Skip to main content

Media Control

by Noam Chomsky · December 2025 · 12 min read

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Tahun 1991. Amerika Serikat baru saja memenangkan Perang Teluk melawan Irak. 

Dukungan publik Amerika mencapai 90% untuk perang ini. Mayoritas warga percaya Saddam Hussein adalah ancaman langsung terhadap keamanan Amerika. Mereka percaya perang ini adalah "operasi kemanusiaan" untuk membebaskan Kuwait. 

Lalu Noam Chomsky, profesor linguistik MIT yang juga aktivis dan pemikir politik, mengajukan pertanyaan sederhana: 

"Bagaimana mungkin 90% warga Amerika mendukung perang terhadap negara yang tidak pernah menyerang mereka, yang berjarak ribuan kilometer, dan yang sebenarnya tidak mengancam keamanan mereka?" 

Jawabannya bukan karena orang Amerika bodoh. Bukan karena mereka jahat.

Jawabannya adalah: mereka dibuat untuk percaya. 

Melalui kampanye propaganda paling canggih dalam sejarah modern—yang melibatkan perusahaan PR, media massa, dan pemerintah—opini publik tidak terbentuk secara alami. Opini publik diproduksi

Inilah yang Chomsky ungkap dalam "Media Control": Di negara demokratis seperti Amerika Serikat, di mana pemerintah tidak bisa memaksa warga dengan kekerasan, mereka menggunakan sesuatu yang lebih halus tapi lebih efektif: kontrol terhadap informasi dan pikiran

Buku ini bukan tentang teori konspirasi. Ini tentang bagaimana sistem bekerja—secara terbuka, legal, dan sangat efektif—untuk membuat Anda berpikir bahwa yang Anda pikirkan adalah hasil pemikiran Anda sendiri. 

Padahal tidak.


Bagian 1: Demokrasi Penonton—Anda Hanya Boleh Menonton 

Dua Kelas dalam Demokrasi 

Pada awal abad ke-20, setelah Perang Dunia I, para pemikir politik Amerika menghadapi masalah: bagaimana mengelola demokrasi di mana semua orang punya hak suara? 

Jawabannya datang dari Walter Lippmann—salah satu jurnalis dan pemikir politik paling berpengaruh di Amerika. Dalam bukunya "Public Opinion" (1922), dia membagi masyarakat demokratis menjadi dua kelas: 

Kelas 1: Kelas Khusus (Specialized Class) Sekelompok kecil orang—politisi, CEO, jurnalis senior, akademisi elit—yang membuat keputusan. Mereka adalah "orang-orang yang bertanggung jawab." Mereka menganalisis, merencanakan, menjalankan sistem. 

Kelas 2: Kawanan yang Bingung (The Bewildered Herd) Sisanya. 90% populasi. Anda dan saya. Massa yang dianggap terlalu bodoh, terlalu emosional, dan terlalu sibuk untuk memahami masalah kompleks. 

Tugas massa? Menjadi penonton

Mereka boleh memilih setiap beberapa tahun—memberikan persetujuan mereka kepada satu dari beberapa kandidat yang sudah dipilihkan untuk mereka. Tapi di luar itu? Diam. Bekerja. Konsumsi. Jangan ikut campur dalam urusan negara. 

Lippmann menyebut ini "spectator democracy"—demokrasi penonton. 

Tapi ada masalah: bagaimana membuat kawanan yang bingung ini tetap tertib dan mendukung keputusan kelas khusus? Bagaimana membuat mereka tidak memberontak? Bagaimana membuat mereka berpikir bahwa sistem ini adil? 

Jawabannya: propaganda

Kesuksesan Pertama: Menjual Perang Dunia I 

Tahun 1916. Presiden Woodrow Wilson baru terpilih dengan slogan "Peace Without Victory." Rakyat Amerika tidak ingin terlibat dalam Perang Dunia I yang sedang mengamuk di Eropa. 

Tapi pemerintah Wilson ingin masuk perang—untuk melindungi kepentingan ekonomi dan politik Amerika. 

Masalahnya: bagaimana mengubah populasi yang sangat anti-perang menjadi histeria pro-perang dalam hitungan bulan?

Wilson membentuk Komite Informasi Publik—yang sebenarnya adalah Komite Propaganda—dipimpin oleh jurnalis George Creel. 

Dalam enam bulan, melalui kampanye propaganda masif yang melibatkan poster, film, surat kabar, dan pembicara publik yang disebut "Four Minute Men," mereka berhasil mengubah Amerika menjadi bangsa yang terobsesi perang. 

Jerman digambarkan sebagai monster yang membunuh bayi. Propaganda menciptakan gambar Hun yang kejam, barbar, mengancam peradaban. 

Dan rakyat Amerika menelannya mentah-mentah. Mereka yang menentang perang dibungkam—kadang dengan kekerasan. Histeria begitu kuat sehingga orang dengan nama Jerman mengubah nama mereka. Sauerkraut diganti namanya menjadi "liberty cabbage." 

Setelah perang, anggota Komite Creel dengan bangga menulis tentang kesuksesan mereka. Mereka tidak menyebutnya manipulasi. Mereka menyebutnya "pencerahan publik." 

Dan pelajaran dipelajari: Dalam demokrasi, Anda tidak bisa memaksa rakyat. Tapi Anda bisa membuat mereka ingin apa yang Anda inginkan.


Dari Propaganda Politik ke Propaganda Komersial 

Kesuksesan propaganda Perang Dunia I tidak luput dari perhatian dunia bisnis. 

Edward Bernays—keponakan Sigmund Freud dan salah satu tokoh di Komite Creel—menyadari sesuatu: teknik yang berhasil menjual perang bisa digunakan untuk menjual produk. 

Dia menjadi bapak industri PR modern. Dan dia jelas tentang apa yang dia lakukan. Dalam bukunya "Propaganda" (1928), Bernays menulis tanpa malu-malu: 

"Manipulasi sadar dan cerdas terhadap kebiasaan dan opini massa adalah elemen penting dalam masyarakat demokratis. Mereka yang memanipulasi mekanisme tersembunyi masyarakat ini membentuk kekuatan tak terlihat yang mengendalikan nasib kita." 

Perhatikan bahasanya: ini bukan kritik. Ini adalah deskripsi pekerjaan

Bernays menciptakan kampanye yang mengubah sejarah. Contoh paling terkenal: pada 1920-an, wanita merokok dianggap tabu. American Tobacco Company mempekerjakan Bernays untuk mengubah ini. 

Bernays mengorganisir pawai wanita di Fifth Avenue, New York. Mereka menyalakan rokok di depan fotografer sambil menyebutnya "torches of freedom"—obor kebebasan. Rokok tidak lagi sekadar rokok. Rokok adalah simbol emansipasi wanita. 

Penjualan rokok kepada wanita meledak. 

Apa yang Bernays lakukan? Dia tidak menjual rokok. Dia menjual identitas, citra, perasaan. Dan itu jauh lebih powerful daripada menjual produk. 

Model Propaganda: Lima Filter 

Chomsky, bersama rekannya Edward Herman, mengembangkan "Propaganda Model" untuk menjelaskan bagaimana media massa berfungsi. 

Mereka mengidentifikasi lima "filter" yang menentukan berita apa yang sampai ke publik dan bagaimana berita itu dibingkai: 

Filter 1: Kepemilikan Media 

Sebagian besar media dimiliki oleh konglomerat besar. Di Amerika, enam perusahaan mengendalikan 90% media.

Perusahaan-perusahaan ini punya kepentingan ekonomi dan politik. Mereka tidak akan memproduksi konten yang mengancam kepentingan mereka sendiri. 

Filter 2: Sumber Pendapatan—Iklan 

Media tidak menjual berita kepada Anda. Media menjual Anda kepada pengiklan. 

Program TV gratis bukan karena baik hati. Gratis karena Anda adalah produknya. Perhatian Anda dijual ke perusahaan yang ingin Anda beli produk mereka. 

Ini berarti media harus menciptakan konten yang membuat pengiklan senang. Konten yang mempertanyakan konsumerisme? Tidak akan laku. 

Filter 3: Sumber Informasi 

Media bergantung pada sumber resmi—pemerintah, perusahaan, ahli yang "kredibel"—untuk berita mereka. 

Mengapa? Karena lebih murah dan lebih aman. Jurnalisme investigatif mahal dan berisiko. Jauh lebih mudah melaporkan apa yang dikatakan juru bicara pemerintah. 

Tapi ini berarti media menjadi corong untuk agenda resmi, bukan pengawas kekuasaan.

Filter 4: Flak—Tekanan dan Ancaman 

Ketika media memproduksi konten yang tidak disukai kekuasaan, mereka menerima "flak"—kritik, tuntutan hukum, kampanye untuk menarik iklan. 

Organisasi dan think tank yang didanai perusahaan besar atau pemerintah akan menghasilkan "studi" yang menyanggah laporan kritis. Jurnalis yang terlalu kritis akan diberi label "bias" atau "tidak patriotik." 

Seiring waktu, media belajar: lebih aman tidak mengkritik terlalu keras. 

Filter 5: Ideologi—Anti-Komunisme (sekarang: Terorisme) 

Selama Perang Dingin, cara termudah untuk mendiskreditkan seseorang atau ide adalah melabelinya "komunis." 

Sekarang, labelnya berubah: "teroris," "ekstrimis," "anti-Amerika." 

Filter ini memastikan bahwa alternatif sistemik tidak pernah dibahas secara serius. Kritik terhadap kapitalisme? Itu ide komunis. Kritik terhadap kebijakan luar negeri? Anda mendukung teroris. 

Hasilnya: Berita yang Terlihat Bebas

Inilah yang brilian tentang sistem ini: tidak ada konspirasi yang diperlukan

Tidak ada pertemuan rahasia di ruangan berasap di mana CEO media dan politisi merencanakan apa yang akan diberitakan. 

Sistem bekerja sendiri melalui filter-filter ini. Jurnalis percaya mereka bebas. Dan dalam banyak hal, mereka memang bebas—bebas untuk menulis apapun yang lolos kelima filter tersebut. 

Tapi apapun yang tidak lolos? Tidak akan pernah dilihat publik.


Bagian 3: Studi Kasus—Bagaimana Propaganda Bekerja

Perang Teluk 1991: Menjual Perang Modern 

Kembali ke pertanyaan pembuka: bagaimana 90% Amerika mendukung Perang Teluk? 

Jawaban: melalui salah satu kampanye PR paling canggih dalam sejarah, yang dilakukan oleh perusahaan Hill & Knowlton—dibayar jutaan dolar oleh pemerintah Kuwait (dengan bantuan CIA). 

Langkah 1: Ciptakan Musuh 

Saddam Hussein digambarkan sebagai "Hitler baru." Setiap artikel, setiap pidato, setiap berita membandingkannya dengan Hitler. 

Apakah perbandingan ini akurat? Tidak penting. Yang penting adalah menciptakan ketakutan dan kebencian. 

Langkah 2: Ciptakan Atrocity—Kekejaman 

Gadis Kuwait bernama Nayirah bersaksi di Kongres AS dengan air mata, mengatakan dia melihat tentara Irak mengeluarkan bayi dari inkubator di rumah sakit dan membiarkan mereka mati di lantai. 

Kisah ini diulang berulang kali di media. Bush Senior mengutipnya berkali-kali. 

Masalahnya: Nayirah bukan perawat biasa. Dia putri Duta Besar Kuwait untuk AS. Dan kesaksiannya—diatur oleh Hill & Knowlton—tidak pernah diverifikasi dan kemudian terbukti palsu. 

Tapi pada saat kebenaran terungkap, perang sudah dimulai dan selesai.

Langkah 3: Kontrol Informasi 

Jurnalis tidak diizinkan melaporkan secara bebas. Mereka "embedded" dengan militer—artinya mereka hanya bisa melihat apa yang militer perbolehkan. 

Kamera menunjukkan "bom pintar" yang menghancurkan target militer dengan presisi. Yang tidak ditunjukkan: puluhan ribu warga sipil Irak yang mati. 

Media menyebut pemboman sebagai "surgical strikes"—operasi bedah. Bahasa yang steril, tidak emosional, yang menyembunyikan kenyataan kematian massal. 

Panama, Grenada, Vietnam: Pola yang Sama 

Chomsky menunjukkan bahwa pola ini berulang dalam setiap intervensi militer Amerika:

1. Ciptakan ancaman (nyata atau tidak) 

2. Humanisasi "kita," dehumanisasi "mereka" 

3. Kontrol narasi melalui media 

4. Bingkai kritik sebagai "tidak patriotik" 

5. Setelah perang selesai, lupakan 

Dan setiap kali, publik percaya. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena informasi yang mereka terima sudah difilter sedemikian rupa sehingga kesimpulan yang "logis" adalah mendukung perang.


Bagian 4: Teknik Manipulasi—Cara Propaganda Bekerja

1. Pengalihan Perhatian 

Media membuat orang fokus pada hal-hal yang tidak penting: skandal selebriti, kriminal, olahraga. 

Sementara publik sibuk membahas skandal perceraian artis, undang-undang yang menguntungkan perusahaan besar disahkan tanpa perhatian. 

2. Ciptakan Masalah, Tawarkan Solusi 

Pemerintah ingin mengeluarkan kebijakan yang tidak populer? Pertama, ciptakan krisis yang membuat kebijakan itu terlihat perlu. 

Ingin meningkatkan kontrol keamanan? Tingkatkan liputan tentang terorisme sampai orang takut dan menuntut "perlindungan." 

Sekarang kebijakan yang dulunya tidak bisa diterima—pengawasan massal, hilangnya privasi—diterima dengan tangan terbuka. 

3. Bertahap (Gradualitas) 

Perubahan drastis akan ditolak. Tapi perubahan bertahap? Orang tidak menyadari. 

Hari ini, hak pribadi sedikit dikurangi "demi keamanan." Tahun depan, sedikit lagi. Sepuluh tahun kemudian, kita hidup di negara surveillance tanpa menyadari bagaimana kita sampai di sini. 

4. Berbicara kepada Publik Seperti Anak-Anak 

Iklan dan kampanye politik menggunakan bahasa emosional, sederhana, penuh dengan gambar—bukan argumen rasional. 

Mengapa? Karena lebih mudah memanipulasi emosi daripada akal. 

"Saddam adalah Hitler." "Mereka membenci kebebasan kita." Tidak ada argumen kompleks. Hanya label emosional yang memicu respons intuitif. 

5. Membuat Orang Menyalahkan Diri Sendiri 

Jika Anda miskin, itu karena Anda malas. Jika Anda tidak bahagia, itu karena Anda tidak membeli produk yang tepat. Jika Anda tidak sukses, itu kegagalan pribadi Anda. 

Sistem tidak pernah salah. Individu yang selalu salah.

Ini mencegahkritikstruktural. Orangterlalusibukmenyalahkandiri sendiri untuk mempertanyakansistem.


Bagian 5: Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Kesadaran adalah Langkah Pertama 

Chomsky tidak memberikan solusi mudah. Tapi dia memberikan hal yang lebih penting: kesadaran

Begitu Anda melihat bagaimana sistem bekerja, Anda tidak bisa "tidak melihat" lagi. Filter-filter itu menjadi terlihat. Teknik manipulasi menjadi jelas. 

Dan kesadaran itu sendiri adalah bentuk resistensi. 

Media Alternatif dan Kritis 

Chomsky menekankan pentingnya mencari sumber informasi di luar media mainstream: 

  • Media independen
  • Jurnalisme investigatif
  • Organisasi non-profit yang tidak bergantung pada iklan korporat
  • Buku, dokumenter, dan analisis mendalam

Ini bukan tentang mengganti satu propaganda dengan propaganda lain. Tapi tentang mendapat perspektif yang lebih luas. 

Berpartisipasi, Bukan Hanya Menonton 

Lawan dari spectator democracy adalah participatory democracy—demokrasi partisipatif. Ini berarti: 

  • Terlibat dalam gerakan sosial
  • Mengorganisir komunitas lokal
  • Berbicara ketika melihat ketidakadilan
  • Tidak hanya memilih setiap beberapa tahun, tapi aktif setiap hari

Berpikir Kritis 

Setiap kali Anda membaca berita, tanyakan: 

  • Siapa yang menulis ini?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi ini?
  • Perspektif apa yang tidak ditunjukkan?
  • Sumber apa yang dikutip—dan siapa yang tidak dikutip?
  • Bahasa apa yang digunakan untuk membingkai cerita ini?

Skeptisisme sehat bukan berarti tidak percaya pada apapun. Tapi berarti tidak menerima apapun tanpa pertanyaan.


Penutup: Kebebasan Sejati Dimulai dari Pikiran

Chomsky menutup dengan observasi yang mengerikan tapi membebaskan: 

"Cara termudah untuk mengendalikan orang adalah membuat mereka percaya bahwa mereka bebas." 

Di negara otoriter, kontrol jelas terlihat: sensor, kekerasan, penindasan. Dan justru karena terlihat, orang tahu mereka dikendalikan dan bisa melawan. 

Di negara demokratis, kontrol lebih halus. Anda boleh mengatakan apapun—tapi hanya sedikit orang yang akan mendengar kecuali itu sesuai dengan narasi dominan. Anda boleh memilih—tapi pilihan sudah dibatasi sebelumnya. Anda merasa bebas—dan justru karena itu, Anda tidak melawan. 

Propaganda paling efektif adalah yang tidak Anda sadari sebagai propaganda.

Pertanyaan untuk Anda 

1. Berapa banyak opini Anda yang benar-benar "opini Anda"? 

Atau itu hasil dari apa yang Anda baca, tonton, dengar dari media yang sudah difilter?

2. Siapa yang mendapat untung dari apa yang Anda percayai? 

Setiap belief yang Anda pegang menguntungkan seseorang. Pertanyaannya: siapa?

3. Kapan terakhir kali Anda mengubah pandangan tentang sesuatu yang penting? 

Jika jawabannya "tidak pernah" atau "sudah lama sekali," mungkin Anda tidak mendapat informasi baru—hanya konfirmasi dari apa yang sudah Anda percayai. 

4. Apakah Anda penonton atau partisipan dalam demokrasi Anda? 

Apakah Anda hanya menonton berita dan mengeluh? Atau Anda aktif mencoba mengubah sesuatu? 

Pesan Terakhir 

Buku Chomsky bukan tentang pesimisme. Bukan tentang "semua media bohong" atau "tidak ada yang bisa kita percayai."

Ini tentang literasi media. Tentang belajar membaca antara baris. Tentang memahami bahwa setiap cerita punya sudut pandang—dan kekuatan menentukan sudut pandang mana yang Anda dengar. 

Anda tidak bisa menghindari propaganda. Kita semua hidup dalam ekosistem informasi yang terdistorsi. 

Tapi Anda bisa belajar mengenalinya. Anda bisa mengajukan pertanyaan. Anda bisa mencari perspektif alternatif. Dan Anda bisa memilih untuk tidak membiarkan orang lain berpikir untuk Anda. 

Seperti yang Chomsky tulis: 

"Tanggung jawab intelektual adalah pertanyaan moral. Kita harus bertanya: Apa yang saya lakukan? Siapa yang saya layani? Kepentingan siapa yang saya dukung?" 

Jadi lain kali Anda membaca headline, menonton berita, atau mendengar politisi berbicara—berhenti sejenak

Tanyakan: Siapa yang ingin saya percaya ini? Dan mengapa? 

Karena kebebasan sejati tidak dimulai di bilik suara. Kebebasan sejati dimulai di pikiran Anda. Dan tidak ada yang bisa mengambilnya kecuali Anda mengizinkan mereka.


Tentang Buku Asli 

"Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media" (1988) adalah karya utama Chomsky dan Herman tentang propaganda. "Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda" (1991) adalah versi lebih singkat dan lebih accessible yang diturunkan dari kuliah Chomsky. 

Noam Chomsky adalah profesor linguistik di MIT, tapi juga salah satu kritikus kebijakan luar negeri Amerika yang paling vokal. Karya-karyanya tentang media dan propaganda telah mempengaruhi generasi jurnalis, aktivis, dan pemikir kritis. 

Edward Herman, co-author "Manufacturing Consent," adalah ekonom yang mengkhususkan diri pada ekonomi politik media. 

Buku-buku ini kontroversial—Chomsky sering dikritik sebagai "anti-Amerika" atau "ekstrim kiri." Tapi kritik tersebut sendiri adalah contoh dari Filter 4: Flak. Dengan melabel kritik sebagai "ekstrim," kritik tersebut didiskreditkan tanpa perlu dibahas substansinya. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana media membentuk opini dan mengapa ini penting untuk demokrasi, sangat disarankan membaca karya asli Chomsky. Dia menulis dengan ketelitian akademis, dukungan data yang kuat, dan analisis yang tajam. 

Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi buku asli menawarkan detail, bukti historis, dan argumen yang lebih komprehensif. 

Sekarang pergilah dan baca berita Anda dengan mata baru. 

Karena seperti yang Chomsky buktikan: Yang paling tidak bebas adalah mereka yang mengira diri mereka bebas tapi sebenarnya tidak. 

Dan langkah pertama menuju kebebasan sejati adalah menyadari belenggu yang tidak terlihat.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Vulnerable Humanitarian
Back to top

Similar books