Who Rules the World?
by Noam Chomsky · December 2025 · 13 min read
Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan
Table of contents
Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan
Tahun 2003. Jutaan orang di seluruh dunia turun ke jalan—London, Madrid, Roma, Tokyo, bahkan kota-kota kecil di pelosok Eropa dan Asia.
Mereka membawa poster. Mereka meneriakkan slogan. Mereka memohon kepada pemimpin mereka: "Jangan serang Irak."
Di New York Times, kolumnis terkemuka menyebutnya "kekuatan kedua di dunia"—kekuatan pertama adalah pemerintah Amerika Serikat, kekuatan kedua adalah opini publik global.
Lalu apa yang terjadi?
Amerika menyerang Irak. Tanpa persetujuan PBB. Tanpa bukti nyata tentang senjata pemusnah massal. Meskipun mayoritas dunia menentang.
Ratusan ribu orang Irak tewas. Negara itu hancur. Wilayah itu menjadi tidak stabil selama puluhan tahun.
Dan tidak ada satu pun pemimpin yang bertanggung jawab atas keputusan itu yang pernah diadili.
Ini adalah pertanyaan yang Noam Chomsky—linguist MIT, aktivis, dan salah satu intelektual publik paling berpengaruh di dunia—ajukan sepanjang karirnya selama 60 tahun:
"Siapa yang benar-benar mengatur dunia? Dan mengapa mereka bisa lolos dengan apapun yang mereka lakukan?"
"Who Rules the World?" bukan buku yang akan membuat Anda nyaman. Bukan buku yang penuh harapan atau cerita inspiratif tentang kebaikan manusia.
Ini adalah buku yang memaksa Anda menghadapi kenyataan pahit: Dunia tidak diatur oleh keadilan, demokrasi, atau hak asasi manusia—meskipun itu yang mereka klaim. Dunia diatur oleh kekuasaan. Dan kekuasaan selalu menulis aturannya sendiri.
Tapi Chomsky tidak menulis buku ini untuk membuat kita putus asa. Dia menulis ini agar kita tidak naif. Agar kita tidak mudah dimanipulasi. Dan agar kita tahu di mana kita harus berjuang.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Dua Aturan Main yang Berbeda
Aturan untuk yang Lemah vs Aturan untuk yang Kuat
Chomsky memulai dengan observasi sederhana namun menghancurkan:
"Ada dua jenis aturan di dunia: aturan untuk negara lemah, dan aturan untuk negara kuat."
Ketika Korea Utara mengembangkan program nuklir, dunia meneriakkan sanksi, embargo, ancaman militer. "Ini pelanggaran hukum internasional!" kata mereka.
Ketika Amerika Serikat menyerang Irak tanpa persetujuan PBB—yang menurut Piagam PBB adalah kejahatan perang—tidak ada sanksi. Tidak ada embargo. Tidak ada ancaman.
Mengapa? Karena yang menang dalam perang menulis sejarah. Yang kuat dalam politik menulis hukum.
Chomsky mengutip prinsip yang dia sebut "doktrin universal kekuasaan":
"Kami melakukan apa yang kami mau, dan Anda menerima konsekuensinya. Jika Anda melawan, itu adalah agresi. Jika kami menyerang, itu adalah menjaga perdamaian."
Hukum Internasional: Berlaku untuk Siapa?
Tahun 1986. Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Amerika Serikat bersalah karena menyerang Nikaragua—memasang ranjau di pelabuhan, mendanai kelompok kontra, membunuh ribuan warga sipil.
Keputusan hakim: Amerika harus membayar reparasi dan menghentikan agresi.
Respon Amerika? Mengabaikan putusan. Menolak membayar. Dan meningkatkan serangan.
Tidak ada yang bisa memaksa Amerika mematuhi hukum internasional. Karena Amerika punya veto di Dewan Keamanan PBB. Amerika punya tentara terkuat di dunia. Amerika bisa menentukan apa yang "legal" dan apa yang tidak.
Chomsky menulis dengan tajam: "Hukum internasional adalah untuk negara lemah. Negara kuat tidak perlu hukum—mereka ADALAH hukum."
Bagian 2: Sejarah yang Tidak Diajarkan di Sekolah
Iran: Ketika Demokrasi Dijungkirbalikkan
Tahun 1953. Iran punya perdana menteri demokratis terpilih bernama Mohammad Mosaddegh. Dia populer. Dia ingin menasionalisasi minyak Iran—yang saat itu dikontrol oleh perusahaan Inggris—agar keuntungannya bisa untuk rakyat Iran.
Inggris dan Amerika tidak suka. Jadi CIA mengorganisir kudeta. Mosaddegh dijatuhkan. Shah—penguasa otoriter—dipasang di tempatnya.
Selama 25 tahun, Shah memerintah dengan brutal. Polisi rahasianya (SAVAK) menyiksa dan membunuh ribuan orang. Tapi Barat senang karena minyak Iran mengalir ke perusahaan mereka.
Tahun 1979, rakyat Iran memberontak. Revolusi Islam menggulingkan Shah. Dan sejak saat itu, Iran menjadi musuh Amerika.
Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan di media Barat: Apakah Iran punya alasan untuk tidak mempercayai Amerika?
Chomsky menulis: "Bayangkan jika negara asing menjungkirbalikkan pemimpin terpilih Anda dan memasang diktator yang menyiksa rakyat Anda selama 25 tahun. Apakah Anda akan memaafkan mereka?"
Guatemala, Chile, Indonesia: Pola yang Sama
Guatemala 1954: Presiden demokratis Jacobo Árbenz ingin reformasi tanah untuk membantu petani. Digulingkan oleh CIA. Diganti dengan kediktatoran militer yang membunuh 200.000 orang.
Chile 1973: Presiden terpilih Salvador Allende ingin menasionalisasi industri tembaga. AS mendukung kudeta Pinochet. 3.000 orang dibunuh, puluhan ribu disiksa.
Indonesia 1965: Dengan dukungan AS, militer membunuh setengah juta hingga satu juta orang yang dituduh komunis. CIA memberikan daftar nama target.
Pola yang konsisten: Ketika negara memilih pemimpin yang ingin mengontrol sumber daya mereka sendiri untuk rakyat mereka, dan pemimpin itu tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi Barat—mereka digulingkan.
Chomsky menekankan: "Ini bukan teori konspirasi. Ini adalah sejarah terdokumentasi. CIA sendiri sudah mengakui peran mereka dalam kudeta-kudeta ini—puluhan tahun kemudian, ketika sudah tidak ada yang peduli."
Bagian 3: Bahasa Kekuasaan—Bagaimana Narasi Dibentuk
Victim Blaming: Membalikkan Realitas
Chomsky brilian dalam membedah bagaimana bahasa digunakan untuk membenarkan kekuasaan.
Contoh sederhana:
Ketika Rusia menginvasi Ukraina: "Agresi brutal terhadap negara berdaulat!"
Ketika AS menginvasi Irak: "Operasi pembebasan untuk membawa demokrasi."
Ketika Palestina melawan pendudukan Israel: "Terorisme!"
Ketika Israel membom Gaza dan membunuh ribuan warga sipil: "Hak untuk membela diri."
Chomsky tidak mengatakan semua pihak sama. Dia mengatakan: "Perhatikan siapa yang punya kekuatan untuk mendefinisikan istilah. Mereka yang punya kekuatan itu yang mengatur narasi."
"Exceptional Nation": Doktrin Keistimewaan
Amerika Serikat punya doktrin yang mereka ajarkan di sekolah, kampanye politik, dan media: "America is exceptional."
Artinya? Amerika berbeda dari negara lain. Amerika punya misi khusus untuk menyebarkan kebebasan dan demokrasi. Ketika Amerika melakukan intervensi militer, itu untuk kebaikan.
Chomsky menanggapi dengan sarkasme tajam: "Setiap imperium dalam sejarah punya narasi yang sama. Romawi bilang mereka membawa peradaban. Inggris bilang mereka membawa pencerahan. Nazi bilang mereka menciptakan tatanan baru."
"Exceptional" adalah kata lain untuk "aturan tidak berlaku untuk kami."
Peran Media: Manufacturing Consent
Chomsky terkenal dengan bukunya "Manufacturing Consent" yang menjelaskan bagaimana media massa membentuk opini publik.
Prinsipnya sederhana:
1. Filter kepemilikan: Media dimiliki oleh korporasi besar dengan kepentingan ekonomi tertentu
2. Filter iklan: Media bergantung pada pengiklan—yang juga korporasi besar
3. Filter sumber: Media bergantung pada pemerintah dan korporasi untuk informasi
4. Filter flak: Kritik terhadap media yang terlalu kritis ditekan
5. Filter ideologi: Anti-komunisme dulu, sekarang "perang melawan teror"
Hasilnya? Media tidak perlu disensor secara langsung. Sistem sudah didesain untuk memproduksi narasi yang mendukung kekuasaan.
Contoh: Media AS memberikan liputan masif tentang pelanggaran HAM di negara musuh (Rusia, Iran, Korea Utara), tapi sangat sedikit liputan tentang pelanggaran HAM oleh sekutu AS (Arab Saudi, Israel, Mesir).
Bukan karena jurnalis jahat. Tapi karena sistem mengarahkan apa yang "layak diberitakan" dan apa yang tidak.
Bagian 4: Ancaman Eksistensial yang Diabaikan
Senjata Nuklir: Menunggu Bencana
Chomsky mengalihkan fokus dari geopolitik ke ancaman yang jauh lebih menakutkan: kehancuran umat manusia.
Saat ini ada cukup senjata nuklir untuk menghancurkan peradaban berkali-kali. Amerika dan Rusia masing-masing punya ribuan hulu ledak.
Dan kedua negara terus mengembangkan senjata baru—lebih cepat, lebih akurat, lebih sulit dideteksi.
Chomsky mengingatkan: "Kita pernah sangat dekat dengan perang nuklir. Krisis Misil Kuba 1962 hampir memicu perang nuklir total. Dan itu diselesaikan bukan karena kebijaksanaan para pemimpin, tapi karena keberuntungan."
Berapa kali lagi kita akan beruntung?
"Selama senjata nuklir ada, peluang kehancuran peradaban tidak nol. Dan dalam jangka panjang, peluang yang tidak nol pasti akan terjadi."
Perubahan Iklim: Krisis yang Dipilih untuk Diabaikan
Ancaman kedua adalah perubahan iklim.
Chomsky frustrasi dengan respons global: "Kita punya sains yang jelas. Kita tahu apa yang terjadi. Kita tahu konsekuensinya—kenaikan permukaan laut, kekeringan, kelaparan massal, migrasi besar-besaran, konflik sumber daya."
"Tapi apa yang kita lakukan? Hampir tidak ada."
Mengapa? Karena tindakan yang diperlukan—transformasi ekonomi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan—bertentangan dengan kepentingan industri paling kuat di dunia: industri minyak, gas, dan batu bara.
Dan industri ini punya kekuatan politik yang luar biasa. Mereka mendanai kampanye. Mereka melobi pemerintah. Mereka menyebarkan disinformasi tentang perubahan iklim.
Chomsky menulis dengan getir: "Masa depan spesies kita dikorbankan untuk profit jangka pendek segelintir korporasi. Dan kita membiarkannya terjadi."
Bagian 5: Demokrasi Sejati vs Demokrasi Prosedural
Apa Itu Demokrasi Sebenarnya?
Chomsky membedakan antara dua jenis demokrasi:
Demokrasi Prosedural: Anda punya hak untuk memilih setiap beberapa tahun. Anda bisa memilih antara kandidat A atau kandidat B—yang keduanya didanai oleh donor korporat yang sama.
Demokrasi Substantif: Rakyat benar-benar punya kontrol atas keputusan yang mempengaruhi hidup mereka—ekonomi, lingkungan, kebijakan luar negeri.
Di Amerika, kata Chomsky, kita punya demokrasi prosedural. Tapi bukan demokrasi substantif.
Studi Princeton: Opini Publik Tidak Relevan
Tahun 2014, studi dari Princeton dan Northwestern University menganalisis 1.779 kebijakan AS selama 20 tahun.
Temuan mengejutkan: "Preferensi rata-rata warga Amerika tidak punya pengaruh statistik yang signifikan terhadap kebijakan pemerintah."
Artinya? Tidak peduli apa yang mayoritas rakyat inginkan—itu tidak mempengaruhi kebijakan.
Yang mempengaruhi? "Economic elites and organized groups representing business interests."
Peneliti menyimpulkan: Amerika lebih tepat disebut oligarki daripada demokrasi.
Chomsky tidak terkejut: "Ini yang saya katakan selama puluhan tahun. Sekarang ada data empiris yang membuktikannya."
Solusi: Partisipasi Aktif
Chomsky tidak putus asa. Dia percaya perubahan mungkin—tapi hanya melalui organizing dan partisipasi aktif rakyat.
Contoh yang dia berikan:
Gerakan Hak Sipil: Bukan pemerintah yang memutuskan untuk mengakhiri segregasi rasial. Rakyat—yang turun ke jalan, yang dianiaya, yang dipenjara—yang memaksa perubahan.
Gerakan Anti-Apartheid: Tekanan global dari rakyat biasa—bukan pemerintah—yang akhirnya memaksa Afrika Selatan mengakhiri apartheid.
Gerakan Lingkungan: Setiap kemajuan dalam perlindungan lingkungan datang dari aktivisme akar rumput, bukan dari kebijakan pemerintah yang sukarela.
"Kekuasaan tidak memberikan apapun tanpa tuntutan. Tidak pernah, dan tidak akan pernah."
Bagian 6: Masa Depan: Tiga Skenario
Chomsky mengakhiri dengan tiga kemungkinan masa depan:
Skenario 1: Status Quo—Jalan Menuju Bencana
Jika tidak ada yang berubah:
- Kesenjangan ekonomi terus melebar
- Perubahan iklim terus berlanjut tanpa tindakan nyata
- Risiko konflik nuklir tetap tinggi
- Otoritarianisme menguat di berbagai negara
Hasil akhir: Bencana untuk peradaban.
Bukan karena alien menyerang atau asteroid menabrak bumi. Tapi karena kita gagal bertindak terhadap ancaman yang kita ciptakan sendiri.
Skenario 2: Kebangkitan Otoritarianisme
Ketika sistem ekonomi gagal melayani mayoritas rakyat, mereka mencari kambing hitam.
Kita sudah melihat ini: Kebangkitan politisi otoriter di berbagai negara—Trump di AS, Bolsonaro di Brasil, Duterte di Filipina, partai-partai fasis di Eropa.
Mereka menawarkan solusi sederhana: "Musuh kita bukan sistem ekonomi yang eksploitatif. Musuh kita adalah imigran, minoritas, negara asing."
Chomsky memperingatkan: "Fasisme tidak datang dengan mengatakan 'kami fasis.' Dia datang dengan mengatakan 'kami mengembalikan kejayaan bangsa.'"
Skenario 3: Transformasi Demokratis
Skenario ini memerlukan:
- Organizing massal: Rakyat harus bersatu melintasi batas negara
- Reformasi ekonomi: Sistem ekonomi yang melayani manusia, bukan profit
- Tindakan iklim radikal: Transformasi energi dalam 10-20 tahun
- Pelucutan senjata nuklir: Eliminasi ancaman kehancuran total
- Demokratisasi sejati: Rakyat punya kontrol nyata atas keputusan politik
Apakah ini utopis? Ya. Apakah ini mungkin? Chomsky percaya ya—jika kita bertindak.
Bagian 7: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
1. Edukasi Diri dan Orang Lain
Chomsky menekankan: "Anda tidak bisa melawan sistem jika Anda tidak memahaminya."
- Baca sejarah yang tidak diajarkan di sekolah
- Cari sumber informasi alternatif
- Pertanyakan narasi mainstream
- Bagikan pengetahuan dengan orang lain
2. Organize Lokal, Berpikir Global
Perubahan dimulai dari komunitas:
- Bergabung dengan organisasi lokal
- Bentuk kelompok diskusi dan aksi
- Dukung gerakan yang selaras dengan nilai Anda
- Bangun solidaritas lintas kelompok
3. Partisipasi Politik Berkelanjutan
Bukan hanya memilih setiap beberapa tahun:
- Tekanan konstan pada pejabat terpilih
- Demonstrasi dan protes ketika diperlukan
- Boikot korporasi yang eksploitatif
- Dukung media independen
4. Jangan Menyerah pada Sinisme
Ini adalah pesan terakhir Chomsky yang paling penting:
"Mereka yang berkuasa menginginkan Anda merasa tidak berdaya. Mereka ingin Anda berpikir 'tidak ada yang bisa dilakukan.' Karena ketika Anda menyerah, mereka menang tanpa perlawanan."
Sejarah membuktikan: Perubahan besar selalu tampak mustahil—sampai terjadi.
- Perbudakan tampak permanen—sampai dihapuskan
- Hak perempuan untuk memilih tampak mustahil—sampai diperjuangkan
- Apartheid tampak tidak tergoyahkan—sampai runtuh
"Tugas kita bukan untuk memprediksi masa depan. Tugas kita adalah membentuknya."
Penutup: Siapa yang Mengatur Dunia?
Chomsky menjawab pertanyaan judulnya dengan nuansa:
"Saat ini, dunia diatur oleh aliansi antara negara-negara kuat—terutama AS—dan elit ekonomi global yang mengontrol sebagian besar kekayaan dunia."
Tapi dia menambahkan:
"Ini bukan takdir. Ini bukan hukum alam. Ini adalah hasil dari pilihan kolektif manusia—atau lebih tepatnya, dari kelembaman kolektif kita."
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Siapa yang mengatur dunia?" tapi "Siapa yang SEHARUSNYA mengatur dunia?"
Jawaban Chomsky jelas: Rakyat.
Bukan oligarki. Bukan korporasi. Bukan elit politik. Tapi rakyat biasa yang hidupnya dipengaruhi oleh keputusan-keputusan besar.
Tapi ini hanya akan terjadi jika kita menuntutnya. Jika kita berjuang untuk itu. Jika kita tidak menyerah.
Pertanyaan untuk Anda
Chomsky melempar pertanyaan balik kepada setiap pembaca:
1. Apakah Anda percaya narasi yang diberikan media dan pemerintah tanpa mempertanyakan?
2. Apakah Anda berpikir bahwa karena Anda hanya satu orang, tindakan Anda tidak berarti?
3. Apakah Anda lebih nyaman tidak tahu tentang ketidakadilan, sehingga Anda tidak merasa terbebani untuk bertindak?
Jika jawaban Anda "ya" untuk salah satu pertanyaan di atas, maka Anda adalah bagian dari masalah—bukan karena Anda jahat, tapi karena kelembaman kolektif adalah apa yang membuat sistem yang tidak adil bertahan.
Tapi jika Anda siap untuk mempertanyakan, belajar, dan bertindak—Anda adalah bagian dari solusi.
Kata Terakhir dari Chomsky
Di usianya yang ke-90-an, Noam Chomsky masih menulis, masih berbicara, masih mengajar. Dia tidak punya alasan untuk optimis—dia sudah melihat kegagalan demi kegagalan selama puluhan tahun.
Tapi dia tidak menyerah.
Ketika ditanya mengapa, dia menjawab sederhana:
"Karena alternatifnya adalah menerima kehancuran peradaban. Dan selama ada satu persen kesempatan untuk mencegahnya, kita punya kewajiban moral untuk mencoba."
Jadi pertanyaan terakhir bukan untuk Chomsky. Pertanyaan ini untuk Anda:
Akankah Anda menjadi bagian dari satu persen itu?
Atau akankah Anda menonton dari pinggir sementara dunia yang bisa diselamatkan, tidak diselamatkan—karena terlalu banyak orang berpikir "biarkan orang lain yang melakukannya"?
Pilihan ada di tangan Anda. Pilihan selalu ada di tangan Anda.
Tentang Buku Asli
"Who Rules the World?" diterbitkan pada tahun 2016 sebagai kumpulan esai dan kuliah Noam Chomsky tentang politik global, hegemoni Amerika, dan masa depan tatanan dunia.
Noam Chomsky adalah profesor linguistik emeritus di MIT dan salah satu intelektual publik paling berpengaruh di dunia. Dia telah menulis lebih dari 100 buku tentang linguistik, filsafat, dan politik. Meskipun kontroversial—terutama di media mainstream AS—dia dianggap sebagai salah satu kritikus paling konsisten dan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Amerika.
Buku ini adalah sintesis dari puluhan tahun analisis Chomsky tentang bagaimana kekuasaan beroperasi di tingkat global. Dia menggunakan kombinasi sejarah terdokumentasi, analisis media, dan kritik kebijakan untuk menunjukkan kesenjangan antara retorika negara-negara kuat dan tindakan mereka.
Untuk pemahaman lengkap tentang analisis geopolitik Chomsky dan argumen detailnya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Chomsky memberikan ratusan contoh historis, kutipan dari dokumen pemerintah yang dideklasifikasi, dan analisis mendalam yang tidak bisa sepenuhnya diringkas.
Buku ini bukan untuk mereka yang mencari kenyamanan atau konfirmasi bahwa sistem berjalan dengan baik. Ini untuk mereka yang siap menghadapi kenyataan tidak nyaman dan bertanya: "Apa yang bisa saya lakukan?"
Sekarang Anda tahu. Pertanyaannya adalah: Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?
Karena seperti yang Chomsky katakan: "Jika kita tidak percaya pada kebebasan berpikir untuk orang yang kita benci, kita tidak percaya pada kebebasan sama sekali."
Dan: "Optimisme adalah strategi untuk membuat masa depan yang lebih baik. Karena kecuali Anda percaya masa depan bisa lebih baik, Anda tidak mungkin melangkah maju dan bertanggung jawab untuk membuatnya begitu."
Sekarang langkah maju. Dunia menunggu.