Skip to main content

The Great Gatsby

by F. Scott Fitzgerald · February 2026 · 14 min read

Lampu Hijau di Seberang Teluk

Table of contents

Lampu Hijau di Seberang Teluk 

Bayangkan ini: Seorang pria kaya berdiri sendirian di tepi dermaga pribadinya, menatap melintasi teluk gelap. Di kejauhan, ada lampu hijau kecil—hampir tidak terlihat, namun dia menatapnya setiap malam dengan kerinduan yang memilukan. 

Rumahnya di belakang berpesta setiap Sabtu malam. Ratusan orang datang tanpa undangan. Champagne mengalir seperti air. Orkestra jazz bermain sampai subuh. Tawa, tarian, kemewahan yang tak terbayangkan. 

Tapi pemilik rumah itu tidak pernah berpesta. Dia hanya berdiri di sana, sendirian, merentangkan tangan ke arah lampu hijau yang jauh—lampu di dermaga rumah wanita yang dicintainya, wanita yang sudah menikah dengan pria lain. 

Namanya Jay Gatsby. Dan ini adalah kisah tentang bagaimana mimpi bisa menjadi obsesi, bagaimana cinta bisa menjadi ilusi, dan bagaimana kekayaan tidak pernah cukup untuk membeli kebahagiaan. 

Selamat datang di musim panas 1922. Selamat datang di era Jazz. Selamat datang di dunia tempat segala sesuatu berkilau di permukaan—tapi busuk di dalamnya. 

Mari kita mulai dari awal.


Bagian 1: Nick Carraway—Saksi yang Tidak Memihak

Pindah ke West Egg 

Musim semi 1922. Nick Carraway, lelaki muda dari Midwest, pindah ke Long Island untuk belajar bisnis obligasi. Dia menyewa rumah kecil di West Egg—daerah untuk orang kaya baru (new money)—tepat di sebelah mansion megah milik seorang pria misterius bernama Jay Gatsby. 

Di seberang teluk ada East Egg—tempat tinggal orang kaya turun-temurun (old money). Di sana tinggal sepupu Nick, Daisy Buchanan, bersama suaminya Tom Buchanan—mantan atlet polo yang kaya raya, arogan, dan selingkuh. 

Nick adalah narator kita. Dia mengklaim dirinya "tidak suka menghakimi orang"—tapi sepanjang cerita, kita akan melihat bahwa dia menghakimi semuanya. Dan mungkin itu yang membuatnya narator yang sempurna: dia cukup dekat untuk melihat semuanya, tapi cukup jauh untuk menceritakannya dengan jujur. 

Makan Malam di Rumah Buchanan 

Malam pertama Nick di Long Island, dia makan malam di rumah mewah Daisy dan Tom. 

Di sana dia bertemu Jordan Baker—pegolf profesional cantik yang curang (dia pernah ketahuan menggerakkan bola golf dalam turnamen). Jordan sinis, bosan, dan tertarik pada Nick karena dia "berbeda." 

Selama makan malam, telepon berdering. Tom mengangkat. Wajahnya berubah. Daisy tahu siapa yang menelepon—selingkuhan suaminya. 

Inilah gambaran pernikahan mereka: Tom punya selingkuhan. Daisy tahu. Semua orang tahu. Tapi tidak ada yang bicara tentangnya karena itulah yang dilakukan orang kaya—mereka menyembunyikan kekacauan di balik senyum sempurna dan rumah megah. 

Malam itu, Nick pulang dan melihat tetangganya—Gatsby—berdiri sendirian di dermaga, merentangkan tangan ke arah lampu hijau di seberang teluk. 

Nick tidak tahu siapa pria itu. Belum. 

Tapi dia akan segera tahu.


Bagian 2: Lembah Abu—Tempat Mimpi Mati

Dunia yang Terlupakan 

Di antara Long Island dan New York City ada tempat yang disebut Lembah Abu—tanah tandus penuh abu industri, pabrik yang suram, orang-orang yang terlupakan. 

Di atas Lembah Abu ada billboard besar: mata Dr. T.J. Eckleburg—sepasang mata biru raksasa dengan kacamata kuning, menatap segalanya tapi tidak melihat apa-apa. 

Mata itu adalah simbol Tuhan yang sudah mati. Tuhan yang dahulu mengawasi, tapi sekarang hanya billboard iklan yang pudar. 

Selingkuhan Tom 

Tom membawa Nick ke Lembah Abu untuk bertemu selingkuhannya: Myrtle Wilson—istri dari George Wilson, pemilik bengkel mobil yang miskin dan naif. 

Myrtle adalah wanita yang ingin sekali menjadi kaya. Dia benci suaminya yang miskin. Dia mencintai Tom—atau lebih tepatnya, mencintai kekayaan dan status yang Tom wakili. 

Tom menyewa apartemen rahasia di Manhattan untuk affair mereka. Suatu sore, dia, Nick, dan Myrtle mengadakan pesta kecil di sana. 

Myrtle mabuk dan mulai berteriak nama Daisy berulang kali—istri Tom yang tidak boleh dia sebut. 

Tom memecahkan hidungnya dengan satu pukulan. 

Inilah kenyataan di balik kilau: kekerasan, penipuan, dan ketidakpedulian total terhadap orang-orang yang lebih lemah.


Bagian 3: Pesta Gatsby—Kemewahan Tanpa Tujuan

Undangan Emas 

Setiap Sabtu malam, mansion Gatsby mengadakan pesta legendaris. Ratusan orang datang—kebanyakan tanpa undangan, bahkan tanpa mengenal Gatsby. Mereka datang untuk champagne gratis, musik, dan kesempatan menjadi bagian dari sesuatu yang glamor. 

Suatu hari, Nick mendapat undangan resmi—hal yang langka. Dia pergi, penasaran siapa sebenarnya tuan rumah misterius ini. 

Pria yang Tidak Ada di Pesta Sendiri 

Pesta itu luar biasa. Orkestra. Tarian. Makanan mewah. Orang-orang mabuk berteriak. Tapi tidak ada yang tahu di mana Gatsby. 

Rumor bertebaran: 

  • "Dia membunuh seseorang."
  • "Dia mata-mata Jerman di perang."
  • "Dia keponakan Kaiser Wilhelm."

Nick bertemu seorang pria ramah dengan senyum langka yang luar biasa. Mereka ngobrol tentang perang (keduanya veteran). Pria itu ternyata... Jay Gatsby sendiri. 

Nick terkejut. Gatsby sangat biasa—tidak seperti pria kaya yang arogan. Dia sopan, sedikit canggung, selalu memanggil orang "old sport." 

Tapi ada sesuatu yang off tentang dia. Ceritanya tentang masa lalu tidak konsisten. Senyumnya tampak dipraktikkan. Dia seperti aktor yang sangat baik memainkan peran "pria kaya." 

Dan kemudian Nick menyadari: Gatsby tidak mengadakan pesta untuk bersenang-senang. Dia mengadakan pesta dengan harapan seseorang akan datang. 

Seseorang bernama Daisy.


Bagian 4: Kisah Jay Gatsby—Dari Miskin Menjadi Kaya (Dengan Cara Gelap) 

Lunch di New York 

Gatsby mengajak Nick lunch di New York. Dalam perjalanan, dia menceritakan kisah hidupnya: 

"Saya dari keluarga kaya di Midwest. Oxford graduate. Mewarisi kekayaan besar. Mengumpulkan permata di Eropa. Dekorasi perang dari setiap negara Sekutu." 

Tapi semuanya terdengar... palsu. Seperti kisah yang dihafal dari buku. 

Di restoran, mereka bertemu Meyer Wolfsheim—gangster yang dengan bangga menceritakan bahwa dia yang memanipulasi World Series 1919 (skandal baseball terbesar). Gatsby tampaknya "partner bisnis" dengan orang ini. 

Nick mulai mengerti: Kekayaan Gatsby tidak sah. Dia bootlegger (penyelundup alkohol ilegal di era Prohibition). 

Permintaan Aneh 

Jordan Baker—teman Nick—kemudian mengungkapkan kebenaran: 

Lima tahun lalu, Gatsby adalah tentara muda miskin yang jatuh cinta pada Daisy. Daisy mencintainya juga. Tapi dia miskin, dan Daisy butuh kehidupan yang mewah. 

Gatsby pergi perang. Daisy menunggu... tapi tidak lama. Dia menikah dengan Tom Buchanan—pria kaya, stabil, dari keluarga terpandang. 

Gatsby hancur. Tapi alih-alih menyerah, dia membuat rencana gila: 

Dia akan menjadi kaya—sangat kaya—dan memenangkan Daisy kembali. 

Semua yang dia lakukan sejak saat itu adalah untuk satu tujuan: mendapatkan Daisy kembali. Dia membeli mansion di West Egg—tepat di seberang teluk dari rumah Daisy. Lampu hijau di dermaga Daisy adalah hal terakhir yang dia lihat setiap malam. 

Pesta-pesta raksasa? Semua untuk Daisy. Dia berharap suatu hari dia akan datang ke salah satu pesta, dan mereka akan bertemu lagi. 

Tapi Daisy tidak pernah datang. 

Jadi Gatsby punya rencana baru: dia meminta Nick—sepupu Daisy—untuk mengatur pertemuan.


Bagian 5: Pertemuan Kembali—Lima Tahun Terlambat

Tea di Rumah Nick 

Nick setuju. Dia mengundang Daisy untuk tea, tanpa memberitahu bahwa Gatsby akan ada di sana. 

Hari itu, Gatsby gugup seperti remaja. Dia mengirim orang memotong rumput Nick. Mengirim bunga sampai rumah kecil Nick terlihat seperti taman. 

Ketika Daisy tiba, Gatsby hampir lari. Tapi mereka bertemu. 

Awalnya canggung. Lalu Gatsby membawa Daisy (dan Nick) ke mansion-nya untuk "tour." 

Dan inilah yang menyakitkan: Gatsby menunjukkan semuanya. Kamar-kamarnya. Perpustakaannya (dengan buku-buku yang belum pernah dibuka). Koleksi kemejanya. 

Dia melempar kemeja-kemeja sutra dari London—biru, hijau, lavender—sementara Daisy menangis. 

"Mereka sangat indah," tangis Daisy. "Aku belum pernah melihat kemeja-kemeja seindah ini." 

Tapi dia tidak menangis untuk kemeja. Dia menangis karena kehidupan yang dia pilih tidak ambil lima tahun lalu. Dia menangis untuk versi dirinya yang bisa mencintai Gatsby, sebelum dia memilih uang dan keamanan. 

Nick meninggalkan mereka berdua. Dan untuk sesaat, Gatsby mendapatkan apa yang dia inginkan: Daisy, di rumahnya, mencintainya kembali. 

Atau begitulah dia pikir.


Bagian 6: Masa Lalu yang Tidak Bisa Diulang

Kebenaran Tentang James Gatz 

Nick mulai menggali lebih dalam. Dia menemukan kebenaran: 

Jay Gatsby tidak pernah ada. Nama aslinya James Gatz—anak petani miskin dari North Dakota. 

Pada usia 17 tahun, dia bertemu Dan Cody—jutawan yang mengambilnya sebagai asisten. Cody mengajarkan Gatz tentang dunia orang kaya. Dan pada saat itulah James Gatz "mati" dan Jay Gatsby "lahir." 

Gatsby menciptakan identitas baru. Masa lalu baru. Dia menjadi orang yang dia yakini Daisy akan cintai. 

Tapi inilah masalahnya: Daisy jatuh cinta pada tentara muda miskin James Gatz—bukan jutawan kriminal Jay Gatsby. 

"Kau Tidak Bisa Mengulangi Masa Lalu" 

Suatu malam, setelah salah satu pesta Gatsby, Nick dan Gatsby berbicara di dermaga.

"Kau tidak bisa mengulangi masa lalu," kata Nick. 

Gatsby terlihat terkejut. 

"Tidak bisa mengulangi masa lalu?" katanya dengan tidak percaya. "Tentu saja kau bisa!" 

Dan di sinilah tragedi Gatsby terletak: dia tidak ingin masa depan dengan Daisy. Dia ingin masa lalu dengan Daisy—lima tahun lalu, sebelum Tom, sebelum pernikahan, ketika semuanya sempurna. 

Dia ingin menghapus lima tahun itu seolah tidak pernah terjadi. 

Tapi waktu tidak bekerja seperti itu.


Bagian 7: Hari Terpanas—Ketika Semuanya Runtuh

Konfrontasi di Plaza Hotel 

Suatu hari paling panas di musim panas, Gatsby, Daisy, Tom, Nick, dan Jordan pergi ke New York City. 

Ketegangan memuncak. Tom menyadari ada sesuatu antara Daisy dan Gatsby. Dia merasa terancam—bukan karena cinta (dia tidak mencintai Daisy), tapi karena kepemilikan

Di suite hotel Plaza, dengan panas yang menyesakkan, konfrontasi meledak.

Gatsby menuntut Daisy memberitahu Tom bahwa dia tidak pernah mencintainya. 

"Katakan padanya kebenaran," desak Gatsby. "Bahwa kau tidak pernah mencintainya. Bahwa kau selalu mencintai aku." 

Daisy terguncang. "Aku mencintaimu sekarang. Bukankah itu cukup?" 

"TIDAK!" Gatsby hampir berteriak. Dia perlu lebih. Dia perlu menghapus lima tahun pernikahan Daisy. Dia perlu waktu kembali. 

Tom menyerang balik. Dia mengungkap bisnis gelap Gatsby—bootlegging, koneksi gangster, uang kotor. 

Dan di sinilah Daisy runtuh. 

Dia melihat Gatsby dengan jelas untuk pertama kali: Bukan pahlawan romantis dari masa lalunya. Bukan tentara muda yang polos. Tapi kriminal yang putus asa mencoba membeli cintanya. 

"Aku mencintaimu," bisik Daisy pada Gatsby. "Tapi aku juga mencintai Tom. Aku tidak bisa berkata bahwa aku tidak pernah mencintainya." 

Gatsby hancur. Seluruh dunianya—yang dia bangun selama lima tahun—runtuh dalam satu kalimat. 

Perjalanan Pulang yang Fatal 

Dalam perjalanan pulang, Daisy mengemudi mobil Gatsby (mobil kuning mencolok). 

Mereka melewati Lembah Abu. Myrtle Wilson—selingkuhan Tom—melihat mobil kuning (dia pikir itu mobil Tom). Dia berlari ke jalan, ingin berbicara dengan Tom. 

Daisy—panik, stres, tidak fokus—tidak berhenti.

Mobil menabrak Myrtle. Membunuhnya seketika. 

Daisy terus mengemudi. Gatsby tidak menghentikannya. 

Ketika mereka tiba di rumah Buchanan, Gatsby menunggu di luar—untuk "melindungi" Daisy kalau-kalau Tom menyakitinya. 

Nick menemukan dia di sana, masih menunggu, masih berharap Daisy akan keluar dan memilihnya. 

Tapi Daisy tidak keluar. Dia di dalam dengan Tom, merencanakan bagaimana menyelamatkan diri mereka sendiri.


Bagian 8: Kematian Mimpi 

Pagi Terakhir 

Keesokan paginya, Nick menemui Gatsby. Dia belum tidur. Masih berharap Daisy akan menelepon. 

Gatsby menceritakan bagaimana dia pertama kali jatuh cinta pada Daisy—seorang gadis dari dunia yang tidak pernah dia bayangkan bisa jangkau. Dan bagaimana mencintainya mengubahnya menjadi "Jay Gatsby." 

"Dia tampak seperti... seperti orang yang baik untuk dicintai," kata Gatsby.

Nick harus pergi bekerja. Sebelum pergi, dia berteriak pada Gatsby dari kejauhan:

"Mereka sekelompok bajingan. Kau lebih baik dari mereka semua."

Gatsby tersenyum—senyum langka, indah, penuh harapan yang dia miliki.

Itu adalah terakhir kalinya Nick melihatnya hidup. 

Peluru dari Lembah Abu 

George Wilson—suami Myrtle—hancur oleh kematian istrinya. Seseorang memberitahunya (implisit: Tom) bahwa mobil kuning adalah milik Gatsby. 

George pikir Gatsby yang membunuh istrinya DAN berselingkuh dengannya. 

Dia berjalan ke mansion Gatsby. Menemukan Gatsby di kolam renang—pertama kalinya dia menggunakan kolam itu sepanjang musim panas. 

George menembak Gatsby. Lalu menembak dirinya sendiri. 

Jay Gatsby mati menunggu telepon dari Daisy yang tidak pernah datang.


Bagian 9: Pemakaman yang Kosong 

Tidak Ada yang Datang 

Nick mengatur pemakaman. Dia menelepon semua orang yang datang ke pesta-pesta Gatsby—ratusan orang yang minum champagne-nya, menari di rumahnya, tertawa dan bersenang-senang atas kebaikannya. 

Tidak ada yang datang. 

Mereka semua punya alasan: "Saya di luar kota." "Saya tidak bisa membebaskan diri." "Saya tidak benar-benar mengenalnya." 

Daisy dan Tom? Mereka meninggalkan kota. Tidak ada pesan. Tidak ada bunga. Tidak ada pengakuan bahwa Gatsby pernah ada. 

Hanya tiga orang datang ke pemakaman: Nick, ayah Gatsby (pria tua yang masih bangga pada anaknya), dan "Owl Eyes"—pria yang Nick temui di perpustakaan Gatsby dulu, terkejut bahwa bukunya nyata. 

"Orang malang itu," kata Owl Eyes di atas kuburan. 

Nick Meninggalkan East 

Nick muak dengan semua ini. Muak dengan orang-orang kaya yang ceroboh—yang menghancurkan orang lain lalu mundur ke uang dan privilege mereka. 

Sebelum pergi, dia bertemu Tom satu kali terakhir. Tom membenarkan dirinya sendiri—dia memberitahu George tentang Gatsby karena "Gatsby membunuh Myrtle." 

Nick menyadari: Tom tidak tahu Daisy yang mengemudi. Atau dia tahu tapi tidak peduli. Either way, dia membiarkan Gatsby mati untuk melindungi Daisy dan dirinya sendiri. 

Nick kembali ke Midwest. Dia tidak bisa tinggal di East lagi—tempat di mana orang seperti Tom dan Daisy bisa menghancurkan kehidupan tanpa konsekuensi.


Penutup: Lampu Hijau dan American Dream yang Rusak

Malam Terakhir di West Egg 

Malam terakhir sebelum Nick pergi, dia berjalan ke pantai di depan rumah Gatsby. 

Dia berdiri di tempat yang sama di mana Gatsby berdiri—menatap lampu hijau di seberang teluk. 

Dan Nick mengerti: Lampu hijau bukan tentang Daisy. Lampu hijau adalah tentang mimpi. 

Mimpi bahwa masa lalu bisa diulang. Mimpi bahwa dengan cukup uang, kau bisa membeli kebahagiaan. Mimpi bahwa kau bisa menjadi siapa pun yang kau inginkan di Amerika. 

"Gatsby percaya pada lampu hijau," tulis Nick, "pada masa depan orgastik yang tahun demi tahun mundur di depan kita. Itu lolos dari kita saat itu, tapi tidak apa—besok kita akan berlari lebih cepat, merentangkan tangan lebih jauh..." 

"Dan suatu pagi indah—Jadi kita terus mendayung, perahu melawan arus, terbawa kembali tanpa henti ke masa lalu." 

Ini adalah American Dream: kepercayaan bahwa siapa pun bisa menjadi apa pun. Bahwa dengan kerja keras, kau bisa mencapai segalanya. 

Tapi Fitzgerald menunjukkan sisi gelapnya: mimpi itu dibangun di atas ilusi, korupsi, dan ketidakmungkinan mengulangi masa lalu. 

Gatsby mencoba membeli cinta dengan uang kotor. Dia mencoba mengubah dirinya menjadi orang lain. Dia percaya dia bisa menghapus waktu. 

Dan karena itu, dia mati sendirian di kolam renang, menunggu telepon yang tidak pernah datang.


Pelajaran yang Tersembunyi 

1. Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan—Apalagi Cinta 

Gatsby punya segalanya: mansion, mobil, kemeja sutra, pesta mewah. Tapi dia mati kesepian, tidak dicintai, dan ditinggalkan. 

Tom dan Daisy punya kekayaan turun-temurun. Tapi pernikahan mereka kosong, penuh penipuan dan kekerasan. 

Pelajaran: Kekayaan material bisa membeli kenyamanan, tapi tidak bisa membeli hal-hal yang paling penting—cinta sejati, persahabatan sejati, makna sejati. 

2. Masa Lalu Tidak Bisa Diubah 

Gatsby menghabiskan lima tahun mencoba kembali ke momen sempurna dengan Daisy. Dia tidak mau masa depan; dia mau masa lalu. 

Tapi waktu hanya bergerak satu arah. 

Pelajaran: Kita tidak bisa menghidupkan kembali momen yang hilang. Kita hanya bisa membuat momen baru. Obsesi terhadap masa lalu menghancurkan masa depan. 

3. Identitas Palsu Akan Selalu Runtuh 

Gatsby menciptakan "Jay Gatsby" dari ketiadaan. Tapi dia tidak pernah benar-benar menjadi orang itu—dia selalu James Gatz yang berpura-pura. 

Pelajaran: Kamu tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri. Identitas yang dibangun di atas kebohongan akan selalu rapuh. 

4. Orang Kaya yang Ceroboh 

Tom dan Daisy adalah "orang yang ceroboh"—mereka menghancurkan barang dan manusia, lalu mundur ke uang mereka dan ketidakpedulian mereka. 

Mereka membiarkan Gatsby mati untuk kesalahan mereka. Tidak ada konsekuensi untuk mereka. 

Pelajaran: Privilege melindungi orang dari konsekuensi tindakan mereka. Tapi itu tidak membuat mereka lebih baik—hanya lebih berbahaya. 

5. American Dream yang Korup 

Gatsby adalah simbol American Dream: anak miskin yang menjadi kaya melalui determinasi.

Tapi bagaimana dia menjadi kaya? Kejahatan. Korupsi. Asosiasi dengan gangster. 

Pelajaran: American Dream sering dibangun di atas tanah yang tidak stabil. Sukses dengan cara apa pun tidak selalu mulia.


Pertanyaan untuk Anda 

F. Scott Fitzgerald menulis novel ini di tahun 1925—hampir 100 tahun lalu. Tapi pertanyaannya masih relevan: 

Apa lampu hijau Anda? 

  • Apa yang Anda kejar dengan putus asa, meskipun mungkin itu ilusi?
  • Apakah Anda mencoba mengulang masa lalu alih-alih membangun masa depan?
  • Apakah Anda menjadi orang yang berbeda untuk disukai orang lain?
  • Apakah Anda mengukur nilai Anda berdasarkan kekayaan atau status?

Gatsby menghabiskan hidupnya merentangkan tangan ke arah lampu yang tidak pernah bisa dia capai. 

Jangan seperti Gatsby. 

Temukan sesuatu yang nyata untuk dicintai. Sesuatu yang tidak perlu kau beli. Seseorang yang mencintai dirimu yang sebenarnya, bukan versi palsu yang kau ciptakan. 

Karena pada akhirnya, kita semua "perahu melawan arus." 

Pertanyaannya adalah: apakah kita akan terus terbawa kembali ke masa lalu, atau berani bergerak maju?


Tentang Buku Asli 

"The Great Gatsby" diterbitkan pada 10 April 1925 oleh Charles Scribner's Sons. Fitzgerald hanya berusia 28 tahun saat menulisnya. 

Ironisnya, buku ini gagal secara komersial saat pertama kali terbit. Fitzgerald meninggal tahun 1940 percaya dia gagal sebagai penulis. Tapi setelah Perang Dunia II, buku ini ditemukan kembali, diajarkan di sekolah-sekolah, dan sekarang dianggap sebagai salah satu novel Amerika terbesar sepanjang masa. 

Buku ini adalah snapshot era Jazz—periode di Amerika (1920-an) ketika ekonomi booming, orang kaya hidup dengan boros, dan Prohibition menciptakan gangster dan speakeasies. 

Tapi di balik kemewahan, ada kekosongan. Dan Fitzgerald menangkap itu dengan sempurna. 

Novel ini singkat—hanya sekitar 180 halaman—tapi setiap kalimat penuh makna. Simbolisme, ironi, dan prosa yang indah membuat buku ini layak dibaca berkali-kali. 

Ringkasan ini memberikan esensi cerita, tapi untuk benar-benar merasakan keindahan tulisan Fitzgerald, Anda harus membaca bukunya sendiri. 

Sekarang pergilah dan bacalah. Bukan untuk sekolah. Bukan untuk ujian. Tapi untuk memahami apa yang terjadi ketika mimpi menjadi obsesi, ketika cinta menjadi ilusi, dan ketika kekayaan tidak cukup untuk membeli kebahagiaan. 

Seperti yang Fitzgerald tulis: 

"Jadi kita terus mendayung, perahu melawan arus, terbawa kembali tanpa henti ke masa lalu."

Jangan seperti Gatsby. Mendayunglah ke depan.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: A Good Scent From A Strange Mountain
Back to top

Similar books