Table of contents
Dari Sapiens ke Deus
Selama ribuan tahun, nenek moyang kita berdoa pada dewa-dewa untuk membebaskan mereka dari tiga musuh terbesar kemanusiaan: kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Mereka memohon pada yang Mahakuasa untuk hujan yang cukup, panen yang berlimpah, kesembuhan dari penyakit, dan perlindungan dari musuh.
Dewa-dewa tidak menjawab doa-doa itu.
Tetapi kita—manusia modern—melakukannya.
Pada awal abad ke-21, untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih banyak orang mati karena makan terlalu banyak daripada terlalu sedikit. Gula kini lebih berbahaya daripada mesiu. Lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada karena pembunuhan, terorisme, dan perang digabungkan. Dan epidemi yang pernah memusnahkan sepertiga populasi Eropa kini bisa dikendalikan dengan antibiotik dan vaksin.
Kita telah menaklukkan musuh-musuh kuno kita. Pertanyaannya sekarang: apa yang akan kita lakukan dengan kemenangan ini?
Yuval Noah Harari, sejarawan dan filsuf dari Hebrew University Jerusalem, memiliki jawaban yang mengguncang: Kita akan mengejar tiga agenda baru yang bahkan lebih ambisius: keabadian, kebahagiaan abadi, dan kekuatan setara tuhan.
Kita tidak lagi ingin hanya bertahan hidup. Kita ingin menjadi tuhan.
Inilah perjalanan dari Homo sapiens (manusia bijak) menuju Homo deus (manusia tuhan). Ini adalah sejarah masa depan kita—masa depan yang sudah dimulai.
Bagian 1: Tiga Musuh Kuno yang Telah Kita Kalahkan
Kelaparan: Dari Mimpi Buruk Menjadi Berita
Selama 10.000 tahun peradaban manusia, kelaparan adalah momok yang menghantui setiap masyarakat. Raja-raja yang perkasa bisa jatuh karena gagal panen. Peradaban besar runtuh karena kekeringan berkepanjangan.
Pada 1877, kekeringan di China membunuh hampir 10 juta orang. Pada 1943, kelaparan di Bengal membunuh 3 juta orang. Bahkan pada 1974, Ethiopia masih mengalami kelaparan massal.
Tapi hari ini? Kelaparan hampir punah.
Ketika terjadi kelaparan sekarang—seperti di Sudan atau Somalia—itu bukan karena kita tidak punya cukup makanan di dunia. Ini karena politik, perang, atau distribusi yang buruk. Secara global, kita menghasilkan cukup makanan untuk memberi makan 10 miliar orang. Masalahnya adalah obesitas, bukan kelaparan.
Wabah: Dari Hukuman Tuhan Menjadi Masalah Teknis
Black Death (wabah pes) pada abad ke-14 membunuh hampir sepertiga populasi Eropa. Orang-orang percaya ini adalah hukuman Tuhan. Mereka berdoa, melakukan prosesi keagamaan, bahkan mencambuk diri mereka sendiri untuk menebus dosa.
Tidak ada yang berhasil. Wabah terus menyebar sampai jutaan mati.
Flu Spanyol 1918 membunuh 50-100 juta orang—lebih banyak dari Perang Dunia I.
Tapi kini? Ketika COVID-19 muncul di 2020, dalam waktu kurang dari setahun, kita sudah mengembangkan vaksin—sesuatu yang dulu memakan waktu puluhan tahun atau bahkan tidak pernah ditemukan.
AIDS, yang dulu vonis mati, kini bisa dikelola sebagai penyakit kronis dengan obat antiretroviral. Kanker, diabetes, penyakit jantung—semua sedang ditaklukkan satu per satu.
Kematian bukan lagi takdir. Kematian adalah masalah teknis yang bisa—dan harus—dipecahkan.
Perang: Dari Keniscayaan Menjadi Pilihan
Sepanjang sejarah, perang dianggap alami. Bangsa-bangsa berperang untuk tanah, sumber daya, kejayaan, atau karena dewa mereka memerintahkan demikian.
Pada abad ke-20 saja, dua perang dunia membunuh lebih dari 100 juta orang. Perang adalah norma.
Tapi sesuatu yang luar biasa terjadi di abad ke-21: perang menjadi pilihan, bukan keniscayaan.
Mengapa? Senjata nuklir.
Paradoksnya, senjata yang bisa memusnahkan umat manusia justru membuat perang skala besar tidak rasional. Tidak ada pemenang dalam perang nuklir. Jadi negara-negara yang memiliki nuklir tidak berperang satu sama lain.
Hari ini, Anda lebih mungkin mati karena kecelakaan mobil atau bunuh diri daripada mati di medan perang. Tentara lebih banyak menghabiskan waktu untuk misi kemanusiaan dan penjagaan perdamaian daripada pertempuran.
Inilah pencapaian terbesar umat manusia: kita telah mengalahkan musuh-musuh kuno kita.
Tapi kesuksesan menciptakan ambisi baru yang lebih besar.
Bagian 2: Tiga Agenda Baru Umat Manusia
Agenda 1: Keabadian
Kematian selalu dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Filsuf mengajarkan kita untuk menerima kematian. Agama menghibur kita dengan janji kehidupan setelah kematian.
Tapi sains modern berpikir berbeda: Kematian adalah masalah teknis.
Anda tidak mati karena Tuhan memanggil Anda. Anda mati karena serangan jantung yang disebabkan oleh plak di arteri. Anda mati karena kanker yang disebabkan oleh mutasi DNA. Anda mati karena infeksi bakteri yang bisa dihentikan dengan antibiotik yang tepat.
Setiap penyebab kematian adalah masalah teknis. Dan setiap masalah teknis memiliki solusi teknis.
Proyek keabadian bukan lagi fantasi. Perusahaan seperti Google sudah menginvestasikan miliaran dolar dalam Calico—perusahaan yang misinya adalah "menyelesaikan masalah kematian".
Kita sudah meningkatkan harapan hidup rata-rata dari 40 tahun (1900) menjadi 70+ tahun (2020). Mengapa berhenti di situ? Mengapa tidak 120? 150? 500?
Tentu, kita mungkin tidak mencapai keabadian sempurna dalam beberapa dekade. Tapi kita sedang dalam perang melawan kematian—dan kita menang perlahan tapi pasti.
Agenda 2: Kebahagiaan Abadi
Setelah Anda tidak perlu khawatir tentang kelaparan dan kematian, apa selanjutnya? Kebahagiaan.
Selama ribuan tahun, kebahagiaan dianggap sebagai hadiah dari para dewa atau hasil dari keberuntungan. Anda bahagia jika Anda beruntung, tidak bahagia jika tidak.
Tapi sains modern mengatakan: Kebahagiaan adalah biokimia.
Ketika Anda bahagia, itu karena otak Anda melepaskan serotonin dan dopamin. Ketika Anda sedih, itu karena kadar neurotransmitter tertentu rendah.
Jika kebahagiaan adalah kimia, maka kebahagiaan bisa di-engineer.
Antidepresan sudah melakukan ini. Jutaan orang di dunia menggunakan Prozac, Zoloft, atau obat serupa untuk mengatur suasana hati mereka. Ini bukan lagi tabu—ini adalah manajemen kesehatan.
Tapi kita bisa lebih jauh. Bayangkan stimulasi otak yang membuat Anda merasa euforia tanpa efek samping. Bayangkan terapi genetik yang membuat Anda cenderung bahagia secara alami.
Hak untuk mengejar kebahagiaan yang dideklarasikan oleh Founding Fathers Amerika sedang berubah menjadi hak untuk kebahagiaan itu sendiri—dan negara atau teknologi diharapkan menyediakannya.
Agenda 3: Kekuatan Setara Tuhan
Setelah kita hidup selamanya dan bahagia sepanjang waktu, apa lagi? Upgrade.
Selama 4 miliar tahun, evolusi membentuk kita melalui seleksi alam. Jerapah dengan leher panjang bertahan hidup; yang lain mati. Itu proses buta, lambat, dan brutal.
Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, kita bisa menggantikan seleksi alam dengan desain cerdas. Bukan desain dari Tuhan, tetapi desain dari engineer manusia.
Tiga jalur upgrade:
1. Bioteknologi - Memodifikasi tubuh kita melalui rekayasa genetik, terapi sel punca, dan manipulasi DNA. Kita bisa menciptakan bayi dengan IQ 200, atlet dengan kekuatan super, atau manusia yang kebal terhadap kanker.
2. Cyborg - Menggabungkan tubuh organik dengan bagian mekanis dan elektronik. Pacemaker dan implan koklea sudah melakukan ini. Tapi bayangkan chip otak yang memberi Anda akses instan ke seluruh pengetahuan manusia, atau mata bionik yang melihat spektrum cahaya yang tidak bisa dilihat manusia biasa.
3. Rekayasa Kehidupan Non-Organik - Menciptakan entitas yang sepenuhnya inorganik tetapi memiliki kesadaran. AI yang tidak hanya cerdas tetapi juga sadar.
Dengan tiga jalur ini, kita tidak hanya mengalahkan kematian atau mencapai kebahagiaan. Kita menjadi spesies yang berbeda sama sekali—Homo deus, manusia tuhan.
Bagian 3: Bagaimana Kita Sampai di Sini: Kekuatan Cerita
Apa yang Membuat Manusia Spesial?
Mengapa Homo sapiens mendominasi planet ini? Bukan karena kita lebih kuat—singa lebih kuat. Bukan karena kita lebih cepat—cheetah lebih cepat. Bahkan bukan karena kita lebih pintar secara individual—simpanse bisa mengalahkan manusia dalam tes memori tertentu.
Kekuatan kita adalah kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah besar berdasarkan cerita bersama.
Lebah bisa bekerja sama, tapi hanya secara instingtif. Simpanse bisa bekerja sama, tapi hanya dalam kelompok kecil hingga 50 individu yang saling kenal.
Manusia? Kita bisa bekerja sama dengan jutaan orang yang tidak pernah kita temui—karena kita semua percaya pada cerita yang sama.
Kekuatan Cerita
Pikirkan tentang uang. Selembar kertas dengan angka tercetak di atasnya tidak punya nilai intrinsik. Tapi karena kita semua percaya pada cerita bahwa itu bernilai, saya bisa menukar kertas itu dengan makanan, rumah, atau bahkan nyawa.
Pikirkan tentang negara. Indonesia, Amerika, China—ini semua adalah fiksi. Anda tidak bisa menyentuh Indonesia. Tidak ada molekul "Indonesia" yang bisa Anda analisis di lab. Tapi karena 270 juta orang percaya pada cerita Indonesia, negara itu menjadi nyata dan memiliki kekuatan.
Pikirkan tentang perusahaan. Apple, Microsoft, Alibaba—ini adalah entitas legal yang hanya ada di imajinasi kolektif kita. Tapi mereka bisa memiliki properti, menggugat orang, dan memiliki kekayaan lebih dari banyak negara.
Realitas intersubjektif ini—realitas yang ada karena banyak orang percaya padanya—adalah dasar dari semua peradaban manusia.
Bagian 4: Humanisme: Agama yang Tidak Terlihat
Humanisme sebagai Agama
Ketika Anda mendengar kata "agama", Anda mungkin berpikir tentang Tuhan, kitab suci, dan ritual. Tapi Harari berpendapat bahwa definisi yang lebih berguna untuk agama adalah: sistem nilai dan norma yang menciptakan tatanan sosial berdasarkan kepercayaan pada realitas supernatural.
Dengan definisi ini, humanisme adalah agama dominan dunia modern—hanya saja kita tidak menyadarinya.
Apa ajaran inti humanisme? Manusia adalah pusat segala sesuatu. Bukan Tuhan. Bukan alam. Tetapi manusia.
Tiga Prinsip Humanisme
1. Manusia adalah sumber makna Dalam agama teistik, makna datang dari Tuhan. Dalam humanisme, makna datang dari dalam diri manusia. "Dengarkan hatimu." "Ikuti impianmu." "Cari dirimu sendiri."
2. Pengalaman subyektif manusia adalah otoritas tertinggi Etika: Dulu, Alkitab mengatakan apa yang benar dan salah. Sekarang, kita bertanya: "Bagaimana perasaanmu tentang itu?"
Politik: Dulu, raja dipilih oleh Tuhan. Sekarang, kita voting—karena yang tahu terbaik adalah individu.
Ekonomi: Dulu, guild dan otoritas mengontrol ekonomi. Sekarang, "Customer is always right"—karena pengalaman subjektif konsumen adalah otoritas.
Estetika: Dulu, Gereja menentukan seni mana yang acceptable. Sekarang, "Beauty is in the eye of the beholder."
3. Kebebasan individu adalah nilai tertinggi Hak asasi manusia, demokrasi liberal, pasar bebas—semuanya didasarkan pada asumsi bahwa manusia harus bebas memilih sendiri.
Tiga Cabang Humanisme
Humanisme bukan monolitik. Ada tiga cabang utama:
1. Humanisme Liberal - Fokus pada kebebasan dan hak individu. Ini adalah humanisme yang dominan di Barat.
2. Humanisme Sosialis - Fokus pada kesetaraan kolektif. Pengalaman kelompok lebih penting dari individu.
3. Humanisme Evolusioner - Fokus pada kemajuan ras manusia. Nietzsche dan Nazi adalah contoh ekstrem dari ini.
Di abad ke-20, ketiga cabang ini berperang. Humanisme liberal menang. Tapi sekarang, humanisme itu sendiri menghadapi ancaman dari teknologi yang diciptakannya.
Bagian 5: Ancaman terhadap Humanisme
Decoupling: Pemisahan Kecerdasan dari Kesadaran
Sepanjang sejarah evolusi, kecerdasan dan kesadaran berjalan bersama. Makhluk yang lebih sadar biasanya lebih cerdas. Tapi teknologi modern sedang memisahkan keduanya.
AI bisa sangat cerdas tanpa memiliki kesadaran sama sekali.
Mobil self-driving Google tidak "merasa" apa-apa ketika mengemudi. Ia tidak menikmati pemandangan atau merasa takut pada kecelakaan. Tapi ia bisa mengemudi lebih baik dari kebanyakan manusia.
AlphaGo mengalahkan juara dunia Go tanpa "memahami" permainan dengan cara manusia memahaminya. Ia hanya menjalankan algoritma.
Pertanyaan krusial: Jika kecerdasan bisa ada tanpa kesadaran, mengapa kita membutuhkan manusia?
Algoritma yang Lebih Tahu Diri Anda Daripada Anda Sendiri
Hari ini, Google tahu lebih banyak tentang Anda daripada pasangan Anda. Facebook tahu preferensi politik Anda sebelum Anda sadar sendiri. Amazon tahu apa yang Anda inginkan sebelum Anda mencarinya.
Ini bukan teoritis. Sudah terjadi.
Bayangkan 20 tahun dari sekarang:
Anda membuat resolusi Tahun Baru untuk diet. Seminggu kemudian, saat waktunya pergi ke gym, bagian experienc
ing-self Anda berkata, "Ah, capek. Cukup nyalakan Netflix dan pesan pizza."
AI assistant Anda—yang memiliki akses ke seluruh riwayat kesehatan, preferensi, dan pola perilaku Anda—tahu bahwa:
- Anda akan menyesal jika tidak pergi ke gym
- Anda akan merasa lebih baik setelah olahraga
- Pizza akan membuat Anda merasa bersalah
AI tahu lebih baik dari Anda apa yang Anda "sebenarnya" inginkan. Haruskah ia mengikuti keinginan instan Anda atau tujuan jangka panjang Anda?
Dan siapa yang memutuskan mana yang "benar-benar" Anda—experiencing self atau remembering self?
Kelas yang Tidak Berguna
Revolusi Industri menciptakan kelas pekerja. Revolusi berikutnya akan menciptakan "useless class"—kelas yang tidak berguna.
AI dan robot akan menggantikan sopir, dokter, pengacara, jurnalis, bahkan programmer. Tidak hanya pekerjaan manual, tetapi juga pekerjaan kognitif.
Apa yang akan dilakukan miliaran orang yang tidak lagi diperlukan secara ekonomi atau militer?
Beberapa orang akan menjadi kelas elite yang di-upgrade—mereka akan menjadi Homo deus. Tapi sisanya? Mungkin akan didukung oleh Universal Basic Income, menghabiskan hari mereka dengan video game dan virtual reality.
Ini bukan dystopia fiksi ilmiah. Ini adalah proyeksi yang masuk akal dari tren saat ini.
Bagian 6: Dua Agama Baru untuk Abad ke-21 Techno-Humanism:
Upgrade Manusia
Techno-humanis setuju bahwa Homo sapiens sudah usang. Tapi solusinya bukan menggantinya dengan AI—solusinya adalah meng-upgrade manusia.
Jika AI akan lebih pintar dari manusia, maka kita harus membuat manusia lebih pintar. Jika robot akan lebih kuat, kita harus membuat manusia lebih kuat.
Melalui rekayasa genetik, nanoteknologi, dan brain-computer interfaces, kita bisa menciptakan Homo deus—manusia yang lebih pintar, lebih kuat, lebih sehat, dan hidup lebih lama.
Tapi ada masalah filosofis: Jika Anda bisa terus meng-upgrade diri Anda, siapa sebenarnya "Anda"? Jika Anda mengubah memori, keinginan, dan kepribadian Anda, apakah Anda masih orang yang sama?
Techno-humanism mengklaim mempertahankan nilai-nilai humanis, tetapi sebenarnya ia merusak fondasi humanisme—yaitu gagasan tentang diri yang stabil dan otentik.
Dataism: Data adalah Tuhan
Agama yang lebih radikal adalah Dataism—kepercayaan bahwa alam semesta adalah aliran data, dan nilai segala sesuatu ditentukan oleh kontribusinya pada pemrosesan data.
Dataisme tidak peduli apakah prosesor itu organik (otak manusia) atau inorganik (komputer). Yang penting adalah efisiensi pemrosesan data.
Prinsip Dataism:
1. Organisme adalah algoritma. Manusia bukan individu dengan jiwa atau kehendak bebas—kita adalah kumpulan algoritma biokimia.
2. Nilai ditentukan oleh kontribusi pada aliran data. Gen yang berkontribusi pada kelangsungan hidup bertahan. Ide yang menyebar lebih luas menang.
3. Kebebasan informasi adalah nilai tertinggi. Apa pun yang menghambat aliran data adalah jahat.
Dataism sudah memengaruhi cara kita berpikir:
- "Open source is good"
- "Transparency is essential"
- "Share everything on social media"
- "Quantify yourself"—lacak setiap aspek hidup Anda dengan data
Dataism sedang menjadi agama baru Silicon Valley. Dan seperti semua agama, ia memiliki visi tentang misi manusia: menghubungkan segalanya ke dalam sistem pemrosesan data yang all-encompassing—the Internet of All Things.
Bagian 7: Pertanyaan Terbuka untuk Masa Depan
Harari mengakhiri buku dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu:
1. Apakah organisme benar-benar hanya algoritma? Jika ya, maka tidak ada perbedaan fundamental antara manusia dan komputer. Tapi jika tidak—jika ada sesuatu yang unik tentang kesadaran manusia—apa itu?
2. Apakah kecerdasan lebih berharga daripada kesadaran? Jika AI non-sadar bisa melakukan segalanya lebih baik dari manusia sadar, mengapa alam semesta membutuhkan kesadaran?
3. Apa yang terjadi pada masyarakat ketika algoritma non-sadar mengenal kita lebih baik dari kita mengenal diri sendiri? Demokrasi didasarkan pada asumsi bahwa "voter knows best." Tapi jika algoritma tahu lebih baik, mengapa kita masih voting?
4. Apa yang akan dilakukan miliaran manusia yang tidak lagi berguna secara ekonomi atau militer? Apakah kita akan bahagia dengan makna yang diciptakan secara artifisial dalam virtual reality? Atau apakah kita akan memberontak?
Penutup: Pilihan-Pilihan yang Harus Kita Buat
Harari tidak mengklaim meramalkan masa depan dengan pasti. Ia mengatakan ada banyak masa depan yang mungkin, dan pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan yang mana yang terjadi.
Pertanyaan untuk Refleksi
Secara pribadi:
- Apakah Anda akan memilih untuk meng-upgrade diri Anda jika teknologi tersedia? Sampai sejauh mana?
- Apakah Anda akan memberikan keputusan penting hidup Anda kepada AI jika ia lebih bijaksana dari Anda?
- Apa yang membuat Anda "Anda"? Apakah itu bisa dipertahankan jika Anda di-upgrade?
Secara sosial:
- Bagaimana kita mencegah pemisahan antara elite yang di-upgrade dan massa yang tertinggal?
- Bagaimana kita memberikan makna pada kehidupan jutaan orang yang tidak lagi diperlukan secara ekonomi?
- Siapa yang harus mengontrol algoritma yang mengontrol hidup kita?
Secara filosofis:
- Apakah kesadaran hanya ilusi? Atau apakah ada sesuatu yang unik tentang pengalaman subjektif?
- Apakah kehendak bebas ada? Atau apakah kita hanya algoritma deterministik?
- Jika kita bisa menciptakan kecerdasan tanpa penderitaan, apakah kita harus melakukannya?
Seruan untuk Bertindak
Harari berakhir dengan peringatan: Teknologi tidak netral. Teknologi membentuk siapa kita. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa:
- Menciptakan kelas super-manusia dan massa yang tertinggal
- Menyerahkan otonomi kita pada algoritma
- Kehilangan makna dan tujuan hidup
- Bahkan kehilangan kesadaran itu sendiri
Tapi kita juga bisa:
- Menggunakan teknologi untuk mengurangi penderitaan
- Memperpanjang hidup yang bermakna
- Memperluas pemahaman kita tentang alam semesta
- Menciptakan masa depan di mana lebih banyak makhluk berkembang
Pilihan ada di tangan kita. Tapi jendela untuk memilih sedang menutup.
Dalam beberapa dekade, keputusan fundamental tentang masa depan umat manusia akan dibuat—oleh perusahaan teknologi, pemerintah, atau mungkin oleh AI itu sendiri.
Pertanyaan terakhir yang Harari tanyakan kepada kita semua:
"Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma non-sadar tetapi sangat cerdas mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri?"
Jawabannya akan menentukan masa depan—bukan hanya untuk umat manusia, tetapi untuk semua kehidupan sadar di alam semesta.
Tentang Buku Asli
Homo Deus: A Brief History of Tomorrow ditulis oleh Yuval Noah Harari dan pertama kali diterbitkan dalam bahasa Ibrani pada 2015, kemudian dalam bahasa Inggris pada 2016.
Yuval Noah Harari adalah profesor sejarah di Hebrew University of Jerusalem. Ia adalah penulis trilogi yang menakjubkan:
1. Sapiens - Sejarah masa lalu manusia
2. Homo Deus - Sejarah masa depan manusia
3. 21 Lessons for the 21st Century - Tantangan yang kita hadapi hari ini
Harari adalah meditator Vipassana yang berdedikasi, bermeditasi dua jam setiap hari dan mengambil retret diam selama 30-60 hari setiap tahun. Pengaruh Buddhisme dan meditasi terlihat jelas dalam cara ia memandang kesadaran, realitas, dan penderitaan.
Buku ini dipuji oleh Barack Obama, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. Ia juga dikritik oleh beberapa akademisi karena terlalu spekulatif dan generalisasi berlebihan.
Terlepas dari kritik, Homo Deus adalah bacaan penting untuk siapa saja yang ingin memahami ke mana teknologi membawa kita dan pertanyaan filosofis mendalam yang kita hadapi.
Ringkasan ini hanya menangkap sebagian kecil dari kedalaman dan kekayaan argumen Harari. Untuk benar-benar menghargai pemikiran ia—dan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan—bacalah buku aslinya.
Masa depan belum ditentukan. Tapi ia sedang dibentuk hari ini—oleh pilihan yang kita buat, teknologi yang kita ciptakan, dan nilai-nilai yang kita pegang.
Apakah Anda siap untuk masa depan di mana manusia menjadi tuhan? Atau masa depan di mana manusia menjadi usang?
Pilihannya—untuk sementara—masih milik kita.