Lompat ke konten utama

The Making of the English Working Class

oleh E. P. Thompson · Maret 2026 · 13 menit baca

Menyelamatkan Orang-Orang yang Terlupakan dari Sejarah

Daftar isi

Menyelamatkan Orang-Orang yang Terlupakan dari Sejarah 

Bayangkan Anda membuka buku sejarah tentang Inggris abad ke-19. 

Apa yang Anda baca? Kemungkinan besar: daftar raja dan ratu. Undang-undang yang disahkan Parlemen. Perang yang dimenangkan jenderal. Penemuan yang dibuat oleh penemu jenius. 

Tapi di mana para tukang tenun yang kehilangan pekerjaan mereka karena mesin? Di mana para pekerja pabrik yang bekerja 14 jam sehari sejak usia tujuh tahun? Di mana para pengrajin yang melihat cara hidup mereka dihancurkan oleh industrialisasi? 

Mereka tidak ada di buku sejarah. 

Atau setidaknya, tidak ada sampai E. P. Thompson menulis "The Making of the English Working Class" pada tahun 1963. 

Thompson memulai bukunya dengan pernyataan yang sederhana namun revolusioner: 

"Saya berusaha menyelamatkan penenun yang malang, perajut stoking 'usang', pengrajin 'utopis', dan bahkan pengikut Joanna Southcott yang tertipu, dari penghinaan yang luar biasa besar dari anak cucu." 

Ini bukan buku tentang raja atau ratu. Ini bukan tentang industri kapas atau mesin uap sebagai kekuatan abstrak. 

Ini adalah buku tentang orang-orang biasa yang membuat sejarah mereka sendiri—bahkan ketika mereka tidak memiliki kekuasaan, kekayaan, atau suara dalam Parlemen. 

Thompson menunjukkan bahwa antara tahun 1780 dan 1832, sesuatu yang luar biasa terjadi di Inggris: jutaan orang—tukang tenun, pandai besi, buruh, petani—yang tidak memiliki apa-apa

selain tenaga mereka, mulai melihat diri mereka sebagai satu kelas dengan kepentingan bersama. 

Kelas pekerja tidak "muncul" seperti jamur setelah hujan. Mereka tidak "diciptakan" oleh pabrik-pabrik. 

Mereka membuat diri mereka sendiri. 

Dan dalam proses itu, mereka mengubah dunia.


Bagian 1: Sebelum Pabrik—Tradisi Liberty yang Hampir Terlupakan 

Inggris yang Hilang 

Untuk memahami bagaimana kelas pekerja terbentuk, kita harus memahami apa yang ada sebelumnya. 

Sebelum pabrik-pabrik besar, Inggris adalah negara pengrajin dan petani kecil. Orang-orang bekerja di rumah mereka sendiri atau di bengkel kecil. Mereka mengontrol waktu mereka sendiri, kecepatan kerja mereka sendiri, dan—yang paling penting—produk dari tenaga mereka. 

Seorang tukang tenun bisa bangun pagi, bekerja beberapa jam, istirahat untuk minum bir di pub, berbincang dengan tetangga, kembali bekerja di sore hari. Jika cuaca bagus, dia bisa memilih untuk tidak bekerja dan pergi memancing. 

Ini bukan romantisme—Thompson sangat jelas bahwa kehidupan itu keras. Tapi ada otonomi. Ada martabat. Ada rasa bahwa Anda adalah tuan dari waktu Anda sendiri. 

Tradisi Radikal Inggris 

Thompson juga menunjukkan bahwa kelas pekerja Inggris tidak memulai dari nol. Mereka mewarisi tradisi panjang perlawanan: 

Dari abad ke-17: Memori Revolusi Inggris (1640-an), ketika rakyat biasa mengeksekusi raja mereka. Gerakan Levellers yang menuntut hak pilih universal dan kesetaraan. 

Dari abad ke-18: Tradisi "freeborn Englishman"—keyakinan bahwa setiap orang Inggris lahir dengan hak-hak tertentu yang tidak bisa diambil oleh raja atau parlemen. 

Paine's "Rights of Man" (1791): Buku yang menggemparkan yang berpendapat bahwa semua pemerintah harus bertanggung jawab kepada rakyat, bukan sebaliknya. 

Ketika Revolusi Industri datang, orang-orang ini tidak menerimanya dengan pasif. Mereka sudah punya bahasa untuk menuntut hak-hak mereka. Mereka sudah punya sejarah perlawanan.


Bagian 2: Revolusi yang Mencuri Kehidupan

Mesin yang Mengubah Segalanya 

Akhir abad ke-18. Mesin-mesin baru mulai muncul di industri tekstil. Mesin tenun mekanis. Mesin pintal. Mesin-mesin yang bisa melakukan pekerjaan 10, 20, bahkan 100 orang. 

Buku ekonomi mengatakan ini adalah "kemajuan." Produktivitas meningkat. Harga turun. GDP naik. 

Tapi bagi tukang tenun yang telah menghabiskan bertahun-tahun menguasai keahlian mereka? Ini adalah bencana

Thompson mengutip seorang tukang tenun tangan dari tahun 1830-an: 

"Ayah saya adalah tukang tenun. Dia bisa menghidupi keluarga kami dengan layak. Kami punya rumah yang nyaman. Kami punya waktu untuk membaca, untuk berpikir. Sekarang? Saya bekerja 14 jam sehari di pabrik dan едва bisa memberi makan anak-anak saya." 

Disiplin Pabrik—Perang terhadap Waktu 

Tapi bukan hanya upah yang turun. Seluruh cara hidup berubah. 

Di pabrik, Anda tidak mengontrol waktu Anda lagi. Bel pabrik berbunyi jam 5 pagi. Anda harus datang tepat waktu atau didenda. Anda bekerja dengan kecepatan mesin, bukan kecepatan Anda sendiri. Anda tidak bisa berhenti untuk berbincang. Tidak bisa pulang ketika Anda lelah. 

Anda bukan lagi pengrajin yang bangga. Anda adalah lampiran pada mesin.

Thompson mengutip aturan pabrik dari periode itu: 

  • Terlambat 5 menit: denda 1 shilling
  • Berbicara dengan pekerja lain: denda
  • Membuka jendela tanpa izin: denda
  • Toilet lebih dari 5 menit: denda

Ini bukan hanya tentang menghasilkan kain. Ini tentang mendisiplinkan manusia menjadi mesin. 

Anak-Anak di Pabrik 

Yang paling mengerikan: anak-anak.

Anak-anak seusia 5-7 tahun bekerja di pabrik. Jari-jari kecil mereka sempurna untuk membersihkan mesin yang sedang berjalan. Tubuh kecil mereka bisa merangkak di bawah mesin untuk mengambil kapas yang jatuh. 

Kecelakaan terjadi sepanjang waktu. Jari terpotong. Tangan terjepit. Anak-anak tertidur saat berdiri dan jatuh ke mesin. 

Pemilik pabrik tidak peduli. Ada selalu lebih banyak anak. 

Thompson menunjukkan ini bukan "harga kemajuan yang tidak terhindarkan." Ini adalah pilihan yang dibuat oleh orang-orang yang punya kekuasaan untuk mengambil keuntungan.


Bagian 3: Perlawanan Pertama—Luddites dan Mitos

Siapa Sebenarnya Luddites Itu? 

Anda mungkin pernah dengar kata "Luddite" sebagai penghinaan untuk orang yang anti-teknologi. 

Tapi Thompson menunjukkan: Luddites bukan orang bodoh yang takut mesin. 

Antara 1811-1816, di daerah industri tekstil Inggris, gerakan bawah tanah muncul. Mereka menyebut diri mereka "tentara General Ludd"—pemimpin mitos yang katanya memimpin mereka. 

Di malam hari, kelompok-kelompok bersenjata akan menyerang pabrik dan menghancurkan mesin-mesin tertentu—bukan semua mesin, tapi mesin yang digunakan untuk memproduksi barang murah yang menghancurkan upah pekerja terampil. 

Ini bukan vandalisme acak. Ini adalah aksi industrial yang terorganisir.

Luddites punya tuntutan yang jelas: 

  • Upah yang layak
  • Regulasi kualitas produk
  • Hak untuk bernegosiasi dengan pemilik pabrik

Ketika pemilik menolak, mereka menghancurkan mesin sebagai leverage.

Represi Brutal 

Pemerintah merespons dengan kekerasan luar biasa. 

Tentara dikirim—lebih banyak tentara daripada yang dikirim Wellington untuk melawan Napoleon di Spanyol pada waktu yang sama. 

Luddites ditangkap. Diadili. Banyak yang digantung. Yang lain dideportasi ke Australia. 

Tapi yang penting untuk dipahami, kata Thompson: Luddites tidak kalah karena mereka salah. Mereka kalah karena ditindas dengan kekerasan negara. 

Dan dari kekalahan itu, mereka belajar: Menghancurkan mesin tidak cukup. Mereka butuh kekuatan politik. Mereka butuh organisasi yang lebih besar.


Bagian 4: Metodisme—Agama sebagai Senjata Dua Mata

Kebangkitan Metodis di Kalangan Pekerja 

Di tengah penderitaan Revolusi Industri, agama mengalami kebangkitan di kalangan kelas pekerja—khususnya Metodisme. 

Mengapa Metodisme menarik bagi pekerja? 

Pertama, mereka memberikan martabat. Di gereja Anglican, pekerja miskin diperlakukan sebagai warga kelas dua. Di kapel Metodis, mereka bisa menjadi pengkhotbah, pemimpin. Suara mereka dihargai. 

Kedua, mereka memberikan komunitas. Pertemuan mingguan, kelompok doa, saling membantu dalam kesulitan. 

Ketiga, mereka memberikan bahasa untuk mengartikulasikan penderitaan. Perjuangan melawan "dosa" bisa menjadi metafora untuk perjuangan melawan ketidakadilan. 

Tapi Juga Alat Kontrol 

Thompson sangat kritis terhadap aspek lain Metodisme: itu mengajarkan kepatuhan.

Pengkhotbah Metodis sering mengajarkan: 

  • Penderitaan di dunia ini adalah ujian dari Tuhan
  • Pemberontakan terhadap otoritas adalah dosa
  • Jika Anda miskin, itu mungkin karena kegagalan moral Anda

Dengan kata lain, Metodisme bisa menjadi opium yang membuat pekerja menerima kondisi mereka alih-alih melawan. 

Tapi—dan ini sangat penting—Thompson juga menunjukkan bahwa pekerja tidak hanya menelan ajaran ini mentah-mentah. 

Mereka mengambil elemen Metodisme yang berguna (organisasi, disiplin, literasi, retorika moral) dan menggunakannya untuk tujuan mereka sendiri: mengorganisir perlawanan. 

Banyak pemimpin gerakan buruh awal adalah pengkhotbah Metodis yang menerapkan disiplin religius mereka pada perjuangan politik.


Bagian 5: Dari Perlawanan ke Kesadaran Kelas

Peterloo Massacre—Titik Balik 

16 Agustus 1819. St. Peter's Field, Manchester. 

Sekitar 60,000-80,000 orang berkumpul untuk rapat damai menuntut reformasi Parlemen—hak pilih untuk pekerja. 

Mereka datang dengan keluarga. Dengan anak-anak. Dengan banner yang bertuliskan "Liberty" dan "Reform." 

Pemerintah lokal panik. Mereka mengirim kavaleri bersenjata untuk membubarkan kerumunan. 

Dalam kekacauan yang terjadi, 15 orang terbunuh. Ratusan terluka—banyak oleh sabetan pedang kavaleri. 

Pemerintah tidak meminta maaf. Sebaliknya, mereka mengucapkan selamat kepada tentara dan mengesahkan "Six Acts"—undang-undang yang membatasi kebebasan berkumpul dan pers. 

Tapi Peterloo—dengan ironi kelam, dinamakan mengejek kemenangan Wellington di Waterloo—mengubah segalanya. 

Rakyat biasa yang datang dengan damai diserang oleh pemerintah mereka sendiri. Garis telah dilintasi. 

Setelah Peterloo, semakin banyak pekerja melihat bahwa: 

  • Pemerintah bukan pelindung mereka
  • Hukum tidak netral—hukum melindungi yang kaya
  • Mereka harus berjuang untuk hak mereka

Kesadaran kelas sedang terbentuk. 

Serikat Buruh—Organisasi dari Bawah 

Dari 1820-an, serikat buruh mulai berkembang—meski ilegal. 

Ini bukan serikat buruh seperti yang kita kenal hari ini. Mereka bertemu di ruang belakang pub. Mereka menggunakan sandi dan ritual rahasia. Anggota mengambil sumpah kesetiaan. 

Mengapa rahasia? Karena berorganisasi sebagai pekerja adalah ilegal. 

Combination Acts (1799-1800) melarang pekerja untuk "berkombinasi" (bersatu) untuk menuntut upah lebih tinggi. Hukuman: penjara.

Tapi pekerja terus berorganisasi. Mereka menemukan celah. Mereka menyamarkan serikat sebagai "klub amal" atau "perkumpulan persaudaraan." 

Dan pelan-pelan, mereka membangun kekuatan. 

Grand National Consolidated Trades Union (1834) 

1834 menandai upaya ambisius: menyatukan semua serikat buruh di seluruh Inggris menjadi satu organisasi raksasa—Grand National Consolidated Trades Union. 

Dalam beberapa minggu, ratusan ribu pekerja bergabung. 

Visinya revolusioner: bukan hanya menuntut upah lebih tinggi, tapi mengambil alih industri dari pemilik kapitalis. 

Tapi organisasi ini terlalu besar, terlalu cepat, terlalu ambisius. Dalam beberapa bulan, ia runtuh karena tekanan pemerintah, konflik internal, dan kurangnya dana. 

Tapi percobaan itu membuktikan sesuatu: Pekerja bisa berorganisasi dalam skala massa. Mereka bisa membayangkan alternatif terhadap kapitalisme.


Bagian 6: Chartisme—Ketika Kelas Pekerja Hampir Menang 

Enam Poin yang Mengubah Dunia 

1838. Gerakan baru muncul: Chartism—dinamakan dari "People's Charter" yang mereka perjuangkan. 

Charter punya enam tuntutan: 

1. Hak pilih universal untuk semua laki-laki dewasa 

2. Pemilu rahasia (tidak ada intimidasi) 

3. Anggota Parlemen tidak perlu punya properti (jadi orang miskin bisa jadi anggota)

4. Anggota Parlemen digaji (jadi orang miskin bisa afford menjabat) 

5. Distrik pemilihan yang setara 

6. Pemilu tahunan 

Hari ini ini terdengar moderat. Tapi pada 1838, ini revolusioner

Chartists tidak hanya menuntut satu atau dua reformasi. Mereka menuntut demokrasi sejati.

Petisi Raksasa 

Chartists mengumpulkan petisi dengan jutaan tanda tangan—jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. 

1839: 1,3 juta tanda tangan 1842: 3,3 juta tanda tangan 1848: 5,7 juta tanda tangan (lebih dari seperempat populasi dewasa Inggris!) 

Petisi begitu besar sampai butuh truk untuk membawanya ke Parlemen.

Parlemen menolaknya. Tiga kali. 

Kekerasan dan Perpecahan 

Beberapa Chartists percaya pada "moral force"—protes damai, petisi, persuasi.

Yang lain percaya pada "physical force"—pemberontakan bersenjata jika perlu. 

1839, Newport Rising: Ratusan Chartists bersenjata menyerang kota Newport, Wales. Tentara menembaki mereka. 22 tewas. 

Pemimpin Chartist ditangkap. Beberapa dihukum mati (kemudian diringankan jadi deportasi).

Gerakan terpecah antara moderat dan radikal. Antara yang mau berkompromi dan yang menuntut semuanya. 

1848—Tahun yang Hampir Mengubah Segalanya 

1848 adalah tahun revolusi di seluruh Eropa. Paris, Berlin, Vienna—rezim lama jatuh satu per satu. 

Chartists Inggris melihat kesempatan mereka. 

10 April 1848: Mereka merencanakan demonstrasi massa di London. Ratusan ribu akan berbaris ke Parlemen untuk menyerahkan petisi dan menuntut jawaban. 

Pemerintah panik. Mereka memanggil 150,000 polisi khusus. Mereka menempatkan tentara. Ratu Victoria dievakuasi dari London. 

Tapi demonstrasi tidak menjadi revolusi. Chartists tetap damai. Pemerintah tidak mengizinkan pawai ke Parlemen. Petisi ditolak lagi. 

Gerakan mulai memudar. 

Tapi mereka tidak kalah sepenuhnya.


Bagian 7: Warisan—Mereka yang Kalah Tapi Menang

Chartism Gagal... Atau Bukan? 

Chartists tidak mencapai enam poin mereka pada 1840-an. 

Tapi lihat apa yang terjadi kemudian: 

  • 1858: Anggota Parlemen tidak perlu punya properti
  • 1867: Reform Act memperluas hak pilih ke pekerja kota
  • 1872: Secret Ballot Act—pemilu rahasia
  • 1884: Hak pilih diperluas lagi
  • 1911: Anggota Parlemen mulai digaji
  • 1918: Hampir semua laki-laki dewasa bisa memilih
  • 1928: Perempuan juga mendapat hak pilih penuh

Lima dari enam poin tercapai dalam 80 tahun. 

Chartists "kalah" tapi ide-ide mereka menang. 

Apa yang Thompson Ajarkan Kita 

Inilah pelajaran besar dari "The Making of the English Working Class": 

1. Sejarah dibuat oleh orang biasa, bukan hanya orang besar 

Kelas pekerja tidak "muncul" karena mesin atau pabrik. Mereka membuat diri mereka sendiri melalui perjuangan, organisasi, dan kesadaran kolektif. 

2. Agensi manusia penting 

Pekerja bukan korban pasif kapitalisme. Mereka adalah aktor yang membuat pilihan—kadang salah, kadang benar, tapi selalu berusaha membentuk dunia mereka. 

3. Budaya dan kesadaran sama pentingnya dengan ekonomi 

Bukan hanya kondisi material yang membentuk kelas pekerja. Tapi juga tradisi, nilai-nilai, cara berpikir, cara memahami dunia. 

4. Perjuangan yang "kalah" tetap penting 

Luddites dihancurkan. Chartism gagal mencapai tujuannya. Tapi perjuangan mereka meletakkan fondasi untuk kemenangan masa depan. 

5. Sejarah bukan linear

Kemajuan tidak otomatis.  Kadang ada kemunduran.  Hak-hak yang diperjuangkan bisa hilang jika tidak dijaga.


Penutup: Mengapa Buku Ini Masih Penting Hari Ini 

E. P. Thompson menulis buku ini pada tahun 1963, di tengah perdebatan tentang apa artinya menjadi kelas pekerja di era modern. 

Lebih dari 60 tahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu masih relevan: 

Siapa yang menulis sejarah? Apakah sejarah hanya tentang raja, presiden, CEO? Atau juga tentang pekerja, buruh migran, driver ojek online, pekerja pabrik? 

Bagaimana perubahan sosial terjadi? Apakah perubahan datang dari atas, dari "orang baik" yang berkuasa? Atau dari bawah, dari orang-orang biasa yang berorganisasi dan menuntut? 

Apa artinya menjadi "kelas" hari ini? Di era gig economy, pekerja lepas, dan AI, apakah kelas pekerja masih ada? Atau ada bentuk baru kesadaran kolektif yang sedang terbentuk? 

Thompson mengakhiri bukunya dengan kalimat yang indah: 

"Kelas pekerja tidak muncul seperti matahari pada waktu yang ditunjuk. Ia hadir dalam pembentukannya sendiri." 

Artinya: Kelas pekerja—atau kelompok sosial apa pun—dibentuk oleh tindakan kolektif orang-orang yang melihat diri mereka sebagai memiliki kepentingan bersama. 

Mereka tidak dibentuk oleh ekonomi saja. Tidak oleh teknologi saja. Tetapi oleh pilihan manusia untuk bersatu, berorganisasi, dan berjuang.


Pertanyaan untuk Anda 

Jadi sekarang pertanyaan untuk Anda: 

  • Siapa yang menulis sejarah Anda? Apakah Anda membiarkan orang lain mendefinisikan siapa Anda, atau Anda mengambil peran aktif?
  • Apa yang Anda perjuangkan bersama orang lain? Apakah ada ketidakadilan yang membuat Anda marah? Apakah ada perubahan yang Anda inginkan?
  • Bagaimana Anda berorganisasi? Luddites punya General Ludd. Chartists punya People's Charter. Apa yang Anda dan komunitas Anda punya?
  • Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan? Bahkan jika perjuangan Anda tidak menang dalam hidup Anda, apakah Anda meletakkan fondasi untuk kemenangan masa depan?

Thompson menunjukkan bahwa orang-orang yang namanya tidak pernah masuk buku sejarah—tukang tenun yang miskin, perajut yang terlupakan, pekerja yang anonim—mengubah dunia. 

Demokrasi yang kita nikmati hari ini—hak pilih, akhir pekan, hari kerja 8 jam, hak berorganisasi—tidak jatuh dari langit. 

Mereka diperjuangkan. Oleh orang-orang biasa. Yang sering kalah. Yang sering menderita. Tapi yang tidak pernah berhenti berjuang. 

Pertanyaannya bukan apakah Anda akan menulis sejarah Anda. Pertanyaannya adalah: Sejarah seperti apa yang akan Anda tulis?


Tentang Buku Asli 

"The Making of the English Working Class" pertama kali diterbitkan pada tahun 1963 dan segera menjadi karya klasik. 

E. P. Thompson (1924-1993) adalah sejarawan Marxis Inggris yang juga aktivis perdamaian. Dia percaya bahwa sejarah harus ditulis dari perspektif "orang biasa," bukan hanya raja dan jenderal. 

Buku ini tebalnya lebih dari 800 halaman, dipenuhi dengan detail dari surat, pamflet, puisi, lagu, dan sumber-sumber yang biasanya diabaikan sejarawan tradisional. 

Buku ini mengubah cara sejarah ditulis—memicu gelombang "sejarah dari bawah" yang mempelajari kehidupan petani, budak, perempuan, dan kelompok terpinggirkan lainnya. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana kelas pekerja dibentuk, sangat disarankan membaca buku aslinya. Thompson menulis dengan passion, kemarahan terhadap ketidakadilan, dan empati mendalam terhadap subjeknya. 

Ringkasan ini menangkap argumen utama—tapi buku lengkap memberikan kekayaan detail, kutipan langsung dari pekerja abad ke-19, dan analisis mendalam yang membuat Anda merasakan periode itu. 

Bacaan pelengkap yang direkomendasikan: 

  • "The Condition of the Working Class in England" oleh Friedrich Engels (1845)
  • "Customs in Common" oleh E. P. Thompson (kelanjutan tema)
  • "Labor's Untold Story" untuk konteks Amerika

Sekarang pergilah dan ingatlah: Anda bukan penonton sejarah. Anda adalah pembuatnya. 

Dan seperti yang ditunjukkan Thompson: Bahkan orang-orang yang paling tidak berkuasa sekalipun, ketika mereka bersatu, bisa mengubah dunia.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: Hegemony or Survival
Kembali ke atas

Buku serupa