The Diary of a CEO
by Steven Bartlett · December 2025 · 14 min read
Pria yang Berkeringat di Jalan
Table of contents
Pria yang Berkeringat di Jalan
Bayangkan Anda melihat seorang pria jogging di jalan, berkeringat, terlihat biasa saja. Lalu ia berhenti dan mulai berbicara dengan mata berbinar tentang rencana-rencana gilanya: membangun koloni di Mars, menciptakan mobil listrik terbaik di dunia, menghubungkan otak manusia dengan komputer, dan menggali terowongan di bawah Los Angeles untuk mengatasi kemacetan.
Reaksi Anda mungkin: "Orang ini gila."
Tapi jika saya katakan pria itu adalah Elon Musk, tiba-tiba semua rencana gila itu terdengar bisa dipercaya. Bahkan brilliant. Orang akan memberikan miliaran dolar untuk mendukungnya. Mereka akan berhenti dari pekerjaan untuk bergabung dengannya. Mereka akan pre-order produknya sebelum produk itu bahkan ada.
Apa bedanya? Lima ember yang penuh.
Ini adalah insight pertama dari Steven Bartlett—entrepreneur Inggris-Nigeria yang dropout kuliah, membangun Social Chain menjadi perusahaan bernilai ratusan juta dolar sebelum usia 27 tahun, dan sekarang menjadi host podcast bisnis #1 di Eropa dengan lebih dari 1 miliar streaming.
"The Diary of a CEO" bukan buku strategi bisnis biasa. Ini bukan tentang taktik marketing atau financial planning. Ini tentang hukum fundamental yang mendasari semua kesuksesan—prinsip-prinsip yang tidak pernah berubah, tidak peduli teknologi apa yang datang atau industri apa yang disrupt.
Steven telah mewawancarai lebih dari 450 orang paling sukses di dunia—dari Simon Sinek hingga Jordan Peterson, dari atlet olimpiade hingga CEO Fortune 500. Dan ia menemukan pola yang sama berulang. Pola itu ia destilasi menjadi 33 hukum yang dibagi dalam 4 pilar.
Ini bukan diary tentang apa yang ia lakukan setiap hari. Ini adalah diary tentang apa yang ia pelajari—dan bagaimana Anda bisa mengaplikasikannya untuk membangun sesuatu yang besar, baik itu perusahaan, karir, atau kehidupan Anda.
Pilar I: The Self (Diri Anda)
Hukum 1: Isi Lima Ember Anda dalam Urutan yang Benar
Semua orang punya lima ember yang menentukan potensi mereka:
1. Pengetahuan (Knowledge)
2. Keterampilan (Skills)
3. Jaringan (Network)
4. Sumber daya (Resources)
5. Reputasi (Reputation)
Masalahnya, kebanyakan orang mengisi dalam urutan yang salah.
Mereka langsung mencoba membangun network tanpa punya keahlian yang berharga. Mereka mencari funding tanpa punya skill yang layak diinvestasikan. Mereka mengejar reputasi sebelum punya pengetahuan yang solid.
Inilah urutan yang benar:
Pertama, pengetahuan. Anda pergi ke sekolah, membaca buku, belajar dari mentor. Ini adalah fondasi.
Kedua, keterampilan. Anda mempraktikkan pengetahuan itu. Berulang-ulang. Sampai Anda benar-benar mahir.
Ketiga, jaringan. Sekarang Anda punya value untuk ditawarkan. Orang mau terhubung dengan Anda karena Anda bisa berkontribusi, bukan hanya mengambil.
Keempat, sumber daya. Dengan pengetahuan, keahlian, dan network yang kuat, sumber daya (uang, alat, kesempatan) akan mengalir ke Anda.
Kelima, reputasi. Ini adalah mahkota—bukti dari semua yang telah Anda bangun.
Orang yang gagal? Mereka mencoba melompati ember. Mereka ingin reputasi tanpa keterampilan. Mereka ingin resources tanpa network.
Shortcut tidak ada. Isi ember Anda satu per satu, dalam urutan yang benar.
Hukum 7: Jangan Pernah Kompromi dengan Cerita Diri Anda
Cara Anda berbicara kepada diri sendiri menentukan siapa Anda menjadi.
Jika Anda terus mengatakan, "Aku tidak cukup pintar," "Aku tidak pantas," "Aku selalu gagal"—otak Anda akan membuktikan cerita itu benar. Ini disebut self-fulfilling prophecy.
Steven menulis: "The story you tell yourself about yourself becomes the truth about yourself."
Jika Anda ingin berubah, mulailah dengan mengubah narasi internal Anda. Bukan dengan afirmasi palsu, tetapi dengan cara Anda menginterpretasi pengalaman.
Gagal ujian? Alih-alih "Aku bodoh," katakan "Aku perlu strategi belajar yang lebih baik." Ditolak investor? Alih-alih "Ide ku buruk," katakan "Aku belum menemukan investor yang tepat."
Cara Anda membingkai kegagalan menentukan apakah kegagalan itu menghancurkan atau memberdayakan Anda.
Hukum 8: Jangan Pernah Melawan Kebiasaan Buruk
Ini counter-intuitive. Bukankah kita harus melawan kebiasaan buruk?
Tidak. Melawan menciptakan resistensi. Dan resistensi memperkuat kebiasaan.
Steven mengajarkan pendekatan berbeda: alih-alih melawan kebiasaan buruk, bangun kebiasaan baik yang secara natural menggantikannya.
Jika Anda makan junk food saat stress, jangan paksa diri untuk "berhenti makan junk food." Itu akan gagal.
Sebagai gantinya, bangun habit baru: ketika stress, pergi jalan kaki 10 menit. Atau telepon teman. Atau tulis journal.
Kebiasaan baru yang positif akan perlahan menggantikan yang lama. Tanpa perlawanan. Tanpa willpower yang menguras.
Fokus bukan pada apa yang ingin Anda hentikan, tetapi pada apa yang ingin Anda mulai.
Pilar II: The Story (Cerita Anda)
Hukum 10: Keabsurdan yang Tidak Berguna Akan Mendefinisikan Anda Lebih dari Kepraktisan yang Berguna
Ini adalah salah satu insight paling powerful tentang marketing dan personal branding.
Orang tidak mengingat yang berguna. Mereka mengingat yang tidak biasa.
Ambil contoh: Tesla bisa memasarkan mobil mereka sebagai "mobil listrik yang efisien dengan performa tinggi." Praktis. Berguna. Tapi membosankan.
Alih-alih, Elon Musk meluncurkan mobil Tesla ke luar angkasa dengan Starman di kursi pengemudi, sambil memutar "Space Oddity" karya David Bowie.
Absurd? Sepenuhnya. Berguna? Sama sekali tidak. Memorable? Sangat.
Red Bull tidak menjual energy drink berdasarkan rasa (yang sebenarnya sengaja dibuat tidak enak agar terasa seperti obat yang powerful). Mereka menjual extreme sports, penjun dari stratosfer, dan gaya hidup petualangan.
Pelajarannya: Jika Anda ingin diingat, jangan hanya berguna. Jadilah remarkable—layak untuk dikomentari.
Hukum 11: Hindari Wallpaper dengan Segala Cara
Wallpaper adalah istilah Steven untuk sesuatu yang kita lihat begitu sering sehingga kita tidak melihatnya lagi.
Otak manusia punya filter habituasi—kita secara otomatis tune out hal-hal yang berulang. Ini adalah mekanisme survival. Jika otak memproses setiap stimulus, kita akan overwhelmed.
Di dunia marketing, ini fatal. Iklan yang terlihat seperti iklan lainnya menjadi invisible.
Contoh: Hampir semua startup tech mengatakan "Kami menggunakan AI untuk..." atau "Kami revolutionize cara..."
Semua terdengar sama. Semuanya menjadi wallpaper.
Jika Anda ingin didengar, berbicara dengan cara yang tidak berulang, tidak tersaring, tidak konvensional.
Gunakan bahasa yang tidak tersaturasi. Ceritakan story dari sudut yang tidak terduga. Lakukan sesuatu yang membuat orang berhenti scroll.
Hukum 12: Anda Harus Membuat Orang Marah
Ini adalah hukum paling controversial dalam buku ini.
Steven berpendapat: Lebih baik dibenci oleh 80% dan dicintai oleh 20%, daripada dianggap biasa saja oleh 100%.
Mengapa? Karena indifference adalah musuh terbesar dalam marketing. Orang yang tidak peduli tidak akan membeli, tidak akan share, tidak akan memberitahu teman mereka.
Tapi orang yang mencintai brand Anda? Mereka adalah advocates fanatik. Dan bahkan orang yang membenci Anda? Mereka menciptakan awareness. Mereka membuat orang lain curious.
Lihat merek-merek yang paling sukses: Apple, Tesla, Nike. Mereka semua polarizing. Ada orang yang worship mereka dan ada yang benci. Tapi tidak ada yang acuh.
Jangan takut membuat sebagian orang marah. Takutlah membuat semua orang merasa nothing.
Pilar III: The Philosophy (Filosofi Anda)
Hukum 21: Anda Harus Out-Fail Kompetitor Anda
Ini adalah mindset shift yang radikal.
Kebanyakan perusahaan mencoba menghindari kegagalan. Mereka bermain aman. Mereka melakukan extensive research sebelum meluncurkan produk. Mereka paralyzed by perfectionism.
Steven mengajarkan sebaliknya: Kegagalan adalah data. Semakin banyak Anda gagal, semakin banyak Anda belajar, semakin cepat Anda iterate menuju solusi yang benar.
Amazon dan Booking.com memiliki budaya "out-failing the competition." Mereka meluncurkan fitur baru terus-menerus. Banyak yang gagal. Tapi yang berhasil? Mereka scale dengan cepat.
Jeff Bezos berkata bahwa jika Anda tahu sebuah keputusan akan berhasil, itu bukan eksperimen—itu eksekusi. Dan eksekusi saja tidak cukup untuk menjadi leader.
Pertanyaannya bukan "Bagaimana saya bisa menghindari kegagalan?" Pertanyaannya adalah "Seberapa cepat saya bisa gagal, belajar, dan mencoba lagi?"
Hukum 22: Anda Harus Menjadi Pemikir Plan-A
Kebanyakan orang memulai venture dengan Plan B di saku belakang mereka. "Jika ini tidak berhasil, aku bisa selalu kembali ke pekerjaan lama ku."
Masalahnya: Plan B adalah sabotase psikologis terhadap Plan A.
Ketika Anda punya exit strategy, Anda tidak fully committed. Pada saat pertama kesulitan (dan selalu ada kesulitan), otak Anda berbisik, "Kamu bisa keluar sekarang. Tidak apa-apa."
Steven menulis: "The presence of a Plan B reduces your commitment to Plan A by giving your brain an escape route when things get hard."
Orang-orang yang berhasil besar? Mereka bakar jembatan di belakang mereka. Mereka tidak punya pilihan selain sukses.
Ini bukan tentang sembrono. Ini tentang psychological commitment. Ketika Plan A adalah satu-satunya opsi, Anda menemukan cara untuk membuatnya bekerja.
Hukum 27: Equation Disiplin: Kematian, Waktu, dan Disiplin
Semua orang ingin lebih disiplin. Tapi disiplin bukan tentang willpower.
Steven memberikan formula:
Disiplin = (Nilai Goal + Reward dari Proses) - Biaya dari Proses
Mari kita bedah:
Nilai Goal: Seberapa penting goal ini untuk Anda? Semakin Anda menghargainya, semakin mudah disiplin.
Reward dari Proses: Apakah perjalanannya enjoyable? Jika Anda nikmati prosesnya, disiplin terjadi secara natural.
Biaya dari Proses: Seberapa menyakitkan atau sulit prosesnya? Semakin tinggi frictionnya, semakin sulit disiplin.
Untuk meningkatkan disiplin:
1. Perbesar nilai goal: Visualisasikan dengan jelas. Buat tangible. Hubungkan dengan purpose.
2. Tingkatkan reward: Gamify prosesnya. Temukan komunitas. Buat fun.
3. Kurangi biaya: Hapus friction. Gym terlalu jauh? Pindah ke gym 5 menit dari rumah. Menulis terasa berat? Mulai dengan 5 menit saja.
Disiplin bukan tentang memaksa diri. Disiplin adalah hasil dari engineering the right conditions.
Pilar IV: The Team (Tim Anda)
Hukum 28: Tanya "Siapa," Bukan "Bagaimana"
Ketika Anda menghadapi tantangan besar, pertanyaan pertama kebanyakan orang adalah: "Bagaimana saya melakukan ini?"
Itu pertanyaan yang salah.
Pertanyaan yang benar: "Siapa yang bisa melakukan ini?"
Steven menulis: "Your job as a leader is not to know how to do everything. Your job is to know who can do everything."
Elon Musk tidak tahu cara membuat roket. Tapi ia tahu siapa yang tahu—dan ia merekrut mereka.
Steve Jobs tidak coding. Tapi ia tahu siapa yang bisa—dan ia membangun tim engineers terbaik di dunia.
Genius bukan dalam melakukan semuanya sendiri. Genius dalam assembling the right people.
Ini juga membebaskan Anda dari bottleneck. Alih-alih Anda menjadi kendala karena harus belajar skill baru, Anda leverage orang yang sudah punya skill itu.
Hukum 29: Ciptakan Mentalitas Kultus
Ini terdengar ekstrem. Tapi Steven berpendapat: Startup terbaik, terutama di awal, harus terasa seperti kultus (dalam arti positif).
Apa yang ia maksud:
- Shared purpose yang intens: Semua orang percaya pada misi dengan passion yang sama.
- Identitas kolektif yang kuat: "Kami adalah orang-orang yang [percaya X]."
- Commitment yang melampaui transaksional: Ini bukan hanya pekerjaan. Ini gerakan.
Lihat Apple di hari-hari awal. Karyawan tidak hanya bekerja untuk gaji. Mereka percaya mereka mengubah dunia. Mereka identitas tied up dengan misi.
Lihat SpaceX. Karyawan bekerja 80 jam seminggu, tidak dibayar sebanyak di perusahaan lain. Mengapa? Karena mereka percaya mereka membuat manusia menjadi species multi-planetary.
Warning: Ini hanya berfungsi jika leadership benar-benar genuine tentang misi. Jika itu hanya manipulation tactic, orang akan pergi.
Hukum 30: Tiga Bar untuk Membangun Tim yang Hebat
Steven punya framework sederhana untuk evaluasi setiap anggota tim:
Tanyakan: "Jika semua orang di tim memiliki values, attitude, dan talent yang sama dengan orang ini, apakah standar akan naik, tetap, atau turun?"
Bar Raisers (Pengangkat Standar): Orang-orang ini membuat semua orang di sekitar mereka lebih baik. Promote mereka. Berikan lebih banyak responsibility. Jadikan mereka role model.
Bar Maintainers (Pemelihara Standar): Orang-orang yang solid. Mereka melakukan pekerjaan dengan baik tetapi tidak push boundaries. Train mereka. Develop mereka. Bantu mereka menjadi bar raisers.
Bar Lowerers (Penurun Standar): Orang-orang ini—entah melalui attitude buruk, performance lemah, atau values yang misaligned—membuat tim lebih buruk. Fire mereka. Cepat.
Banyak leader takut firing orang. Tapi mempertahankan bar lowerer mengirim pesan ke seluruh tim: "Standar kita tidak penting."
Budaya perusahaan ditentukan oleh worst behavior yang Anda toleransi.
Hukum 31: Leverage Kekuatan Progress
Orang tidak termotivasi oleh perfection. Mereka termotivasi oleh progress.
Ini adalah teori marginal gains: perbaikan kecil 1% setiap hari compound menjadi hasil yang luar biasa.
Tapi yang lebih penting, progress yang visible memberikan sense of momentum. "Kita bergerak ke arah yang benar."
Sebagai leader, pekerjaan Anda adalah menciptakan sistem di mana progress terlihat dan dirayakan:
- Daily wins, tidak peduli seberapa kecil
- Metrics yang menunjukkan improvement
- Milestones yang achievable dan frequent
Ketika orang merasa mereka making progress, mereka stay motivated. Ketika mereka merasa stuck, mereka burn out.
Buat progress visible. Rayakan momentum. Compound over time.
Pelajaran Paling Penting: Keterampilan Anda Tidak Bernilai
Ini adalah truth bomb yang Steven berikan: Keterampilan Anda sendiri tidak bernilai. Yang bernilai adalah konteks di mana Anda aplikasikan keterampilan itu.
Contoh:
Seorang surgeon di Amerika Serikat bisa menghasilkan ratusan ribu dolar per tahun. Surgeon yang sama dengan skill yang sama di negara berkembang mungkin hanya menghasilkan sepersepuluhnya.
Apakah skillnya berbeda? Tidak. Konteksnya berbeda.
Seorang sales expert yang menjual produk high-ticket B2B bisa menghasilkan jutaan. Expert yang sama menjual produk murah B2C mungkin struggle. Skill sama. Konteks berbeda.
Pelajarannya:
Jangan hanya fokus develop skill. Fokus pada menempatkan skill Anda di konteks yang tepat—di mana nilai yang Anda ciptakan dihargai paling tinggi.
Seringkali lebih mudah transfer skill dari satu konteks ke konteks yang lebih valuable daripada belajar skill completely baru.
Tanyakan pada diri sendiri: "Di mana skill yang saya punya paling valuable?"
Kesimpulan: Bangun Sistem, Bukan Hanya Kerja Keras
Setelah 33 hukum ini, apa yang menjadi meta-pelajaran?
Steven Bartlett mengajarkan: Sukses bukan tentang bekerja lebih keras dari orang lain. Sukses tentang membangun sistem yang lebih baik.
Empat Pilar ini—Self, Story, Philosophy, Team—adalah sistem operasi untuk kesuksesan.
Pilar I (The Self) memastikan Anda punya fondasi solid. Anda menguasai diri sendiri sebelum mencoba menguasai dunia.
Pilar II (The Story) memberikan Anda alat untuk influence dan inspire. Di dunia yang noisy, story adalah superpowermu.
Pilar III (The Philosophy) memberikan Anda framework untuk membuat keputusan. Principles yang jelas membuat Anda konsisten dan resilient.
Pilar IV (The Team) mengajarkan bahwa no one builds great things alone. Assembling and empowering the right people adalah keterampilan paling penting dari leader manapun.
Ini bukan quick fixes. Ini adalah prinsip fundamental yang akan bekerja 10 tahun dari sekarang seperti mereka bekerja hari ini.
Teknologi akan berubah. Platform akan datang dan pergi. Taktik akan expire.
Tapi hukum-hukum ini—tentang psikologi manusia, tentang bagaimana orang belajar dan tumbuh, tentang bagaimana tim berfungsi, tentang bagaimana influence bekerja—akan tetap timeless.
Pertanyaan untuk Anda
Sebelum Anda menutup buku (atau ringkasan) ini, luangkan waktu untuk refleksi:
1. Dari lima ember, mana yang paling perlu Anda isi sekarang? Apakah Anda mencoba membangun network sebelum punya skill yang solid? Apakah Anda mengejar reputasi tanpa resources yang mendukung?
2. Apa cerita yang Anda katakan pada diri sendiri tentang diri Anda? Apakah cerita itu empowering atau limiting?
3. Apakah Anda pemikir Plan-A? Atau Anda masih punya exit strategy yang secretly sabotaging commitment Anda?
4. Seberapa cepat Anda failing? Apakah Anda playing it safe dan missing opportunities untuk belajar?
5. Siapa yang perlu ada di tim Anda? Alih-alih bertanya "How do I do this?", tanya "Who can do this?"
6. Apakah Anda bar raiser, maintainer, atau lowerer dalam tim Anda sekarang?
Steven Bartlett menutup bukunya dengan reminder: "You are not your circumstances. You are the decisions you make in your circumstances."
Anda mungkin tidak memilih di mana Anda lahir, keluarga apa yang Anda punya, atau challenges apa yang Anda hadapi.
Tapi Anda memilih bagaimana Anda respond. Anda memilih cerita yang Anda percayai. Anda memilih principles yang Anda ikuti. Anda memilih orang yang Anda surround yourself with.
33 hukum ini adalah pilihan-pilihan yang Anda bisa mulai buat hari ini.
Tentang Buku dan Penulis
The Diary of a CEO: The 33 Laws of Business and Life ditulis oleh Steven Bartlett dan diterbitkan pada 2023.
Steven Bartlett lahir di Botswana pada 1992 dan dibesarkan di Plymouth, Inggris. Ia dropout dari Manchester Metropolitan University di usia 18 tahun untuk mengejar entrepreneurship.
Ia co-founded Social Chain, agensi marketing yang tumbuh pesat dan menjadi perusahaan publik yang beroperasi secara internasional. Di pertengahan 20-an, ia sudah meninggalkan kontrol operasional untuk mengejar berbagai venture lain.
Sebagai host dari podcast "The Diary of a CEO," Steven telah mewawancarai ratusan thought leaders, entrepreneurs, atlet, dan creatives—termasuk Simon Sinek, Mo Gawdat, Dr. Julie Smith, dan banyak lagi. Podcast-nya menjadi salah satu yang paling diunduh di Eropa dengan lebih dari 1 miliar streams.
Pada 2022, Steven menjadi Dragon termuda di BBC's Dragons' Den pada saat debut-nya.
Buku ini adalah synthesis dari semua pembelajaran Steven—dari perjalanan entrepreneurship-nya sendiri, dari ratusan percakapan dengan orang-orang paling sukses di dunia, dan dari behavioral science dan psychology research.
Untuk pemahaman yang lebih mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya atau mendengarkan podcast-nya. Steven menulis dengan vulnerability dan honesty yang langka di dunia business books.
Buku ini bukan untuk dibaca sekali. Ini untuk dijadikan referensi—kembali ke hukum-hukum tertentu ketika Anda menghadapi challenges spesifik dalam perjalanan Anda.
Sekarang, pilih satu hukum untuk diaplikasikan hari ini. Satu decision. Satu action.
Karena seperti yang Steven katakan: "We don't have to be smarter than the rest. We have to be more disciplined than the rest."