Skip to main content

How to Be Perfect

by Michael Schur · December 2025 · 14 min read

Pertanyaan Sepele yang Ternyata Tidak Sepele

Table of contents

Pertanyaan Sepele yang Ternyata Tidak Sepele

Bayangkan ini: Anda di supermarket. Keranjang belanja penuh. Antrian panjang. 

Tiba-tiba Anda lihat seseorang di belakang Anda hanya membawa satu item—sebungkus roti. Sementara Anda punya 47 item. 

Haruskah Anda membiarkan orang itu potong antrian? 

Atau ini: Anda menerima kembalian dari kasir. Di rumah, Anda menyadari dia memberi kembalian Rp 50.000 lebih banyak. Supermarket itu milik chain besar, punya ribuan cabang, untung miliaran per tahun. 

Haruskah Anda kembali dan mengembalikan uang itu? 

Atau ini yang lebih rumit: Teman Anda mengirim meme yang... tidak lucu. Sama sekali. Tapi dia jelas berpikir itu lucu dan menunggu respons Anda. 

Haruskah Anda berbohong dan bilang itu lucu? 

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita hadapi setiap hari. Pertanyaan kecil. Tidak dramatis. Tidak ada yang akan mati. Tapi setiap kali kita menghadapi pertanyaan ini, kita menghadapi dilema moral—dan kita membuat pilihan yang membentuk siapa kita sebagai manusia. 

Michael Schur—pencipta serial TV "The Good Place," "Parks and Recreation," dan "Brooklyn Nine-Nine"—menghabiskan bertahun-tahun tenggelam dalam filosofi moral untuk menulis "The Good Place." Dan dia menyadari sesuatu: 

Kebanyakan orang ingin menjadi baik. Tapi tidak ada yang mengajari kita bagaimana caranya.

Kita belajar matematika, bahasa, sejarah. Tapi tidak ada kelas tentang "bagaimana membuat keputusan moral yang baik." Kita hanya... mengira-ngira. Berharap kita melakukan hal yang benar. Sering merasa bersalah ketika kita tidak yakin. 

Jadi Schur menulis buku ini—bukan sebagai profesor filosofi yang serius (dia bukan), tapi sebagai orang biasa yang mencoba memahami bagaimana menjadi orang yang lebih baik. 

Dengan humor. Dengan kejujuran. Dan dengan mengakui bahwa tidak ada yang sempurna—tapi kita tetap harus mencoba. 

Mari kita mulai perjalanan untuk menjadi... well, tidak sempurna, tapi setidaknya lebih baik.


Bagian 1: Aristoteles dan Kebahagiaan Sejati

Cerita tentang Pria yang Mencari Jawaban Hidup 

2.400 tahun yang lalu, seorang pria di Athena bernama Aristoteles bertanya: "Apa tujuan hidup manusia?" 

Jawabannya tampak sederhana: Kebahagiaan

Tapi tunggu—bukan kebahagiaan versi Instagram dengan foto sunset dan quote motivasi. Bukan kebahagiaan sementara dari makan pizza atau menonton serial favorit. 

Aristoteles berbicara tentang eudaimonia—flourishing, kehidupan yang berkembang penuh. Kebahagiaan mendalam yang datang dari hidup dengan baik dan menjadi versi terbaik dari diri kita. 

Dan cara mencapainya? Melalui kebajikan (virtue). 

Kebajikan Bukan Bawaan, Tapi Latihan 

Inilah insight brilian Aristoteles: Anda tidak dilahirkan baik atau jahat. Anda menjadi baik dengan melakukan hal-hal baik—berulang-ulang—sampai menjadi kebiasaan. 

Seperti belajar gitar. Tidak ada yang langsung jago. Anda berlatih chord C sampai jari Anda sakit. Anda ulang-ulang sampai jari Anda "tahu" tanpa berpikir. Begitu juga dengan kebajikan. 

Anda ingin menjadi orang yang dermawan? Mulai dengan memberi—meskipun rasanya tidak natural. Lakukan berkali-kali. Pada suatu titik, kemurahan hati menjadi second nature. 

Anda ingin menjadi orang yang berani? Mulai dengan menghadapi hal-hal kecil yang menakutkan. Lakukan berulang-ulang. Keberanian menjadi otot yang semakin kuat. 

The Golden Mean—Jalan Tengah 

Tapi Aristoteles punya caveat penting: Terlalu banyak kebajikan bisa jadi buruk.

Contoh: 

Keberanian adalah kebajikan. Tapi: 

  • Terlalu sedikit = pengecut
  • Terlalu banyak = ceroboh, bodoh

Kemurahan hati adalah kebajikan. Tapi: 

  • Terlalu sedikit = pelit
  • Terlalu banyak = boros, membiarkan orang exploit Anda

Kepercayaan diri adalah kebajikan. Tapi: 

  • Terlalu sedikit = rendah diri
  • Terlalu banyak = arogan

Aristoteles menyebutnya Golden Mean—jalan tengah. Kebajikan adalah tentang menemukan keseimbangan. 

Dalam Kehidupan Sehari-hari 

Kembali ke pertanyaan awal: Haruskah Anda membiarkan orang dengan satu item potong antrian? 

Aristotelian akan bertanya: "Apa yang akan dilakukan orang yang bermurah hati tapi juga bijaksana?" 

Jika Anda terburu-buru karena meeting penting—bijaksana untuk tidak menawarkan. Jika Anda santai—murah hati untuk menawarkan. 

Tidak ada jawaban hitam-putih. Ada konteks. Ada keseimbangan.


Bagian 2: Utilitarianisme—Hitung-hitungan Kebahagiaan

Jeremy Bentham dan Kalkulus Moral 

Abad ke-18. Jeremy Bentham—seorang filsuf Inggris eksentrik—punya ide radikal: 

Tindakan yang benar adalah yang menghasilkan kebahagiaan terbanyak untuk orang terbanyak. 

Kedengarannya masuk akal, kan? Ini disebut utilitarianisme

Bentham bahkan menciptakan "hedonic calculus"—cara menghitung pleasure dan pain secara matematis. Dia benar-benar berpikir Anda bisa menghitung moral seperti menghitung matematika: 

Tindakan A = +10 kebahagiaan, -2 penderitaan = Net +8 Tindakan B = +7 kebahagiaan, -1 penderitaan = Net +6 

Maka, pilih A! 

John Stuart Mill—Kualitas Matters 

Murid Bentham, John Stuart Mill, mengembangkan ide ini lebih jauh. Dia mengatakan: Tidak semua pleasure sama. 

"Lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada babi yang puas." 

Ada higher pleasures (membaca buku, diskusi filosofis, musik klasik) dan lower pleasures (makan berlebihan, menonton reality TV, scrolling social media tanpa tujuan). 

Keduanya memberikan kesenangan. Tapi yang pertama lebih bernilai karena melibatkan pikiran kita dengan cara yang lebih kompleks dan memuaskan. 

Masalah dengan Utilitarianisme 

Kedengarannya bagus di atas kertas. Tapi ada masalah besar: 

Thought experiment: Anda seorang dokter. Ada lima pasien yang akan mati kecuali mereka mendapat transplant organ (jantung, paru-paru, ginjal, hati). Di ruangan sebelah ada satu orang sehat yang sedang check-up rutin. 

Menurut utilitarianisme murni: Bunuh orang sehat itu, ambil organnya, selamatkan lima orang. Net result: 5 hidup, 1 mati = +4 nyawa. 

Tapi ada yang salah dengan logika ini, kan? Anda tidak bisa membunuh orang tak bersalah hanya untuk "greatest good."

Ini adalah tyranny of the majority—mayoritas bisa menindas minoritas atas nama "greater good." 

Kapan Utilitarianisme Berguna 

Meski punya masalah, utilitarianisme sangat berguna untuk kebijakan publik. 

Contoh: Pemerintah harus memutuskan apakah membangun jalan tol baru. Utilitarianisme membantu: 

  • Berapa banyak orang yang akan diuntungkan? (lebih cepat commute, ekonomi tumbuh)
  • Berapa banyak yang dirugikan? (rumah harus digusur, polusi meningkat)
  • Mana yang lebih besar?

Untuk keputusan besar yang mempengaruhi banyak orang, menghitung cost-benefit masuk akal. 

Tapi untuk keputusan personal yang melibatkan hak individu, kita butuh framework lain.


Bagian 3: Kant dan Categorical Imperative 

Immanuel Kant—Pria yang Tidak Pernah Berbohong 

Immanuel Kant, filsuf Jerman abad ke-18, punya pendapat radikal: Berbohong selalu salah. Dalam situasi apapun. Tidak ada pengecualian. 

"Tunggu," kata Anda. "Bagaimana kalau Nazi mengetuk pintu dan tanya apakah ada orang Yahudi di rumah saya—padahal saya sembunyikan mereka di loteng?" 

Kant akan bilang: Katakan kebenaran. 

Kedengarannya gila? Memang. Tapi ada logika di baliknya. 

The Categorical Imperative—Aturan Universal 

Kant punya prinsip: Bertindaklah hanya berdasarkan maxim yang Anda ingin menjadi hukum universal. 

Artinya: Sebelum melakukan sesuatu, tanyakan, "Bagaimana jika SEMUA ORANG melakukan ini?" 

Contoh: 

Berbohong: "Bagaimana jika semua orang berbohong setiap kali convenient?" Maka tidak ada yang bisa percaya siapa-siapa. Komunikasi runtuh. Society runtuh. Maka, jangan berbohong. 

Mencuri: "Bagaimana jika semua orang mencuri ketika mereka butuh sesuatu?" Maka konsep kepemilikan tidak ada artinya. Maka, jangan mencuri. 

Mengingkari janji: "Bagaimana jika semua orang ingkar janji ketika tidak convenient?" Maka janji tidak ada artinya. Maka, tepati janji Anda. 

Treating People as Ends, Not Means 

Kant juga punya prinsip kedua: Selalu perlakukan orang sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri, bukan hanya sebagai alat untuk tujuan Anda. 

Jangan gunakan orang. Hormati otonomi mereka. Akui bahwa mereka punya nilai inheren, bukan hanya nilai instrumental untuk Anda. 

Contoh: 

Buruk: Berteman dengan seseorang hanya karena mereka bisa bantu karir Anda. Anda menggunakan mereka sebagai alat.

Baik: Berteman dengan seseorang karena Anda menghargai mereka sebagai manusia. Mereka adalah tujuan dalam diri mereka sendiri. 

Kapan Kant Terlalu Kaku 

Masalah dengan Kant: Dia tidak memberikan ruang untuk konteks. 

Kembali ke skenario Nazi. Kantian murni akan bilang harus jujur. Tapi kebanyakan orang akan setuju: Dalam kasus ini, berbohong adalah hal yang benar. 

Ini menunjukkan keterbatasan rigid rules. Kadang, konteks matters. Kadang, tidak ada jawaban hitam-putih.


Bagian 4: Contractualism—Apa yang Kita Hutangi pada Orang Lain 

T.M. Scanlon dan "What We Owe to Each Other" 

Filsuf Harvard, T.M. Scanlon, punya pendekatan berbeda: 

Kita harus bertindak dengan cara yang tidak bisa secara reasonable ditolak oleh orang lain. 

Artinya: Bayangkan Anda harus menjelaskan tindakan Anda ke orang yang terkena dampak. Jika mereka tidak bisa secara wajar menolak penjelasan Anda, maka tindakan Anda okay. 

The Reasonableness Test 

Mari kita coba dengan contoh: 

Skenario: Anda parkir di tempat disabilitas (padahal Anda tidak punya disabilitas) karena "hanya sebentar, 5 menit." 

Test: Bisakah seseorang yang butuh parking disabilitas secara reasonable menolak tindakan Anda? 

Ya. Mereka bisa bilang: "Saya butuh tempat itu karena saya tidak bisa jalan jauh. Ketidaknyamanan Anda jalan 30 detik ekstra tidak sebanding dengan ketidaknyamanan saya." 

Conclusion: Jangan parkir di sana. 

Skenario 2: Anda tidak memberi uang pada setiap pengemis yang Anda temui.

Test: Bisakah mereka secara reasonable menolak ini? 

Ini lebih rumit. Anda bisa argue: "Saya punya keterbatasan resources. Saya sudah donate ke charity yang verified. Saya tidak bisa memberi ke semua orang." 

Ini adalah reasonable explanation. Maka, tidak memberi bukan selalu salah—tergantung konteks dan apa yang sudah Anda lakukan. 

Kekuatan Contractualism 

Yang brilian dari Scanlon: Dia membuat etika tentang relationship antara orang-orang, bukan hanya about abstract rules atau calculations. 

Kita hidup dalam masyarakat. Kita bergantung satu sama lain. Maka, kita punya kewajiban untuk treat each other dengan cara yang bisa kita semua reasonable accept.

Ini menangkapsesuatuyangKantterlalukakuuntuktangkap, danutilitarianismeterlalu impersonal untuk tangkap.


Bagian 5: Filosofi Lain yang Penting 

Ubuntu—"I Am Because We Are" 

Dari filosofi Afrika, khususnya Zulu dan Xhosa: Ubuntu

Artinya: "Saya adalah karena kita semua adalah." 

Individualisme Barat bilang: "Saya berpikir, maka saya ada." 

Ubuntu bilang: "Kita ada, maka saya ada." 

Humanitas Anda tidak terpisah dari humanitas orang lain. Ketika Anda melukai orang lain, Anda melukai diri sendiri. Ketika Anda mengangkat orang lain, Anda mengangkat diri sendiri. 

Ini bukan hanya filosofi—ini adalah cara hidup. Nelson Mandela menggunakan Ubuntu sebagai dasar rekonsiliasi di Afrika Selatan pasca-apartheid. 

Existentialism—Kebebasan yang Menakutkan 

Jean-Paul Sartre bilang: "Kita dikutuk untuk bebas." 

Tidak ada Tuhan yang memberikan instruksi. Tidak ada rulebook. Tidak ada meaning yang built-in dalam hidup. 

Maka, Anda harus menciptakan meaning Anda sendiri. 

Ini menakutkan. Tapi juga membebaskan. 

Anda tidak bisa blame Tuhan, society, atau nasib untuk pilihan Anda. Anda punya radical responsibility untuk hidup Anda. 

Virtue Ethics versi Modern 

Filsuf seperti Philippa Foot dan Rosalind Hursthouse menghidupkan kembali virtue ethics Aristotelian dengan twist modern: 

Karakter matters lebih dari rules atau consequences. 

Pertanyaan bukan "Apa yang harus saya lakukan?" tapi "Orang seperti apa yang ingin saya jadi?" 

Jika Anda ingin menjadi orang yang jujur, generous, berani, wise—maka bertindaklah dengan cara yang consistent dengan karakter itu.


Bagian 6: Mengaplikasikan Filosofi dalam Kehidupan Sehari-hari 

Dilema 1: Teman Mengirim Meme Tidak Lucu 

Utilitarian approach: Berbohong memberikan pleasure ke teman (dia happy), cost ke Anda minimal (hanya ketik "haha"). Net positive. Bohong. 

Kantian approach: Berbohong adalah berbohong, tidak peduli alasannya. Jangan bohong. 

Contractualist approach: Bisakah teman Anda secara reasonable menolak jika Anda berbohong kecil untuk spare feelings mereka? Probably tidak. Teman yang baik tidak mengharapkan brutal honesty untuk hal sepele. 

Virtue ethics approach: Orang yang baik kadang melakukan "white lies" untuk kindness. Tapi jangan jadi orang yang selalu disingenuous. 

Schur's conclusion: Bohong kecil ini okay. Ketik "haha" dan move on. Not every moment requires philosophical angst. 

Dilema 2: Kembalian Lebih dari Supermarket 

Utilitarian: Rp 50.000 tidak banyak untuk supermarket chain besar. Tapi banyak untuk kasir yang mungkin harus ganti rugi. Kembalikan. 

Kantian: Mengambil uang yang bukan milik Anda adalah mencuri. Kategoris salah. Kembalikan. 

Contractualist: Bisakah supermarket dan kasir secara reasonable menolak Anda mengambil uang itu? Ya. Itu bukan uang Anda. Kembalikan. 

Virtue ethics: Orang yang honest mengembalikan uang. Meskipun tidak ada yang tahu, Anda tahu. Kembalikan. 

Schur's conclusion: Semua filosofi setuju. Kembalikan uangnya. (Tapi dia acknowledge: Dia pernah tidak mengembalikan dan masih merasa guilty bertahun-tahun kemudian.) 

Dilema 3: Membeli dari Perusahaan yang Tidak Etis 

Anda butuh smartphone baru. Semua smartphone dibuat dengan eksploitasi pekerja dan merusak lingkungan. Tapi Anda butuh smartphone untuk hidup modern. 

Utilitarian: Sistem yang rusak, bukan Anda. Tidak membeli satu smartphone tidak mengubah apapun. Beli saja.

Kantian: Anda tahu bahwa production-nya unethical. Dengan membeli, Anda mendukung sistem itu. Jangan beli—atau beli yang paling ethical. 

Contractualist: Ini rumit. Workers bisa argue mereka butuh Anda boikot. Tapi mereka juga butuh pekerjaan. Complicated. 

Virtue ethics: Orang yang virtuous mencoba membeli dengan lebih ethical ketika possible, meskipun tidak sempurna. 

Schur's conclusion: Dunia modern membuat impossible untuk hidup tanpa complicity dalam sistem yang rusak. Lakukan yang terbaik: Beli yang paling ethical, support regulation, donate ke cause, advocate untuk change. Tapi jangan paralyzed oleh guilt—tidak ada yang sempurna.


Bagian 7: Menerima Ketidaksempurnaan 

Anda Akan Gagal—Dan Itu Okay 

Michael Schur jujur tentang kegagalannya sendiri: 

  • Dia pernah tidak mengembalikan kembalian lebih
  • Dia pernah kasar pada service worker karena bad day
  • Dia pernah egois, impatient, judgmental

Dan dia masih melakukan kesalahan. Karena menjadi baik adalah practice, bukan destination. 

Chidi's Dilemma—Paralisis Analisis 

Dalam "The Good Place," karakter Chidi adalah profesor etika yang begitu obsessed dengan membuat keputusan sempurna sehingga dia tidak bisa membuat keputusan sama sekali. 

Dia menghabiskan delapan jam memilih bar untuk ulang tahun teman. Dia tidak bisa memilih menu di restoran karena overthinking. Dia miserable karena terlalu fokus pada kesempurnaan. 

Pelajaran: Jangan biarkan pencarian kesempurnaan mencegah Anda dari kebaikan. 

Better to make decision dan kadang salah daripada tidak membuat decision sama sekali karena takut salah. 

The 60% Rule 

Schur suggest: Jika Anda bisa 60% confident bahwa Anda membuat pilihan yang benar, itu cukup baik. 

Anda tidak akan pernah 100% yakin. Terlalu banyak variable. Terlalu banyak uncertainties. Tapi 60%? That's actionable. 

Buat keputusan. Lakukan yang terbaik. Learn dari kesalahan. Improve. Repeat.

Jadilah Orang yang Selalu Mencoba 

Schur menutup dengan pesan ini: 

"Tujuannya bukan menjadi sempurna. Tujuannya adalah menjadi orang yang terus mencoba menjadi lebih baik." 

Orang yang:

  • Peduli tentang dampak tindakan mereka pada orang lain
  • Bersedia mengakui ketika mereka salah
  • Belajar dari kesalahan dan berubah
  • Tidak berhenti mencoba meskipun sulit

Itu adalah orang yang baik. Bukan sempurna. Tapi baik.


Penutup: Anda Tidak Harus Sempurna—Anda Hanya Harus Peduli 

Jadi, apa jawaban untuk "bagaimana menjadi sempurna"? 

Anda tidak bisa. 

Dan itu okay. 

Karena filosofi moral bukan tentang menemukan formula perfect yang memberikan jawaban benar untuk setiap situasi. Filosofi moral adalah toolkit—sekumpulan cara berpikir yang membantu Anda navigate kompleksitas hidup. 

Kadang Aristoteles benar: Lihat karakter, cari golden mean. Kadang Kant benar: Ada principles yang tidak bisa dilanggar. Kadang utilitarian benar: Hitung consequences dan pilih yang terbaik untuk kebanyakan orang. Kadang Scanlon benar: Tanyakan apakah orang lain bisa reasonable accept tindakan Anda. 

Dan kadang, tidak ada jawaban yang jelas. Dan Anda harus membuat judgment call terbaik dengan informasi yang Anda punya. 

Pertanyaan untuk Anda 

Michael Schur tidak memberikan checklist 10 langkah untuk menjadi orang baik. Karena tidak ada. 

Tapi dia memberikan pertanyaan untuk terus Anda tanyakan: 

1. "Apakah saya treat orang lain dengan respect yang saya ingin diterima?" 

2. "Apakah tindakan saya membuat dunia sedikit lebih baik atau sedikit lebih buruk?" 

3. "Jika semua orang bertindak seperti saya, apakah dunia akan jadi tempat yang lebih baik?" 

4. "Apakah saya orang yang lebih baik hari ini dibanding kemarin?" 

Jika Anda terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini—dan jujur dengan jawaban Anda—Anda sudah di jalan yang benar.

The Good Place 

Dalam serial "The Good Place," karakternya belajar bahwa tidak ada yang masuk "good place" karena dunia terlalu kompleks. Setiap tindakan punya unintended consequences. Membeli tomat menyebabkan eksploitasi pekerja, polusi, dll. 

Sistem broken. 

Tapi solusinya bukan menyerah dan bilang "tidak ada yang bisa baik." Solusinya adalah terus mencoba

Karena mencoba itu sendiri memiliki nilai moral. 

Seperti yang Schur tulis: 

"Menjadi orang baik itu sulit. Melelahkan. Membingungkan. Kadang kita gagal. Tapi usaha untuk menjadi lebih baik—usaha itu sendiri—adalah yang membuat kita manusia." 

Jadi lain kali Anda menghadapi dilema moral—besar atau kecil—jangan paralyzed. Jangan overthink sampai tidak bertindak sama sekali. 

Pikirkan. Konsultasikan toolkit filosofi Anda. Buat keputusan terbaik yang Anda bisa. Dan jika ternyata salah, belajar dan lakukan lebih baik next time. 

Karena tidak ada yang sempurna. Tapi kita semua bisa berusaha. 

Dan usaha itu? Itu sudah cukup.


Tentang Buku Asli 

"How to Be Perfect: The Correct Answer to Every Moral Question" diterbitkan pada Januari 2022. 

Michael Schur adalah penulis dan produser TV terkenal, pencipta "The Good Place," "Parks and Recreation," dan co-creator "Brooklyn Nine-Nine." Untuk menulis "The Good Place"—serial tentang afterlife dan etika—dia menghabiskan bertahun-tahun belajar filosofi moral dari para profesor termasuk Pamela Hieronymi dan Todd May. 

Buku ini adalah hasil dari deep dive tersebut, disampaikan dengan humor dan accessibility khas Schur. Dia tidak berpura-pura jadi expert—dia adalah orang biasa yang penasaran tentang bagaimana menjadi lebih baik, dan dia berbagi apa yang dia pelajari. 

Untuk pengalaman penuh dari humor, contoh-contoh absurd, dan insight filosofis Schur, sangat disarankan membaca buku aslinya. Dia menulis dengan gaya yang sangat entertaining—seperti teman yang smart dan funny menjelaskan filosofi di bar. 

Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi buku asli penuh dengan anecdotes, pop culture references, dan footnote lucu yang membuat filosofi terasa accessible dan fun. 

Sekarang pergilah dan jadilah... well, tidak sempurna, tapi setidaknya sedikit lebih baik dari kemarin. 

Karena seperti Schur bilang: "Being good is hard. But it's worth it."

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Meditations for Mortals
Back to top

Similar books