The Happiness Trap
oleh Russ Harris · Desember 2025 · 16 menit baca
Pertanyaan yang Mengejutkan
Daftar isi
Pertanyaan yang Mengejutkan
Coba jawab dengan jujur:
Berapa banyak waktu yang Anda habiskan dalam seminggu untuk merasa khawatir, stres, atau tidak puas dengan hidup Anda?
Sekarang pertanyaan kedua: Berapa banyak usaha yang Anda lakukan untuk mencoba merasa lebih bahagia—membaca buku motivasi, scroll Instagram untuk inspirasi, membeli barang baru, merencanakan liburan berikutnya?
Dan pertanyaan ketiga, yang paling penting: Apakah semua usaha itu benar-benar membuat Anda lebih bahagia?
Jika jawaban Anda "tidak"—atau paling tidak "tidak untuk waktu lama"—Anda tidak sendirian.
Dr. Russ Harris, dokter dan psikoterapis asal Australia, menemukan sesuatu yang mengejutkan setelah bertahun-tahun mengamati pasien dan meneliti psikologi manusia:
Cara kita mencoba mencari kebahagiaan justru yang membuat kita sengsara.
Kita hidup di era dengan standar hidup tertinggi dalam sejarah manusia. Lebih banyak uang. Lebih banyak makanan. Lebih baik kesehatan. Lebih banyak hiburan. Lebih banyak kebebasan.
Tapi tingkat depresi, kecemasan, dan stres juga meningkat drastis. Hampir satu dari dua orang akan mengalami periode dalam hidup di mana mereka mempertimbangkan bunuh diri selama dua minggu atau lebih.
Ada yang salah dengan perhitungan kita.
Dan yang salah adalah ini: Kita telah terjebak dalam perangkap kebahagiaan.
Buku "The Happiness Trap" berbasis pada Acceptance and Commitment Therapy (ACT)—pendekatan revolusioner yang didukung penelitian ilmiah selama puluhan tahun. ACT tidak mengajarkan cara baru untuk mengejar kebahagiaan. Sebaliknya, ACT mengajarkan cara untuk berhenti berjuang melawan kenyataan dan mulai hidup dengan bermakna.
Ini bukan buku self-help biasa yang menjanjikan kebahagiaan instan. Ini buku yang akan mengubah cara Anda memahami apa itu hidup yang baik—dan mengapa rasa sakit adalah bagian tak terpisahkan darinya.
Mari kita mulai dengan mengenali jebakan itu.
Bagian 1: Empat Mitos yang Menjebak Kita
Mitos 1: Kebahagiaan Adalah Kondisi Normal Manusia
Kita dibesarkan dengan kepercayaan ini: manusia seharusnya bahagia. Jika Anda tidak bahagia, ada yang salah dengan Anda.
Film, iklan, media sosial—semuanya menunjukkan orang yang tersenyum, tertawa, menikmati hidup. Kita melihat teman-teman posting liburan mereka, pencapaian mereka, momen bahagia mereka. Dan kita berpikir: "Mengapa hidup saya tidak seperti itu?"
Tapi inilah kenyataannya: Penderitaan adalah bagian normal dari kehidupan manusia.
Pikiran manusia yang kompleks—hal yang sama yang membuat kita bisa merencanakan masa depan, belajar dari pengalaman, dan menciptakan teknologi—juga membuat kita bisa merasa cemas, menyesali masa lalu, dan takut akan masa depan.
Seekor zebra di alam liar hanya merasa takut ketika singa mengejarnya. Begitu lolos, ia kembali tenang dan melanjutkan hidupnya.
Manusia? Kita bisa merasa takut tentang presentasi minggu depan, menyesali percakapan yang terjadi tiga tahun lalu, dan khawatir tentang apakah kita cukup baik—semuanya dalam lima menit.
Ini bukan karena Anda rusak. Ini karena Anda manusia.
Mitos 2: Jika Anda Tidak Bahagia, Anda Cacat
Logika dari Mitos 1: Jika kebahagiaan adalah normal dan Anda tidak bahagia, berarti ada yang salah dengan Anda.
Masyarakat modern sangat cepat melabeli penderitaan mental sebagai "gangguan." Anda cemas? "Anda punya anxiety disorder." Anda sedih? "Anda depresi."
Label-label ini membuat kita merasa lebih rusak lagi. Dan ketika merasa rusak, kita mencoba "memperbaiki" diri—yang justru membuat penderitaan bertambah.
Russ Harris berargumen bahwa pikiran yang menderita bukanlah pikiran yang rusak—itu hanya pikiran yang melakukan tugasnya. Pikiran manusia berevolusi untuk:
- Mengantisipasi masalah (sehingga kita khawatir)
- Membandingkan diri dengan orang lain (sehingga kita merasa kurang)
- Mengingat pengalaman buruk (sehingga kita menyesali masa lalu)
Semua ini adalah fungsi survival yang membantu nenek moyang kita bertahan hidup. Tapi di dunia modern, fungsi-fungsi ini sering kali menciptakan penderitaan yang tidak perlu.
Mitos 3: Untuk Hidup Lebih Baik, Kita Harus Menyingkirkan Perasaan Negatif
Ini adalah mitos paling berbahaya.
Kita percaya bahwa untuk bahagia, kita harus menyingkirkan semua perasaan buruk—kecemasan, kesedihan, marah, frustrasi. Jadi kita menghabiskan energi luar biasa untuk menghindari atau menekan emosi ini.
Bagaimana kita melakukannya?
- Distraksi (TV, media sosial, Netflix binge)
- Mati rasa (alkohol, narkoba, makanan berlebihan)
- Menghindar (menghindari situasi yang membuat cemas)
- Positive thinking paksa ("Aku harus berpikir positif!")
Masalahnya? Semakin kita berusaha menyingkirkan emosi negatif, semakin kuat emosi itu.
Ini seperti quicksand. Semakin Anda berjuang, semakin cepat Anda tenggelam.
Mitos 4: Anda Harus Bisa Mengontrol Pikiran dan Perasaan Anda
"Berhenti berpikir negatif!" "Tenangkan dirimu!" "Jangan terlalu sensitif!" Nasihat yang kerap kita dengar. Dan nasihat yang sama sekali tidak membantu.
Mengapa? Karena kita tidak bisa mengontrol pikiran dan perasaan kita dengan cara yang kita kira bisa.
Coba eksperimen sederhana: Selama 30 detik ke depan, jangan berpikir tentang gajah pink. Apapun yang Anda lakukan, jangan bayangkan gajah pink besar dengan telinga lebar.
Apa yang terjadi? Anda langsung membayangkannya, bukan?
Pikiran tidak bekerja dengan perintah "jangan." Semakin Anda berusaha mengontrol atau menekan pikiran, semakin pikiran itu muncul.
Jebakan Lengkap
Keempat mitos ini menciptakan siklus setan:
1. Anda percaya Anda seharusnya bahagia sepanjang waktu
2. Ketika merasa tidak bahagia, Anda pikir ada yang salah
3. Anda mencoba menyingkirkan perasaan negatif
4. Anda berusaha mengontrol pikiran dan emosi
5. Semua usaha ini gagal
6. Anda merasa lebih buruk—dan lebih cacat
7. Anda mencoba lebih keras lagi
8. Siklus berulang
Inilah jebakan kebahagiaan. Dan satu-satunya cara keluar adalah berhenti berjuang.
Bagian 2: Defusion—Memisahkan Diri dari Pikiran
Pikiran Bukanlah Kenyataan
Inilah insight pertama dan paling powerful dari ACT:
Pikiran hanyalah pikiran. Mereka bukan fakta. Mereka bukan kebenaran. Mereka hanya kata-kata dan gambar dalam kepala Anda.
Masalahnya adalah kita sangat ter-fusi dengan pikiran kita. Kita percaya setiap pikiran yang muncul. Kita anggap pikiran sebagai kenyataan.
Contoh:
- Pikiran: "Saya tidak cukup baik"
- Fusion: Mempercayai pikiran ini sebagai fakta dan merasa tidak berharga
- Defusion: Menyadari "Saya sedang punya pikiran bahwa saya tidak cukup baik"
Perbedaan tipis dalam bahasa, tapi dampaknya luar biasa.
Teknik Defusion Sederhana
1. Labeling Pikiran
Alih-alih: "Saya gagal" Katakan: "Saya sedang punya pikiran bahwa saya gagal"
Alih-alih: "Tidak ada yang suka saya" Katakan: "Pikiran saya memberitahu saya bahwa tidak ada yang suka saya"
Ini menciptakan jarak antara Anda dan pikiran. Anda bukan pikiran Anda. Anda adalah orang yang mengamati pikiran itu.
2. Terima Kasih, Pikiran
Ketika pikiran negatif muncul, alih-alih melawannya, katakan (dalam hati atau keras): "Terima kasih, pikiran, untuk sharing itu."
Kedengarannya aneh? Tapi ini powerful. Anda mengakui pikiran tanpa terlibat dengannya.
3. Menyanyi Pikiran
Ambil pikiran negatif yang sering muncul. Sekarang nyanyikan dengan nada "Happy Birthday." Contoh: "Saya-tidak-cukup-baik, saya-tidak-cukup-baik..."
Ketika Anda menyanyikannya, pikiran kehilangan kekuatan emosionalnya. Ia menjadi hanya suara konyol.
4. Membayangkan Pikiran sebagai Daun di Sungai
Tutup mata. Bayangkan pikiran Anda sebagai daun yang mengapung di sungai. Lihat mereka datang dan pergi. Anda tidak perlu menghentikannya, mengubahnya, atau melawannya. Biarkan mereka mengalir.
Kebebasan dalam Defusion
Defusion tidak menghilangkan pikiran negatif. Anda masih akan punya pikiran "Saya tidak cukup baik" atau "Saya akan gagal."
Tapi dengan defusion, pikiran itu kehilangan kekuatan untuk mengontrol Anda.
Anda tidak perlu menunggu pikiran negatif hilang sebelum bertindak. Anda bisa punya pikiran "Saya akan gagal" dan tetap maju. Anda bisa punya pikiran "Saya tidak cukup baik" dan tetap mencoba.
Pikiran hanyalah suara di kepala. Mereka tidak bisa memaksa Anda melakukan atau tidak melakukan apa pun.
Bagian 3: Expansion—Membuat Ruang untuk Perasaan
Paradoks Kontrol
Inilah paradoks aneh tentang emosi:
Semakin Anda mencoba menyingkirkan perasaan tidak nyaman, semakin kuat perasaan itu.
Mengapa? Karena berusaha menyingkirkan emosi membutuhkan energi dan perhatian—yang justru memberi lebih banyak kekuatan pada emosi itu.
Ini seperti memegang bola pantai di bawah air. Semakin keras Anda menekannya, semakin kuat dorongan untuk naik. Dan begitu Anda lelah dan melepaskannya, bola itu melompat dengan lebih kuat.
Clean Pain vs Dirty Pain
Russ Harris membedakan dua jenis penderitaan:
Clean Pain: Rasa sakit yang alami dan tak terhindarkan dari kehidupan. Kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai. Kecemasan sebelum presentasi penting. Kekecewaan ketika gagal.
Dirty Pain: Penderitaan yang kita tambahkan sendiri dengan melawan clean pain. Kecemasan tentang kecemasan. Marah karena sedih. Malu karena takut.
Contoh:
- Clean pain: Merasa sedih setelah putus
- Dirty pain: "Saya tidak seharusnya merasa sedih. Ada yang salah dengan saya. Saya lemah."
Dirty pain adalah hasil dari berjuang melawan clean pain.
Expansion: Membuat Ruang
Alih-alih melawan emosi, ACT mengajarkan expansion—membuat ruang untuk emosi, membiarkannya ada tanpa berjuang melawannya.
Teknik Expansion Sederhana:
1. Observasi - Di mana dalam tubuh Anda merasakan emosi ini? Dada? Perut? Tenggorokan?
2. Breathe - Tarik napas panjang dan bayangkan napas Anda mengalir ke area di mana Anda merasakan emosi itu.
3. Buat Ruang - Bayangkan area di sekitar sensasi itu mengembang, membuat ruang. Anda tidak mencoba menyingkirkannya, hanya memberi ruang untuk ada.
4. Izinkan - Izinkan sensasi itu untuk ada di sana. Anda tidak suka. Anda tidak menyambutnya. Tapi Anda mengizinkannya.
Surfing the Urge (Menunggangi Dorongan)
Ketika dorongan kuat muncul—makan berlebihan, merokok, mengecek ponsel kompulsif—alih-alih melawan atau menyerah, Anda bisa "menungganginya" seperti ombak.
Dorongan seperti ombak. Mereka naik, mencapai puncak, lalu turun. Jika Anda bisa menunggangnya tanpa bertindak, dorongan akan berlalu dengan sendirinya.
Observasi dorongan. Rasakan di tubuh Anda. Beri nama. Buat ruang. Dan tunggu sampai ombak turun.
Bagian 4: Connection—Hadir di Momen Ini
Pikiran Kita Jarang Hadir
Coba ingat: Kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir 100% dalam momen? Tidak sambil mikirin to-do list. Tidak sambil khawatir tentang besok. Tidak sambil scroll ponsel. Kebanyakan waktu, pikiran kita ada di tempat lain:
- Menyesali masa lalu
- Khawatir tentang masa depan
- Membuat narasi tentang diri kita
- Mengevaluasi dan menilai segalanya
Kita hidup di autopilot. Dan ketika hidup di autopilot, kita melewatkan hidup itu sendiri.
Mindfulness ≠ Relaksasi
Banyak orang salah paham tentang mindfulness. Mereka pikir tujuannya adalah merasa tenang atau rileks.
Bukan.
Mindfulness adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya di momen ini, dengan kesadaran penuh—apa pun yang terjadi.
Anda bisa mindful ketika sedih, cemas, atau marah. Mindfulness bukan tentang mengubah perasaan. Ini tentang mengalami hidup secara langsung, bukan melalui filter pikiran.
Latihan Sederhana: Connection dengan Indera
Exercise 5 Indera:
Di mana pun Anda sekarang, berhenti sejenak dan perhatikan:
- 5 hal yang bisa Anda lihat: Warna, bentuk, tekstur
- 4 hal yang bisa Anda sentuh: Lantai di bawah kaki, pakaian di kulit
- 3 hal yang bisa Anda dengar: Suara di sekitar Anda
- 2 hal yang bisa Anda cium: Aroma di udara
- 1 hal yang bisa Anda rasakan: Rasa di mulut
Ini membawa Anda langsung ke present moment.
Makan dengan Sadar
Ambil satu kismis (atau anggur, atau cokelat). Sebelum memakannya:
- Lihat dengan detail—warna, bentuk, tekstur
- Sentuh—bagaimana rasanya di jari Anda?
- Cium—aroma apa yang Anda tangkap?
- Masukkan ke mulut—tapi belum kunyah. Rasakan di lidah
- Kunyah perlahan—perhatikan ledakan rasa
- Telan dengan sadar
Ini adalah bagaimana seharusnya kita mengalami hidup—dengan perhatian penuh.
Manfaat Hidup di Momen Ini
Ketika Anda hadir:
- Kecemasan berkurang (kecemasan adalah tentang masa depan)
- Penyesalan berkurang (penyesalan adalah tentang masa lalu)
- Koneksi meningkat (Anda benar-benar mendengar orang lain)
- Kepuasan meningkat (Anda mengalami hidup, bukan melewatkannya)
Present moment adalah satu-satunya waktu di mana hidup terjadi. Segalanya lainnya hanyalah pikiran.
Bagian 5: The Observing Self—Siapa yang Menonton?
Dua Bagian dari Pikiran
Russ Harris membedakan dua aspek dari pengalaman mental kita:
1. The Thinking Self - Bagian dari pikiran yang terus berpikir, merencanakan, mengingat, mengkhawatirkan, mengevaluasi. Inilah "suara dalam kepala."
2. The Observing Self - Bagian dari pikiran yang menyadari semua itu. Kesadaran yang mengamati pikiran, perasaan, dan sensasi.
Thinking self berubah terus. Observing self tidak pernah berubah.
Menemukan Observing Self
Coba ini:
Perhatikan napas Anda. Siapa yang memperhatikan napas? Itu adalah observing self.
Sekarang perhatikan pikiran yang lewat. Siapa yang memperhatikan pikiran itu? Itu observing self.
Rasakan emosi yang Anda rasakan sekarang. Siapa yang merasakan bahwa Anda merasakan emosi itu? Itu observing self.
Observing self adalah kesadaran murni. Ia selalu hadir. Ia selalu tenang. Ia tidak terluka oleh pikiran atau emosi karena ia hanya mengamati mereka.
Langit dan Cuaca
Russ Harris menggunakan metafora indah:
Thinking self adalah cuaca—berubah-ubah, kadang cerah, kadang badai.
Observing self adalah langit—selalu di sana, tidak pernah berubah, tidak terpengaruh oleh cuaca.
Awan hitam bisa menutupi langit, tapi langit tetap ada di baliknya. Cuaca buruk akan berlalu, tapi langit tetap.
Ketika Anda terhubung dengan observing self, Anda menyadari: "Saya bukan pikiran saya. Saya bukan emosi saya. Saya adalah kesadaran yang mengalami semua itu."
Dan dengan kesadaran ini, Anda punya ruang untuk memilih bagaimana merespons—bukan bereaksi otomatis.
Bagian 6: Values—Apa yang Benar-Benar Penting?
Perbedaan Values dan Goals
Goals (Tujuan): Sesuatu yang bisa dicapai dan diselesaikan. "Dapat promosi." "Menikah." "Beli rumah."
Values (Nilai): Arah yang ingin Anda tuju dalam hidup, yang tidak pernah "selesai." "Menjadi ayah yang penuh perhatian." "Terus belajar." "Berkontribusi pada komunitas."
Anda bisa mencapai goal. Tapi values adalah tentang bagaimana Anda ingin hidup setiap hari.
Mengapa Values Lebih Penting dari Goals
Goals memberikan kepuasan sementara. Anda dapat promosi—senang sebentar, lalu muncul goal berikutnya.
Values memberikan makna berkelanjutan. Ketika Anda hidup sesuai values, setiap hari bermakna—terlepas dari apakah Anda mencapai goal atau tidak.
Contoh:
- Goal: Menurunkan berat 10 kg
- Value: Menghargai dan merawat tubuh
Ketika fokus pada goal, Anda hanya bahagia setelah mencapainya. Ketika fokus pada value, Anda merasakan makna setiap kali makan sehat atau berolahraga—bahkan jika timbangan belum berubah.
Klarifikasi Values Anda
Exercise: Ulang Tahun Ke-80
Bayangkan ini adalah ulang tahun Anda yang ke-80. Semua orang yang Anda cintai ada di sana. Mereka berpidato tentang Anda.
Apa yang Anda ingin mereka katakan?
- Bagaimana Anda sebagai pasangan, orang tua, teman?
- Kontribusi apa yang Anda buat?
- Sifat apa yang mereka hargai dari Anda?
Jawaban Anda mengungkapkan values Anda.
Kategori Values Umum:
- Hubungan: Bagaimana Anda ingin berhubungan dengan orang lain?
- Pekerjaan: Kualitas apa yang ingin Anda bawa ke pekerjaan?
- Pertumbuhan: Bagaimana Anda ingin berkembang sebagai manusia?
- Kesehatan: Bagaimana Anda ingin memperlakukan tubuh Anda?
- Kesenangan: Apa yang membawa kegembiraan dalam hidup?
The Tragedy of Unlived Values
Kebanyakan orang tidak hidup sesuai values mereka. Mengapa?
Karena hidup sesuai values sering berarti keluar dari zona nyaman dan menghadapi rasa takut.
Values "menjadi orang tua yang penuh perhatian" mungkin berarti Anda harus mengurangi jam kerja (takut kehilangan karir).
Values "menjadi otentik" mungkin berarti mengekspresikan pendapat yang tidak populer (takut penolakan).
Values "berkontribusi" mungkin berarti memulai proyek yang mungkin gagal (takut kegagalan).
Tapi inilah kebenaran: Hidup tanpa values adalah hidup tanpa makna.
Anda bisa menghindari rasa takut dan tetap stuck. Atau bisa menghadapi rasa takut dan hidup dengan bermakna.
Bagian 7: Committed Action—Dari Nilai ke Tindakan
Values Tanpa Action = Hanya Wishful Thinking
Anda bisa punya values yang indah, tapi jika tidak diterjemahkan ke tindakan, mereka hanya slogan kosong.
Committed action adalah ketika Anda mengambil tindakan konkret yang selaras dengan values Anda—meskipun itu sulit, meskipun Anda takut, meskipun pikiran Anda mengatakan "jangan."
SMART Goals Based on Values
Untuk setiap value, buat goals yang SMART:
- Specific (Spesifik)
- Measurable (Terukur)
- Achievable (Bisa dicapai)
- Relevant (Relevan dengan value)
- Time-bound (Ada tenggat waktu)
Contoh:
Value: Menjadi teman yang suportif
Goal: Menelepon satu teman lama setiap Minggu untuk 30 menit selama 3 bulan ke depan.
Hadapi Barriers dengan ACT
Ketika Anda berkomitmen pada action, barriers internal pasti muncul:
- Pikiran: "Aku tidak bisa." "Ini terlalu sulit."
- Perasaan: Takut, cemas, ragu
- Dorongan: Menunda, menghindar
Inilah saatnya Anda gunakan semua skills ACT:
- Defusion: "Terima kasih pikiran, untuk memberitahu saya bahwa ini sulit."
- Expansion: Buat ruang untuk rasa takut, biarkan ada
- Connection: Hadir sepenuhnya dalam tindakan
- Observing self: Sadari Anda bukan pikiran atau perasaan Anda
- Values: Ingat mengapa ini penting
Dan kemudian—bertindak meski tidak nyaman.
Kegagalan Adalah Bagian dari Proses
Anda akan gagal. Anda akan melenceng dari values. Anda akan kembali ke kebiasaan lama. Itu normal. Itu manusiawi.
Yang penting bukan kesempurnaan. Yang penting adalah terus kembali ketika Anda melenceng.
Self-compassion di sini krusial. Perlakukan diri Anda seperti Anda memperlakukan teman baik yang sedang kesulitan—dengan kebaikan, bukan kritik keras.
Penutup: Hidup yang Bermakna, Bukan Hanya Bahagia
Di akhir buku, Russ Harris kembali ke pertanyaan fundamental: Apa itu kebahagiaan? Ada dua definisi:
Definisi 1: Perasaan senang, puas, gembira.
Ini fleeting. Datang dan pergi. Tidak bisa dipaksakan.
Definisi 2: Hidup yang kaya, penuh, dan bermakna.
Ini tahan lama. Ini ada di kontrol Anda. Ini bisa dibangun.
ACT fokus pada definisi kedua.
Pelajaran Inti
1. Penderitaan adalah Normal
Pikiran manusia dirancang untuk membuat kita menderita. Kecemasan, keraguan, perbandingan—semua ini normal. Anda tidak rusak.
2. Jangan Lawan, Terimalah
Semakin Anda lawan pikiran dan perasaan tidak nyaman, semakin kuat mereka. Defusion dan expansion mengajarkan Anda untuk membuat ruang, bukan melawan.
3. Hidup di Sini dan Sekarang
Present moment adalah satu-satunya tempat hidup benar-benar terjadi. Berhenti hidup di masa lalu atau masa depan.
4. Anda Bukan Pikiran Anda
Observing self adalah kesadaran yang selalu tenang, selalu hadir, tidak terluka oleh badai pikiran dan emosi.
5. Klarifikasi Values Anda
Tanyakan: Apa yang benar-benar penting bagi saya? Bagaimana saya ingin hidup? Orang seperti apa yang ingin saya jadi?
6. Bertindak Sesuai Values—Meski Takut
Committed action adalah tentang melakukan apa yang penting bagi Anda, meskipun tidak nyaman. Keberanian bukan tidak adanya ketakutan—tapi bertindak meskipun takut.
Pertanyaan Terakhir untuk Anda
Russ Harris meninggalkan kita dengan pertanyaan powerful:
Jika Anda bisa hidup sesuai dengan nilai-nilai terdalam Anda—bahkan jika itu berarti menghadapi ketidaknyamanan, ketakutan, dan ketidakpastian—apakah itu sepadan?
Kebanyakan dari kita akan menjawab: ya.
Karena pada akhirnya, kita tidak ingin hidup yang hanya terasa nyaman. Kita ingin hidup yang bermakna.
Dan hidup yang bermakna tidak datang dari menghindari rasa sakit atau mengejar kebahagiaan.
Hidup yang bermakna datang dari hidup sesuai dengan siapa Anda dan apa yang penting bagi Anda—apa pun yang terjadi.
Seperti yang Russ Harris katakan:
"Pertanyaannya bukan 'Bagaimana saya bisa bahagia?' tetapi 'Bagaimana saya bisa hidup dengan bermakna?'"
Dan jawabannya ada di tangan Anda—setiap hari, setiap momen, setiap pilihan.
Tentang Buku Asli
"The Happiness Trap: How to Stop Struggling and Start Living" pertama kali diterbitkan pada tahun 2007 dan telah menjual lebih dari satu juta eksemplar di seluruh dunia, diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.
Dr. Russ Harris adalah dokter yang beralih menjadi psikoterapis setelah menemukan ACT (Acceptance and Commitment Therapy) mengubah hidupnya sendiri. Setelah bertahun-tahun berjuang dengan kecemasan dan mencari makna, ia menemukan ACT dan mengalami transformasi mendalam.
Ia sekarang adalah salah satu trainer ACT terkemuka di dunia, telah melatih lebih dari 50,000 profesional kesehatan mental di berbagai negara.
ACT sendiri dikembangkan oleh psikolog Amerika Steven Hayes dan rekan-rekannya sejak tahun 1980-an, dengan dasar penelitian ilmiah yang solid. ACT telah terbukti efektif untuk berbagai kondisi—dari depresi dan kecemasan hingga nyeri kronis dan kecanduan.
Untuk pemahaman lengkap dengan latihan-latihan mendalam dan nuansa yang lebih kaya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini penuh dengan exercises praktis yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan, tapi harus dialami langsung.
Sekarang pergilah dan ingat: Tujuannya bukan untuk bahagia sepanjang waktu. Tujuannya adalah untuk hidup dengan bermakna—dan itu selalu dalam jangkauan Anda.
Keluar dari jebakan kebahagiaan. Mulai hidup yang sesungguhnya.