Skip to main content

How to Make People Like You in 90 Seconds or Less

by Nicholas Boothman · December 2025 · 14 min read

Rahasia Fotografer yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Rahasia Fotografer yang Mengubah Segalanya 

Nicholas Boothman bukan lahir sebagai orang yang pandai bergaul. Ia adalah fotografer fashion dan periklanan yang setiap hari menghadapi tantangan unik: bagaimana membuat orang asing—model, klien, eksekutif—merasa nyaman di depan kamera dalam hitungan menit? 

Bayangkan situasi ini: Seorang CEO perusahaan Fortune 500 datang untuk sesi foto. Dia tegang, tidak suka difoto, dan sangat sibuk. Dia hanya punya 15 menit. Boothman harus membuat dia rileks, percaya diri, dan terlihat natural—dalam waktu yang sangat singkat. 

Kalau gagal, fotonya jelek. Klien tidak senang. Karir terancam. 

Tapi kalau berhasil? Foto yang sempurna. Klien bahagia. Referral mengalir. 

Dari ribuan situasi seperti ini, Boothman menemukan sesuatu yang luar biasa: ada pola yang bisa dipelajari dalam cara orang terhubung. Ada teknik spesifik yang membuat orang langsung merasa nyaman dengan Anda. Dan yang paling mengejutkan—semua ini terjadi dalam waktu sangat singkat. 

90 detik atau kurang. 

Inilah rahasia yang ia pelajari: Kita semua memiliki insting primitif "fight or flight" (lawan atau lari). Ketika bertemu orang baru, otak kita secara instant membuat keputusan: "Apakah orang ini aman? Apakah saya bisa percaya dia? Apakah saya suka dia?" 

Keputusan ini tidak rasional. Ini terjadi di level bawah sadar, berdasarkan sinyal-sinyal halus yang kita kirim dan terima—bahasa tubuh, nada suara, ekspresi wajah, energi. 

Dan yang paling penting: keputusan ini terjadi dalam 90 detik pertama.


Bagian 1: Mengapa 90 Detik Adalah Segalanya

Kebenaran Keras tentang Pertemuan Pertama 

Kita tidak suka mengakuinya, tapi ini adalah kenyataan: orang menilai Anda dalam hitungan detik. 

Studi demi studi menunjukkan hal yang sama—kesan pertama terbentuk dalam 2-30 detik pertama. Dan dalam 90 detik, kesan itu sudah mengeras menjadi opini. 

Jika dalam 90 detik pertama orang tidak menemukan Anda menarik, mereka akan mulai disengaged. Otak mereka mencari jalan keluar. Mata mereka melihat ke arah lain. Energi mereka menurun. 

Tapi jika dalam 90 detik pertama Anda bisa membuat koneksi—jika Anda bisa membuat mereka merasa nyaman, tertarik, dan terhubung—maka percakapan mengalir dengan natural. Pintu terbuka. Peluang muncul. 

Tiga Tahap Koneksi 

Boothman membagi proses koneksi menjadi tiga tahap yang overlap: 

1. Meeting (Pertemuan) Saat pertama kali Anda berinteraksi. Kesan pertama terbentuk di sini. Ini tentang penampilan fisik, energi awal, dan approach. 

2. Rapport (Hubungan Baik) Ini adalah tahap di antara meeting dan komunikasi. Di sinilah Anda membangun trust dan kenyamanan. Ini adalah fondasi untuk segalanya yang datang setelahnya. 

3. Communicating (Komunikasi) Setelah rapport terbangun, komunikasi menjadi natural dan efektif. Ide-ide mengalir. Pemahaman terjadi. Koneksi deepens. 

Kebanyakan orang langsung melompat dari meeting ke communicating—dan ini tidak berhasil. Mereka melewatkan tahap paling penting: rapport. 

Tanpa rapport, komunikasi terasa forced, canggung, tidak nyambung. Dengan rapport, segalanya menjadi mudah.


Bagian 2: Really Useful Attitude (Sikap yang Benar-Benar Berguna) 

Sikap Menentukan Segalanya 

Sebelum Anda bahkan membuka mulut, sikap mental Anda sudah mengirim sinyal ke orang lain. 

Boothman membedakan antara dua jenis sikap: 

Really Useful Attitude (Sikap Berguna) Ini adalah sikap yang fokus pada apa yang Anda INGINKAN dari interaksi. Positif, proaktif, dan jelas. 

Contoh: 

  • "Saya ingin membuat orang ini merasa nyaman"
  • "Saya ingin menemukan kesamaan dengan mereka"
  • "Saya ingin belajar sesuatu yang menarik dari percakapan ini"

Useless Attitude (Sikap Tidak Berguna) Ini adalah sikap yang fokus pada apa yang Anda TIDAK INGINKAN. Negatif, defensif, dan samar. 

Contoh: 

  • "Saya tidak ingin terlihat bodoh"
  • "Saya tidak ingin ditolak"
  • "Saya tidak ingin dia pikir saya membosankan"

Inilah yang luar biasa: sikap Anda secara otomatis mengubah bahasa tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dan energi Anda. 

Jika Anda punya Useful Attitude, Anda akan terlihat terbuka, ramah, percaya diri, dan approachable. Orang akan tertarik ke Anda tanpa tahu mengapa. 

Jika Anda punya Useless Attitude, Anda akan terlihat tertutup, defensif, gugup, dan tidak nyaman. Orang akan menghindari Anda tanpa tahu mengapa.

Latihan Sikap 

Sebelum masuk ke situasi sosial apa pun—meeting, networking event, date, interview—luangkan 30 detik untuk set your attitude. 

Tanyakan pada diri sendiri: 

  • "Apa yang saya INGINKAN dari interaksi ini?"
  • "Bagaimana saya ingin orang ini MERASA ketika bersama saya?"
  • "Apa hasil ideal dari percakapan ini?"

Visualisasikan hasil positif. Rasakan energi positif. Biarkan sikap itu mengisi seluruh tubuh Anda. 

Ini bukan wishful thinking. Ini adalah programming otak Anda untuk sukses.


Bagian 3: Bahasa Tubuh—Berbicara Tanpa Kata

Tubuh Anda Berteriak Lebih Keras daripada Kata-Kata Anda 

Penelitian terkenal oleh Albert Mehrabian menunjukkan bahwa dalam komunikasi tentang perasaan dan sikap: 

  • 7% dari dampak berasal dari KATA-KATA
  • 38% dari NADA SUARA
  • 55% dari BAHASA TUBUH

Itu berarti 93% komunikasi Anda adalah non-verbal! 

Anda bisa mengatakan "Senang bertemu Anda" dengan kata-kata yang sempurna, tapi jika bahasa tubuh Anda mengatakan "Saya tidak peduli," orang akan percaya bahasa tubuh Anda, bukan kata-kata Anda. 

Open Body Language vs Closed Body Language 

Open Body Language adalah sinyal: "Saya terbuka untuk koneksi. Saya ramah. Saya aman." Karakteristik: 

  • Tubuh menghadap orang lain secara langsung
  • Lengan tidak bersilang
  • Tangan terlihat (tidak di saku atau di belakang punggung)
  • Postur tegak tapi rileks
  • Ruang personal dihormati tapi tidak terlalu jauh

Closed Body Language adalah sinyal: "Saya tidak nyaman. Jangan dekati saya. Saya defensif." 

Karakteristik: 

  • Tubuh menyamping atau membelakangi orang
  • Lengan bersilang di dada
  • Tangan tersembunyi
  • Postur membungkuk atau kaku
  • Terlalu jauh atau terlalu dekat (invading space)

The Heart Technique (Teknik Hati) 

Boothman mengajarkan teknik sederhana namun powerful: Arahkan hati Anda ke hati mereka. 

Secara literal, posisikan tubuh Anda sehingga area dada Anda menghadap area dada mereka. Ini mengirim sinyal bawah sadar: ketulusan, komitmen penuh pada percakapan, dan kesiapan untuk koneksi. 

Bandingkan dengan orang yang setengah menghadap Anda, satu kaki sudah mengarah ke pintu keluar—Anda langsung merasakan mereka tidak benar-benar engaged, kan? 

Kontak Mata yang Tepat 

Mata adalah jendela jiwa—dan alat powerful untuk membangun trust. 

Aturan kontak mata: 

  • Jaga kontak mata langsung ketika pertama kali bertemu (3-5 detik)
  • Selama percakapan, maintain kontak mata 60-70% dari waktu
  • Jangan terlalu intens (creepy) atau terlalu sedikit (tidak tertarik)
  • Ketika orang lain bicara, fokus pada mereka
  • Ketika Anda bicara, ok untuk sesekali melihat ke tempat lain tapi kembali lagi

Senyum Genuine 

Ada dua jenis senyum: 

Social Smile: Senyum sopan, hanya melibatkan mulut. Terlihat forced. 

Genuine Smile: (Duchenne Smile): Senyum tulus yang melibatkan seluruh wajah, termasuk mata. Mata "tersenyum"—ada keriput kecil di sudut mata. 

Orang bisa merasakan perbedaan, bahkan jika mereka tidak sadar. Genuine smile membuat orang merasa diterima dan dihargai.


Bagian 4: The Power of Synchrony (Kekuatan Sinkronisasi) 

Orang Suka Orang yang Mirip dengan Mereka 

Ini adalah prinsip fundamental psikologi manusia: kita secara natural tertarik pada orang yang mirip dengan kita. 

Ketika kita bertemu seseorang yang "seperti kita"—cara bicara, gerakan, energi—otak kita merasa nyaman. Kita merasa, "Orang ini mengerti saya. Orang ini safe." 

Ini terjadi di level bawah sadar. Orang tidak bisa menjelaskan kenapa mereka merasa nyaman dengan Anda—mereka hanya merasakan ada "chemistry." 

Dan Anda bisa menciptakan chemistry itu dengan sinkronisasi. 

Tiga Level Sinkronisasi 

1. Sikronisasi Sikap Matching energi dan mood mereka. Jika mereka excited, Anda show excitement juga. Jika mereka serius dan tenang, Anda matching seriousness itu. 

2. Sinkronisasi Bahasa Tubuh (Mirroring) Secara halus, mirror postur, gestures, dan gerakan mereka. Jika mereka bersandar ke depan, Anda bersandar ke depan. Jika mereka menyilangkan kaki, setelah beberapa saat, Anda juga menyilangkan kaki. 

PENTING: Ini harus subtle dan natural, bukan copycat yang obvious. Delay beberapa detik sebelum mirror, jangan langsung. 

3. Sinkronisasi Nada Suara Match kecepatan bicara, volume, dan ritme mereka. Jika mereka bicara pelan dan tenang, Anda juga slow down. Jika mereka energetic dan cepat, Anda match energi itu. 

The Magic of Mirroring 

Studi demi studi menunjukkan power dari mirroring: 

  • Pelayan yang mirror customer mendapat tip lebih besar
  • Sales people yang mirror client close more deals
  • Negotiator yang mirror counterpart mendapat hasil lebih baik

Mengapa? Karena mirroring menciptakan perasaan unconscious rapport. Otak mereka merasa, "Orang ini seperti saya. Saya bisa trust dia." 

Tapi ingat: ini harus genuine. Jika Anda melakukan ini dengan attitude manipulative, people will sense it. Lakukan dengan niat tulus untuk koneksi—not to manipulate.

 


Bagian 5: Sensory Preferences—Berbicara Bahasa Mereka 

Tiga Cara Orang Memproses Dunia 

Richard Bandler dan John Grinder, pendiri Neuro-Linguistic Programming (NLP), menemukan bahwa orang memproses informasi melalui tiga channel sensory yang berbeda: 

Visual (Penglihatan) - 60% orang Orang visual berpikir dalam gambar. Mereka "melihat" ide. Mereka peduli tentang bagaimana sesuatu terlihat. 

Kata-kata yang mereka gunakan: 

  • "Saya LIHAT apa yang Anda maksud"
  • "JELAS sekali"
  • "Saya punya GAMBARAN tentang ini"
  • "FOKUS pada solusi"
  • "Mari LIHAT opsi kita"

Auditory (Pendengaran) - 20% orang Orang auditory berpikir dalam suara. Mereka "mendengar" ide. Mereka peduli tentang bagaimana sesuatu terdengar. 

Kata-kata yang mereka gunakan: 

  • "Saya DENGAR apa yang Anda katakan"
  • "Itu TERDENGAR bagus"
  • "RESONATE dengan saya"
  • "Mari kita DISKUSIKAN ini"
  • "HARMONIS dengan visi kita"

Kinesthetic (Perasaan/Sentuhan) - 20% orang Orang kinesthetic berpikir dalam sensasi. Mereka "merasakan" ide. Mereka peduli tentang bagaimana sesuatu terasa. 

Kata-kata yang mereka gunakan: 

  • "Saya RASA ini ide bagus"
  • "Saya bisa GRASP konsep ini"
  • "Ada TEKANAN untuk perform"
  • "Mari kita GET A HANDLE on this"
  • "Ini TERASA benar"

Mengapa Ini Penting? 

Ketika Anda berbicara dalam sensory language yang sama dengan mereka, komunikasi menjadi lebih efektif. 

Bayangkan Anda bicara dengan orang visual dan Anda bilang, "Saya LIHAT apa yang Anda maksud. Biarkan saya TUNJUKKAN pada Anda GAMBARAN lengkap." 

Vs. 

"Saya RASA apa yang Anda maksud. Biarkan saya GET A GRIP on ide ini." Yang pertama resonates dengan orang visual. Yang kedua terasa disconnected untuk mereka.

Cara Mengidentifikasi Sensory Preference 

Dengarkan kata-kata mereka. Kata-kata apa yang mereka gunakan berulang-ulang? Visual, auditory, atau kinesthetic? 

Perhatikan gerakan mata mereka: 

  • Visual: Mata bergerak ke atas (mengakses gambar di otak)
  • Auditory: Mata bergerak ke samping (mengakses suara)
  • Kinesthetic: Mata bergerak ke bawah (mengakses perasaan)

Observasi cara mereka menjelaskan: 

  • Visual: Menggambar, gesturing, menjelaskan dalam gambar
  • Auditory: Berbicara dengan ritme jelas, menyebutkan suara
  • Kinesthetic: Menyentuh, menggerakkan tangan, berbicara tentang sensasi Setelah Anda tahu preference mereka, match language mereka dalam percakapan.

Bagian 6: The Art of Conversation (Seni Percakapan)

Opening Words vs Closing Words 

Tidak semua kata diciptakan sama. Ada kata yang membuka percakapan dan ada yang menutupnya. 

Opening Words (Kata Pembuka): 

  • Pertanyaan terbuka (What, How, Why)
  • "Ceritakan tentang..."
  • "Apa yang membuat Anda..."
  • "Bagaimana Anda..."
  • "Mengapa Anda memutuskan..."

Closing Words (Kata Penutup): 

  • Pertanyaan yes/no yang bisa dijawab singkat
  • "Ya"
  • "Tidak"
  • "Baik"
  • "Mungkin"

Contoh buruk: "Apakah Anda suka pekerjaan Anda?" Jawaban: "Ya." (Percakapan mati) 

Contoh bagus: "Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda?" Jawaban: "Well, saya suka..." (Percakapan continues) 

Active Listening—Mendengar dengan Seluruh Diri 

Kebanyakan orang tidak benar-benar mendengar. Mereka menunggu giliran bicara.

Active listening berarti: 

1. Fokus penuh pada mereka Bukan pada smartphone Anda. Bukan pada orang lain di ruangan. Pada MEREKA. 

2. Jangan interrupt Biarkan mereka finish thought mereka sebelum Anda respond. 

3. Show you're listening Nod. "Mm-hmm." "Oh really?" "That's interesting." Facial expressions yang respond. 

4. Respond dengan enthusiasm ke apa yang mereka katakan Jika mereka bilang, "Saya mungkin pindah ke Miami tapi suami saya dapat promosi di Chicago," jangan langsung jump ke topik lain.

Respond: "Wow, keputusan besar! Bagaimana kalian akan decide?" 

Finding Common Ground 

Cara tercepat untuk build rapport adalah menemukan kesamaan. 

Tapi bagaimana jika Anda tidak punya kesamaan obvious? 

Rapport by Design: 

1. Tanyakan tentang passion mereka "Apa yang Anda lakukan di waktu luang?" "Apa yang membuat Anda excited akhir-akhir ini?" 

2. Listen dengan intens ketika mereka berbagi Bahkan jika Anda tidak tahu tentang topiknya, ketertarikan genuine Anda terasa. 

3. Ajukan pertanyaan follow-up "Ceritakan lebih banyak tentang itu." "Bagaimana Anda mulai tertarik pada..." 

4. Temukan angle of interest Bahkan jika topiknya asing, temukan aspek yang bisa Anda relate. Mereka suka gaming? Anda tidak gaming tapi Anda appreciate strategi dan problem-solving dalam game.


Bagian 7: Putting It All Together (Menyatukan Semuanya)

The First 90 Seconds Blueprint 

Mari kita bayangkan situasi real: Anda di networking event, melihat seseorang yang ingin Anda kenal. 

Detik 1-10: Approach dengan Confidence 

  • Set your Really Useful Attitude
  • Open body language
  • Kontak mata
  • Senyum genuine
  • Jalan dengan confident (tidak malu-malu, tidak aggressive)

Detik 11-20: Greeting 

  • "Hi, saya [nama]" dengan nada warm
  • Jabat tangan firm tapi tidak crushing
  • Heart technique—tubuh menghadap mereka
  • Maintain eye contact

Detik 21-40: Opening Line yang Genuine 

  • Jangan generic. Jangan "Bagaimana kabar Anda?" (boring)
  • Specific ke situasi: "Saya notice Anda reading [book]. Saya baru saja finish itu—brilliant!"
  • Atau pertanyaan terbuka: "Apa yang membawa Anda ke event ini?"

Detik 41-70: Build Rapport 

  • Listen actively ke jawaban mereka
  • Observe sensory preference mereka dari kata-kata
  • Begin subtle mirroring body language dan energy
  • Tanyakan follow-up questions
  • Share tentang diri Anda ketika natural (jangan dominate)

Detik 71-90: Solidify Connection 

  • Temukan satu point of connection atau kesamaan
  • Ulangi nama mereka: "Sarah, itu fascinating..."
  • Tunjukkan genuine interest: "Saya ingin tahu lebih banyak tentang [topik yang mereka passionately bicara]"

Pada detik ke-90, kesan sudah terbentuk. Mereka sudah decide apakah mereka suka Anda atau tidak.

Praktik Membuat Sempurna 

Boothman sangat menekankan: Ini adalah skills yang bisa dipelajari

Sama seperti fotografi—skill yang ia kuasai setelah puluhan ribu sesi—rapport adalah skill yang improve dengan latihan. 

Latihan harian: 

1. Berlatih dengan orang asing Barista di kafe. Kasir di supermarket. Orang di elevator. Lakukan small talk. Observasi apa yang berhasil. 

2. Observasi orang yang likable Siapa orang yang paling likable yang Anda kenal? Apa yang mereka lakukan berbeda? Mirror skill mereka. 

3. Self-assess setelah interaksi "Apa yang berhasil?" "Apa yang bisa lebih baik?" "Apakah saya punya Really Useful Attitude?" 

4. Record diri sendiri (Jika appropriate) Video call atau presentasi. Watch yourself. Bagaimana body language Anda? Nada suara?


Penutup: Koneksi Adalah Superpower Anda

Mengapa Ini Penting 

Di era digital dimana banyak orang hiding behind screens, kemampuan untuk connect face-to-face menjadi semakin langka—dan semakin valuable. 

Dalam bisnis, koneksi adalah segalanya. People buy from people they like. People promote people they like. People collaborate dengan people they like. 

Dalam kehidupan personal, koneksi adalah sumber kebahagiaan. Relationships adalah prediktor terbesar kesejahteraan dan umur panjang. 

Tapi banyak orang struggle dengan koneksi karena mereka tidak pernah diajarkan HOW. Mereka pikir "charisma" adalah bakat alami yang Anda born dengan atau tidak. 

Itu salah. 

Boothman membuktikan, melalui puluhan tahun pengalaman, bahwa rapport adalah skill yang bisa dipelajari, dipraktikkan, dan dimaster. 

Tiga Prinsip Inti untuk Diingat 

1. The First 90 Seconds Matter Most Jangan waste mereka dengan being passive, nervous, atau unfocused. Buat setiap detik count. 

2. People Like People Like Themselves Synchrony adalah shortcut ke rapport. Match energy, body language, voice, dan sensory language mereka. 

3. Genuine Beats Technique Every Time Semua teknik ini hanya berhasil jika Anda genuinely care tentang orang lain. Jika Anda using ini untuk manipulate, people will sense it dan reject you. 

Langkah Action untuk Anda 

Minggu ini: 

  • Pilih satu skill untuk focus (misalnya: Open body language)
  • Praktikkan dalam setiap interaksi
  • Observasi perbedaan dalam response orang

Bulan ini: 

  • Integrate semua 4 area: Attitude, Body Language, Voice Synchrony, Sensory Preferences
  • Challenge diri untuk memulai percakapan dengan 3 orang asing
  • Keep journal tentang apa yang Anda pelajari

Tahun ini: 

  • Jadikan rapport-building sebagai second nature
  • Invest in relationships—follow up, stay in touch, add value
  • Teach skill ini ke orang lain (teaching solidifies learning)

Kata Akhir 

Nicholas Boothman mengubah cara dunia memandang koneksi manusia. Ia menunjukkan bahwa di balik mystery "chemistry" dan "vibe," ada science yang bisa dipelajari. 

90 detik mungkin terdengar singkat. Tapi dalam 90 detik, Anda bisa: 

  • Membuat kesan yang lasting
  • Membuka pintu opportunity
  • Memulai friendship yang meaningful
  • Mendapat job yang Anda inginkan
  • Memulai relationship yang mengubah hidup

Semuanya dimulai dengan 90 detik pertama. 

Gunakan mereka dengan bijaksana.


Tentang Buku Asli 

How to Make People Like You in 90 Seconds or Less pertama kali diterbitkan tahun 2000 dan telah menjadi klasik modern dalam literatur komunikasi dan koneksi manusia. 

Nicholas Boothman adalah Master Practitioner berlisensi dari Neuro-Linguistic Programming (NLP). Setelah karir sukses sebagai fotografer fashion dan advertising, ia mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan skill komunikasi face-to-face. 

Ia telah memberikan training ke ribuan individu dan korporasi di seluruh dunia, termasuk Harvard Business School dan London Business School. The New York Times menyebutnya sebagai "salah satu expert terkemuka dalam komunikasi face-to-face di dunia." 

Buku ini dipuji oleh media dan expert: 

  • "Dale Carnegie untuk era yang terburu-buru" - The New York Times
  • "Truly inspirational" - The Economist
  • "Nick Boothman's brilliant stroke adalah menjamin bahwa dalam 90 detik pertama bertemu seseorang, Anda akan berkomunikasi seperti teman lama yang terpercaya" - Bottom Line/Personal

Untuk pemahaman yang lebih mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya yang penuh dengan latihan praktis, self-assessment, dan contoh dialog yang detail. 

Ingat: Koneksi adalah skill yang bisa dipelajari. Dan 90 detik pertama Anda adalah segalanya.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Power of Charm
Back to top

Similar books