Understanding Power
by Noam Chomsky · December 2025 · 14 min read
Pertanyaan yang Membuat Ruangan Diam
Table of contents
Pertanyaan yang Membuat Ruangan Diam
Tahun 1989. Sebuah aula kampus di Amerika. Noam Chomsky—profesor linguistik MIT yang telah menjadi kritikus kebijakan luar negeri AS paling tajam—berdiri di depan ratusan mahasiswa.
Seorang mahasiswa mengangkat tangan: "Professor Chomsky, Anda selalu bilang media kita tidak bebas. Tapi ini Amerika. Tidak ada sensor pemerintah. Wartawan bebas menulis apa yang mereka mau. Bagaimana Anda bisa bilang kita tidak punya pers bebas?"
Chomsky tersenyum tipis. Lalu dia bertanya balik:
"Berapa banyak dari kalian yang tahu bahwa dalam empat tahun terakhir, Indonesia telah membantai 200.000 orang di Timor Timur—sepertiga dari populasi pulau itu?"
Beberapa tangan terangkat. Mungkin 5 dari 200 orang.
"Sekarang, berapa banyak yang tahu tentang pembantaian di Kamboja oleh Khmer Rouge?" Hampir semua tangan terangkat.
"Menarik," kata Chomsky. "Kedua pembantaian terjadi di waktu yang sama. Kedua pembantaian mengerikan. Tapi ada satu perbedaan: Kamboja dibantai oleh musuh Amerika. Timor Timur dibantai oleh sekutu Amerika—dengan senjata Amerika."
"Jadi tidak mengherankan media kita meliput Kamboja secara intensif—ratusan artikel, dokumenter, buku. Sementara Timor Timur? Hampir tidak ada liputan. Bukan karena sensor. Tapi karena media memilih apa yang penting dan apa yang tidak—dan pilihan itu mengikuti kepentingan kekuasaan."
Ruangan menjadi sunyi.
Inilah inti dari "Understanding Power"—buku yang merupakan kompilasi dari diskusi, seminar, dan wawancara Chomsky selama satu dekade. Buku ini bukan teori abstrak. Ini adalah
pembedahan konkret tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam masyarakat yang kita sebut "bebas" dan "demokratis."
Dan yang paling mengganggu: kekuasaan paling efektif adalah yang tidak kita sadari.
Mari kita bongkar cara kerjanya.
Bagian 1: Ilusi Kebebasan—Propaganda di Negara Demokratis
Pelajaran dari Totalitarianisme
Chomsky memulai dengan pertanyaan sederhana: Bagaimana Anda mengontrol populasi?
Di negara totaliter, jawabannya mudah: kekerasan. Polisi rahasia. Kamp konsentrasi. Sensor langsung. Ketakutan.
Tapi di negara demokratis, Anda tidak bisa melakukan itu. Rakyat bebas berbicara. Bebas memprotes. Bebas memilih pemimpin.
Jadi bagaimana Anda tetap mengontrol mereka?
Jawabannya: Anda kontrol apa yang mereka pikirkan.
Bukan dengan paksaan. Tapi dengan membentuk cara mereka melihat dunia—apa yang mereka anggap penting, apa yang mereka anggap normal, apa yang mereka anggap mustahil.
Chomsky mengutip pemikir liberal awal abad 20, Walter Lippmann: "Dalam praktiknya, demokrasi tidak mungkin jika rakyat terlibat dalam urusan publik. Maka kita butuh 'rekayasa persetujuan'—membuat rakyat merasa mereka berpartisipasi, sambil memastikan keputusan penting tetap di tangan kelas yang berkuasa."
Terdengar sinis? Chomsky mengatakan: "Ini bukan konspirasi. Ini struktur."
Filter yang Tidak Terlihat
Chomsky dan Edward Herman mengembangkan apa yang mereka sebut "Propaganda Model"—lima filter yang menentukan berita apa yang sampai ke mata Anda:
Filter 1: Kepemilikan Media
Media besar dimiliki oleh konglomerat raksasa. General Electric, Disney, Time Warner. Mereka adalah bisnis yang mencari profit.
Apakah perusahaan ini akan mempublikasikan cerita yang merugikan kepentingan bisnis mereka sendiri? Jarang.
Filter 2: Iklan sebagai Sumber Pendapatan
Media tidak dijual kepada Anda. Anda dijual kepada pengiklan.
Bisnis model media: tarik perhatian Anda, lalu jual perhatian itu kepada pengiklan. Jadi konten yang bertahan adalah konten yang tidak mengusik pengiklan.
Berita yang mempertanyakan kapitalisme korporat? Sulit dapat sponsor.
Filter 3: Ketergantungan pada Sumber "Resmi"
Wartawan bergantung pada sumber—pemerintah, korporat, think tanks. Jika Anda terlalu kritis, akses Anda ditutup. Anda tidak dapat informasi lagi.
Jadi wartawan belajar: jangan terlalu keras mengkritik sumber Anda.
Filter 4: Flak—Tekanan dan Kritik Terorganisir
Ketika media mengkritik kekuasaan, ada mekanisme untuk "mendisiplinkan" mereka—surat pembaca terorganisir, tuntutan hukum, kampanye boikot pengiklan.
Media belajar: jika Anda mau hidup tenang, jangan sentuh topik sensitif.
Filter 5: Ideologi Anti-Komunis (sekarang: Anti-Terorisme)
Selama Perang Dingin, label "komunis" bisa menghancurkan karir. Sekarang, label "mendukung terorisme" punya fungsi serupa.
Ini adalah stop sign—begitu label ini ditempelkan, debat selesai.
Hasilnya: Spektrum Debat yang Sempit
Yang brilian dari sistem ini: Anda tidak butuh konspirasi.
Tidak ada rapat rahasia di mana editor berkumpul dan sepakat menutupi cerita tertentu. Sistem bekerja secara otomatis—melalui self-censorship, internalisasi nilai, dan insentif struktural.
Hasilnya? Anda punya "pers bebas"—tapi spektrum debat sangat sempit.
Contoh Chomsky: Dalam debat tentang perang Vietnam, media memperbolehkan pertanyaan "Apakah strategi kita efektif?" atau "Apakah biayanya terlalu tinggi?"
Tapi pertanyaan "Apakah kita punya hak untuk menyerang negara lain?" hampir tidak pernah muncul.
Anda bebas berpendapat—selama pendapat Anda tetap dalam batas yang aman.
Bagian 2: Perbedaan Standar—Ketika Kemanusiaan Punya Harga
Korban yang Layak vs Tidak Layak
Chomsky mengungkap pola yang konsisten: Korban dari musuh kita adalah "korban yang layak." Korban dari kebijakan kita adalah "korban yang tidak layak."
Contoh konkret:
Pembunuhan satu imam di Polandia oleh pemerintah komunis (1980-an):
- Ratusan artikel di New York Times
- Dokumenter TV
- Buku-buku
- Menjadi simbol opresi komunis
Pembunuhan puluhan imam di Amerika Latin oleh rezim yang didukung AS (periode yang sama):
- Liputan minimal
- Tidak ada dokumentar
- Tidak ada simbol opresi
Mengapa? Bukan karena satu nyawa lebih berharga dari yang lain. Tapi karena satu kasus bisa digunakan untuk propaganda terhadap musuh, yang lain tidak.
Kasus Timor Timur—Pembantaian yang Dilupakan
Chomsky menggunakan Timor Timur sebagai studi kasus klasik tentang bagaimana kekuasaan bekerja.
1975: Indonesia menginvasi Timor Timur. Dalam empat tahun, 200.000 orang tewas—sepertiga populasi.
Senjata? Dibuat di Amerika. Dukungan diplomatik? Dari Amerika. Pelatihan militer? Dari Amerika.
Tapi liputan media? Hampir nol.
Chomsky menunjukkan data: Pada periode yang sama, Kamboja di bawah Khmer Rouge mendapat ratusan kali lipat lebih banyak liputan dibanding Timor Timur.
Bukan karena Kamboja lebih buruk—keduanya sama mengerikan. Tapi karena kita bisa menyalahkan Kamboja tanpa menyalahkan diri sendiri.
"Ini bukan tentang kemanusiaan," kata Chomsky. "Ini tentang utilitas politik."
Vietnam—Rewriting History
Media suka menggambarkan Vietnam sebagai "kesalahan tragis"—niat baik tapi eksekusi buruk.
Chomsky: "Omong kosong."
Dokumen internal pemerintah AS dari awal 1950-an sudah jelas: tujuan utama adalah mengontrol sumber daya Vietnam dan mencegah model independen yang bisa menginspirasi negara lain di kawasan.
Bukan tentang demokrasi. Bukan tentang kebebasan. Tentang kontrol ekonomi.
Tapi narasi ini tidak muncul di media mainstream. Mengapa? Karena narasi ini membuat AS sebagai agresor, bukan pelindung.
Dan dalam sistem propaganda yang efektif, perspektif itu tidak perlu disensor—cukup diabaikan.
Bagian 3: Peran Intelektual—Penjaga Gerbang Ideologi
Dua Jenis Intelektual
Chomsky membedakan dua jenis intelektual:
1. Intelektual Negara (State Intellectuals)
Mereka yang melegitimasi kekuasaan. Akademisi yang menulis laporan untuk pemerintah. Think tanks yang didanai korporat. Komentator yang "menjelaskan" mengapa kebijakan tertentu diperlukan.
Fungsi mereka: Membuat kekuasaan terlihat rasional, tidak terhindarkan, dan untuk kebaikan bersama.
2. Intelektual Independen
Mereka yang mengkritik kekuasaan—di mana pun kekuasaan itu berada.
Fungsi mereka: Mengungkap kesenjangan antara retorika dan realitas. Membela mereka yang tidak punya suara.
Harga dari Independensi
Chomsky berbicara dari pengalaman pribadi. Sebagai kritikus kebijakan luar negeri AS, dia:
- Jarang diundang di media mainstream (dibanding kolega yang lebih "moderat")
- Diserang sebagai "anti-Amerika"
- Kesulitan menerbitkan di jurnal arus utama
- Ditolak untuk berbicara di banyak kampus
Tapi dia beruntung: dia punya posisi tenure di MIT. Dia tidak bisa dipecat.
"Bayangkan," katanya, "jika Anda seorang wartawan muda yang ingin punya karir. Anda dengan cepat belajar: ada topik yang aman dan ada yang tidak. Anda belajar membatasi diri. Dan yang paling berbahaya: Anda mulai percaya bahwa batas-batas itu rasional."
Ini adalah internalisasi kontrol—ketika korban sistem mulai mempolisi diri mereka sendiri.
Mengapa Intelektual Lebih Berbahaya dari Tentara
Chomsky mengutip Orwell: "Dalam masa perang, kebenaran begitu berharga sehingga harus dilindungi oleh tembok kebohongan."
Tapi di masa "damai"? Tembok itu dibangun oleh intelektual.
Tentara mengendalikan dengan kekerasan—dan itu menciptakan perlawanan.
Intelektual mengendalikan dengan ide—dan itu menciptakan persetujuan.
Jauh lebih efektif.
Bagian 4: Demokrasi vs Korporatisme—Siapa yang Benar-Benar Berkuasa?
Ilusi Pemilu
Mahasiswa bertanya: "Tapi kita punya pemilu. Jika rakyat tidak suka, mereka bisa memilih pemimpin baru."
Chomsky: "Pertanyaan yang lebih baik adalah: Siapa yang memutuskan pilihan yang Anda bisa pilih?"
Sebelum Anda memilih, sudah ada filter:
- Kandidat harus punya akses ke dana kampanye (artinya: perlu dukungan korporat atau orang kaya)
- Kandidat harus "kredibel" di mata media (artinya: tidak terlalu radikal)
- Kandidat harus bisa menang (artinya: tidak mengusik kepentingan besar terlalu keras)
Hasilnya: Anda memilih antara dua kandidat yang keduanya sudah difilter untuk aman bagi sistem.
Seperti kata Chomsky: "Anda bebas memilih master Anda—tapi Anda tidak bebas untuk tidak punya master."
Kekuasaan Korporat—Pemerintah yang Tidak Dipilih
Dalam demokrasi, kita punya prinsip: pemimpin harus dipilih dan akuntabel.
Tapi korporasi—institusi yang mengontrol besar kehidupan ekonomi kita—tidak demokratis sama sekali:
- CEO tidak dipilih oleh pekerja
- Keputusan dibuat di atas, dilaksanakan di bawah
- Tidak ada kebebasan berbicara di tempat kerja
- Pekerja bisa dipecat tanpa due process
Chomsky: "Kita menghabiskan sebagian besar waktu hidup kita di dalam institusi yang dikontrol secara otokratis—lalu kita heran mengapa demokrasi kita tidak berfungsi."
Kapitalisme vs Pasar Bebas
Chomsky membuat distinasi yang sering diabaikan: Kapitalisme korporat modern tidak sama dengan pasar bebas.
Pasar bebas (menurut teori): kompetisi, entrepreneur kecil, konsumen berdaulat.
Kapitalisme korporat (realitas): oligopoli, subsidi pemerintah untuk korporat besar, consumer manipulation melalui iklan.
Contoh: Perusahaan farmasi menghabiskan lebih banyak untuk marketing daripada research. Boeing dan Lockheed Martin hidup dari kontrak pemerintah. Bank "too big to fail" di-bailout dengan uang pajak.
"Ini bukan pasar bebas," kata Chomsky. "Ini welfare untuk yang kaya, kapitalisme untuk yang miskin."
Bagian 5: Aktivisme dan Harapan—Apa yang Bisa Kita Lakukan?
"Bukankah Ini Semua Terlalu Besar untuk Diubah?"
Mahasiswa sering merasa putus asa setelah mendengar Chomsky. "Jika sistemnya begitu kuat, apa yang bisa kita lakukan?"
Chomsky selalu menjawab dengan sejarah perubahan sosial:
Perbudakan dianggap normal selama ribuan tahun. Lalu gerakan abolisionis—dimulai oleh sekelompok kecil Quaker—mengubah segalanya.
Hak pilih perempuan dianggap absurd di awal 1900-an. Sekarang universal (di kebanyakan negara).
Gerakan hak sipil di Amerika dimulai dari sekelompok kecil orang yang duduk di konter makan siang yang dipisahkan ras.
Gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan menghadapi pemerintah yang didukung penuh oleh Barat—tapi menang.
Pola yang sama: Perubahan besar dimulai dari gerakan kecil yang tampaknya tidak realistis—sampai mereka menang.
Prinsip Aktivisme Chomsky
1. Organizer, Bukan Pengikut
Jangan tunggu pemimpin besar yang akan menyelamatkan Anda. Andalah pemimpinnya.
Chomsky: "Perubahan tidak datang dari atas. Tidak pernah. Perubahan datang dari orang biasa yang mengorganisir diri mereka sendiri."
2. Fokus pada Isu Lokal dan Konkret
Jangan coba selesaikan semua masalah dunia sekaligus. Pilih satu isu yang penting bagi komunitas Anda. Kerjakan dengan serius.
"Lebih baik mengubah satu kebijakan lokal daripada menulis seribu esai tentang revolusi global."
3. Bangun Struktur Alternatif
Jangan hanya protes terhadap sistem. Bangun alternatif—koperasi, media independen, organisasi grassroots.
"Anda tidak bisa mengalahkan sesuatu dengan tidak ada. Anda harus punya sesuatu untuk menggantikannya."
4. Koneksi Isu
Aktivis lingkungan perlu bicara dengan aktivis buruh. Aktivis anti-perang perlu bicara dengan aktivis hak sipil.
"Sistem menguntungkan dari fragmentasi kita. Kekuatan kita datang dari solidaritas."
5. Kesabaran dan Persistensi
Perubahan lambat. Tidak ada kemenangan instan. Tapi setiap tindakan kecil penting.
Chomsky mengutip Rosa Parks: Dia bukan orang pertama yang menolak berdiri di bus. Tapi dia adalah orang yang melakukannya di momen ketika gerakan siap untuk mendukungnya.
"Anda tidak pernah tahu tindakan mana yang akan menjadi tipping point. Jadi teruslah bertindak."
Bagian 6: Pertanyaan Sulit—Jawaban yang Tidak Nyaman
"Apakah Anda Membenci Amerika?"
Mahasiswa konservatif sering menuduh: "Professor Chomsky, Anda selalu mengkritik Amerika. Apakah Anda membencinya?"
Chomsky: "Sebaliknya. Saya mengkritik karena saya peduli."
"Jika Anda melihat anak Anda berbuat salah, apakah Anda diam karena Anda mencintainya? Atau Anda berbicara karena Anda mencintainya?"
"Saya warga negara Amerika. Saya punya tanggung jawab atas tindakan pemerintah saya. Saya tidak punya kontrol atas pemerintah China atau Korea Utara. Tapi saya punya—setidaknya secara teori—kontrol atas pemerintah saya."
"Jadi saya fokus pada apa yang bisa saya ubah. Dan itu dimulai di rumah."
"Bukankah Sistem Kita Masih Lebih Baik dari yang Lain?"
Mahasiswa lain: "Oke, sistem kita tidak sempurna. Tapi bukankah kita masih lebih baik dari rezim otoriter?"
Chomsky: "Pertanyaan yang salah."
"Pertanyaannya bukan 'Apakah kita lebih baik dari yang terburuk?' Pertanyaannya adalah 'Apakah kita sudah sebaik yang kita bisa?'"
"Jika seorang murid dapat nilai C, dia tidak bisa membela dirinya dengan bilang 'Setidaknya saya tidak dapat F.' Standar yang tepat adalah potensi dia, bukan kegagalan orang lain."
"Amerika punya sumber daya luar biasa, institusi demokratis yang kuat, rakyat yang terdidik. Dengan semua itu, kita seharusnya jauh lebih baik dari yang kita sekarang."
"Apa Solusi Anda?"
Pertanyaan favorit: "Anda pandai mengkritik. Tapi apa solusi Anda?"
Chomsky biasanya menjawab: "Saya bukan orakel. Saya tidak punya blueprint untuk masyarakat ideal."
"Tapi saya tahu ini: Langkah pertama untuk solusi adalah diagnosis yang jujur tentang masalah."
"Dokter tidak bisa mengobati penyakit jika dia tidak mau mengakui pasien sakit. Kita tidak bisa memperbaiki sistem jika kita terus berpura-pura sistem sudah baik-baik saja."
"Solusi akan datang dari eksperimen, trial and error, gerakan sosial yang mencoba berbagai pendekatan. Tugas saya adalah membantu mendiagnosis masalah. Tugas Anda adalah mencoba solusi."
Penutup: Pilihan antara Harapan dan Pasrah
Di akhir salah satu sesi, seorang mahasiswa bertanya dengan suara gemetar: "Professor Chomsky, setelah mendengar semua ini... Bukankah lebih mudah untuk menyerah? Sistemnya terlalu besar. Kita terlalu kecil."
Chomsky diam sejenak. Lalu dia bercerita:
"Tahun 1960-an, saya mulai berbicara menentang Perang Vietnam. Audiens saya? Lima orang. Kadang tiga. Di kampus besar."
"Orang mengatakan saya membuang waktu. 'Tidak ada yang peduli,' kata mereka. 'Amerika mendukung perang.'"
"Tapi kami terus bicara. Terus mengorganisir. Satu orang menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi seratus. Seratus menjadi ribuan."
"Dalam sepuluh tahun, gerakan anti-perang menjadi kekuatan politik terbesar di Amerika. Kami memaksa pemerintah untuk mengakhiri perang."
"Perubahan tidak terjadi karena orang powerful tiba-tiba menjadi baik. Perubahan terjadi karena orang biasa memutuskan untuk tidak diam lagi."
Lima Pelajaran dari Understanding Power
1. Kekuasaan Tidak Pernah Sukarela Menyerahkan Dirinya
Frederick Douglass, mantan budak yang menjadi abolisionis, berkata: "Kekuasaan tidak mengakui tuntutan tanpa perjuangan. Tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada."
Jika Anda menunggu elite berkuasa untuk berbagi kekuasaan dengan sukarela, Anda akan menunggu selamanya.
2. Skeptisisme Adalah Kebajikan, Bukan Sinisme
Skeptisisme: "Saya tidak percaya klaim ini sampai saya lihat buktinya."
Sinisme: "Semua orang jahat, tidak ada yang bisa diubah."
Chomsky skeptis terhadap kekuasaan—tapi optimis tentang kemampuan orang biasa untuk berubah.
3. Informasi Adalah Senjata
Sistem propaganda bergantung pada ketidaktahuan Anda. Semakin banyak Anda tahu, semakin sulit Anda dimanipulasi.
Tugas Anda: baca, pelajari, gali informasi yang tidak disediakan oleh media mainstream.
4. Organisasi Adalah Kunci
Individu sendirian tidak berdaya. Tapi individu yang terorganisir adalah kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Setiap gerakan besar dalam sejarah—dari suffragette hingga hak sipil hingga gerakan buruh—adalah cerita tentang orang biasa yang mengorganisir diri mereka sendiri.
5. Perubahan Adalah Akumulasi Tindakan Kecil
Anda tidak perlu mengubah dunia sendirian. Anda hanya perlu melakukan bagian Anda—dan percaya bahwa orang lain akan melakukan bagian mereka.
"Tidak ada tindakan yang terlalu kecil," kata Chomsky. "Karena Anda tidak pernah tahu tindakan mana yang akan menjadi perbedaan."
Kata Terakhir: Pertanyaan untuk Anda
Chomsky tidak pernah memberikan jawaban mudah. Tapi dia selalu mengajukan pertanyaan yang tepat:
Pertanyaan 1: Ketika Anda membaca berita hari ini, apakah Anda bertanya "Mengapa cerita ini dipilih untuk diberitakan—dan cerita apa yang tidak diberitakan?"
Pertanyaan 2: Ketika pemimpin Anda mengatakan "Kita harus melakukan X demi keamanan nasional," apakah Anda bertanya "Keamanan siapa? Dan siapa yang untung?"
Pertanyaan 3: Ketika Anda merasa tidak berdaya menghadapi sistem, apakah Anda ingat bahwa setiap sistem besar dibangun—dan bisa dibongkar—oleh tindakan manusia biasa?
Pertanyaan 4: Apakah Anda akan menjadi intelektual negara yang melegitimasi kekuasaan—atau intelektual independen yang mempertanyakannya?
Pertanyaan 5: Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?
Chomsky menutup salah satu diskusinya dengan kalimat ini:
"Optimisme dan pesimisme adalah konsep yang tidak relevan dalam perjuangan. Yang relevan adalah tindakan. Anda bertindak bukan karena Anda optimis akan menang—tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan."
"Dan inilah rahasianya: Ketika cukup banyak orang melakukan hal yang benar, hal-hal yang tampaknya mustahil menjadi tidak terhindarkan."
Jadi pertanyaannya bukan "Apakah kita bisa menang?"
Pertanyaannya adalah: "Apakah kita akan mencoba?"
Pilihan ada di tangan Anda.
Tentang Buku Asli
"Understanding Power: The Indispensable Chomsky" diedit oleh Peter R. Mitchell dan John Schoeffel, diterbitkan pada tahun 2002.
Buku ini adalah kompilasi dari berbagai diskusi, seminar, dan wawancara dengan Noam Chomsky antara tahun 1989-1999, mencakup lebih dari 300 halaman dialog tentang politik, media, aktivisme, dan kekuasaan.
Yang unik dari buku ini: lebih dari 800 catatan kaki dengan referensi lengkap—membuatnya menjadi salah satu buku Chomsky yang paling terdokumentasi. Setiap klaim didukung dengan sumber yang bisa diverifikasi.
Noam Chomsky adalah profesor linguistik emeritus di MIT, dianggap sebagai salah satu intelektual paling berpengaruh di dunia. Karya linguistiknya merevolusi pemahaman kita tentang bahasa. Tapi dia lebih dikenal sebagai kritikus kebijakan luar negeri AS dan analis media.
Untuk pemahaman lengkap tentang cara kerja kekuasaan dalam demokrasi modern dan bagaimana melawannya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Chomsky memberikan ratusan contoh konkret, data historis, dan analisis mendalam yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Buku ini bukan bacaan ringan. Tapi buku ini adalah bacaan penting—untuk siapa pun yang ingin memahami dunia di balik headline berita.
Sekarang pergilah dan pahami kekuasaan—karena hanya dengan memahami, Anda bisa melawannya.