Skip to main content

Think Like a Monk

by Jay Shetty · December 2025 · 14 min read

Dari Jas ke Jubah, Lalu Kembali Lagi

Table of contents

Dari Jas ke Jubah, Lalu Kembali Lagi 

Bayangkan ini: Anda berusia 22 tahun. Baru lulus dari sekolah bisnis terbaik. Tawaran kerja dari perusahaan konsultan bergengsi menunggu—gaji enam digit, apartemen mewah, mobil sport, kehidupan yang semua orang impikan. 

Lalu Anda membuang semuanya. 

Anda mencukur habis rambut Anda. Mengenakan jubah oranye. Tidur di lantai kuil. Bangun jam 4 pagi untuk meditasi. Hidup tanpa ponsel, tanpa uang, tanpa attachment duniawi. 

Selama tiga tahun. 

Ini adalah kisah Jay Shetty. 

Pada tahun 2010, di tengah puncak karir yang menjanjikan, Shetty membuat keputusan yang membuat semua orang—keluarga, teman, dosen—mengira dia gila: dia menjadi biksu. 

Bukan di pegunungan Tibet yang romantis. Bukan dalam isolasi yang damai. Tapi di India, hidup sederhana, melayani komunitas, membersihkan toilet kuil, dan mengemis makanan setiap hari. 

Mengapa? 

"Karena saya menyadari," tulisnya, "bahwa saya mengejar hal-hal yang orang lain katakan akan membuat saya bahagia. Tapi ketika saya bertemu biksu yang benar-benar bahagia—bukan karena apa yang mereka miliki, tapi karena siapa mereka—saya tahu saya harus belajar dari mereka." 

Setelah tiga tahun sebagai biksu, guru spiritualnya memberikan instruksi yang mengejutkan: "Saatnya kamu kembali. Bagikan apa yang kamu pelajari dengan dunia." 

Hari ini, Jay Shetty adalah salah satu content creator paling berpengaruh di dunia. Video-videonya ditonton miliaran kali. Podcastnya masuk chart teratas. Dia melatih CEO perusahaan Fortune 500, selebritas Hollywood, dan jutaan orang biasa.

Tapi dia tidak kembali sebagai motivator klise yang menjual mimpi. Dia kembali dengan kebijaksanaan biksu yang diaplikasikan untuk kehidupan modern. 

"Think Like a Monk" adalah distilasi dari tiga tahun hidup sebagai biksu dan sepuluh tahun mengajarkan prinsip-prinsip itu ke dunia. Bukan untuk membuat Anda meninggalkan pekerjaan dan menjadi biksu. Tapi untuk membawa ketenangan, kejernihan, dan tujuan biksu ke dalam kehidupan Anda—apa pun itu. 

Mari kita mulai.


Bagian 1: Identitas—Siapa Anda Sebenarnya?

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Di minggu pertama sebagai biksu, Shetty diminta duduk di ruangan kosong dan menjawab satu pertanyaan: 

"Siapa Anda?" 

Mudah, pikirnya. "Saya Jay Shetty. Saya lulusan sekolah bisnis. Saya calon konsultan. Saya—" "Bukan," guru menginterupsi. "Itu semua label eksternal. Tanpa semua itu, siapa Anda?" Shetty mencoba lagi. "Saya... saya orang yang ambisius. Saya—" 

"Itu masih label. Lepaskan semua itu. Di inti terdalammu, siapa kamu?" 

Butuh berminggu-minggu meditasi sebelum Shetty mulai memahami: Hampir semua yang dia pikir sebagai 'dirinya' sebenarnya adalah konstruksi dari ekspektasi orang lain. 

Dia ingin jadi konsultan—karena semua temannya melamar ke sana. Dia mengejar uang—karena masyarakat bilang itu sukses. Dia mencari validasi—karena dia dibesarkan dalam budaya yang mengukur nilai manusia dari pencapaian. 

Tapi siapa dia tanpa semua itu? 

Tiga Identitas yang Salah 

Shetty mengidentifikasi tiga sumber utama yang membentuk identitas kita—dan semuanya bermasalah: 

1. Identitas dari Orang Tua dan Keluarga 

"Kamu harus jadi dokter." "Keluarga kita selalu berbisnis." "Jangan mengecewakan kami." 

Ini adalah samskaras—jejak mental yang tercetak sejak kecil. Kadang berguna, sering kali membatasi. 

2. Identitas dari Teman dan Media Sosial 

Teman-teman Anda kerja di startup? Tiba-tiba Anda merasa ketinggalan kalau tidak juga. Instagram penuh orang traveling? Anda merasa hidup Anda membosankan. 

Biksu menyebut ini maya—ilusi. Kita membandingkan kehidupan internal kita dengan highlight reel orang lain.

3. Identitas dari Budaya dan Masyarakat 

"Sukses = rumah besar + mobil mewah + titel prestisius." 

Tapi apakah itu sukses menurut Anda? Atau menurut iklan dan film yang Anda tonton sejak kecil? 

Latihan: Audit Identitas Anda 

Shetty memberikan pertanyaan powerful: 

Tuliskan lima hal yang Anda kejar sekarang dalam hidup. 

Lalu untuk masing-masing, tanyakan: 

  • Mengapa saya menginginkan ini?
  • Apakah ini benar-benar penting bagi saya?
  • Atau saya menginginkannya karena orang lain bilang saya harus?

Kebanyakan orang kaget menemukan bahwa lebih dari 70% dari apa yang mereka kejar sebenarnya bukan keinginan mereka sendiri. 

Mereka mengejar definisi sukses orang lain dengan menggunakan hidup mereka sendiri.


Bagian 2: Ego—Musuh Terbesar Kita 

Kobra dalam Kepala Anda 

Ada cerita biksu kuno yang Shetty bagikan: 

Seorang biksu berjalan di hutan. Dia melihat ular kobra berbisa di jalurnya. Daripada membunuhnya, dia memindahkannya dengan lembut ke semak-semak. 

Ular itu berkata: "Terima kasih karena tidak membunuhku. Tapi aku tetap akan menyerangmu." 

Biksu menjawab: "Aku tahu kamu akan menyerang. Tapi aku tidak akan membiarkan sifatmu mengubah sifatku." 

Kemudian dia menambahkan: "Tapi kobra paling berbahaya bukan di hutan. Kobra paling berbahaya ada dalam pikiran kita—dan namanya adalah ego." 

Dua Wajah Ego 

Ego punya dua bentuk—dan keduanya berbahaya: 

1. Superioritas "Saya lebih baik dari Anda." 

Ini yang kita pikirkan saat bicara tentang ego. Arogansi. Kesombongan. Kebutuhan untuk merasa lebih tinggi. 

2. Inferioritas "Saya tidak cukup baik." 

Ini ego dalam samaran. Masih tentang "saya." Masih tentang perbandingan. Hanya saja sekarang Anda di sisi bawah. 

Biksu mengajarkan: Kedua-duanya adalah penjara. Kedua-duanya membuat Anda terobsesi dengan diri sendiri. 

Dari Ego ke Purpose 

Pertanyaan paling powerful dalam buku ini: 

"Apakah saya melakukan ini untuk terlihat baik, atau untuk berbuat baik?" Contoh: 

  • Posting kegiatan amal di Instagram—untuk terlihat baik atau berbuat baik?
  • Bekerja lembur—untuk membuktikan sesuatu atau karena ini penting?
  • Memberikan nasihat—untuk terlihat pintar atau benar-benar membantu?

Shetty berbagi pengalamannya membersihkan toilet di kuil sebagai biksu. Tugas yang merendahkan ego? Ya. Tapi justru di situ dia belajar: 

"Ketika tidak ada yang menonton, dan pekerjaan Anda tidak mendapat aplaus—di situlah Anda menemukan siapa Anda sebenarnya."


Bagian 3: Detoksifikasi Negatif—Membersihkan Pikiran

Eksperimen Beras Masaru Emoto 

Shetty menceritakan eksperimen kontroversial dari ilmuwan Jepang Masaru Emoto: Emoto menaruh nasi yang sudah dimasak dalam dua stoples. Setiap hari: 

  • Stoples 1: dia berkata "Terima kasih. Saya mencintaimu."
  • Stoples 2: dia berkata "Kamu bodoh. Saya membencimu."

Setelah 30 hari: 

  • Stoples 1: Nasi fermentasi dengan aroma seperti wine yang pleasant
  • Stoples 2: Nasi membusuk dan berbau busuk

Apakah ini sains yang solid? Debatable. Tapi ada pelajaran profound: Jika kata-kata bisa mempengaruhi nasi, bayangkan apa yang kata-kata negatif lakukan pada pikiran Anda. 

Tiga Jenis Negatif yang Harus Didetox 

1. Keluhan Tanpa Henti 

Biksu punya aturan: Jika Anda mengeluh tentang sesuatu lebih dari tiga kali tanpa melakukan tindakan untuk mengubahnya, Anda tidak ingin solusi—Anda ingin berkubang dalam masalah. 

Solusi: Setiap kali Anda ingin mengeluh, tanyakan: 

  • Apakah ini dalam kontrol saya?
  • Jika ya, apa yang akan saya lakukan?
  • Jika tidak, mengapa saya buang energi?

2. Drama dan Gossip 

"Tahu gak, si X kemarin..." 

Biksu mengajarkan konsep ahimsa—non-violence. Bukan hanya fisik, tapi juga verbal.

Gossip adalah kekerasan verbal. Anda menyerang seseorang yang tidak bisa membela diri. 

Aturan sederhana: Jangan pernah bicara tentang orang yang tidak ada di ruangan—kecuali itu pujian. 

3. Kecemasan tentang Masa Depan

"Bagaimana kalau saya gagal?" "Bagaimana kalau mereka tidak menyukai saya?" "Bagaimana kalau semua ini sia-sia?" 

Biksu mengajarkan bahwa 99% dari apa yang kita khawatirkan tidak pernah terjadi. 

Latihan: Tuliskan semua kekhawatiran Anda hari ini. Tiga bulan kemudian, cek lagi. Berapa yang benar-benar terjadi? 

Kebanyakan orang kaget menemukan hampir semuanya tidak terjadi—atau ketika terjadi, tidak seburuk yang dibayangkan.


Bagian 4: Rutinitas Biksu—Struktur Membawa Kebebasan 

Bangun Jam 4 Pagi? Serius? 

Ya. Dan inilah mengapa itu mengubah hidup Shetty. 

Di ashram, rutinitas ketat: 

  • 4:00 - Bangun
  • 4:30 - Meditasi
  • 6:00 - Studi teks suci
  • 7:00 - Layanan komunitas
  • Dan seterusnya...

Awalnya Shetty merasa seperti penjara. "Di mana kebebasan saya?" 

Guru menjawab dengan paradoks: "Disiplin adalah jalan menuju kebebasan."

Maksudnya? 

Ketika rutinitas pagi Anda kacau—terlambat bangun, scrolling ponsel, terburu-buru—Anda menghabiskan energi mental hanya untuk memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. 

Ketika rutinitas sudah otomatis—bangun jam sama, meditasi dulu, sarapan sehat—Anda menghemat energi keputusan untuk hal-hal yang benar-benar penting. 

Struktur eksternal menciptakan kebebasan internal. 

Morning Routine ala Biksu (Versi Modern) 

Shetty tidak menyuruh semua orang bangun jam 4 pagi. Tapi dia memberikan framework:

Jam Pertama untuk Diri Sendiri (Before You Check Your Phone) 

1. Terbangun dengan Niat (5 menit) Sebelum buka mata, ambil tiga napas dalam. Ucapkan: "Hari ini saya akan..." 

2. Gratitude (5 menit) Tuliskan atau ucapkan tiga hal yang Anda syukuri. Spesifik. Bukan "keluarga saya" tapi "cara istri saya tersenyum kemarin pagi." 

3. Meditasi atau Keheningan (10-20 menit) Tidak perlu sempurna. Duduk diam. Napas. Ketika pikiran melayang, bawa kembali ke napas.

4. Movement (10-20 menit) Yoga, jalan kaki, peregangan. Gerakan dengan kesadaran, bukan autopilot. 

5. Pembelajaran (10-15 menit) Baca buku yang mengembangkan Anda. Bukan berita atau media sosial. 

Total: 40-60 menit sebelum hari Anda "mulai." 

Shetty berjanji: Lakukan ini selama 21 hari. Anda tidak akan mengenali diri sendiri.


Bagian 5: Mind Management—Mengelola Pikiran

Pikiran Seperti Monyet Mabuk 

Ada pepatah biksu: "Pikiran seperti monyet mabuk yang disengat lebah."

Melompat-lompat. Tidak pernah diam. Reaktif terhadap segala stimuli. 

Rata-rata orang punya 60.000-80.000 pikiran per hari. 80% dari itu negatif. 95% dari itu adalah pengulangan dari hari sebelumnya. 

Anda tidak berpikir—Anda di-berpikir oleh pikiran yang sama berulang-ulang.

Spot, Stop, Swap 

Shetty mengajarkan teknik sederhana untuk mengelola pikiran negatif: 

1. SPOT (Deteksi) "Oh, saya sedang berpikir negatif sekarang." 

Kesadaran adalah langkah pertama. Kebanyakan orang bahkan tidak sadar mereka terjebak dalam spiral negatif. 

2. STOP (Hentikan) Jangan lawan pikiran. Jangan tekan. Cukup katakan: "Terima kasih sudah muncul, tapi saya tidak perlu pikiran ini sekarang." 

3. SWAP (Tukar) Ganti dengan pikiran yang lebih berguna. 

Bukan dari "Saya pasti gagal" langsung ke "Saya pasti sukses" (terlalu jauh, otak tidak percaya). 

Tapi dari "Saya pasti gagal" ke "Saya sudah mempersiapkan sebaik mungkin. Apapun hasilnya, saya akan belajar." 

Visualisasi—Alat Biksu Kuno, Dipakai Atlet Modern 

Biksu menggunakan visualisasi selama berabad-abad. Sekarang atlet olimpiade menggunakannya. 

Michael Phelps memvisualisasikan setiap perlombaan dengan detail sempurna—termasuk kesalahan potensial dan bagaimana dia akan merespons. 

Shetty mengajarkan: 

Setiap malam sebelum tidur, visualisasikan hari esok: 

  • Lihat diri Anda bangun dengan energi
  • Lihat diri Anda menangani tantangan dengan tenang
  • Lihat diri Anda sukses dalam meeting atau presentasi
  • Rasakan emosi dari kesuksesan itu

Otak tidak membedakan visualisasi vivid dengan pengalaman nyata. Anda melatih otak Anda untuk sukses sebelum itu terjadi.


Bagian 6: Purpose—Menemukan Dharma Anda

Pertanyaan Terpenting dalam Hidup 

Biksu mengajarkan konsep dharma—tujuan hidup Anda, alasan Anda ada. Bukan sekadar pekerjaan. Bukan sekadar passion. Tapi persilangan antara: 

  • Apa yang Anda cintai
  • Apa yang Anda kuasai
  • Apa yang dunia butuhkan

Shetty memberikan latihan sederhana tapi profound: 

Tuliskan jawaban untuk pertanyaan ini: 

1. Apa yang Anda lakukan di mana waktu terasa menghilang? (Ini menunjukkan passion Anda) 

2. Apa yang orang lain sering minta bantuan Anda? (Ini menunjukkan keahlian Anda) 

3. Ketika Anda melihat masalah di dunia, mana yang membuat Anda paling peduli? (Ini menunjukkan purpose Anda) 

Dharma Anda ada di persimpangan ketiga jawaban itu. 

Dari Passion ke Purpose 

Banyak orang mengatakan "ikuti passion Anda." Biksu bilang itu tidak cukup.

Contoh: Anda passionate tentang musik. Tapi apakah itu purpose Anda?

Pertanyaan lebih dalam: Mengapa musik penting bagi Anda? 

"Karena musik membuat orang merasa dipahami. Musik menyembuhkan." 

Nah. Itu lebih dekat ke purpose. Purpose Anda bukan musik—tapi menyembuhkan dan membuat orang merasa dipahami melalui musik. 

Sekarang Anda punya kompas. Setiap keputusan karir—ambil proyek ini atau tidak, kolaborasi dengan siapa, genre apa—bisa dievaluasi terhadap purpose itu. 

Purpose memberi arah. Passion memberi energi. Keduanya perlu bersama.


Bagian 7: Service—Kebahagiaan dari Memberi

Rahasia Kebahagiaan Biksu 

Inilah yang mengejutkan Shetty paling dalam: 

Biksu hidup dengan hampir tidak punya apa-apa. Tidur di lantai. Makan makanan sederhana. Tidak punya smartphone, mobil, atau uang. 

Tapi mereka adalah orang paling bahagia yang pernah dia temui. 

Mengapa? 

Karena setiap hari mereka hidup untuk melayani. 

Mereka bangun bukan dengan pertanyaan "Apa yang bisa saya dapatkan hari ini?" tapi "Siapa yang bisa saya bantu hari ini?" 

Shetty mengutip penelitian: 

  • Orang yang volunteer secara teratur 42% lebih mungkin merasa bahagia
  • Memberi uang membuat orang lebih bahagia daripada menerima uang (bahkan jika jumlah sama)
  • Act of service melepaskan endorfin—"helper's high"

Service vs Sacrifice 

Banyak orang berpikir service = sacrifice (pengorbanan). 

"Saya harus memberikan waktu/uang/energi saya. Saya yang rugi." 

Biksu mengajarkan: Service adalah privilege, bukan sacrifice. 

Ketika Anda melayani, Anda mendapat lebih banyak daripada memberi: 

  • Rasa tujuan
  • Koneksi yang bermakna
  • Perspektif (masalah Anda suddenly terlihat lebih kecil)
  • Kebahagiaan yang lasting (bukan temporary high dari belanja atau achievements)

Aplikasi Praktis: Service Mindset 

Anda tidak perlu jadi biksu untuk hidup dengan service mindset. 

Di Pekerjaan: Ubah "Bagaimana saya bisa naik jabatan?" menjadi "Bagaimana saya bisa menambah nilai untuk tim dan customer?"

Ironisnya, ketika Anda fokus melayani, promosi datang lebih cepat. 

Di Rumah: Ubah "Kenapa dia tidak pernah membantu?" menjadi "Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat hari mereka lebih mudah?" 

Dalam Komunitas: Setidaknya satu jam per minggu—volunteer, mentoring, membantu tetangga. 

Shetty berjanji: Anda tidak akan pernah merasa waktu itu terbuang. Itu adalah jam paling bermakna dalam minggu Anda.


Bagian 8: Relationships—Cinta dengan Kesadaran

Jenis-jenis Orang dalam Hidup Anda 

Biksu mengajarkan bahwa orang di sekitar Anda bisa dikategorikan dalam tiga tipe: 

1. Orang yang Menguras (The Drainers) Setiap interaksi meninggalkan Anda lelah. Mereka selalu mengambil, tidak pernah memberi. Selalu drama. 

2. Orang yang Netral (The Neutrals) Interaksi transaksional. Tidak menambah atau mengurangi energi Anda. 

3. Orang yang Mengisi (The Fillers) Setelah bicara dengan mereka, Anda merasa energized. Mereka mendukung, menginspirasi, menantang Anda untuk tumbuh. 

Audit Relationship Anda: Tuliskan 10 orang yang paling sering Anda habiskan waktu. Kategorikan mereka. 

Biksu mengajarkan: Anda adalah rata-rata dari 5 orang yang paling sering Anda habiskan waktu. 

Jika mayoritas Anda adalah Drainers, jangan kaget jika hidup Anda penuh drama dan negativitas. 

Cinta Tanpa Attachment 

Ini mungkin konsep paling sulit tapi paling transformatif: 

Biksu mengajarkan untuk mencintai tanpa attachment. 

Bukan berarti tidak peduli. Bukan berarti distant. Tapi berarti: 

"Saya mencintaimu. Tapi kebahagiaan saya tidak bergantung pada apakah kamu mencintai saya balik. Saya mendukungmu. Tapi identitas saya tidak terikat pada hubungan kita." 

Ini membebaskan kedua belah pihak. 

Shetty memberikan analogi indah: "Pegang orang yang Anda cintai seperti Anda memegang burung. Kalau terlalu ketat, dia mati lemas. Kalau terlalu longgar, dia terbang. Pegang dengan cukup lembut sehingga dia merasa aman, tapi cukup longgar sehingga dia merasa bebas."


Penutup: Hidup Biksu di Dunia Modern 

Jay Shetty menutup buku dengan pengakuan jujur: 

"Saya tidak sempurna. Saya masih frustrasi di traffic. Saya masih kadang terlalu keras pada diri sendiri. Saya masih kehilangan kesabaran. 

Tapi sekarang saya punya tools. Dan setiap hari, saya sedikit lebih baik dari kemarin."

Inilah inti dari Think Like a Monk: 

Bukan tentang menjadi sempurna. Bukan tentang meninggalkan dunia dan hidup di gua. Bukan tentang tidak pernah merasakan emosi negatif. 

Tapi tentang: 

  • Kesadaran - Melihat pikiran dan emosi Anda dengan clarity
  • Niat - Memilih respons Anda, bukan hanya bereaksi
  • Purpose - Hidup dengan tujuan yang lebih besar dari diri Anda
  • Service - Menemukan kebahagiaan dengan memberi
  • Growth - Berkomitmen untuk terus belajar dan berkembang

Aplikasi Praktis: 30 Hari Challenge 

Shetty menantang pembaca untuk 30 hari: 

Week 1: Let Go 

  • Identifikasi satu kebiasaan negatif (gossip, keluhan, media sosial berlebihan)
  • Commit untuk lepas dari itu selama seminggu

Week 2: Grow 

  • Bangun 30 menit lebih awal
  • Gunakan waktu itu untuk meditasi, journaling, atau pembelajaran
  • Tidak ada ponsel sampai rutinitas pagi selesai

Week 3: Give 

  • Lakukan satu act of service setiap hari
  • Bisa sekecil mendengarkan teman dengan penuh perhatian
  • Atau sebesar volunteer di komunitas

Week 4: Integrate 

  • Gabungkan semua praktek
  • Evaluasi: Apa yang berubah?
  • Commit untuk meneruskan apa yang paling berdampak

Pertanyaan Penutup untuk Anda 

Sebelum Anda menutup ringkasan ini, duduk sebentar dan jawab pertanyaan ini: 

1. Jika Anda menjalani hidup persis seperti sekarang selama 40 tahun lagi, apakah Anda akan puas? 

Jika tidak, apa yang perlu berubah? 

2. Apa satu kebiasaan yang, jika Anda konsisten lakukan setiap hari, akan transform hidup Anda? 

3. Siapa yang Anda bisa layani hari ini? 

Seperti yang biksu ajarkan pada Shetty—dan Shetty ajarkan pada kita: 

"Pikiran yang tidak terlatih seperti taman yang penuh rumput liar. Tapi pikiran yang terlatih seperti taman yang penuh bunga. Perbedaannya bukan pada tanah—tapi pada apa yang Anda pilih untuk tanam dan rawat setiap hari." 

Jadi apa yang akan Anda tanam hari ini?


Tentang Buku Asli 

"Think Like a Monk: Train Your Mind for Peace and Purpose Every Day" diterbitkan pada September 2020 dan langsung menjadi #1 New York Times Bestseller. 

Jay Shetty adalah mantan biksu yang sekarang menjadi salah satu content creator paling berpengaruh di dunia. Video-videonya di media sosial telah ditonton lebih dari 10 miliar kali. Podcast-nya, "On Purpose," adalah salah satu health and wellness podcast #1 di dunia. 

Setelah lulus dari sekolah bisnis di London, Shetty menghabiskan tiga tahun sebagai biksu di ashram di India. Pengalaman itu membentuk filosofi hidupnya dan menjadi basis dari ajaran-ajarannya. 

Buku ini menggabungkan kebijaksanaan Vedic kuno dengan psikologi modern, neuroscience, dan storytelling yang engaging. Shetty tidak hanya memberikan konsep abstrak, tapi juga latihan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. 

Untuk pemahaman lengkap tentang filosofi monk mindset dan puluhan latihan praktis yang mengubah hidup, sangat disarankan membaca buku aslinya. Shetty menulis dengan gaya yang personal, vulnerable, dan sangat relatable—menunjukkan bahwa wisdom biksu bukan hanya untuk mereka yang hidup di kuil, tapi untuk siapa pun yang mencari kedamaian dan tujuan di dunia modern yang kacau. 

Ringkasan ini menangkap konsep-konsep inti, tetapi buku lengkap memberikan depth, cerita personal, dan guided practices yang akan mengubah cara Anda berpikir, merasa, dan hidup. 

Sekarang pergilah dan mulai latih pikiran Anda—satu napas, satu pilihan, satu hari pada satu waktu. 

Karena seperti yang biksu ajarkan: "Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Tapi yang lebih penting, perjalanan itu dimulai dengan niat untuk melangkah." 

Niat Anda sudah jelas dengan membaca sampai sini. 

Sekarang saatnya melangkah.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Being Peace
Back to top

Similar books