Skip to main content

The Monk Who Sold His Ferrari

by Robin Sharma · December 2025 · 15 min read

Runtuhnya Seorang Raja

Table of contents

Runtuhnya Seorang Raja 

Ruang sidang ramai. Semua mata tertuju pada sosok di podium—Julian Mantle, pengacara paling ditakuti di kota. Jas Armani yang sempurna. Jam Rolex berkilau. Percaya diri yang memancar. 

Tapi ada yang tidak beres. 

Wajahnya pucat. Keringat membasahi dahinya. Tangannya gemetar saat memegang dokumen. Napasnya tersengal. 

Kemudian, di tengah argumennya yang penuh semangat, Julian Mantle—manusia yang tampaknya tidak terkalahkan—runtuh. 

Jantung nya berhenti. 

Di usia 53 tahun, dengan semua kesuksesan duniawi yang bisa dibayangkan, Julian Mantle hampir mati di ruang sidang. 

Ia punya segalanya: mansion yang megah, pulau pribadi, jet pribadi, dan tentu saja, Ferrari merah menyala yang menjadi kebanggaannya. Ia punya uang. Ia punya kuasa. Ia punya prestise. 

Tapi ia tidak punya kebahagiaan. Ia tidak punya kedamaian. Ia tidak punya makna. 

Ketika berbaring di rumah sakit, terhubung dengan mesin-mesin yang menjaga nya tetap hidup, Julian membuat keputusan yang akan mengubah segalanya: Ia harus menemukan cara hidup yang berbeda. 

Tiga minggu kemudian, Julian menghilang. Tidak ada yang tahu kemana. Rekan kerjanya, John, mencoba menghubunginya berkali-kali. Tidak ada jawaban. 

Enam bulan. Setahun. Dua tahun.

Julian Mantle menghilang dari dunia yang pernah ia kuasai. 

Lalu, suatu malam, ketukan pintu mengejutkan John. Ketika ia membuka, sosok yang berdiri di sana hampir tidak bisa ia kenali. 

Bukan lagi pengacara berkelas dengan jas mewah. Di depannya berdiri seorang pria dengan jubah sederhana, wajah bercahaya, mata penuh kedamaian yang belum pernah John lihat sebelumnya. 

"Julian?" bisik John tidak percaya. 

Pria itu tersenyum—senyum yang tulus, penuh kehangatan. "Ya, John. Ini aku. Tapi aku bukan Julian yang dulu kau kenal." 

Malam itu, Julian mulai menceritakan kisahnya. Kisah tentang perjalanan ke Himalaya. Kisah tentang para Bijak di Sivana. Kisah tentang tujuh kebijakan hidup yang mengubahnya dari orang yang hampir mati menjadi orang yang benar-benar hidup. 

Dan John mendengarkan—seperti Anda sekarang—dengan hati terbuka, siap untuk belajar.


Bagian 1: Fabel yang Membuka Rahasia 

Sebelum Julian menjelaskan tujuh kebajikan, ia menceritakan sebuah fabel yang ia pelajari dari gurunya, Yogi Raman. 

"Bayangkan," kata Julian, "kamu duduk di taman yang indah. Taman yang penuh dengan bunga-bunga wangi dan pepohonan rindang. Di tengah taman itu berdiri mercusuar merah yang menjulang tinggi." 

John mengangguk, membayangkan. 

"Tiba-tiba, dari mercusuar itu keluar seorang pegulat sumo. Ia sangat besar, hampir mengisi seluruh pintu mercusuar. Dan yang mengejutkan—ia hampir telanjang, hanya mengenakan kawat merah muda sebagai celana." 

John hampir tertawa, tapi melihat keseriusan Julian, ia menahan diri. 

"Pegulat sumo itu berjalan di taman. Ia menemukan jam emas tergeletak di tanah. Ia mengambilnya, memakainya, dan tiba-tiba... ia jatuh pingsan." 

"Apa?" John bingung. "Fabel macam apa ini?" 

Julian tersenyum. "Fabel yang terdengar konyol ini, John, mengandung semua rahasia kehidupan yang bermakna. Setiap elemen adalah simbol—taman, mercusuar, pegulat sumo, kawat merah muda, jam emas. Dan ada dua elemen lagi yang belum kusebutkan: mawar harum dan jalan berlian." 

"Apa artinya semua ini?" tanya John. 

"Itulah yang akan kujelaskan. Tujuh simbol ini adalah tujuh kebajikan hidup tercerahkan. Mari kita mulai dengan yang pertama..."


Bagian 2: Kebajikan Pertama - Kuasai Pikiranmu (Taman yang Megah) 

Taman adalah Pikiranmu 

"Taman dalam fabel itu," jelas Julian, "adalah pikiranmu. Seperti taman yang indah memerlukan perawatan konstan, pikiranmu juga memerlukan perhatian yang sama." 

Julian menceritakan bagaimana para Bijak di Sivana mengajarinya prinsip fundamental: Kualitas hidupmu ditentukan oleh kualitas pikiranmu. 

"Kebanyakan orang membiarkan pikirannya seperti taman yang tidak terawat," lanjut Julian. "Penuh dengan gulma—kekhawatiran, kecemasan, pikiran negatif yang tumbuh liar. Mereka meracuni seluruh taman mental." 

Pikiran Negatif adalah Racun 

Julian menjelaskan sebuah kutipan yang selalu ia ingat dari gurunya: "Pikiran yang mengkhawatirkan adalah seperti embrio; ia dimulai kecil tapi tumbuh dan tumbuh. Segera ia mengambil kehidupannya sendiri." 

Ia memberikan contoh dari hidupnya dulu. Sebagai pengacara, ia selalu memikirkan hal terburuk. Bagaimana jika ia kalah kasus? Bagaimana jika klien tidak senang? Bagaimana jika kompetitor mengambil alih? 

Pikiran-pikiran ini, yang dimulai sebagai kekhawatiran kecil, tumbuh menjadi monster yang mengkonsumsi seluruh hidupnya. Mereka mencuri energi mentalnya, kreativitasnya, bahkan kesehatannya. 

Teknik Heart of the Rose 

"Ada teknik sederhana yang mengubah hidupku," kata Julian. "Namanya Heart of the Rose—Hati Mawar." 

Tekniknya sederhana: 

  • Temukan tempat yang tenang
  • Ambil mawar segar
  • Tatap bagian dalam mawar—lipatannya, teksturnya, keindahannya
  • Pusatkan semua perhatianmu pada mawar itu
  • Ketika pikiran lain masuk, dorong mereka keluar dengan lembut
  • Kembalikan fokus pada mawar

"Mulai dengan 5 menit sehari," saran Julian. "Perlahan tingkatkan menjadi 20 menit. Ini melatih pikiranmu untuk fokus, untuk mengendalikan apa yang masuk." 

Oposisi Thinking 

Julian juga mengajarkan teknik yang disebutnya "oposisi thinking"—setiap kali pikiran negatif muncul, segera gantikan dengan pikiran positif yang lebih kuat. 

Khawatir tentang kegagalan? Ganti dengan visualisasi kesuksesan. Cemas tentang masa depan? Ganti dengan syukur untuk saat ini. Marah pada seseorang? Ganti dengan empati dan pengertian. 

"Ini bukan tentang menyangkal realitas," jelas Julian. "Ini tentang memilih cara berpikir yang memberdayakan, bukan yang melumpuhkan."


Bagian 3: Kebajikan Kedua - Ikuti Tujuanmu (Mercusuar yang Menjulang) 

Mercusuar adalah Tujuan Hidupmu 

"Mercusuar," kata Julian, "berdiri tegak di tengah taman, memberikan arah. Ia adalah simbol tujuan hidup—dharma-mu." 

Julian menceritakan bagaimana, sebagai pengacara sukses, ia pikir ia punya tujuan. Tapi ternyata ia hanya mengejar uang dan status—bukan tujuan sejati. 

"Tujuan sejati," jelasnya, "adalah tentang kontribusi, bukan konsumsi. Tentang apa yang kau berikan, bukan apa yang kau ambil." 

Lima Langkah Menemukan Tujuan 

Para Bijak mengajarkan Julian metode lima langkah: 

1. Temukan Gairah Sejatimu Apa yang membuatmu hidup? Apa yang akan kau lakukan bahkan jika tidak dibayar? Apa yang membuat waktu terasa menghilang? 

2. Identifikasi Bakat Unikmu Apa yang kau lakukan lebih baik dari orang lain? Apa kekuatan alami mu? 

3. Tentukan Nilai Tertinggimu Apa yang benar-benar penting bagimu? Kejujuran? Kreativitas? Keluarga? Keadilan? 

4. Visualisasikan Dampak Ideal Jika hidupmu sempurna dalam 5 tahun, seperti apa? Siapa yang kau bantu? Apa legacy-mu? 

5. Buat Pernyataan Tujuan Tulis dalam satu kalimat sederhana: "Tujuan hidupku adalah..."

Hidup Sesuai Tujuan 

"Ketika kau menemukan tujuanmu," kata Julian dengan mata berbinar, "segalanya berubah. Kau bangun dengan gairah. Tantangan menjadi peluang. Bahkan kegagalan menjadi pelajaran yang berarti." 

Ia menceritakan bagaimana setelah menemukan tujuannya—berbagi kebijaksanaan dan membantu orang lain menemukan kedamaian—hidupnya dipenuhi dengan makna yang tidak pernah ia rasakan ketika mengejar uang.


Bagian 4: Kebajikan Ketiga - Praktikkan Kaizen (Pegulat Sumo) 

Pegulat Sumo adalah Perbaikan Berkelanjutan 

"Pegulat sumo," jelas Julian, "melambangkan filosofi Jepang kuno yang disebut Kaizen—perbaikan tanpa henti." 

Julian menjelaskan bagaimana para Bijak percaya bahwa manusia dirancang untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi lebih baik setiap hari. 

"Ketika kau berhenti tumbuh," katanya, "kau mulai mati—tidak secara fisik, tapi secara spiritual."

10 Ritual Kehidupan yang Bercahaya 

Para Bijak mengajarkan Julian serangkaian ritual pagi yang mereka sebut "Sepuluh Ritual Kehidupan yang Bercahaya": 

Ritual 1: Bangun Pagi Enam jam tidur dan melihat matahari terbit. Pagi adalah waktu paling sakral—udara segar, energi baru, kemungkinan tanpa batas. 

Ritual 2: Keheningan Luangkan waktu untuk keheningan total setelah bangun. Tidak ada telepon, tidak ada TV, tidak ada gangguan. Hanya kau dan pikiran mu. 

Ritual 3: Gerakan Fisik Gerakkan tubuhmu. Yoga, jogging, atau sekadar stretching. Tubuh yang bergerak adalah pikiran yang jernih. 

Ritual 4: Nutrisi Hidup Makan makanan yang hidup—buah segar, sayuran, biji-bijian. Para Bijak vegetarian dan mereka percaya makanan segar memberi energi spiritual. 

Ritual 5: Pengetahuan Melimpah Baca atau pelajari sesuatu setiap hari. 30 menit membaca buku bagus atau mendengarkan audiobook. Pikiran yang tidak diberi makan akan kelaparan. 

Ritual 6: Refleksi Personal Journaling—tulis pikiran, perasaan, pembelajaran, dan rasa syukurmu. Ini adalah percakapan dengan jiwa mu. 

Ritual 7: Mendengarkan Musik Musik yang indah mengangkat jiwa. Beethoven, Mozart, atau apapun yang menyentuh hatimu. 

Ritual 8: Mantra dan Afirmasi Ucapkan mantra atau afirmasi positif. "Aku kuat." "Aku damai." "Aku penuh kasih." Kata-kata membentuk realitas. 

Ritual 9: Koneksi dengan Alam Habiskan waktu di alam setiap hari. Rasakan rumput di bawah kakimu, angin di wajahmu, matahari di kulitmu.

Ritual 10: Berpikir tentang Hari Ini Sebelum memulai hari, visualisasikan hari yang sempurna. Lihat dirimu sukses, bahagia, berkontribusi. Blueprint hari idealmu. 

Komitmen 21 Hari 

"Butuh 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru," kata Julian. "Komit pada satu ritual selama 21 hari. Jangan skip sehari pun. Setelah 21 hari, itu akan menjadi bagian dari dirimu."


Bagian 5: Kebajikan Keempat - Hidup dengan Disiplin (Kawat Merah Muda) 

Kawat Merah Muda adalah Disiplin 

"Kawat merah muda yang dikenakan pegulat sumo," Julian menjelaskan dengan senyum, "melambangkan disiplin diri. Ia terlihat rapuh, seperti kawat tipis, tapi kenyataannya sangat kuat." 

Julian mengakui bahwa ini adalah kebajikan tersulit baginya. Sebagai pengacara, ia terbiasa dengan gratifikasi instan—uang besar, kemenangan cepat, pesta mewah. 

"Tapi para Bijak mengajariku," katanya, "bahwa disiplin sejati adalah kemampuan untuk melakukan apa yang harus dilakukan, ketika harus dilakukan, entah kau merasa ingin melakukannya atau tidak." 

Willpower adalah Otot 

Julian menjelaskan konsep penting: Willpower adalah otot. Semakin kau melatihnya, semakin kuat ia menjadi. 

Cara melatih willpower: 

  • Mulai dengan hal kecil. Jangan mencoba merombak seluruh hidup sekaligus. Pilih satu area—bangun 30 menit lebih awal, atau tidak makan gula selama seminggu.
  • Konsistensi mengalahkan intensitas. Lebih baik olahraga 15 menit setiap hari daripada 2 jam seminggu sekali.
  • Hukum Marginal Gains. Perbaikan 1% setiap hari. Dalam setahun, kau akan 37 kali lebih baik.

Vow of Silence 

Para Bijak praktikkan "sumpah keheningan" satu hari per minggu. Tidak berbicara sama sekali—hanya mendengarkan, mengamati, berefleksi. 

"Pada awalnya menyiksa," Julian mengakui. "Tapi kemudian aku menyadari betapa banyak energi yang ku buang untuk berbicara tanpa tujuan. Keheningan memberimu kekuatan yang luar biasa."


Bagian 6: Kebajikan Kelima - Hormati Waktumu (Jam Emas) 

Jam Emas adalah Waktu Berharga 

"Jam emas," kata Julian, "mengingatkan kita bahwa waktu adalah aset paling berharga. Sekali hilang, tidak akan pernah kembali." 

Julian menceritakan bagaimana sebagai pengacara, ia "tidak punya waktu" untuk keluarga, kesehatan, atau kebahagiaan. Ia selalu sibuk. 

"Tapi aku belajar," katanya dengan sesal, "bahwa 'sibuk' hanyalah alasan untuk tidak melakukan apa yang benar-benar penting." 

Teknik Ancient Rule of 20 

Para Bijak mengajarkan "Ancient Rule of 20"—investasikan 20 menit setiap hari untuk tiga aktivitas yang mengubah hidup: 

20 menit untuk tubuh: Olahraga, yoga, atau meditasi gerakan

20 menit untuk pikiran: Membaca, belajar, atau journaling

20 menit untuk jiwa: Meditasi, doa, atau duduk dalam keheningan 

Total hanya 60 menit—1 jam dari 24 jam. Tapi 1 jam ini akan mengubah 23 jam lainnya.

Deathbed Mentality 

"Bayangkan," kata Julian dengan serius, "kau berada di ranjang kematian. Melihat kembali hidupmu. Apa yang kau sesali? Apa yang kau harap kau lakukan lebih banyak?" 

Kebanyakan orang tidak menyesali apa yang mereka lakukan. Mereka menyesali apa yang tidak mereka lakukan—tidak menghabiskan cukup waktu dengan orang yang dicintai, tidak mengejar impian, tidak mengatakan "aku cinta kamu" cukup sering. 

"Hidup setiap hari," Julian menekankan, "seolah itu adalah hari terakhirmu. Karena suatu hari, itu akan benar."


Bagian 7: Kebajikan Keenam - Layani dengan Tulus (Mawar Harum) 

Mawar Harum adalah Pelayanan 

"Ketika pegulat sumo bangun," Julian melanjutkan fabelnya, "ia mencium aroma mawar yang indah. Mawar ini melambangkan pelayanan kepada orang lain." 

Julian menjelaskan pepatah Cina kuno yang para Bijak ajarkan: "Jejak wewangian selalu tertinggal di tangan yang memberikanmu mawar." 

Artinya: ketika kau membantu orang lain, sebagian manfaat selalu kembali padamu. Karma selalu berputar. 

Hukum Timbal Balik Universe 

"Universe," kata Julian, "beroperasi pada hukum timbal balik. Apa yang kau berikan akan kembali padamu—berkali-kali lipat." 

Tapi—dan ini penting—kau tidak boleh memberi dengan ekspektasi menerima. Kau memberi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. 

"Ketika aku mulai fokus pada bagaimana aku bisa membantu orang lain," Julian menceritakan, "bukan bagaimana orang lain bisa membantuku, hidupku berubah total. Aku menemukan kepuasan yang tidak pernah ku dapat dari menghasilkan uang." 

Praktek Harian 

Julian menyarankan praktek sederhana: Setiap pagi, tanyakan pada diri sendiri: "Siapa yang bisa aku bantu hari ini?" 

Tidak harus hal besar. Bisa sesederhana: 

  • Menelepon orangtua
  • Memuji rekan kerja
  • Membiarkan seseorang mendahului di jalan
  • Tersenyum pada orang asing
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian ketika seseorang berbicara

"Tindakan kecil kebaikan," Julian menekankan, "menciptakan ripple effect yang tak terhitung."


Bagian 8: Kebajikan Ketujuh - Rangkul Saat Ini (Jalan Berlian) 

Jalan Berlian adalah Saat Ini 

"Akhirnya," kata Julian, "pegulat sumo berjalan di jalan berlian yang berkilauan. Ini adalah simbol untuk hidup di saat ini—di sini, sekarang." 

Julian mengaku ini adalah pelajaran yang paling sulit untuk dipraktikkan. "Pikiranku selalu di masa lalu—menyesali kesalahan—atau di masa depan—mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi. Aku tidak pernah benar-benar ada di saat ini." 

Masa Lalu dan Masa Depan adalah Ilusi 

Para Bijak mengajarkan konsep radikal: Masa lalu sudah hilang. Masa depan belum datang. Satu-satunya yang nyata adalah SEKARANG. 

"Ketika kau khawatir tentang masa depan," Julian menjelaskan, "kau mencuri kegembiraan dari saat ini. Ketika kau menyesali masa lalu, kau membuang energi untuk sesuatu yang tidak bisa kau ubah." 

Praktik Mindfulness 

Julian berbagi teknik yang para Bijak praktikkan setiap hari: 

Pernapasan Sadar: Beberapa kali sehari, hentikan apa yang kau lakukan. Tarik napas dalam, tahan, buang perlahan. Fokus hanya pada napas. Ini membawamu kembali ke saat ini. 

Makan dengan Sadar: Jangan makan sambil menonton TV atau bekerja. Rasakan setiap gigitan. Nikmati tekstur, rasa, aroma. Makanan menjadi meditasi. 

Berjalan dengan Sadar: Rasakan setiap langkah. Sentuhan kaki di tanah. Gerakan tubuh. Udara di kulitmu. Berjalan menjadi praktek spiritual. 

Anak-anak adalah Guru 

"Perhatikan anak-anak," kata Julian. "Mereka sepenuhnya ada di saat ini. Ketika mereka bermain, mereka benar-benar bermain. Ketika mereka tertawa, mereka benar-benar tertawa. Mereka tidak dibebani masa lalu atau khawatir masa depan." 

"Sebagai orang dewasa," lanjutnya, "kita kehilangan kemampuan ini. Tapi kita bisa belajar kembali."


Bagian 9: Transformasi Julian 

Sebelum dan Sesudah 

Ketika Julian selesai menceritakan tujuh kebajikan, John duduk terdiam, mencerna semua yang ia dengar. 

"Julian," John akhirnya berkata, "kau benar-benar berubah. Aku melihatnya di matamu. Ada kedamaian yang tidak pernah kulihat sebelumnya." 

Julian tersenyum. "Tiga tahun yang lalu, aku hampir mati di ruang sidang—secara fisik. Tapi sebenarnya, aku sudah mati jauh sebelum itu—secara spiritual." 

Ia menjelaskan transformasinya: 

Sebelum

  • Bangun dengan kecemasan
  • Bekerja 80 jam per minggu
  • Tidak punya waktu untuk keluarga
  • Kesehatan memburuk
  • Kaya secara finansial, miskin secara spiritual
  • Merasa kosong meskipun punya segalanya

Setelah

  • Bangun dengan rasa syukur
  • Bekerja dengan tujuan, bukan obsesi
  • Waktu berkualitas untuk apa yang penting
  • Sehat dan energik
  • Sederhana secara finansial, kaya secara spiritual
  • Dipenuhi makna dan kebahagiaan

Perubahan Tidak Instant 

"Jangan salah paham," Julian memperingatkan. "Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Butuh waktu. Butuh usaha. Butuh komitmen." 

Ia menceritakan bagaimana 21 hari pertama adalah yang tersulit. Pikirannya terus kembali ke pola lama. Ia ingin menyerah berkali-kali. 

"Tapi para Bijak selalu mengatakan," Julian mengingat, "'Perubahan sulit di awal, berantakan di tengah, dan indah di akhir.'"


Penutup: Undangan untuk Berubah 

Pesan Julian untuk John (dan untuk Kita) 

Saat Julian bersiap pergi, ia memegang tangan John. 

"John," katanya dengan lembut, "aku tidak datang kemari untuk memberimu teori. Aku datang untuk mengundangmu berubah." 

"Tujuh kebajikan ini bukan hanya filosofi indah. Ini adalah peta jalan untuk kehidupan yang bermakna. Tapi peta tidak berguna jika kau tidak berjalan." 

Julian memberikan tantangan: 

"Mulai hari ini. Pilih satu kebajikan. Hanya satu. Praktikkan selama 21 hari. Lihat apa yang terjadi." 

Pertanyaan untuk Diri Sendiri 

Sebelum Julian pergi, ia meninggalkan John dengan pertanyaan yang sama yang para Bijak tanyakan padanya: 

1. Jika hari ini adalah hari terakhirmu, apa yang akan kau sesali tidak pernah kau lakukan? 

2. Lima tahun dari sekarang, siapa yang kau ingin menjadi? 

3. Apa yang mencegahmu menjadi orang itu sekarang? 

4. Jika tidak sekarang, kapan? 

Warisan vs. Kesuksesan 

"Ingat," Julian berkata sebagai kata terakhir, "sukses tanpa pemenuhan adalah kegagalan terakhir. Kau bisa punya semua uang di dunia, tapi jika kau tidak bahagia, kau miskin." 

"Sebaliknya, kau bisa hidup sederhana tapi jika kau punya kedamaian, tujuan, dan cinta—kau adalah orang terkaya di planet ini." 

"Pertanyaannya bukan 'Apa yang akan kau capai?' Pertanyaannya adalah 'Warisan apa yang akan kau tinggalkan?'"

Awal dari Perjalanan 

Ketika Julian berjalan keluar dari pintu, John merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam tahun-tahun, ia merasa... harapan. 

Keesokan harinya, John bangun 30 menit lebih awal. Ia duduk di keheningan. Ia berlatih Heart of the Rose. Ia mulai perjalanannya. 

Dan seperti John, kamu juga bisa memulai. Hari ini. Sekarang.


Tentang Buku Asli 

The Monk Who Sold His Ferrari ditulis oleh Robin Sharma dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1997. Buku ini telah terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. 

Robin Sharma adalah salah satu pakar kepemimpinan top dunia. Ia meninggalkan karirnya sebagai pengacara di usia 25 tahun untuk mengejar studi tentang manajemen stres dan spiritualitas. 

Buku ini berbentuk fabel—cerita fiksi yang mengajarkan pelajaran hidup. Julian Mantle adalah karakter fiksi, begitu juga para Bijak di Sivana. Tapi kebijaksanaan yang diajarkan adalah nyata, ditarik dari tradisi spiritual kuno Timur dan filosofi modern. 

Untuk transformasi sejati, sangat disarankan membaca buku asli yang penuh dengan detail, latihan praktis, dan inspirasi yang akan membimbingmu langkah demi langkah. 

Ringkasan ini memberikan peta jalan, tapi perjalanan sejati dimulai ketika kamu menutup layar ini dan mulai mempraktikkan satu kebajikan.


Pesan Penutup: Mulailah Sekarang 

Buku ini bukan tentang menjadi sempurna. Bukan tentang melepaskan semua yang kau punya dan pergi ke Himalaya (meskipun jika kau ingin, silakan!). 

Ini tentang membuat pilihan kecil setiap hari yang secara kumulatif mengubah hidupmu: 

  • Memilih pikiran positif daripada negatif
  • Memilih hidup dengan tujuan daripada sekadar ada
  • Memilih tumbuh setiap hari
  • Memilih disiplin daripada gratifikasi instan
  • Memilih menggunakan waktu dengan bijak
  • Memilih melayani daripada hanya menerima
  • Memilih hadir di saat ini daripada hilang dalam kekhawatiran

Pilihan ini tersedia untukmu setiap detik setiap hari. 

Dan seperti yang Julian katakan kepada John, sekarang ia mengatakan padamu: 

"Hidup yang indah tidak terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari pilihan harian untuk menjadi versi terbaik dari dirimu." 

Jadi, pertanyaan sederhananya adalah: Akankah kau memilih? 

Karena Ferrari, mansion, dan kekayaan duniawi bisa hilang dalam sekejap.

Tapi kedamaian pikiran, tujuan hidup, dan kebahagiaan sejati— 

Itu adalah harta yang tidak bisa diambil siapa pun. 

Mulai hari ini. Mulai sekarang. Mulai dengan satu kebajikan. 

Hidupmu yang luar biasa menunggumu.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Road
Back to top

Similar books