapi banyak yang akhirnya bebas.
Bagian 8: Lincoln yang Melanjutkan
Pagi Setelahnya
Lincoln bangun pagi berikutnya. Dia tidak sembuh dari kesedihannya. Rasa sakit kehilangan Willie akan dia bawa selamanya.
Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Dalam minggu-minggu setelah kematian Willie, Lincoln membuat beberapa keputusan paling penting dalam kepresidenannya:
- Dia menandatangani Homestead Act—memberikan tanah gratis kepada pemukim
- Dia mulai merancang Emancipation Proclamation—yang akan membebaskan budak
- Dia mengunjungi rumah sakit perang, berbicara dengan tentara yang terluka satu per satu
Kehilangan Willie tidak menghancurkan Lincoln. Itu mengubahnya menjadi pemimpin yang lebih berempati.
Dia tidak lagi hanya melihat angka kematian dalam laporan. Dia melihat Willie di setiap tentara muda. Dia melihat rasa sakit dirinya sendiri di setiap orang tua yang kehilangan anak.
Dan mungkin, dalam rasa sakit itu, dia menemukan resolusi yang lebih dalam untuk mengakhiri perang—bukan hanya untuk memenangkannya, tapi untuk memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia.
Penutup: Apa yang Kita Pegang, Apa yang Kita Lepaskan
Bardo yang Kita Hidupi
Saunders tidak menulis buku ini hanya tentang Lincoln atau Willie atau hantu-hantu di pemakaman.
Dia menulis tentang kita semua.
Karena kita semua hidup dalam semacam bardo—ruang antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita miliki, antara siapa kita dulu dan siapa kita akan menjadi, antara kehidupan yang kita bayangkan dan kehidupan yang kita jalani.
Dan seperti hantu-hantu di pemakaman Oak Hill, kita sering terjebak karena kita tidak bisa melepaskan.
Kita memegang:
- Penyesalan tentang masa lalu
- Kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita
- Kehidupan yang "seharusnya" kita jalani
- Versi diri kita yang "lebih baik" yang tidak pernah terwujud
- Orang-orang yang sudah pergi tapi kita belum bisa lepaskan
Dan dalam pegangan itu, kita lupa untuk hidup.
Pelajaran dari Lincoln
Lincoln mengajarkan kita sesuatu yang profound: Cinta sejati bukan tentang memegang. Cinta sejati adalah tentang membiarkan yang kita cintai menjadi apa yang mereka harus menjadi—bahkan jika itu berarti melepaskan mereka.
Dia melepaskan Willie bukan karena dia tidak cinta. Tapi karena dia sangat cinta, dia tidak bisa memenjarakan jiwa anaknya dengan kesedihannya sendiri.
Pelajaran dari Willie
Willie mengajarkan kita tentang keberanian. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah berjalan ke dalam ketidakpastian meskipun takut—karena Anda tahu itu yang harus Anda lakukan.
Willie tidak tahu apa yang ada di seberang cahaya itu. Tapi dia tetap pergi. Karena tinggal—meskipun familiar—bukan hidup.
Pelajaran dari Hantu-Hantu
Hantu-hantu mengajarkan kita tentang bahaya penolakan. Semakin lama kita menolak realitas yang menyakitkan, semakin kita berubah menjadi versi terdistorsi dari diri kita sendiri.
Tapi mereka juga mengajarkan tentang redemption: Tidak pernah terlambat untuk peduli. Tidak pernah terlambat untuk berbuat baik. Tidak pernah terlambat untuk melepaskan.
Pertanyaan untuk Anda
George Saunders menulis novel ini bukan untuk memberikan jawaban, tapi untuk mengajukan pertanyaan:
Apa yang Anda pegang yang sebenarnya memenjarakan Anda?
Mungkin itu:
- Kesedihan yang sudah menjadi identitas Anda
- Kemarahan yang terasa "benar"
- Masa lalu yang lebih aman daripada masa depan yang tidak pasti
- Hubungan yang sudah mati tapi Anda belum mau mengubur
- Versi diri Anda yang tidak pernah nyata
Dan pertanyaan yang lebih sulit: Apa yang akan terjadi jika Anda melepaskannya?
Mungkin Anda takut bahwa tanpa rasa sakit itu, tanpa kemarahan itu, tanpa penyesalan itu—Anda tidak tahu siapa Anda.
Tapi seperti yang diajarkan Lincoln, Willie, dan semua hantu di pemakaman Oak Hill:
Melepaskan bukan berarti melupakan. Melepaskan berarti membebaskan—baik yang kita lepaskan maupun diri kita sendiri.
Tentang Buku Asli
"Lincoln in the Bardo" diterbitkan pada 2017 dan memenangkan Man Booker Prize—salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di dunia.
George Saunders adalah profesor creative writing di Syracuse University dan dianggap sebagai salah satu penulis cerita pendek terbaik di Amerika. Ini adalah novel panjang pertamanya, dan dia menghabiskan lebih dari empat tahun meneliti dan menulis.
Format novel ini sangat unik—ditulis seperti naskah drama dengan 166 suara berbeda. Campuran antara kutipan historis (beberapa nyata, beberapa fiktif yang ditulis Saunders untuk terdengar nyata) dan narasi hantu-hantu.
Buku ini juga telah diadaptasi menjadi audiobook yang luar biasa dengan 166 narator berbeda, termasuk aktor-aktor terkenal seperti Nick Offerman, David Sedaris, Lena Dunham, dan Ben Stiller.
Untuk pengalaman lengkap dari eksperimen sastra yang brilian ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Struktur uniknya, humor gelapnya, dan kedalaman emosinya tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Ini bukan buku yang mudah. Tapi ini buku yang akan mengubah cara Anda berpikir tentang kehilangan, cinta, dan apa artinya melepaskan.
Sekarang pergilah dan periksa bardo Anda sendiri. Apa yang Anda pegang? Dan lebih penting lagi:
Apakah Anda siap untuk melepaskannya?
Seperti Willie yang berani berjalan ke dalam cahaya, mungkin sudah waktunya untuk Anda juga melangkah maju—ke dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan bardo yang Anda ciptakan sendiri.
Karena pada akhirnya, kita semua harus memilih: memegang atau melepaskan, terjebak atau bebas, bardo atau kehidupan.
Apa pilihan Anda?