Lompat ke konten utama

Confessions of an English Opium-Eater

oleh Thomas De Quincey · Maret 2026 · 14 menit baca

Botol Kecil yang Mengubah Segalanya

Daftar isi

Botol Kecil yang Mengubah Segalanya 

London, 1804. Seorang pemuda berusia 19 tahun berjalan masuk ke apotik dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Sakit gigi yang mengerikan telah menyiksanya selama berminggu-minggu. Tidur nyaris mustahil. Makan menjadi penderitaan. 

Apoteker memberikan botol kecil berisi cairan gelap. 

"Tincture of opium," katanya. "Setetes saja dalam air, sebelum tidur." 

Malam itu, pemuda itu—Thomas De Quincey—meneguk dosis pertamanya. 

Dalam satu jam, rasa sakitnya lenyap. Tidak hanya sakitnya—seluruh beban hidupnya seolah terangkat. Kesepian yang telah menghantuinya sejak kecil menghilang. Kecemasan tentang masa depan memudar. Dunia yang selama ini terasa keras dan dingin tiba-tiba menjadi hangat dan penuh kemungkinan. 

Dia merasa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bahagia

Dia tidak tahu bahwa botol kecil itu akan mengontrol hidupnya selama 50 tahun berikutnya. 

"Confessions of an English Opium-Eater" adalah catatan jujur—dan mengejutkan untuk zamannya—tentang perjalanan De Quincey dari kesenangan awal opium hingga neraka kecanduan yang hampir menghancurkannya. 

Ditulis pada tahun 1821, ketika sebagian besar orang menyembunyikan kecanduan mereka dengan malu, De Quincey memilih untuk mengakuinya secara terbuka—bukan untuk merayakan opium, tetapi untuk memperingatkan. 

Ini bukan dongeng moral yang sederhana. Ini adalah potret kompleks tentang bagaimana sesuatu yang memberikan kebahagiaan bisa berubah menjadi penjara. Tentang bagaimana pelarian menjadi kecanduan. Tentang harga yang kita bayar untuk mencari kenyamanan dalam hal yang salah.


Bagian 1: Akar Kesepian—Masa Kecil yang Terbelah

Kehilangan yang Membentuk 

Thomas De Quincey lahir pada tahun 1785 dalam keluarga kaya di Manchester. Secara material, dia punya segalanya. Secara emosional, dia punya sangat sedikit. 

Ketika berusia enam tahun, kakak perempuannya yang paling dia cintai—Elizabeth—meninggal karena penyakit. Dia mengingat berdiri di samping tubuhnya yang dingin, menatap wajahnya yang damai, dan merasakan kesepian yang begitu dalam sehingga tidak pernah benar-benar hilang. 

"Saya menatap wajahnya," tulisnya, "dan pada saat itu saya pertama kali memahami kematian—dan bersama itu, kesepian yang akan mengikuti saya sepanjang hidup." 

Ayahnya meninggal tidak lama kemudian. Ibunya, meskipun baik, emosional jauh. Anak-anak diasuh oleh guru dan pengasuh yang keras. 

De Quincey tumbuh sebagai anak yang cerdas luar biasa tetapi sangat kesepian—membaca buku dalam bahasa Latin dan Yunani pada usia yang sangat muda, tetapi tidak memiliki teman dekat. 

Pelarian dari Sekolah 

Pada usia 17 tahun, De Quincey kabur dari sekolah asrama yang dia benci. Dia tidak memberitahu keluarganya. Dia hanya pergi—dengan sedikit uang di saku dan tidak ada rencana. 

Dia mengembara di Wales selama berbulan-bulan, tidur di bawah bintang, makan sesedikit mungkin untuk menghemat uang. Dia kelaparan. Dia kesepian. Tapi dia bebas. 

Mengapa dia lakukan ini? Karena kesepian sendirian di alam terasa lebih baik daripada kesepian dikelilingi orang-orang yang tidak memahaminya. 

Akhirnya, dengan uang habis dan tubuh kurus kering, dia pergi ke London—berharap menemukan bantuan atau setidaknya, anonimitas.


Bagian 2: London dan Ann—Kemanusiaan di Tempat Tergelap 

Di Tengah Kemiskinan 

Di London, De Quincey menjadi tunawisma. Dia tidur di jalanan. Kadang di tangga rumah kosong. Kadang di lantai rumah yang ditinggalkan. 

Dia kelaparan—benar-benar kelaparan. Tubuhnya kurus. Wajahnya cekung. Dia mengalami halusinasi dari kekurangan makanan. 

Tapi di tengah kegelapan ini, dia menemukan cahaya kecil kemanusiaan.

Ann—Gadis yang Menyelamatkannya 

Ann adalah gadis jalanan berusia 15 atau 16 tahun. Seperti De Quincey, dia tidak punya rumah. Seperti De Quincey, dia kelaparan. 

Tapi ketika suatu malam De Quincey pingsan di jalanan karena kelaparan, Ann berbagi makanan terakhirnya dengan dia—meskipun dia sendiri hampir tidak punya apa-apa. 

Dalam kehangatan sederhana itu, De Quincey menemukan sesuatu yang tidak pernah dia temukan dalam keluarga kayanya: koneksi manusia yang tulus. 

Mereka menjadi teman. Dua jiwa yang patah, saling menemani di kota yang keras. Ann tidak terpelajar seperti De Quincey. Tapi dia baik. Dan kebaikan itu, dalam momen tergelap hidupnya, berarti segalanya. 

Perpisahan yang Menghantui 

Akhirnya, keluarga De Quincey menemukannya dan membawanya pulang. Dia berjanji pada Ann bahwa dia akan kembali—dengan uang, dengan bantuan, untuk menyelamatkannya dari jalanan. 

Tapi ketika dia kembali ke London berminggu-minggu kemudian, Ann sudah hilang. 

Dia mencari di mana-mana. Di setiap sudut jalanan tempat mereka pernah bertemu. Di setiap rumah tempat dia mungkin berada. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. 

Ann menghilang—seperti begitu banyak anak jalanan yang hilang di London Victorian, tidak pernah tercatat, tidak pernah diingat. 

Kecuali oleh De Quincey. Yang akan mengingat dan mencari wajahnya dalam mimpi-mimpinya—terutama mimpi-mimpi opium—selama sisa hidupnya.

Hilangnya Ann meninggalkan luka yang tidak pernah sembuh. Dan luka itu, bertahun-tahun kemudian, akan dia coba obati dengan opium.


Bagian 3: Kesenangan Opium—Surga yang Menipu

Pertemuan Pertama 

Bertahun-tahun setelah London, De Quincey belajar di Oxford. Dia hidup lebih nyaman sekarang. Tapi kesepian dan kecemasan tidak pernah hilang. 

Lalu datanglah sakit gigi yang mengerikan—dan botol opium itu. 

Malam pertama setelah minum opium, De Quincey mengalami sesuatu yang dia gambarkan sebagai "kebahagiaan yang sempurna". 

Bukan hanya hilangnya rasa sakit. Tapi sebuah transformasi total dari pengalaman hidup.

Keindahan yang Tak Terlukiskan 

De Quincey mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan: 

Musik terdengar lebih indah—setiap nada mengandung kedalaman emosional yang luar biasa. Dia menangis mendengar opera yang biasanya tidak menyentuhnya. 

Buku-buku yang dia baca menjadi hidup dengan cara yang baru. Filosofi yang sebelumnya abstrak tiba-tiba membuat sense yang mendalam dan personal. 

Percakapan dengan teman-teman menjadi penuh makna. Setiap kata terasa penting. 

Bahkan berjalan di malam hari di Oxford—melihat cahaya lampu melalui jendela perpustakaan, mendengar langkah kaki di atas cobblestone—memberinya rasa kedamaian dan keterhubungan dengan dunia yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. 

"Untuk pertama kalinya," tulisnya, "saya merasa bahwa dunia bukan tempat yang asing. Saya merasa seperti pulang." 

Inilah yang membuat opium begitu berbahaya: Dia tidak hanya membuat Anda merasa baik. Dia membuat Anda merasa lengkap. 

Kontrol Awal 

Pada awalnya, De Quincey menggunakan opium dengan hati-hati. Hanya di akhir pekan. Hanya dalam dosis kecil. Hanya untuk acara-acara khusus—pergi ke opera, membaca puisi, berjalan-jalan malam. 

Dia pikir dia bisa mengontrolnya. Dia pikir dia berbeda dari pecandu lain yang hidupnya hancur.

"Saya tidak akan menjadi budak," dia pikir. "Saya hanya pengguna yang bijaksana."

Ini adalah delusi klasik dari setiap pecandu di dunia.


Bagian 4: Jatuh ke dalam Kecanduan—Dari Surga ke Neraka 

Peningkatan Dosis yang Tak Terhindar 

Masalahnya dengan opium—dengan semua zat adiktif—adalah toleransi

Dosis yang membuat Anda bahagia minggu lalu tidak cukup minggu ini. Jadi Anda menambah sedikit. Lalu sedikit lagi. Lalu lebih banyak. 

Dalam beberapa tahun, De Quincey tidak lagi menggunakan opium untuk acara khusus. Dia menggunakannya setiap hari. Lalu dua kali sehari. Lalu sepanjang hari. 

Dosisnya meningkat dari beberapa tetes menjadi 8.000 tetes per hari—jumlah yang akan membunuh orang yang tidak terbiasa. 

Dan efeknya berubah. 

Ketika Surga Berubah Menjadi Neraka 

Opium tidak lagi memberikan kebahagiaan. Sekarang dia hanya memberikan ketiadaan penderitaan. 

Tanpa opium, De Quincey merasakan: 

  • Nyeri fisik yang luar biasa—setiap sendi terasa seperti diremukkan
  • Keringat dingin dan gemetar
  • Mual yang tidak berhenti
  • Kecemasan yang melumpuhkan
  • Depresi yang dalam

Jadi dia minum opium—bukan untuk merasa baik, tetapi hanya untuk merasa normal. 

Ini adalah penjara yang sempurna: Dia tidak bisa hidup tanpanya, tetapi dia juga tidak bisa benar-benar hidup dengannya. 

Efek pada Kehidupan 

Kecanduan menghancurkan hidupnya perlahan: 

Secara fisik: Dia mengalami konstipasi kronis yang menyakitkan. Kulitnya pucat dan tidak sehat. Dia kehilangan berat badan drastis. Matanya cekung. 

Secara mental: Dia tidak bisa berkonsentrasi. Menulis—yang dulu dia cintai—menjadi hampir mustahil. Dia akan menatap kertas kosong selama berjam-jam.

Secara sosial: Dia mengisolasi diri. Janji dibatalkan. Teman-teman menjauh. Bahkan keluarganya—istrinya yang sabar—mulai kehilangan harapan. 

Secara finansial: Dia menghabiskan hampir semua uangnya untuk opium. Hutang menumpuk. Dia bersembunyi dari debt collectors.


Bagian 5: Mimpi Buruk—Ketika Pikiran Berubah Melawan Diri Sendiri 

Mimpi yang Mengerikan 

Efek paling menakutkan dari opium adalah mimpi

Di awal, mimpi-mimpinya indah—penuh warna, musik, dan keajaiban. Tapi seiring kecanduan memburuk, mimpi-mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk yang tak tertahankan. 

De Quincey menggambarkan mimpi-mimpi ini dengan detail yang mengerikan: 

Mimpi tentang Waktu: Dia merasakan waktu melambat atau mempercepat secara ekstrem. Satu malam dalam mimpi terasa seperti 70 tahun. Dia menua, mati, dan terlahir kembali dalam satu tidur. 

"Saya kadang merasa seolah saya telah hidup selama ribuan tahun," tulisnya. "Beban memori yang tidak pernah saya alami menekan pikiran saya." 

Mimpi tentang Ruang: Ruangan kecil membengkak menjadi katedral raksasa. Wajah orang-orang terdistorsi menjadi ukuran yang mengerikan. 

Mimpi tentang Hewan: Dia dikejar oleh buaya, dikelilingi oleh ular, ditonton oleh burung-burung dengan mata manusia. Hewan-hewan ini tidak hanya menakutkan—mereka simbolis dari rasa bersalah dan takutnya. 

Mimpi tentang Ann: Yang paling menyakitkan adalah mimpi tentang Ann—gadis jalanan yang menyelamatkannya di London. Dia melihat wajahnya, memanggil namanya, mencoba meraihnya—tapi dia selalu menghilang. 

Mimpi-mimpi ini begitu vivid sehingga ketika dia bangun, dia tidak yakin apa yang nyata dan apa yang mimpi. 

Kehilangan Realitas 

Kecanduan opium membuat De Quincey kehilangan pegangan pada realitas. 

Dia duduk di rumahnya selama berhari-hari, menatap dinding, tersesat dalam pikirannya sendiri. Kadang dia tidak yakin apakah dia bangun atau tidur. Kadang dia tidak ingat apakah dia sudah makan atau tidak. 

Istrinya—Margaret—mencoba membantu. Dia sabar, penuh kasih, tidak pernah menyerah padanya. Tapi bahkan cintanya tidak cukup untuk menarik De Quincey keluar dari jurang.

Opium telah menjadi satu-satunya hal yang dia percayai, satu-satunya hal yang dia butuhkan—dan itu menghancurkannya.


Bagian 6: Upaya Berhenti—Pertarungan yang Brutal

Keputusan untuk Berhenti 

Pada tahun 1821, setelah hampir 20 tahun kecanduan, De Quincey memutuskan untuk berhenti. 

Bukan karena dia tiba-tiba mendapat pencerahan moral. Bukan karena dia takut mati (meskipun dia tahu opium membunuhnya). 

Dia memutuskan untuk berhenti karena dia tidak lagi bisa menulis—dan menulis adalah satu-satunya hal yang memberikan hidupnya makna di luar opium. 

Penderitaan Withdrawal 

Berhenti dari opium adalah neraka yang hidup. 

De Quincey menggambarkan gejalanya: 

  • Nyeri fisik yang ekstrem—setiap otot, setiap tulang, terasa seperti dipukul dengan palu
  • Insomnia total—tidak bisa tidur selama berhari-hari
  • Halusinasi bahkan saat bangun
  • Keringat yang merendam tempat tidur
  • Keinginan yang luar biasa kuat untuk opium—seperti orang yang tenggelam menginginkan udara

"Saya pikir saya akan mati," tulisnya. "Dan di beberapa momen, saya berharap saya mati." 

Tapi yang paling sulit bukanlah penderitaan fisik. Yang paling sulit adalah kehilangan satu-satunya hal yang pernah membuat hidupnya terasa lengkap. 

Kambuh dan Perjuangan 

De Quincey tidak berhenti sepenuhnya dalam satu usaha. Dia kambuh berkali-kali. 

Kadang dia bertahan beberapa minggu tanpa opium. Lalu stres datang—tagihan yang tidak bisa dibayar, pekerjaan yang menumpuk, kesepian yang kembali—dan dia meraih botol itu lagi. 

Setiap kali dia kambuh, dia merasa malu yang luar biasa. Dia merasa lemah. Dia merasa gagal. 

Tapi perlahan, dia belajar sesuatu: Kambuh bukan kegagalan total. Itu adalah bagian dari proses.


Bagian 7: Pengakuan Publik—Mengapa Dia Menulis

Keberanian untuk Bercerita 

Pada tahun 1821, De Quincey menulis "Confessions of an English Opium-Eater" dan mempublikasikannya. 

Ini adalah tindakan yang sangat berani untuk zamannya. 

Di era Victorian, kecanduan adalah shame yang harus disembunyikan. Orang-orang kaya yang kecanduan opium (dan ada banyak) tidak pernah mengakuinya secara publik. Mereka bersembunyi di balik pintu tertutup, menderita dalam diam, mati tanpa ada yang tahu. 

De Quincey memilih sebaliknya: Dia mengakuinya secara terbuka. 

Mengapa? 

Tiga Alasan 

1. Untuk memperingatkan orang lain 

De Quincey tidak menulis untuk meromantisasi opium. Dia menulis untuk menunjukkan harga sebenarnya dari kesenangan yang tampaknya tidak berbahaya. 

"Saya ingin orang-orang muda tahu," tulisnya, "bahwa surga yang dijanjikan opium adalah ilusi. Dan harganya adalah neraka yang nyata." 

2. Untuk memahami dirinya sendiri 

Menulis adalah cara De Quincey mencoba memahami apa yang terjadi padanya. Mengapa dia menjadi kecanduan? Apa yang dia cari dalam opium? Apa yang hilang dari hidupnya yang dia coba isi dengan zat itu? 

Dengan menuliskannya, dia mengubah pengalaman kacau menjadi narasi yang bisa dipahami. 

3. Untuk mendapatkan kembali martabat 

Dengan mengakui kecanduannya secara terbuka, De Quincey mengambil kembali kontrol—setidaknya kontrol atas ceritanya sendiri. 

Dia tidak lagi korban pasif dari kecanduannya. Dia menjadi saksi aktif yang menceritakan penderitaannya dengan harapan bahwa penderitaan itu tidak sia-sia.


Bagian 8: Warisan dan Pelajaran—150 Tahun Kemudian

Akhir Cerita De Quincey 

De Quincey tidak pernah sepenuhnya berhenti dari opium. Dia mengurangi dosisnya secara signifikan, tapi dia menggunakannya—dalam jumlah lebih kecil—sampai akhir hayatnya. 

Dia menikah, punya anak, dan terus menulis. "Confessions" membuatnya terkenal—atau lebih tepatnya, terkenal karena kecanduannya. 

Dia hidup sampai usia 74 tahun, meninggal pada tahun 1859. Di ranjang kematiannya, dia masih meminum opium—tapi dalam dosis yang jauh lebih terkontrol daripada puncak kecanduannya. 

Apakah dia "sembuh"? Tergantung bagaimana Anda mendefinisikan sembuh. 

Dia tidak pernah kembali ke opium dalam jumlah yang menghancurkan. Dia mendapatkan kembali kemampuannya untuk menulis, untuk mencintai keluarganya, untuk hidup dengan produktif. 

Tapi dia juga tidak pernah sepenuhnya bebas dari opium. 

Mungkin pelajarannya adalah: Kadang "sembuh" bukan tentang kembali ke siapa Anda sebelumnya, tetapi tentang belajar hidup dengan luka Anda dengan cara yang lebih sehat. 

Pelajaran untuk Kita Hari Ini 

1. Kecanduan Dimulai dari Pencarian yang Sah 

De Quincey tidak menjadi pecandu karena dia "jahat" atau "lemah". Dia menjadi pecandu karena dia mencari solusi untuk rasa sakit yang nyata—kesepian, kehilangan, trauma masa kecil. 

Opium—untuk sementara—mengisi kekosongan itu. 

Pelajaran: Kecanduan sering dimulai dari pencarian yang sah untuk kenyamanan atau pelarian. Memahami ini membantu kita memiliki empati—pada orang lain dan pada diri sendiri. 

2. "Kontrol" adalah Ilusi yang Berbahaya 

De Quincey yakin dia bisa mengontrol penggunaan opiumnya. Dia pikir dia berbeda. Dia pikir dia lebih pintar. 

Tapi zat adiktif tidak peduli seberapa pintar atau kuat kemauan Anda. Mereka mengubah kimia otak Anda dengan cara yang membuat kontrol semakin mustahil.

Pelajaran: Jangan percaya pada kemampuan Anda untuk "mengontrol" hal-hal yang dirancang untuk tidak bisa dikontrol. 

3. Isolasi Memperburuk Kecanduan 

De Quincey paling dalam kecanduannya ketika dia paling terisolasi. Ketika dia punya koneksi—dengan Ann di jalanan London, dengan istrinya Margaret—dia punya alasan untuk berjuang. 

Pelajaran: Koneksi manusia adalah antidote untuk kecanduan. Kesepian membuat kita rentan. Komunitas membuat kita kuat. 

4. Shame Membuat Kita Sakit; Jujur Membuat Kita Sembuh 

Selama De Quincey menyembunyikan kecanduannya, dia terjebak di dalamnya. Ketika dia mengakuinya—pertama pada dirinya sendiri, lalu pada dunia—dia mulai menemukan jalan keluar. 

Pelajaran: Kita sembuh dalam terang, bukan dalam kegelapan. Shame membuat masalah kita berkembang. Kejujuran memberi kita kekuatan untuk berubah. 

5. Kadang Pulih Bukan tentang Sempurna 

De Quincey tidak pernah sepenuhnya "bersih" dari opium. Tapi dia mendapatkan kembali hidupnya. Dia menulis. Dia mencintai. Dia berkontribusi. 

Pelajaran: Kesembuhan bukan tentang kesempurnaan. Itu tentang kemajuan. Kadang "cukup baik" adalah kemenangan yang luar biasa.


Penutup: Pengakuan adalah Awal, Bukan Akhir

Thomas De Quincey menulis di akhir "Confessions": 

"Saya telah mengungkapkan rahasia saya—bukan untuk dipuji, tetapi agar tidak sendirian dalam penderitaan saya." 

Inilah kekuatan pengakuan: Itu mengubah rasa malu yang isolatif menjadi pengalaman bersama yang humanizing. 

Ketika De Quincey mempublikasikan bukunya, dia dikejutkan oleh responnya. Ribuan orang—banyak dari mereka sembunyi-sembunyi kecanduan opium sendiri—menulis kepadanya. Mereka bilang, "Saya pikir saya sendirian. Terima kasih telah membuat saya merasa kurang malu." 

Ini adalah hadiah yang dia tidak harapkan: dengan mengakui kelemahannya, dia memberikan izin pada orang lain untuk mengakui kelemahan mereka.


Pertanyaan untuk Anda 

"Confessions of an English Opium-Eater" bukan hanya tentang opium. Ini tentang pencarian kita untuk mengisi kekosongan. 

Beberapa orang mengisi kekosongan dengan opium. Yang lain dengan alkohol. Yang lain dengan pekerjaan, media sosial, belanja, atau hubungan yang toxic. 

Mekanisme berbeda. Tapi pola yang sama: kita mencari di luar diri kita apa yang seharusnya kita bangun di dalam. 

Jadi pertanyaan untuk Anda: 

  • Apa yang Anda gunakan untuk melarikan diri dari rasa sakit Anda?
  • Apa kekosongan yang Anda coba isi—dan apakah cara Anda mengisinya benar-benar berhasil? 
  • Siapa yang bisa Anda ajak bicara dengan jujur tentang perjuangan Anda—tanpa shame? 

De Quincey mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukan tentang tidak pernah jatuh. Itu tentang jujur ketika kita jatuh, dan terus berjuang untuk bangkit. 

Perjalanan pulih dimulai dengan satu langkah kecil: pengakuan yang jujur.


Tentang Buku Asli 

"Confessions of an English Opium-Eater" pertama kali diterbitkan dalam dua bagian di majalah London pada tahun 1821, kemudian diperluas dan diterbitkan ulang pada tahun 1856. 

Thomas De Quincey (1785-1859) adalah penulis Inggris yang terkenal karena prosa yang puitis dan eksplorasi psikologis yang mendalam. Selain "Confessions," dia menulis banyak esai tentang filosofi, sastra, dan politik. 

Buku ini revolusioner untuk zamannya—salah satu karya pertama yang membahas kecanduan narkotika secara terbuka dan jujur. Ini mempengaruhi banyak penulis setelahnya, termasuk Edgar Allan Poe, Charles Baudelaire, dan gerakan sastra yang mengeksplorasi altered states of consciousness. 

Yang membuat buku ini bertahan 200 tahun adalah kejujuran brutal De Quincey. Dia tidak meromantisasi opium (meskipun kadang dituduh demikian). Dia menunjukkan keindahan dan neraka—dan harga yang dia bayar. 

Untuk pemahaman lengkap tentang perjalanan ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Prosa De Quincey adalah karya seni tersendiri—penuh dengan deskripsi mimpi yang surreal, refleksi filosofis, dan kejujuran emosional yang langka. 

Ringkasan ini menangkap esensi perjalanannya, tetapi buku lengkap memberikan kedalaman psikologis dan keindahan sastra yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Sekarang pergilah dan hadapi kekosongan Anda dengan jujur—bukan dengan pelarian, tetapi dengan keberanian untuk melihatnya, memahaminya, dan mengisinya dengan cara yang benar-benar menyembuhkan. 

Seperti De Quincey tunjukkan: Kita paling kuat bukan ketika kita menyembunyikan luka kita, tetapi ketika kita berani mengakuinya—dan masih terus berjalan. 

Jalan pulih panjang. Tapi dimulai hari ini.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: The Last Days of Hitler
Kembali ke atas

Buku serupa