Skip to main content

Profit Over People

by Noam Chomsky · December 2025 · 14 min read

Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan

Table of contents

Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan 

Tahun 1998. Krisis ekonomi Asia menghancurkan jutaan kehidupan. Thailand, Indonesia, Korea Selatan—negara-negara yang disebut "macan Asia"—tiba-tiba runtuh. 

Perusahaan bangkrut. Bank kolaps. Mata uang jatuh bebas. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan dalam semalam. 

Di Indonesia, harga beras—makanan pokok—melonjak 500%. Orang-orang yang kemarin termasuk kelas menengah, hari ini mengantri di dapur umum. 

Media mainstream memberitakan: "Ini karena crony capitalism. Korupsi. Nepotisme. Kesalahan negara-negara Asia sendiri." 

Tapi ada pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan: 

Siapa yang diuntungkan dari krisis ini? 

Sementara jutaan rakyat kehilangan segalanya, perusahaan-perusahaan multinasional Barat membeli aset-aset Asia dengan harga diskon masif. Bank-bank Wall Street mendapat miliaran dolar dalam bentuk "penyelamatan" dari IMF—uang yang sebenarnya adalah pajak dari rakyat Amerika dan utang yang harus dibayar rakyat Asia. 

Krisis tidak merata. Ada yang menderita. Ada yang meraih keuntungan besar. 

Noam Chomsky—linguist MIT yang menjadi salah satu intelektual paling berpengaruh dan kontroversial di abad ke-20—menghabiskan lebih dari 50 tahun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang "tidak boleh" ditanyakan. 

"Profit Over People" adalah salah satu kritik paling tajam terhadap sistem ekonomi global yang menempatkan keuntungan korporasi di atas kesejahteraan manusia.

Buku ini bukan untuk yang nyaman dengan status quo. Buku ini akan membuat Anda marah. Membuat Anda bertanya. Dan mungkin—jika Chomsky benar—membuat Anda ingin mengubah sesuatu. 

Mari kita mulai dengan pertanyaan fundamental: 

Apakah demokrasi dan kapitalisme bisa hidup berdampingan?


Bagian 1: Neoliberalisme—Ideologi yang Menyamar Sebagai Hukum Alam 

Apa Itu Neoliberalisme? 

Tahun 1980-an. Margaret Thatcher di Inggris. Ronald Reagan di Amerika. Mereka membawa ide yang sama: "There is no alternative"—tidak ada alternatif untuk pasar bebas. 

Pemerintah adalah masalah, bukan solusi. Privatisasi adalah jawaban. Deregulasi adalah kunci kemakmuran. Globalisasi adalah takdir yang tidak bisa dihindari. 

Ini adalah neoliberalisme—filosofi ekonomi yang mendominasi dunia selama 40 tahun terakhir. Prinsip-prinsip neoliberalisme sederhana: 

1. Pasar bebas - biarkan pasar menentukan segalanya 

2. Privatisasi - jual semua aset negara ke sektor swasta 

3. Deregulasi - hilangkan semua batasan untuk bisnis 

4. Pemotongan pengeluaran sosial - kurangi kesejahteraan, subsidi, layanan publik

5. Globalisasi - buka semua negara untuk investasi dan perdagangan asing 

Kedengarannya logis, bukan? Persaingan menciptakan efisiensi. Swasta lebih efisien dari pemerintah. Pasar adalah demokratis karena setiap orang "memilih" dengan uang mereka. 

Tapi Chomsky bertanya: Jika ini benar-benar sistem terbaik, mengapa harus dipaksakan dengan kekerasan? 

Dari Chile hingga Indonesia: Neoliberalisme dengan Senjata

11 September 1973. Bukan 2001—tapi 1973. Di Chile. 

Presiden Salvador Allende—dipilih secara demokratis—digulingkan dalam kudeta militer yang didukung CIA. Ribuan orang dibunuh. Puluhan ribu ditahan dan disiksa. 

Mengapa? Karena Allende adalah sosialis. Dia nasionalisasi tambang tembaga. Dia memberikan tanah kepada petani. Dia meningkatkan upah pekerja. 

Ini mengancam keuntungan perusahaan-perusahaan Amerika. 

Jenderal Pinochet yang mengambil alih membawa sekelompok ekonom yang dilatih di University of Chicago—"Chicago Boys." Mereka menerapkan neoliberalisme dengan brutal: 

  • Privatisasi massal
  • Pemotongan pengeluaran sosial
  • Deregulasi total
  • Pembukaan ekonomi untuk modal asing

Hasilnya? "Keajaiban ekonomi Chile"—begitu media Barat menyebutnya. Tapi keajaiban untuk siapa? 

Kesenjangan melebar drastis. 10% teratas meraup hampir semua pertumbuhan. 45% rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Serikat pekerja dihancurkan. Protes ditekan dengan kekerasan. 

Tapi Wall Street senang. Investor asing senang. Dan Chile dijadikan model untuk seluruh dunia. 

Chomsky menulis dengan sarkasme tajam: "Neoliberalisme adalah sistem yang sangat demokratis—selama yang dimaksud dengan 'demos' adalah korporasi dan orang-orang kaya." 

Indonesia 1965: Pembantaian untuk Membuka Pasar 

Atau lihat Indonesia tahun 1965. 

Sukarno—presiden pertama Indonesia—menjalankan kebijakan ekonomi nasionalis. Dia dekat dengan Uni Soviet. Dia melawan imperialisme Barat. 

Lalu kudeta terjadi. Setidaknya 500.000 orang—mungkin hingga 1 juta—dibantai dalam beberapa bulan. Sebagian besar adalah anggota partai komunis, serikat pekerja, petani. 

Suharto mengambil alih. Dan apa yang terjadi? 

Time Magazine menulis: "The West's best news for years in Asia." 

Mengapa "kabar baik"? Karena Suharto membuka ekonomi Indonesia untuk investasi asing. Memberikan konsesi minyak, tambang, hutan kepada korporasi Barat. Menekan upah buruh. Melarang serikat independen. 

Setengah juta nyawa adalah harga yang "acceptable" untuk membuka pasar Indonesia. 

Chomsky tidak mengatakan ini dengan teori konspirasi. Dia mengutip dokumen-dokumen pemerintah AS yang declassified. Memo dari Departemen Luar Negeri. Laporan CIA. 

Semuanya terdokumentasi. Semuanya fakta. 

Yang membuat orang tidak nyaman bukan bahwa Chomsky berbohong—tapi bahwa dia mengatakan kebenaran yang tidak ingin kita dengar.


Bagian 2: Demokrasi Spektakel—Memilih yang Sudah Dipilihkan 

Ilusi Pilihan 

Amerika Serikat bangga sebagai "beacon of democracy"—mercusuar demokrasi dunia.

Tapi Chomsky bertanya: Demokrasi untuk siapa? 

Setiap empat tahun, rakyat Amerika "memilih" presiden mereka. Tapi siapa yang bisa menjadi kandidat? 

Hanya mereka yang didukung oleh donor besar. Hanya mereka yang tidak mengancam kepentingan korporasi. Hanya mereka yang sudah "disetujui" oleh elit. 

Kampanye presiden Amerika menghabiskan miliaran dolar. Uang dari mana? Dari perusahaan, dari miliarder, dari Wall Street. 

Dan ketika presiden terpilih, kepada siapa dia berhutang budi? Kepada rakyat yang memilih—atau kepada donor yang membiayai kampanyenya? 

"Dalam demokrasi sejati, rakyat membuat keputusan. Dalam demokrasi spektakel, rakyat memilih di antara pilihan yang sudah disiapkan oleh elit." 

Konsensus Washington: Diktator Tidak Kasat Mata 

Chomsky mengekspos apa yang dia sebut "konsensus Washington"—serangkaian kebijakan ekonomi yang dipaksakan oleh IMF dan Bank Dunia kepada negara-negara berkembang. 

Begini ceritanya: 

Negara berkembang butuh pinjaman—untuk membangun infrastruktur, untuk pendidikan, untuk kesehatan. 

IMF berkata: "Kami akan beri pinjaman. Tapi dengan syarat." 

Syaratnya selalu sama: 

1. Privatisasi - jual perusahaan negara (air, listrik, telekomunikasi) 

2. Liberalisasi perdagangan - buka pasar untuk produk asing 

3. Deregulasi keuangan - izinkan modal asing keluar-masuk tanpa kontrol

4. Penghematan fiskal - potong subsidi, kesehatan, pendidikan 

5. Orientasi ekspor - fokus pada ekspor, bukan kebutuhan domestik 

Negara tidak punya pilihan. Mereka butuh uang. Jadi mereka setuju.

Hasilnya? 

Argentina: Mengikuti semua resep IMF dengan patuh pada tahun 1990-an. Dipuji sebagai "siswa teladan." Lalu ekonomi kolaps total tahun 2001. Setengah populasi jatuh ke kemiskinan dalam setahun. 

Yunani: Krisis 2010. IMF "menyelamatkan" dengan pinjaman—dengan syarat pemotongan pensiun, gaji pegawai negeri, layanan kesehatan. Pengangguran melonjat ke 27%. Bunuh diri naik drastis. Tapi bankir Jerman dan Prancis diselamatkan. 

Afrika: Mengikuti resep Bank Dunia selama 30 tahun. Hasilnya? Kontinen paling miskin di dunia, meskipun paling kaya sumber daya. 

Chomsky bertanya dengan tajam: "Jika resep IMF benar-benar untuk membantu negara-negara ini, mengapa hasilnya selalu sama—rakyat menderita, korporasi multinasional untung?" 

Jawabannya jelas: Karena tujuannya memang bukan membantu rakyat. Tujuannya adalah membuka pasar dan aset untuk eksploitasi korporasi.


Media Sebagai Alat Propaganda 

Dalam buku lain yang ditulis bersama Edward Herman, Chomsky mengembangkan "Propaganda Model"—bagaimana media massa berfungsi sebagai alat propaganda untuk elit. 

Prinsipnya sederhana: Media di negara otoriter mengontrol informasi dengan sensor langsung. Media di negara "demokratis" mengontrol informasi dengan cara yang lebih halus—tapi sama efektifnya. 

Lima Filter Propaganda: 

Filter 1: Kepemilikan Siapa yang memiliki media? Konglomerat raksasa. Time Warner. News Corp. Comcast. Disney. 

Mereka adalah korporasi yang profit-oriented. Mereka tidak akan menerbitkan berita yang mengancam model bisnis mereka sendiri. 

Filter 2: Iklan Media mendapat uang dari iklan, bukan dari pembaca. Jadi pelanggan sejati media adalah pengiklan—perusahaan besar. 

Berita yang baik adalah berita yang menciptakan "buying mood"—suasana hati konsumtif. Bukan berita yang membuat orang marah pada sistem. 

Filter 3: Sumber Berita Media bergantung pada sumber "resmi"—pemerintah, korporasi, think tank. 

Sumber alternatif—aktivis, serikat pekerja, korban—jarang diberi platform yang sama. Dan jika diberi, mereka harus "membuktikan" kredibilitas, sementara sumber resmi dipercaya begitu saja. 

Filter 4: Flak (Tekanan) Organisasi atau individu yang mengkritik media bisa diserang—dicap "bias," "tidak profesional," "ekstremis." 

Ini membuat wartawan self-censor—menghindari topik kontroversial untuk menghindari masalah. 

Filter 5: Ideologi Dulu adalah anti-komunisme. Sekarang adalah "perang melawan teror," "pasar bebas," "keamanan nasional." 

Ideologi dominan membingkai apa yang dianggap "masuk akal" dan apa yang dianggap "ekstrem." 

Contoh Nyata: Perang Irak

Chomsky memberikan contoh invasi Irak 2003. 

Media Amerika hampir seragam mendukung perang. Mereka menyiarkan klaim pemerintah tentang "senjata pemusnah massal" tanpa verifikasi kritis. Mereka memberikan platform luas untuk politisi dan jenderal yang pro-perang. 

Suara anti-perang—yang ternyata benar—diminimalisir atau diabaikan. 

Setelah perang, ketika terbukti tidak ada senjata pemusnah massal, media mengakui "kesalahan." Tapi tidak ada pertanggungjawaban. Tidak ada wartawan atau editor dipecat. Tidak ada refleksi mendalam. 

Mengapa? Karena media berfungsi persis seperti yang seharusnya—memproduksi persetujuan publik untuk kebijakan yang menguntungkan elit. 

"Propaganda paling efektif adalah yang tidak terlihat seperti propaganda."


Bagian 4: Siapa yang Benar-Benar Berkuasa?

Korporatokrasi: Pemerintahan oleh Korporasi 

Chomsky menghancurkan mitos bahwa kita hidup dalam demokrasi sejati. 

"Kita hidup dalam korporatokrasi—sistem di mana korporasi memiliki kekuasaan politik yang setara atau lebih besar dari pemerintah terpilih." 

Buktinya ada di mana-mana: 

Lobbyist: Di Washington DC, ada sekitar 12.000 lobbyist terdaftar—lebih dari 20 untuk setiap anggota Kongres. Mereka menulis draft undang-undang. Mereka membiayai kampanye. Mereka menawarkan pekerjaan bagi politisi yang "kooperatif." 

Revolving Door: Pejabat pemerintah pensiun dan langsung bekerja di korporasi yang dulu mereka regulasi. Eksekutif korporasi diangkat ke posisi pemerintahan yang mengatur industri mereka sendiri. 

Henry Paulson—CEO Goldman Sachs—menjadi Menteri Keuangan AS dan "menyelamatkan" Wall Street dengan uang pembayar pajak. 

Robert Rubin—eksekutif Goldman Sachs—menjadi Menteri Keuangan, menderegulasi Wall Street, lalu kembali ke Citigroup dengan gaji ratusan juta dolar. 

Ini bukan "korupsi" dalam arti tradisional. Ini adalah cara sistem bekerja.

NAFTA: Contoh Korporasi Menulis Hukum 

NAFTA (North American Free Trade Agreement) dipromosikan sebagai "perdagangan bebas" yang akan menguntungkan semua orang. 

Tapi Chomsky membongkar kenyataannya: 

NAFTA dinegosiasikan secara rahasia oleh pengacara korporasi. Publik tidak diberi akses ke draft. Kongres hanya diberi pilihan ya atau tidak—tanpa amandemen. 

Apa isi NAFTA sebenarnya? 

  • Hak Investor: Korporasi bisa menuntut pemerintah jika regulasi lingkungan atau tenaga kerja "mengurangi profit mereka."
  • Perlindungan Paten: Perusahaan farmasi mendapat monopoli obat yang lebih lama—artinya harga lebih tinggi untuk rakyat.
  • Deregulasi Keuangan: Bank bisa beroperasi melintasi perbatasan dengan regulasi minimal.

Siapa yang diuntungkan? 

Upah pekerja manufaktur di AS stagnan atau turun—perusahaan pindah pabrik ke Meksiko dengan upah lebih murah. 

Petani Meksiko bangkrut—dibanjiri jagung murah bersubsidi dari AS. Tapi laba korporasi melonjat. Wall Street senang. 

"NAFTA bukan tentang perdagangan bebas. Ini tentang hak investor—hak korporasi untuk beroperasi tanpa akuntabilitas demokratis."


Bagian 5: Korban-Korban Neoliberalisme 

Orang-Orang yang Terlupakan 

Chomsky menghabiskan banyak halaman untuk memberikan suara kepada mereka yang tidak pernah muncul dalam berita mainstream—korban dari sistem yang kita sebut "sukses." 

Petani India: Ratusan ribu petani bunuh diri sejak India membuka ekonominya tahun 1990-an. Mengapa? Mereka dipaksa bersaing dengan agribisnis raksasa. Mereka harus beli benih paten dengan harga mahal setiap musim (tidak bisa menyimpan benih sendiri). Ketika gagal panen, mereka terlilit utang. Jalan keluar hanya bunuh diri—supaya keluarga dapat uang asuransi. 

Buruh Pabrik Bangladesh: Bekerja 12-14 jam sehari dengan upah $2. Membuat pakaian untuk merek global yang dijual ratusan dolar. Ketika ada kebakaran pabrik—seperti Rana Plaza 2013 yang menewaskan 1.100 orang—tidak ada yang bertanggung jawab. Perusahaan fashion global bilang mereka "tidak tahu" kondisi pabrik mereka. 

Masyarakat Adat Amazon: Hutan mereka dihancurkan untuk perkebunan kedelai dan peternakan sapi—untuk mengekspor ke Eropa dan Cina. Pemimpin mereka yang protes dibunuh. Pemerintah tidak melindungi—karena perusahaan agribisnis terlalu kuat secara politik. 

Chomsky menulis: "Sistem global kita membutuhkan korban. Kemakmuran segelintir orang dibangun di atas penderitaan mayoritas. Dan penderitaan itu dibuat tidak terlihat—karena korban ada jauh, tidak punya suara, tidak punya akses ke media." 

Kekerasan Struktural 

Chomsky memperkenalkan konsep "kekerasan struktural"—kekerasan yang tidak terlihat karena terintegrasi dalam sistem. 

Ketika seseorang mati karena ditembak, itu kekerasan—dan kita mengutuknya. 

Tapi ketika seorang anak mati karena diare—karena tidak punya akses air bersih, karena pemerintah memotong anggaran kesehatan publik atas perintah IMF—itu dianggap "tragedi" atau "kesialan." 

Padahal, kedua kematian itu adalah hasil dari pilihan manusia. Perbedaannya: yang satu terlihat, yang satu tidak. 

"Setiap tahun, 9 juta orang mati karena kelaparan atau penyakit yang bisa dicegah—lebih banyak dari semua perang di abad ke-20 digabungkan. Tapi kita tidak menyebutnya genosida. Kita menyebutnya 'ekonomi.'"


Bagian 6: Alternatif yang Ada (Tapi Disembunyikan)

Bukti Bahwa Ada Jalan Lain 

Chomsky tidak hanya mengkritik—dia juga menunjukkan bahwa alternatif itu ada dan sudah terbukti berhasil. 

Kerala, India: Negara bagian yang memilih kebijakan yang sangat berbeda dari neoliberalisme. Fokus pada pendidikan dan kesehatan universal. Reformasi tanah. Demokrasi partisipatoris. 

Hasilnya? Meskipun pendapatan per kapita rendah, Kerala punya indikator kesehatan dan pendidikan setara negara maju. Harapan hidup lebih tinggi dari Amerika. Literasi hampir 100%. 

Porto Alegre, Brasil: Menerapkan "participatory budgeting"—rakyat biasa terlibat langsung dalam memutuskan alokasi anggaran kota. Bukan hanya memilih politisi setiap empat tahun, tapi terlibat aktif dalam keputusan konkret. 

Hasilnya? Layanan publik meningkat drastis. Korupsi turun. Warga merasa memiliki kota mereka. 

Mondragon, Spanyol: Koperasi pekerja terbesar di dunia. 80.000 pekerja memiliki dan mengelola perusahaan mereka sendiri secara demokratis. Tidak ada CEO dengan gaji ratusan kali lipat dari pekerja. 

Hasilnya? Lebih tahan terhadap krisis ekonomi. Lebih sedikit yang PHK karena keputusan dibuat kolektif, bukan untuk maksimalkan profit pemegang saham. 

Chomsky berargumen: "Alternatif ada. Tapi mereka tidak dipublikasikan secara luas karena mengancam struktur kekuasaan yang ada."


Bagian 7: Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Jangan Berharap pada Elit 

Chomsky sangat jelas: Jangan berharap perubahan akan datang dari atas. 

Politisi tidak akan mengubah sistem yang membuat mereka berkuasa. Korporasi tidak akan mengatur diri mereka sendiri. Media tidak akan tiba-tiba menjadi kritis terhadap pemilik mereka. 

Perubahan hanya datang dari tekanan dari bawah—dari gerakan rakyat yang terorganisir.

Lima Langkah Konkret 

1. Edukasi Diri dan Orang Lain 

Pahami bagaimana sistem bekerja. Baca sumber alternatif. Jangan hanya konsumsi media mainstream. 

Lalu bagikan pengetahuan. Diskusikan dengan keluarga, teman, komunitas. 

"Pengetahuan adalah prasyarat untuk bertindak. Tapi pengetahuan yang tidak dibagikan adalah pengetahuan yang tidak berguna." 

2. Organisasi 

Individu tidak berdaya menghadapi korporasi atau pemerintah. Tapi orang-orang yang terorganisir punya kekuatan. 

Bergabung dengan serikat pekerja. Dengan organisasi lingkungan. Dengan gerakan sosial. Atau bentuk sendiri. 

3. Aksi Langsung 

Demonstrasi. Boikot. Civil disobedience. Membangun alternatif di tingkat lokal. 

Setiap hak yang kita nikmati hari ini—8 jam kerja, akhir pekan, hak pilih perempuan, hak sipil—diraih melalui perjuangan, bukan diberikan dengan baik hati oleh elit. 

4. Dukung Media Alternatif 

Jangan hanya mengeluh tentang media mainstream. Dukung jurnalisme independen dengan donasi, langganan, sharing. 

5. Bangun Struktur Demokratis

Di tempat kerja, di komunitas, di organisasi—praktikkan demokrasi partisipatoris. Jangan hanya berharap pada "pemimpin yang baik." 

"Demokrasi bukanlah sesuatu yang kita miliki. Demokrasi adalah sesuatu yang kita lakukan."


Penutup: Pilihan yang Harus Dibuat 

Chomsky menutup buku dengan nada yang serius tapi tidak pesimistis: 

"Kita berada di persimpangan sejarah. Jalur yang kita ambil saat ini—prioritas profit atas manusia, pertumbuhan atas keberlanjutan, kepentingan elit atas demokrasi—mengarah pada bencana. Ketimpangan yang ekstrem. Kehancuran lingkungan. Konflik yang semakin sering." 

"Tapi kita punya pilihan. Kita selalu punya pilihan." 

Pertanyaan untuk Anda 

1. Apakah Anda percaya pada sistem yang ada? 

Jujurlah pada diri sendiri. Apakah sistem ekonomi global kita benar-benar adil? Atau kita hanya nyaman karena kebetulan berada di sisi yang diuntungkan? 

2. Siapa yang Anda percaya untuk mendapat informasi? 

Dari mana Anda mendapat berita? Siapa yang membiayai media itu? Apa agenda mereka?

3. Apa yang Anda lakukan dengan privilege Anda? 

Jika Anda bisa membaca buku ini, Anda punya privilege—pendidikan, waktu luang, kemampuan berpikir kritis. Apa yang Anda lakukan dengan itu? Hanya untuk diri sendiri? Atau untuk orang lain juga? 

4. Apakah Anda siap untuk tidak nyaman? 

Perubahan dimulai dengan ketidaknyamanan. Dengan mengakui bahwa kemakmuran kita mungkin dibangun di atas penderitaan orang lain. Dengan rela mengambil posisi yang tidak populer. 

Apakah Anda siap? 

Kata Terakhir dari Chomsky 

"Orang sering bertanya kepada saya: 'Bukankah Anda pesimistis melihat semua yang salah di dunia?'" 

"Saya jawab: Tidak. Saya optimis. Karena sejarah menunjukkan bahwa ketika orang biasa bangkit dan berorganisasi, mereka bisa mengalahkan kekuatan yang jauh lebih besar." 

"Perbudakan dihapuskan. Tidak karena pemegang budak tiba-tiba jadi baik hati. Tapi karena gerakan abolisionis berjuang selama puluhan tahun."

"Hak pilih perempuan diraih. Tidak karena pria secara sukarela membagi kekuasaan. Tapi karena perempuan memperjuangkannya." 

"Apartheid di Afrika Selatan berakhir. Tidak karena elit kulit putih mengalami pencerahan moral. Tapi karena tekanan internasional dan perlawanan internal." 

"Kita bukan tidak berdaya. Kita hanya dibuat merasa tidak berdaya—karena ketika kita merasa tidak berdaya, kita tidak akan bertindak." 

"Tugas kita adalah mengingat: kita punya kekuatan. Dan tugas kita adalah menggunakannya."


Tentang Buku Asli 

"Profit Over People: Neoliberalism and Global Order" diterbitkan pertama kali pada tahun 1998 oleh Seven Stories Press. 

Noam Chomsky adalah profesor linguistik emeritus di MIT dan salah satu intelektual publik paling berpengaruh di dunia. Dia telah menulis lebih dari 100 buku tentang politik, ekonomi, media, dan kebijakan luar negeri AS. 

Buku ini adalah kumpulan esai yang ditulis di tengah krisis Asia 1997-1998, tepat ketika model neoliberal yang dipuji-puji mulai menunjukkan retaknya. 

Meskipun ditulis lebih dari 25 tahun lalu, analisis Chomsky tetap sangat relevan—bahkan mungkin lebih relevan—hari ini. Ketimpangan semakin parah. Kekuasaan korporasi semakin besar. Demokrasi semakin tergerus. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana sistem global kita bekerja—dan untuk siapa ia bekerja—sangat disarankan membaca buku aslinya. Chomsky menulis dengan data, dokumentasi, dan argumen yang rinci yang tidak bisa sepenuhnya diringkas. 

Ringkasan ini menangkap argumen inti, tetapi buku asli menyediakan bukti, contoh, dan depth yang akan mengubah cara Anda melihat berita, politik, dan ekonomi. 

Sekarang pergilah dan putuskan: 

Apakah Anda akan menerima sistem yang menempatkan profit di atas manusia?

Atau Anda akan bergabung dengan mereka yang berjuang untuk dunia yang lebih adil?

Pilihan ada di tangan Anda. 

Seperti yang Chomsky selalu ingatkan: "Jika kita tidak ikut serta dalam politik, orang lain akan memutuskan untuk kita. Dan mereka tidak akan memutuskan untuk kepentingan kita."

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Change Your World
Back to top

Similar books