Skip to main content

Raising an Emotionally Intelligent Child

by John Gottman · January 2026 · 15 min read

Momen yang Menentukan Masa Depan

Table of contents

Momen yang Menentukan Masa Depan 

Bayangkan ini: Anak Anda berusia 5 tahun. Dia baru pulang dari sekolah dengan mata berkaca-kaca. Teman sebangkunya tidak mau main dengannya saat istirahat. 

Dia berlari ke pelukan Anda dan menangis. 

Apa yang Anda katakan? 

Opsi A: "Ah, itu bukan masalah besar. Besok dia pasti mau main lagi. Yuk, kita makan cemilan!" 

Opsi B: "Kamu tidak boleh menangis untuk hal seperti itu. Anak besar tidak cengeng. Sudah, berhenti menangis." 

Opsi C: "Kamu terlihat sangat sedih, sayang. Mau cerita apa yang terjadi?" 

Bagi kebanyakan orang tua, Opsi A atau B terdengar wajar. Kita ingin anak kita bahagia. Kita ingin masalah cepat selesai. Kita tidak nyaman melihat anak kita sedih. 

Tapi inilah yang mengejutkan dari penelitian John Gottman selama lebih dari 20 tahun: 

Cara kita merespons emosi anak di momen-momen kecil seperti ini menentukan kecerdasan emosional mereka untuk seumur hidup. 

Anak-anak yang orang tuanya memilih Opsi C—yang menyebut emosi mereka, mendengarkan mereka, dan membimbing mereka—tumbuh menjadi orang dewasa yang: 

  • Lebih sukses secara akademis
  • Lebih sehat secara fisik
  • Punya hubungan yang lebih baik
  • Lebih mampu mengelola stress
  • Lebih jarang terlibat dalam masalah perilaku

Semua itu dimulai dari satu keputusan sederhana: Bagaimana Anda merespons ketika anak Anda merasakan emosi yang sulit? 

John Gottman, psikolog yang terkenal karena penelitiannya tentang pernikahan (dia bisa memprediksi perceraian dengan akurasi 94%), menghabiskan dua dekade meneliti ribuan keluarga untuk menjawab satu pertanyaan: 

Apa yang membuat beberapa anak tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh secara emosional, sementara yang lain mudah hancur? 

Jawabannya bukan tentang IQ. Bukan tentang kelas sosial. Bukan tentang sekolah yang mahal. 

Jawabannya adalah Emotion Coaching—cara orang tua mendampingi anak dalam memahami dan mengelola emosi mereka. 

Dan kabar baiknya? Ini bisa dipelajari. Oleh siapa saja. Mulai hari ini. 

Mari kita mulai.


Bagian 1: Empat Jenis Orang Tua—Anda yang Mana? 

Gottman mengidentifikasi empat gaya parenting berdasarkan bagaimana orang tua merespons emosi anak: 

1. The Dismissing Parent (Orang Tua yang Mengabaikan)

Filosofi: "Emosi negatif itu tidak penting. Yang penting adalah anak cepat happy lagi."

Respons khas: 

  • "Ah, jangan sedih. Lihat, ada es krim!"
  • "Itu bukan masalah besar kok."
  • "Kamu terlalu sensitif."
  • "Sudah, lupakan saja."

Niat: Baik. Mereka ingin anak mereka bahagia dan tidak terluka. 

Dampak pada anak: 

  • Belajar bahwa emosi mereka tidak valid
  • Merasa ada yang salah dengan diri mereka ketika merasa sedih/marah
  • Sulit mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi
  • Percaya bahwa emosi negatif harus dihindari atau ditekan

Contoh: Sarah (4 tahun) menangis karena tower balok yang dia bangun roboh.

Ibu: "Sarah, itu cuma mainan. Jangan menangis. Yuk, kita main yang lain aja!" 

Apa yang Sarah pelajari: "Kesedihanku tidak penting. Aku seharusnya tidak merasa seperti ini." 

2. The Disapproving Parent (Orang Tua yang Tidak Setuju)

Filosofi: "Emosi negatif itu buruk dan harus dihentikan. Anak harus belajar kontrol diri."

Respons khas: 

  • "Berhenti menangis atau saya kasih kamu alasan untuk menangis!"
  • "Anak besar tidak cengeng."
  • "Kamu tidak boleh marah pada kakak!"
  • "Kalau kamu terus begini, kamu akan di-timeout."

Niat: Disiplin. Mengajarkan anak untuk tidak "lemah." 

Dampak pada anak:

  • Merasa emosi mereka salah dan memalukan
  • Belajar menekan emosi (yang kemudian meledak dengan cara yang tidak sehat)
  • Rendah diri
  • Agresif atau sebaliknya sangat pasif

Contoh: Michael (6 tahun) marah karena kalah main game dengan kakaknya. 

Ayah: "Jangan jadi sore loser! Kamu terlalu sensitif. Ke kamar, sampai kamu bisa bersikap dewasa!" 

Apa yang Michael pelajari: "Ada yang salah denganku. Marah itu buruk. Aku harus sembunyikan perasaanku." 

3. The Laissez-Faire Parent (Orang Tua yang Permisif) 

Filosofi: "Semua emosi OK. Anak harus bebas mengekspresikan apapun yang mereka rasakan." 

Respons khas: 

  • "Ya, kamu boleh marah. Luapkan saja."
  • "Tidak apa-apa kalau kamu mau mukul bantal."
  • Menerima semua emosi tapi tidak memberikan panduan atau batasan perilaku

Niat: Penerimaan total. Tidak ingin menekan anak. 

Dampak pada anak: 

  • Merasa emosi mereka diterima (ini bagus!)
  • Tapi tidak belajar bagaimana mengelola atau mengatur emosi
  • Tidak belajar bahwa ada konsekuensi dari perilaku
  • Sulit mengembangkan self-regulation

Contoh: Emma (5 tahun) frustrasi karena puzzle-nya sulit. Dia melempar puzzle dan berteriak.

Ibu: "Iya sayang, Ibu tahu kamu frustrasi. Tidak apa-apa marah." 

Puzzle tetap di lantai. Tidak ada panduan bagaimana Emma bisa mengelola frustrasinya dengan lebih baik. 

Apa yang Emma pelajari: "Emosiku valid, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengannya." 

4. The Emotion Coach (Pelatih Emosi)

Filosofi: "Semua emosi valid, tapi tidak semua perilaku OK. Saya akan membantu anak saya memahami emosi mereka dan belajar cara sehat untuk mengekspresikannya." 

Respons khas: 

  • "Kamu terlihat sangat kecewa. Mau cerita?"
  • "Wajar kalau kamu marah. Tapi kita tidak boleh mukul."
  • "Ini situasi yang sulit ya. Apa menurutmu yang bisa kita lakukan?"

Niat: Validasi + Panduan. Mengajarkan kecerdasan emosional. 

Dampak pada anak: 

  • Belajar mengenali dan memberi nama emosi
  • Merasa emosi mereka valid dan didengar
  • Mengembangkan kemampuan mengelola emosi (self-regulation)
  • Belajar problem-solving
  • Lebih percaya diri dan tangguh

Contoh: Lucas (4 tahun) menangis karena dia tidak boleh makan permen sebelum makan malam. 

Ayah: "Kamu terlihat sangat kesal, Lucas. Kamu mau permen tapi Ayah bilang tidak boleh. Itu memang mengecewakan ya." 

Lucas: Masih menangis 

Ayah: "Ayah mengerti. Tapi kamu tahu aturannya—permen setelah makan malam. Kamu boleh sedih. Mau pelukan?" 

Apa yang Lucas pelajari: "Perasaanku didengar. Sedih itu OK. Dan ada aturan yang tetap harus diikuti."


Bagian 2: Lima Langkah Emotion Coaching

Gottman memberikan blueprint konkret untuk menjadi Emotion Coach:

Langkah 1: Sadari Emosi Anak 

Kunci: Jangan tunggu sampai emosi meledak. Perhatikan tanda-tanda awal. 

Anak-anak tidak selalu bisa mengatakan, "Ibu, saya merasa cemas." Mereka menunjukkan dengan: 

  • Perubahan perilaku (lebih pendiam atau lebih hiperaktif)
  • Perubahan pola makan atau tidur
  • Lebih cepat marah
  • Lebih melekat pada orang tua

Latihan: Perhatikan anak Anda selama seminggu. Catat: 

  • Kapan mereka terlihat frustrasi?
  • Apa yang memicu kesedihan mereka?
  • Kapan mereka paling happy?

Awareness adalah langkah pertama. 

Langkah 2: Lihat Emosi sebagai Kesempatan untuk Kedekatan dan Mengajar 

Mindshift yang mengubah segalanya: 

Kebanyakan orang tua melihat tantrum atau kesedihan anak sebagai masalah yang harus diselesaikan secepat mungkin. 

Emotion Coach melihatnya sebagai kesempatan untuk mengajar dan mendekatkan diri. 

Pikirkan seperti ini: Ketika anak Anda jatuh dan luka, Anda tidak marah atau mengabaikan. Anda merawat luka mereka. Anda mengajarkan mereka cara membersihkan luka dan mencegah infeksi. 

Luka emosional sama. 

Ketika anak Anda sedih, marah, atau takut—ini adalah momen untuk: 

  • Menunjukkan bahwa Anda ada untuk mereka
  • Mengajarkan mereka keterampilan emosional
  • Membangun trust

Perubahan perspektif: 

  • Dari: "Aduh, dia tantrum lagi. Kapan ini berhenti?"
  • Ke: "Ini momen untuk mengajarkan dia cara mengelola frustrasi."

Langkah 3: Dengarkan dengan Empati dan Validasi Perasaan Anak

Ini adalah langkah PALING PENTING—dan paling sering dilewati. 

Validasi bukan berarti setuju. Validasi berarti mengakui bahwa emosi itu nyata dan dapat dimengerti. 

Yang BUKAN validasi: 

  • "Jangan sedih."
  • "Itu bukan masalah besar."
  • "Kamu terlalu dramatis."

Yang ADALAH validasi: 

  • "Kamu terlihat sangat kecewa."
  • "Itu memang menyebalkan ya."
  • "Aku bisa lihat kamu benar-benar kesal."

Kunci: Refleksikan apa yang Anda lihat/dengar tanpa judgment. 

Contoh Praktis: 

Anak (menangis): "Aku benci adik! Dia selalu merusak mainanku!" 

Respons Buruk: "Jangan bilang kamu benci adik! Dia masih kecil, dia tidak tahu!" 

Respons Bagus: "Kamu terlihat sangat marah. Kamu sedang main dan tiba-tiba adik datang dan rusak mainanmu. Itu sangat menyebalkan." 

Lihat bedanya? Yang kedua tidak setuju dengan perilaku (kita tidak izinkan anak benar-benar menyakiti adik), tapi mengakui emosi (marah itu valid). 

Mengapa validasi sangat powerful? 

Ketika emosi anak divalidasi: 

  • Intensitas emosi turun lebih cepat
  • Anak merasa didengar dan dipahami
  • Mereka belajar memberi nama pada perasaan mereka
  • Mereka lebih terbuka untuk solusi

Ketika emosi anak diabaikan atau ditolak: 

  • Emosi mengintensif ("Ibu tidak mengerti!")
  • Anak merasa sendirian dalam kesulitan
  • Mereka belajar menekan emosi (yang kemudian meledak)

Langkah 4: Bantu Anak Memberi Nama Emosi 

Penelitian menunjukkan: Ketika anak bisa memberi nama emosi mereka, kemampuan mereka untuk mengatur emosi itu meningkat drastis. 

Mengapa? Karena otak prefrontal cortex (bagian rasional) aktif ketika kita verbalisasi emosi. Ini membantu meredakan amygdala (bagian emosional). 

Kosakata emosi untuk anak: 

Untuk anak kecil (2-4 tahun), mulai dengan yang sederhana: 

  • Senang / Sedih / Marah / Takut

Untuk anak yang lebih besar (5+ tahun), tambahkan nuansa: 

  • Frustrasi / Kecewa / Cemas / Malu / Bangga / Bosan / Kesal / Iri

Cara mengajarkan: 

1. Label emosi Anda sendiri: "Ibu merasa frustrasi karena macet." 

2. Label emosi mereka: "Kamu terlihat kecewa karena hujan dan kita tidak bisa main di taman." 

3. Gunakan buku dan cerita: Diskusikan perasaan karakter. "Menurutmu si beruang merasa apa saat ini?" 

4. Main tebak-tebakan emosi: "Kalau aku buat muka begini, aku lagi merasa apa?" 

Langkah 5: Tetapkan Batasan sambil Membantu Problem-Solving

Formula emas: Validasi emosi + Tetapkan batasan perilaku + Tawarkan alternatif

Contoh 1: Anak mukul adiknya karena mainan direbut. 

❌ Buruk: "Kamu nakal! Ke kamar sekarang!" 

✅ Bagus:

  • "Kamu marah karena adik ambil mainanmu. Aku mengerti." (VALIDASI)
  • "Tapi kita tidak boleh mukul. Mukul itu sakit." (BATASAN)
  • "Kalau kamu marah, kamu bisa bilang 'Aku belum selesai' atau minta tolong Ibu." (ALTERNATIF)

Contoh 2: Anak tantrum di supermarket karena tidak boleh beli cokelat. 

❌ Buruk: "Sudah, jangan malu-maluin! Kita pulang sekarang!" 

✅ Bagus: 

  • "Kamu sangat kecewa ya karena tidak boleh beli cokelat. Kamu benar-benar maunya itu." (VALIDASI)
  • "Tapi hari ini kita tidak beli cokelat. Ibu sudah bilang dari awal." (BATASAN)
  • "Kamu boleh sedih. Kamu bisa menangis atau pelukan Ibu. Atau kamu mau bantu Ibu cari apel?" (ALTERNATIF)

Kunci: Empati TIDAK berarti tidak ada batasan. Anda bisa sangat empati sambil tetap tegas dengan aturan. 

Problem-Solving untuk Anak yang Lebih Besar: 

Untuk anak 5+ tahun, libatkan mereka dalam mencari solusi: 

"Kamu tidak suka kalau adik masuk kamar kamu dan ambil mainan kamu. Menurutmu apa yang bisa kita lakukan?" 

Biarkan mereka brainstorm. Bimbing mereka untuk menemukan solusi yang realistis dan hormat pada semua orang.


Bagian 3: Kesalahan Umum (dan Cara Memperbaikinya)

Kesalahan 1: Terlalu Cepat Menyelesaikan Masalah 

Yang orang tua sering lakukan: 

Anak: "Teman-temanku tidak mau main sama aku." 

Orang tua: "Besok kamu coba ajak mereka main yang kamu suka. Atau kamu main sama anak lain aja." 

Masalahnya: Anda langsung jump ke solusi tanpa validasi emosi dulu. 

Yang lebih baik: 

Anak: "Teman-temanku tidak mau main sama aku." 

Orang tua: "Oh sayang, itu pasti menyakitkan. Kamu merasa bagaimana?"

Anak: "Aku sedih. Rasanya aku tidak punya teman." 

Orang tua: "Itu terdengar sangat kesepian ya. Mau cerita lebih banyak?"

(DENGARKAN DULU. Biarkan mereka mengekspresikan.) 

BARU kemudian: "Menurutmu apa yang bisa kamu lakukan besok?" 

Ingat: Anak perlu merasa didengar sebelum mereka siap untuk solusi. 

Kesalahan 2: Mengatakan "Jangan Khawatir" 

Ini terdengar supportive. Tapi sebenarnya ini adalah bentuk dismissing. 

Yang orang tua katakan: "Jangan khawatir soal ujian besok. Kamu pasti bisa!"

Apa yang anak dengar: "Kekhawatiranku tidak valid. Aku seharusnya tidak merasa begini." 

Alternatif yang lebih baik: "Kamu terdengar cemas soal ujian besok. Mau cerita apa yang kamu khawatirkan?" 

Kemudian DENGARKAN. Baru tawarkan reassurance atau bantuan jika mereka minta.

Kesalahan 3: Mengajarkan di Tengah Meltdown 

Saat anak di tengah meltdown—amygdala mereka hijacked. Otak rasional mereka OFFLINE.

Mengajarkan sesuatu saat itu = buang waktu dan energi. 

Yang harus dilakukan saat meltdown: 

1. Kehadiran yang tenang 

2. Validasi: "Kamu sangat marah sekarang." 

3. Tunggu sampai reda 

BARU setelah tenang—bisa berjam-jam kemudian—baru bicara: "Tadi kamu sangat marah ya sampai lempar buku. Ibu mengerti kamu frustrasi. Tapi lempar buku itu berbahaya. Lain kali kalau kamu marah, apa yang bisa kamu lakukan?" 

Kesalahan 4: Membandingkan dengan Saudara 

"Kakakmu tidak pernah tantrum seperti ini. Kenapa kamu begini?" 

Ini sangat destruktif. Anak belajar: 

  • Ada yang salah dengan mereka
  • Mereka tidak sebaik saudara mereka
  • Cinta orang tua bersyarat

Selalu ingat: Setiap anak unik. Temperamen berbeda. Kebutuhan berbeda.


Bagian 4: Emotion Coaching di Berbagai Usia

Balita (1-3 tahun) 

Tantangan: Mereka punya emosi besar tapi bahasa terbatas. 

Strategi

  • Label emosi dengan kata sederhana: "Kamu sedih."
  • Validasi dengan sentuhan: pelukan, tepuk punggung
  • Sederhana: "Kamu marah. Mukul tidak boleh. Kamu bisa bilang 'berhenti.'"
  • Konsistensi dan rutinitas (ini membuat mereka merasa aman)

Anak Usia Prasekolah (3-5 tahun) 

Tantangan: Emosi fluktuatif, egocentric thinking. 

Strategi

  • Ajarkan kosakata emosi yang lebih luas
  • Gunakan cerita dan pretend play untuk mengajarkan emosi
  • Validasi + Batasan yang jelas
  • Mulai ajarkan strategi calming: tarik napas dalam, hitung sampai 5

Anak Usia Sekolah (6-12 tahun) 

Tantangan: Tekanan peer, akademis, mulai ingin mandiri. 

Strategi

  • Dengarkan tanpa judgment
  • Tanya daripada lecture: "Menurutmu kenapa kamu merasa begitu?

" ● Hormati privacy mereka (jangan paksa mereka bicara) 

  • Ajarkan problem-solving: "Apa pilihan-pilihan yang kamu punya?"

Remaja (13+ tahun) 

Tantangan: Hormon, identitas, independensi. 

Strategi

  • Validasi tanpa minimize: "Aku bisa lihat ini sangat penting untukmu."
  • Jangan buru-buru kasih advice. Tanya: "Kamu mau aku dengarkan aja atau kamu mau saran?"
  • Hormati mereka sebagai almost-adult
  • Stayavailabletapi tidak invasif

Bagian 5: Emotion Coaching untuk Diri Sendir

i Anda tidak bisa mengajarkan kecerdasan emosional jika Anda sendiri tidak punya. 

Gottman menemukan: Orang tua yang bisa mengelola emosi mereka sendiri dengan baik jauh lebih mampu menjadi Emotion Coach untuk anak mereka. 

Self-Awareness untuk Orang Tua: 

1. Kenali Trigger Anda Apa yang membuat Anda kehilangan kesabaran? Tangisan anak? Berantakan? Ketidakpatuhan? 

2. Pahami Asal Trigger Anda Sering kali reaksi kita terhadap anak berakar dari masa kecil kita sendiri. 

Jika orang tua Anda strict dan tidak toleran pada emosi, Anda mungkin tidak nyaman dengan emosi anak Anda. 

3. Pause Sebelum Bereaksi Tarik napas. Hitung sampai 5. Tanyakan: "Respons apa yang akan membantu anak saya belajar sekarang?" 

4. Maafkan Diri Sendiri Anda akan gagal. Anda akan berteriak. Anda akan tidak sabar.

Itu OK. Yang penting: Repair

"Tadi Ayah teriak. Ayah minta maaf. Ayah seharusnya lebih sabar. Ayah akan coba lebih baik lagi."


Penutup: Investasi Seumur Hidup 

Gottman menutup bukunya dengan studi longitudinal yang powerful: 

Dia mengikuti anak-anak yang dia teliti selama bertahun-tahun—dari balita sampai remaja dan dewasa muda. 

Anak-anak yang orang tuanya konsisten menjadi Emotion Coach: 

  • Punya nilai akademis lebih tinggi
  • Lebih populer di kalangan teman sebaya
  • Lebih sehat secara fisik (sistem imun lebih kuat, lebih jarang sakit)
  • Lebih sedikit masalah perilaku
  • Lebih mampu mengelola stress dan adversity
  • Punya hubungan yang lebih sehat di dewasa

Dan yang paling mengharukan: 

Ketika ditanya, mereka mengatakan mereka merasa didengar, dipahami, dan dicintai tanpa syarat oleh orang tua mereka. 

Itu adalah hadiah yang tidak ternilai. 

Lima Pengingat Terakhir 

1. Semua Emosi Valid. Tidak Semua Perilaku OK. 

Anak boleh marah. Anak tidak boleh mukul. Anak boleh sedih. Anak tidak boleh merusak barang. Anak boleh takut. Anak tidak boleh kabur dari tanggung jawab. 

2. Validasi ≠ Setuju 

Anda bisa mengakui emosi tanpa mengabulkan permintaan. 

"Kamu sangat kecewa tidak boleh beli mainan itu. Aku mengerti." (Validasi) "Tapi kita tidak beli hari ini." (Batasan) 

3. Dengarkan Lebih Banyak, Bicara Lebih Sedikit 

Anak tidak selalu butuh solusi. Kadang mereka hanya butuh didengar. 

4. Emotion Coaching adalah Proses, Bukan Kesempurnaan 

Anda akan gagal. Itu normal. Yang penting: Terus mencoba dan repair ketika Anda salah.

5. Waktu Terbaik untuk Mulai adalah Hari Ini

Tidak ada kata terlambat. Bahkan jika anak Anda sudah remaja, Anda masih bisa mulai menjadi Emotion Coach.


Pertanyaan untuk Anda 

Pikirkan sejenak: 

Ketika Anda masih kecil dan merasa sedih, takut, atau marah, bagaimana orang tua Anda merespons? 

Apakah mereka mendengarkan? Atau menyuruh Anda berhenti? Apakah mereka validasi? Atau dismiss? 

Dan sekarang dengan anak Anda: 

Ketika anak Anda datang dengan emosi yang sulit, apa respons instingtif Anda? 

Apakah Anda ingin cepat-cepat "memperbaiki" agar mereka happy lagi? Apakah Anda tidak nyaman dengan emosi negatif mereka? Atau apakah Anda bisa duduk dengan mereka dalam kesulitan itu? 

Kesadaran adalah langkah pertama untuk perubahan. 

Mulai hari ini, pilih satu momen emosional dengan anak Anda. Praktikkan lima langkah Emotion Coaching: 

1. Sadari emosi mereka 

2. Lihat sebagai kesempatan 

3. Dengarkan dan validasi 

4. Bantu mereka beri nama 

5. Tetapkan batasan + problem-solving 

Hanya satu momen. Lalu besok, satu lagi. Dan lagi. 

Perlahan, Anda akan melihat perubahan—dalam anak Anda dan dalam diri Anda. 

Karena membesarkan anak yang cerdas secara emosional dimulai dengan menjadi orang tua yang cerdas secara emosional. 

Dan itu dimulai hari ini.


Tentang Buku Asli 

"Raising an Emotionally Intelligent Child: The Heart of Parenting" pertama kali diterbitkan pada tahun 1997 dan tetap menjadi salah satu buku parenting paling berpengaruh hingga hari ini. 

John Gottman, Ph.D., adalah profesor emeritus psikologi di University of Washington dan pendiri The Gottman Institute. Dia terkenal karena penelitian groundbreaking tentang stabilitas pernikahan dan perceraian (bisa memprediksi dengan akurasi 94%), yang kemudian dia terapkan pada penelitian parenting. 

Penelitiannya melibatkan ribuan keluarga yang diamati di "Love Lab"—laboratorium tempat dia merekam interaksi orang tua-anak dan mengukur respons fisiologis mereka. 

Buku ini ditulis bersama Joan DeClaire dan telah diterjemahkan ke 20+ bahasa. Ini menjadi dasar untuk berbagai program parenting di seluruh dunia. 

Untuk pemahaman lengkap tentang Emotion Coaching dengan puluhan contoh kasus, dialog konkret, dan panduan berdasarkan usia, sangat disarankan membaca buku aslinya. 

Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tapi buku asli memberikan kedalaman, nuansa, dan tools praktis yang akan mengubah cara Anda berhubungan dengan anak Anda. 

Sekarang pergilah dan mulai perjalanan Emotion Coaching Anda. 

Karena seperti yang Gottman katakan: 

"Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir, yang mendengarkan, dan yang membuat mereka merasa bahwa emosi mereka—dan diri mereka—penting." 

Anda bisa menjadi orang tua itu. Mulai hari ini.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Tiny Humans, Big Emotions
Back to top

Similar books