Domestic Manners of the Americans
oleh Frances Trollope · Maret 2026 · 14 menit baca
Perjalanan yang Mengubah Segalanya
Daftar isi
Perjalanan yang Mengubah Segalanya
Tahun 1827. Seorang wanita Inggris berusia 47 tahun naik ke kapal yang akan membawanya melintasi Atlantik. Namanya Frances Trollope. Dia bukan aristokrat. Bukan petualang. Bukan penulis terkenal.
Dia adalah ibu dari lima anak yang keluarganya hampir bangkrut.
Amerika adalah harapan terakhirnya. Tanah peluang. Tanah kebebasan. Tanah di mana siapa pun—bahkan wanita Inggris setengah baya tanpa uang—bisa sukses.
Atau begitulah katanya.
Empat tahun kemudian, dia kembali ke Inggris—lebih miskin dari sebelumnya, bisnisnya hancur, impiannya remuk. Tapi dia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengamatan tajam tentang masyarakat Amerika yang akan mengejutkan dua benua.
Pada tahun 1832, dia menerbitkan "Domestic Manners of the Americans"—bukan buku perjalanan biasa yang memuji keajaiban negeri baru. Ini adalah kritik telak terhadap kebiasaan, perilaku, dan budaya Amerika.
Buku ini menjadi skandal instan. Orang Amerika marah. Kritikus Inggris terpesona. Dan Frances Trollope—yang datang ke Amerika untuk mencari kekayaan—akhirnya menemukannya dengan menulis tentang kegagalannya di sana.
Tapi yang membuat buku ini bertahan lebih dari 190 tahun bukan kontroversinya. Melainkan kejujuran brutalmente tentang apa yang terjadi ketika dua budaya sangat berbeda bertabrakan.
Mari kita lihat Amerika melalui mata seorang wanita Inggris yang menolak untuk berpura-pura terkesan.
Bagian 1: Tiba di Negeri "Kebebasan"—Shock Pertama
Pelayaran yang Melelahkan
Trollope dan keluarganya (tiga anak dan seorang teman perempuan) berlayar dari Inggris menuju New Orleans pada November 1827. Perjalanan memakan waktu enam minggu—enam minggu mual laut, makanan buruk, dan akomodasi sempit.
Tapi yang mengejutkannya bukan pelayaran. Itu dia harapkan. Yang mengejutkannya adalah momen pertama kakinya menyentuh tanah Amerika.
Di New Orleans, dia disambut oleh pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan: jalan berlumpur yang kotor, bangunan yang tampak setengah jadi, dan—yang paling mengganggunya—orang-orang meludah ke mana-mana.
Pria meludah di jalan. Meludah di lantai. Meludah saat berbicara dengan Anda. Bahkan meludah di dalam ruangan yang bagus. Mereka mengunyah tembakau dan meludahkan cairan coklat dengan sangat kasual.
Bagi Trollope yang terbiasa dengan etiket ketat masyarakat Inggris Victorian, ini adalah shock budaya tingkat pertama.
Tapi ini baru permulaan.
Cincinnati—Kota Babi
Keluarga Trollope melanjutkan perjalanan ke Cincinnati, Ohio—kota yang mereka pilih untuk memulai usaha baru. Seorang teman telah meyakinkan Frances bahwa Cincinnati adalah "Paris of the West"—kota yang berkembang pesat dengan peluang tak terbatas.
Kenyataannya?
Cincinnati adalah kota yang dipenuhi babi.
Bukan metafora. Benar-benar babi. Ribuan babi berkeliaran di jalan-jalan, memakan sampah, membuat kota berbau seperti kandang raksasa.
Trollope menulis dengan ngeri: "Saya yakin tidak ada kota di Dunia Lama yang begitu dekaden sehingga membiarkan kawanan babi berkeliaran di jalan utamanya."
Tapi babi adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar: Cincinnati, seperti banyak kota Amerika, lebih peduli pada pertumbuhan ekonomi daripada keindahan atau kenyamanan.
Ini adalah pola yang akan Trollope amati berulang kali: Amerika adalah negara yang didorong oleh uang, bukan oleh budaya.
Bagian 2: Kebiasaan Sehari-hari yang "Barbar"
Makan Malam adalah Perlombaan
Salah satu pengamatan paling terkenal Trollope adalah tentang cara orang Amerika makan.
Di Inggris, makan adalah acara sosial. Orang berbicara, tertawa, menikmati makanan dan percakapan. Waktu makan bisa berlangsung berjam-jam.
Di Amerika? Makan adalah perlombaan.
Trollope menggambarkan makan malam di boarding house dengan ngeri:
- Orang datang tepat waktu (ini hal baik)
- Lalu mereka langsung menyerbu makanan seperti kelaparan
- Tidak ada percakapan. Hanya suara mengunyah.
- Selesai dalam 10-15 menit
- Lalu semua orang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun
"Mereka makan dengan kecepatan yang menakjubkan dan dalam diam yang hampir total," tulis Trollope. "Saya tidak pernah melihat orang-orang di negara mana pun yang tampaknya menganggap makan sebagai tugas yang harus diselesaikan secepat mungkin."
Dan detail yang paling mengganggunya: tidak ada wanita yang hadir.
Di sebagian besar tempat, pria makan duluan. Wanita menunggu sampai pria selesai, lalu makan sisa-sisanya—sendiri, di dapur atau ruang terpisah.
Bagi Trollope, ini bukan hanya soal etiket buruk. Ini adalah cerminan dari bagaimana masyarakat Amerika memperlakukan wanita.
Wanita Amerika—Dihormati dalam Kata, Diabaikan dalam Tindakan
Trollope mengamati kontradiksi yang aneh dalam cara Amerika memperlakukan wanita.
Di satu sisi, pria Amerika terus-menerus berbicara tentang "menghormati wanita." Mereka memberikan kursi kepada wanita. Mereka membukakan pintu. Mereka menggunakan bahasa yang sangat sopan.
Tapi di sisi lain:
- Wanita dikecualikan dari percakapan intelektual
- Wanita tidak diajak makan bersama
- Wanita diharapkan hanya fokus pada pekerjaan rumah tangga
- Wanita tidak punya kehidupan sosial atau intelektual yang berarti
Trollope menulis: "Saya tidak pernah melihat negara di mana wanita begitu sedikit terlibat dalam kesenangan dunia. Mereka ada untuk bekerja—dan tidak lebih."
Yang membuatnya lebih frustasi: wanita Amerika tampaknya menerima ini tanpa protes.
Mereka tidak seperti wanita Inggris kelas menengah yang setidaknya punya kehidupan sosial—pesta teh, kunjungan, klub membaca. Wanita Amerika terisolasi di rumah mereka, bekerja dari pagi hingga malam tanpa bantuan pembantu (karena "demokrasi" membuat sulit mendapat pelayan).
Bagian 3: Demokrasi yang "Berlebihan"
Semua Orang adalah "Sama"—Tapi...
Salah satu hal yang paling membingungkan Trollope tentang Amerika adalah obsesi dengan kesetaraan.
Di Inggris, ada hierarki sosial yang jelas. Aristokrat di atas, kelas menengah di tengah, pekerja di bawah. Semua orang tahu tempatnya. Dan—menurut Trollope—ini menciptakan ketertiban dan kesopanan.
Di Amerika, semua orang bersikeras mereka "sama dengan orang lain."
Pelayan menolak disebut "servant"—mereka adalah "help" (pembantu). Dan mereka tidak mau diperintah. Mereka mau dihormati seperti majikan mereka.
Tukang kayu yang datang memperbaiki rumah Anda akan duduk di meja makan Anda dan mengharapkan diperlakukan seperti tamu.
Pekerja di toko akan berbicara dengan Anda dengan akrab, seolah-olah Anda teman lama.
Bagi Trollope, ini bukan kemajuan. Ini adalah anarki sosial.
Dia menulis: "Sama sekali tidak ada perbedaan perilaku. Pelayan berperilaku seperti majikan, dan majikan berperilaku seperti pelayan. Hasilnya adalah tidak ada yang berperilaku dengan baik."
Kebebasan Berbicara yang Kasar
Yang lebih mengganggu Trollope adalah bagaimana "kebebasan" diterjemahkan sebagai "kebebasan untuk kasar."
Orang Amerika berbicara dengan sangat blak-blakan—bahkan tentang topik yang di Inggris dianggap tidak sopan. Politik. Uang. Agama. Semua dibahas dengan keras dan tanpa filter.
Dan yang paling menyebalkan: tidak ada rasa hormat terhadap pendapat berbeda.
Jika Anda tidak setuju dengan mayoritas—terutama tentang "keunggulan Amerika"—Anda akan diserang secara verbal. Tidak dengan argumen sopan, tetapi dengan hinaan.
Trollope mengalami ini berkali-kali. Ketika dia berkomentar bahwa sesuatu di Inggris mungkin lebih baik, orang akan marah: "Kalau Inggris begitu hebat, kenapa Anda datang ke sini?!"
Dia menyimpulkan: Demokrasi Amerika menciptakan kesetaraan dalam kekasaran, bukan kesetaraan dalam martabat.
Bagian 4: Obsesi dengan Uang
"Almighty Dollar"
Jika ada satu pengamatan yang Trollope tekankan berulang kali, itu adalah: Orang Amerika terobsesi dengan uang.
Di Inggris, berbicara tentang uang secara terbuka dianggap vulgar. Anda tidak bertanya berapa penghasilan seseorang. Anda tidak memamerkan kekayaan Anda.
Di Amerika, uang adalah topik percakapan nomor satu.
"Berapa harganya?" "Berapa penghasilanmu?" "Berapa untungnya?"
Bahkan dalam konteks yang tidak ada hubungannya dengan bisnis, percakapan selalu kembali ke uang.
Trollope menulis: "Saya tidak pernah mendengar orang Amerika berbicara tentang apa pun kecuali uang. Mereka tidak berbicara tentang seni, tidak tentang literatur, tidak tentang keindahan. Hanya tentang dolar."
Tidak Ada Waktu untuk Budaya
Konsekuensinya: Amerika adalah gurun budaya.
Tidak ada teater yang layak. Tidak ada musik klasik. Tidak ada galeri seni. Tidak ada perpustakaan yang baik.
Mengapa? Karena semua orang terlalu sibuk menghasilkan uang.
Trollope mencoba mengorganisir acara budaya di Cincinnati—pameran seni, konser musik. Hampir tidak ada yang datang. Orang bilang, "Tidak ada waktu untuk itu. Saya harus bekerja."
Bahkan orang kaya—yang punya waktu luang—tidak tertarik pada budaya. Mereka lebih suka duduk di teras, meludah tembakau, dan berbicara tentang bisnis.
Ini membuat Trollope sedih dan frustrasi. Dia melihat potensi luar biasa di Amerika—kekayaan alam, energi orang, peluang tanpa batas. Tapi semua itu dibuang untuk mengejar uang tanpa henti.
Bagian 5: Perbudakan—Kontradiksi Terbesar
"Negara Bebas" dengan Budak
Tidak ada yang membuat Trollope lebih marah—dan lebih bingung—daripada perbudakan.
Ini adalah negara yang terus berbicara tentang "kebebasan" dan "kesetaraan." Konstitusi mereka mengatakan "semua orang diciptakan setara."
Namun di Selatan, jutaan orang Afrika hidup dalam perbudakan brutal.
Trollope mengunjungi perkebunan di Louisiana dan Mississippi. Apa yang dia lihat menghancurkan hatinya:
- Keluarga dipisahkan dan dijual
- Orang disiksa untuk pelanggaran kecil
- Anak-anak dilahirkan ke dalam perbudakan tanpa harapan kebebasan
- Pemilik budak memperlakukan manusia seperti ternak
Dan yang paling mengejutkannya: orang Amerika Utara yang "anti-perbudakan" tidak mau melakukan apa pun.
Mereka akan mengatakan perbudakan itu buruk. Tapi kemudian menambahkan, "Tapi bukan urusan kita. Itu masalah Selatan."
Trollope tidak bisa menerima kemunafikan ini. Dia menulis dengan amarah: "Bagaimana sebuah bangsa bisa berbicara tentang kebebasan sambil menyimpan jutaan orang dalam belenggu? Ini adalah kontradiksi paling menyakitkan yang pernah saya lihat."
Rasisme di Utara
Dan bahkan di Utara yang "bebas," rasisme ada di mana-mana.
Orang kulit hitam bebas tidak bisa:
- Makan di restoran yang sama dengan orang kulit putih
- Duduk di gereja yang sama
- Menggunakan transportasi yang sama
- Tinggal di lingkungan yang sama
Trollope berteman dengan beberapa keluarga kulit hitam bebas yang berpendidikan dan berbudaya. Dia mengundang mereka ke acara sosialnya—dan warga kulit putih Cincinnati marah besar.
Mereka mengatakan dia "melanggar garis warna" dan membahayakan tatanan sosial.
Ini mengajarkanTrollopepelajaranpahit: "Kebebasan"Amerikahanyaberlakuuntukorang kulitputih.
Bagian 6: Politik dan Patriotisme Buta
Demokrasi dalam Praktik
Trollope mengunjungi Washington D.C. dan mengamati Kongres dalam sesi. Dia ingin melihat demokrasi yang terkenal itu beraksi.
Apa yang dia saksikan? Kekacauan.
Anggota Kongres berteriak satu sama lain. Mereka menghina. Mereka meludah (tentu saja). Mereka bahkan berkelahi secara fisik di lantai Kongres.
Tidak ada ketertiban. Tidak ada martabat. Tidak ada debat intelektual yang sopan.
Trollope membandingkan dengan Parlemen Inggris, di mana—meskipun ada ketidaksepakatan—ada aturan ketertiban, rasa hormat, dan tradisi debat yang beradab.
Di Amerika, "kebebasan berbicara" berarti kebebasan untuk berteriak paling keras.
"Amerika Terbaik di Dunia"
Yang paling mengejutkan Trollope adalah ketidakmampuan orang Amerika untuk menerima kritik.
Setiap kali dia berkomentar bahwa sesuatu bisa diperbaiki, respons standarnya adalah: "Amerika adalah negara terbaik di dunia! Jika Anda tidak suka, kembalilah ke Inggris!"
Tidak ada refleksi diri. Tidak ada keinginan untuk belajar dari negara lain. Hanya patriotisme buta yang menolak kemungkinan bahwa ada hal yang bisa diperbaiki.
Trollope menulis: "Saya tidak pernah bertemu orang-orang yang begitu yakin akan keunggulan mereka dan begitu resisten terhadap perbaikan."
Bagian 7: Keajaiban yang Tetap Membuat Kagum
Niagara Falls—Satu-satunya yang Sempurna
Meskipun semua kritiknya, ada satu hal yang membuat Trollope benar-benar kagum: keindahan alam Amerika.
Ketika dia berdiri di depan Niagara Falls, untuk pertama kalinya dalam perjalanannya, dia kehilangan kata-kata.
"Saya tidak bisa menggambarkannya," tulis dia. "Semua yang pernah saya baca tentangnya tidak mempersiapkan saya untuk keagungan yang sebenarnya. Ini adalah satu-satunya hal di Amerika yang melebihi ekspektasi saya."
Mississippi River, hutan luas, pegunungan Appalachian—semua ini membuat Trollope takjub.
Dia menyadari: Amerika adalah tanah dengan potensi luar biasa. Kekayaan alam yang tak terbatas. Ruang untuk tumbuh. Energi yang belum dimanfaatkan.
Tapi potensi itu dibuang untuk mengejar uang dan menolak budaya.
Harapan untuk Masa Depan
Di akhir bukunya, meskipun semua kritik tajamnya, Trollope menulis dengan harapan:
"Saya percaya bahwa dalam satu atau dua generasi, Amerika akan menjadi negara besar. Ketika mereka melampaui obsesi dengan uang dan mulai menghargai hal-hal yang membuat hidup layak dijalani—seni, literatur, kebaikan, keanggunan—mereka akan menjadi kekuatan yang luar biasa."
Tapi dia menambahkan peringatan: "Sampai saat itu, mereka akan tetap menjadi bangsa yang kaya tapi kasar."
Bagian 8: Kembali ke Inggris—Dan Kesuksesan yang Tidak Terduga
Kegagalan Bisnis, Kesuksesan Literatur
Frances Trollope kembali ke Inggris pada tahun 1831—lebih miskin dari sebelumnya. Tokonya di Cincinnati bangkrut. Investasinya hilang. Empat tahun terbuang.
Atau begitulah yang dia pikir.
Tapi dia punya sesuatu yang lebih berharga dari uang: cerita.
Dia menghabiskan enam bulan menulis "Domestic Manners of the Americans"—menuangkan semua pengamatan, frustrasi, dan kejujurannya ke dalam halaman-halaman buku.
Penerbit Inggris skeptis. "Ini terlalu kritis," kata mereka. "Orang Amerika akan marah. Ini akan menyebabkan insiden diplomatik."
Tapi mereka menerbitkannya—dan buku itu menjadi sensasi instan.
Dalam beberapa bulan, buku ini menjadi bestseller. Edisi kedua, ketiga, keempat dicetak. Diterjemahkan ke berbagai bahasa. Dibahas di setiap salon dan ruang makan di Eropa.
Orang Amerika memang marah—sangat marah. Koran Amerika menyebutnya "wanita licik" dan "pengkhianat terhadap keramahan Amerika."
Tapi Trollope tidak peduli. Bukunya menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Dan lebih dari itu, bukunya memulai karirnya sebagai penulis.
Dia melanjutkan menulis puluhan buku—novel, buku perjalanan, memoar—dan menjadi salah satu penulis wanita paling produktif di era Victorian.
Dampak Jangka Panjang
"Domestic Manners of the Americans" bukan hanya bestseller. Ia mengubah cara Eropa melihat Amerika—dan cara Amerika melihat diri mereka sendiri.
Buku ini memaksa Amerika untuk bertanya: "Apakah kita benar-benar seperti yang dia gambarkan?"
Dan secara bertahap, beberapa hal mulai berubah. Meludah tembakau menjadi kurang diterima di ruang publik. Etiket meja mulai membaik. Wanita mulai lebih terlibat dalam kehidupan sosial.
Tentu saja, Trollope tidak bisa mengklaim semua kredit. Tapi bukunya adalah cermin yang jujur—dan kadang-kadang, itu yang kita butuhkan untuk melihat kekurangan kita sendiri.
Penutup: Pelajaran dari Cermin Kejam
1. Kejujutan Budaya adalah Guru Terbaik
Trollope datang ke Amerika dengan ekspektasi. Kenyataan yang dia temukan sangat berbeda—dan perbedaan itu mengajarkannya lebih banyak tentang kedua budaya daripada puluhan tahun tinggal di satu tempat.
Pelajaran: Keluar dari zona nyaman Anda. Alami budaya yang berbeda. Biarkan asumsi Anda ditantang.
Pertanyaan untuk Anda: Kapan terakhir kali Anda benar-benar terpapar dengan cara hidup yang sangat berbeda dari Anda? Apa yang Anda pelajari?
2. Kritik Bisa Menjadi Hadiah
Amerika marah dengan buku Trollope. Tapi beberapa orang Amerika yang bijaksana menyadari: dia tidak sepenuhnya salah.
Kritik yang jujur—bahkan yang menyakitkan—bisa menjadi katalis untuk perbaikan.
Pelajaran: Jangan menutup telinga terhadap kritik hanya karena tidak nyaman mendengarnya. Tanyakan: "Apakah ada kebenaran di dalamnya?"
Pertanyaan untuk Anda: Kapan terakhir kali Anda menerima kritik yang menyakitkan—dan menggunakannya untuk tumbuh?
3. Kebiasaan Kecil Mencerminkan Nilai Besar
Trollope terobsesi dengan hal-hal kecil—meludah, etiket makan, cara orang berbicara. Tapi dia melihat bahwa kebiasaan kecil ini mencerminkan nilai-nilai fundamental masyarakat.
Cara Amerika memprioritaskan kecepatan di atas keanggunan mencerminkan obsesi mereka dengan efisiensi dan produktivitas.
Pelajaran: Perhatikan kebiasaan sehari-hari Anda. Apa yang mereka katakan tentang nilai-nilai Anda?
Pertanyaan untuk Anda: Jika orang asing mengamati kehidupan sehari-hari Anda, apa yang mereka simpulkan tentang prioritas Anda?
4. Kemajuan Materi Tanpa Budaya adalah Kosong
Amerika kaya. Tapi menurut Trollope, miskin dalam hal-hal yang membuat hidup bermakna—seni, literatur, percakapan yang baik, keindahan.
Pelajaran: Jangan mengejar kesuksesan finansial dengan mengorbankan jiwa Anda.
Pertanyaan untuk Anda: Dalam hidup Anda, di mana Anda terlalu fokus pada "menghasilkan" dan tidak cukup pada "hidup"?
5. Kontradiksi Mengungkap Karakter Sejati
Trollope melihat kontradiksi terbesar Amerika: berbicara tentang kebebasan sambil memperbudak jutaan orang.
Kontradiksi mengungkapkan di mana nilai-nilai kita bertabrakan dengan tindakan kita.
Pelajaran: Identifikasi kontradiksi dalam hidup Anda sendiri. Di mana kata-kata Anda tidak sesuai dengan tindakan Anda?
Pertanyaan untuk Anda: Nilai apa yang Anda klaim penting—tetapi tidak benar-benar Anda praktikkan?
Refleksi Akhir: Siapa yang Benar?
Pertanyaan yang menarik tentang buku Trollope adalah: Apakah dia benar?
Apakah orang Amerika benar-benar kasar, terobsesi dengan uang, dan tanpa budaya seperti yang dia gambarkan?
Atau apakah dia hanya turis Inggris yang sombong dan tidak mampu menghargai budaya yang berbeda dari miliknya?
Jawabannya: Keduanya.
Trollope jelas bias. Dia datang dengan ekspektasi standar Inggris dan kecewa ketika Amerika tidak memenuhinya. Dia tidak mencoba memahami mengapa orang Amerika berperilaku seperti yang mereka lakukan—dia hanya menghakimi.
Tapi di saat yang sama, banyak pengamatannya akurat. Amerika memang lebih materialistis, lebih egaliter (dalam beberapa hal), dan kurang tertarik pada budaya tinggi daripada Eropa.
Yang membuat bukunya berharga bukan bahwa dia "benar" atau "salah"—tetapi bahwa dia jujur tentang pengalamannya.
Dan kejujuran itu—bahkan ketika kasar, bahkan ketika tidak adil—memberi kita cermin untuk melihat diri kita sendiri.
Tentang Buku Asli
"Domestic Manners of the Americans" diterbitkan pertama kali pada tahun 1832 dan langsung menjadi bestseller internasional.
Frances Trollope (1779-1863) adalah ibu dari novelis terkenal Anthony Trollope. Dia menulis buku ini pada usia 52 tahun—usia di mana kebanyakan wanita era Victorian sudah pensiun dari kehidupan publik.
Kesuksesan buku ini meluncurkan karir keduanya sebagai penulis. Dia melanjutkan menulis 40+ buku—novel, buku perjalanan, dan karya sosial—dan menjadi salah satu penulis wanita paling produktif dan sukses secara komersial di zamannya.
Buku ini tetap menjadi salah satu account paling jujur dan kontroversial tentang Amerika abad ke-19. Banyak kritikus modern berpendapat bahwa meskipun bias, pengamatannya tentang materialisme Amerika, ketidaksetaraan rasial, dan perlakuan terhadap wanita sangat tajam dan masih relevan.
Untuk pemahaman lengkap tentang perjalanan dan pengamatannya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Trollope menulis dengan gaya yang vivid, lucu, dan sangat detail—membawa Anda langsung ke Cincinnati tahun 1820-an.
Ringkasan ini menangkap tema utama, tetapi buku lengkapnya penuh dengan anekdot menarik, deskripsi mendetail, dan observasi tajam yang membuat Anda tertawa dan berpikir.
Sekarang pergilah dan lihatlah budaya Anda sendiri dengan mata orang luar.
Kadang-kadang, cermin paling berguna adalah yang paling kejam.
Seperti Trollope tunjukkan: Kebenaran yang tidak nyaman lebih berharga daripada pujian yang kosong.