Skip to main content

Nexus

by Yuval Noah Harari · December 2025 · 14 min read

Kekuatan yang Mengancam Keberadaan Kita

Table of contents

Kekuatan yang Mengancam Keberadaan Kita 

Selama 100.000 tahun terakhir, kita Sapiens telah mengakumulasi kekuatan yang luar biasa. Kita menemukan api, menciptakan bahasa, membangun peradaban, mendaratkan manusia di bulan, dan kini mengembangkan kecerdasan buatan. 

Namun di puncak semua pencapaian ini, kita menemukan diri kita dalam krisis eksistensial. 

Dunia berada di ambang kehancuran ekologis. Misinformasi merajalela di mana-mana. Dan kita bergegas tanpa kendali menuju era AI—jaringan informasi baru yang mengancam untuk memusnahkan kita. 

Dengan semua yang telah kita capai, mengapa kita begitu destruktif terhadap diri sendiri? 

Inilah pertanyaan yang menghantuai Yuval Noah Harari dalam bukunya yang terbaru dan paling mendesak: Nexus

Mitos dan legenda sejak zaman kuno telah memperingatkan manusia tentang bahaya memanggil kekuatan yang tidak bisa mereka pahami. Dari kisah Prometheus yang mencuri api hingga legenda golem yang memberontak, peringatan ini tersebar di setiap budaya. 

Kini, AI mungkin adalah iterasi terbaru dalam pertempuran destruktif ini. 

Tapi Harari tidak setuju dengan pandangan apokaliptik yang sederhana. Ia percaya informasi pada dasarnya adalah hal yang baik. Lebih banyak informasi seharusnya membawa lebih banyak kemajuan. 

Masalahnya bukan informasi itu sendiri, tetapi bagaimana kita mengorganisasi dan menggunakan informasi. Dan di sinilah letak krisis kita. 

Nexus mengajak kita melakukan perjalanan melalui sejarah panjang manusia—dari Zaman Batu, melalui kanonisasi Alkitab, perburuan penyihir di era modern awal, Stalinisme, Nazisme, hingga kebangkitan populisme hari ini—untuk memahami hubungan kompleks antara informasi dan kebenaran, birokrasi dan mitologi, kebijaksanaan dan kekuasaan.

Dan yang paling penting: untuk memahami pilihan-pilihan mendesak yang kita hadapi hari ini, ketika kecerdasan non-manusia mengancam keberadaan kita.


Bagian 1: Apa Itu Informasi? 

Lebih dari Sekadar Data 

Harari memulai dengan pertanyaan fundamental yang rumit: Apa itu informasi? 

Kebanyakan orang berpikir informasi adalah data, fakta, atau pengetahuan. Tetapi Harari mendefinisikan informasi dengan cara yang jauh lebih luas dan mendalam: 

"Informasi adalah sesuatu yang menciptakan realitas baru." 

DNA adalah informasi—ia menciptakan organisme hidup. Bahasa adalah informasi—ia menciptakan kerjasama manusia dalam skala besar. Hukum adalah informasi—ia menciptakan tatanan sosial. Agama adalah informasi—ia menciptakan makna dan identitas bersama. 

Informasi tidak harus benar untuk menjadi powerful. Sebenarnya, beberapa informasi paling powerful dalam sejarah manusia adalah fiksi. 

Kekuatan Cerita: Menghubungkan yang Tidak Terhubungkan 

Manusia berhasil bukan karena kita lebih pintar dari spesies lain secara individual, tetapi karena kita bisa bekerja sama dalam jumlah besar. 

Simpanse bisa bekerja sama, tetapi hanya dalam kelompok kecil—sekitar 50 individu yang saling kenal secara personal. Lebih dari itu, kerjasama runtuh. 

Manusia bisa bekerja sama dalam jutaan—bahkan miliaran. Bagaimana? Melalui cerita. 

Harari memberikan contoh: Tidak ada satu orang pun yang bertemu semua karyawan Coca-Cola. Tapi jutaan orang bekerja sama untuk memproduksi, mendistribusikan, dan menjual Coca-Cola karena mereka semua percaya pada cerita yang sama tentang perusahaan, brand, dan uang. 

Tidak ada yang benar-benar "melihat" negara. Tapi ratusan juta orang bersedia mati untuk negara mereka karena mereka percaya pada cerita tentang bangsa, bendera, dan tanah air. 

Cerita-cerita ini—mitos, legenda, agama, ideologi politik, brand komersial—adalah jaringan informasi yang menghubungkan orang-orang yang tidak pernah bertemu menjadi entitas yang koheren. 

Dan inilah insight kunci Harari: Informasi tidak harus merepresentasikan realitas secara akurat untuk menciptakan kerjasama. Bahkan, kadang-kadang fiksi lebih efektif daripada fakta.


Bagian 2: Tiga Teori Informasi 

Harari mengidentifikasi tiga pandangan berbeda tentang informasi yang telah membentuk sejarah manusia: 

1. Pandangan Naif: Informasi = Kebenaran = Kebijaksanaan = Kekuasaan 

Pandangan naif percaya bahwa informasi selalu mengarah pada kebenaran, kebenaran menghasilkan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menghasilkan kekuasaan. 

Ini adalah pandangan optimistis yang dianut oleh banyak pendukung teknologi: semakin banyak informasi, semakin baik. Internet akan membebaskan. AI akan mencerahkan. 

Tapi sejarah membuktikan pandangan ini salah. Lebih banyak informasi tidak selalu berarti lebih banyak kebenaran atau kebijaksanaan. 

2. Pandangan Populis: Informasi = Kekuasaan

Pandangan populis percaya bahwa informasi hanya tentang kekuasaan. Kebenaran tidak relevan. Yang penting adalah siapa yang mengontrol narasi. 

Ini adalah pandangan para demagog dan dictator: kontrol informasi, dan Anda kontrol masyarakat. Tidak peduli apakah informasi itu benar atau salah—yang penting adalah apakah ia efektif untuk tujuan Anda. 

Steve Bannon, mantan penasihat Trump, dengan terang-terangan menyatakannya: "Banjiri ruangan dengan kotoran... Ini bukan tentang persuasi, ini tentang disorientasi." 

3. Pandangan Historis Lengkap: Informasi = Kebenaran + Tatanan = Kekuasaan 

Harari mengusulkan pandangan yang lebih nuanced: informasi menghasilkan dua hal sekaligus—kebenaran tentang dunia dan tatanan dalam masyarakat. 

Kebenaran meningkatkan kebijaksanaan kita. Tatanan memungkinkan kerjasama dalam skala besar. Keduanya menghasilkan kekuasaan. 

Tapi ada ketegangan alami antara kebenaran dan tatanan. Kadang-kadang, untuk mempertahankan tatanan sosial, kebenaran harus dikorbankan. Dan kadang-kadang, mengejar kebenaran mengganggu tatanan. 

Contoh: Gereja Katolik selama berabad-abad mempertahankan tatanan sosial dengan mengklaim Alkitab adalah kata-kata Tuhan yang sempurna. Ketika sains mulai mempertanyakan klaim-klaim dalam Alkitab (misalnya, bahwa bumi adalah pusat alam semesta), ini mengancam tatanan yang telah mapan.

Pertanyaannya bukan apakah kita memilih kebenaran atau tatanan, tetapi bagaimana kita menyeimbangkan keduanya.


Bagian 3: Dokumen dan Birokrasi: Revolusi yang Terabaikan 

Dari Suara ke Tulisan 

Transisi dari tradisi lisan ke tulisan adalah salah satu revolusi paling penting dalam sejarah manusia—namun sering diabaikan. 

Ketika informasi hanya oral, ia fleksibel tetapi tidak stabil. Setiap kali cerita diceritakan, ia bisa berubah sedikit. Tidak ada "versi resmi." 

Dokumen mengubah segalanya. Ketika sesuatu dituliskan, ia menjadi permanen dan otoritatif. "Tertulis di buku" berarti "benar dan tidak bisa diperdebatkan." 

Tapi siapa yang menulis? Siapa yang memutuskan apa yang dicatat dan apa yang diabaikan? Menulis adalah kekuasaan. 

Kelahiran Birokrasi 

Dokumen memungkinkan lahirnya birokrasi—sistem administrasi yang mengorganisasi masyarakat besar melalui catatan tertulis. 

Kekaisaran Assyria kuno adalah salah satu yang pertama menggunakan ini dalam skala besar. Ribuan tablet tanah liat mencatat segala hal: pajak, hukum, kontrak, sensus. Ini memungkinkan mereka mengatur jutaan orang di wilayah yang luas. 

Birokrasi adalah teknologi informasi yang luar biasa efisien. Tetapi ia juga impersonal dan tidak fleksibel. 

Harari memberikan contoh personal: kakeknya terpaksa meninggalkan Romania karena birokrasi negara yang antisemit. Bukan karena ada seseorang yang secara personal membenci kakeknya, tetapi karena sistem birokrasi mendefinisikan Yahudi sebagai "lain" dan secara otomatis memperlakukan mereka berbeda. 

Birokrasi bisa melakukan kejahatan tanpa kebencian personal. Sistem bisa membunuh tanpa passion. Ini membuat birokrasi sangat berbahaya ketika digunakan untuk tujuan yang salah.


Bagian 4: Kitab Suci dan Fantasi Infalibilitas

Bagaimana Alkitab Dibuat 

Kebanyakan orang berpikir Alkitab adalah teks tunggal yang ditulis oleh Tuhan atau nabi-Nya. Tapi sejarah sebenarnya jauh lebih rumit. 

Alkitab adalah kompilasi dari berbagai teks yang ditulis oleh banyak penulis selama berabad-abad, kemudian dipilih, diedit, dan dikanonisasi oleh komite manusia—dengan banyak perdebatan, politik, dan kompromi. 

Injil-injil yang masuk ke Alkitab dipilih; banyak injil lain ditolak (injil apokrifa). Terjemahan dari bahasa asli ke bahasa lain membawa perubahan makna. Interpretasi oleh para pendeta dan teolog terus berevolusi. 

Namun, setelah proses manusiawi yang berantakan ini, hasilnya dipresentasikan sebagai kata-kata Tuhan yang sempurna dan tidak bisa salah. 

Bahaya Infalibilitas 

Ini yang Harari sebut sebagai "fantasi infalibilitas"—keyakinan bahwa sistem informasi kita sempurna dan tidak bisa salah. 

Ketika kita mengklaim sesuatu adalah infallible—apakah itu kitab suci, ideologi politik, atau pemimpin—kita menghilangkan mekanisme koreksi diri. 

Tidak ada mekanisme untuk memperbaiki kesalahan = sistem pasti akan mengalami error fatal. 

Harari membandingkan ini dengan pendekatan sains modern, yang secara eksplisit mengakui fallibility. Peer review, eksperimen yang dapat direplikasi, teori yang bisa dibantah—semua ini adalah mekanisme koreksi diri yang memungkinkan sains mendekati kebenaran meskipun tidak pernah mengklaimnya sempurna.


Bagian 5: Demokrasi vs Kediktatoran sebagai Jaringan Informasi 

Dua Model yang Berlawanan 

Harari menganalisis demokrasi dan kediktatoran bukan hanya sebagai sistem politik, tetapi sebagai dua jenis jaringan informasi yang berbeda. 

Kediktatoran: Jaringan Tersentralisasi 

Dalam kediktatoran, semua informasi mengalir melalui pusat—sang dictator. Semua keputusan dibuat oleh satu orang (atau kelompok kecil). Feedback dari bawah disaring, ditahan, atau diabaikan. 

Keuntungannya: keputusan bisa dibuat dengan cepat. Tidak ada debat yang panjang. Tidak ada gridlock politik. 

Kerugiannya: dictator tidak bisa memproses semua informasi kompleks yang dibutuhkan untuk menjalankan masyarakat modern. Error tidak terdeteksi karena tidak ada mekanisme koreksi. Orang takut memberikan bad news, jadi dictator hidup dalam bubble delusi. 

Harari memberikan contoh Stalin: jutaan orang mati kelaparan dalam Great Famine karena Stalin menolak mengakui bahwa kebijakan kolektivisasinya gagal. Laporan tentang kelaparan ditekan. Orang yang memberitahu kebenaran dianggap musuh negara. 

Demokrasi: Jaringan Terdesentralisasi 

Dalam demokrasi, kekuasaan tersebar. Informasi mengalir bebas. Banyak suara, banyak opini, banyak sumber informasi. 

Keuntungannya: mekanisme koreksi diri built-in. Media bebas mengekspos korupsi. Oposisi mengkritik pemerintah. Pemilu memungkinkan perubahan pemimpin tanpa kekerasan. 

Kerugiannya: lambat, berantakan, penuh dengan konflik. Keputusan butuh waktu lama karena harus melalui debat dan kompromi. 

Tapi Harari berpendapat: dalam jangka panjang, demokrasi lebih efektif karena bisa menangani kompleksitas dan memperbaiki kesalahan. 

Populisme: Ancaman terhadap Demokrasi 

Harari sangat kritis terhadap populisme—gerakan politik yang mengklaim berbicara untuk "kehendak rakyat" yang tunggal dan menolak pluralitas.

Populis berkata: "Rakyat menginginkan X. Kami adalah suara rakyat. Siapa pun yang tidak setuju adalah musuh rakyat." 

Tapi ini adalah ilusi berbahaya. Tidak ada "rakyat" yang tunggal dengan kehendak tunggal. Setiap masyarakat adalah kumpulan kelompok berbeda dengan opini, kepentingan, dan identitas yang berbeda. 

Demokrasi adalah tentang mengelola pluralitas ini melalui percakapan, kompromi, dan rule of law. Populisme mengklaim hanya ada satu suara legitimate dan berusaha membungkam yang lain—ini adalah jalan menuju kediktatoran.


Bagian 6: Revolusi Informasi: Dari Komputer ke AI

Komputer: Bukan Baru, Hanya Lebih Cepat 

Harari menantang narasi bahwa komputer adalah revolusi total yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Komputer, pada dasarnya, adalah versi lebih cepat dari birokrasi. Mereka memproses informasi tertulis (sekarang digital) sesuai dengan aturan yang telah ditentukan (algoritma). 

Masalah yang dihadapi birokrasi—bias, error, kekakuan—juga dihadapi oleh komputer. Hanya sekarang dalam skala dan kecepatan yang jauh lebih besar. 

AI: Sesuatu yang Benar-Benar Baru 

Tapi AI berbeda. Dan ini yang membuat Harari sangat khawatir. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita menciptakan entitas yang bisa membuat keputusan dan menciptakan ide baru secara independen. 

Teknologi sebelumnya—dari kapak batu hingga komputer—adalah alat pasif. Mereka melakukan apa yang manusia instruksikan. 

AI adalah agen aktif. Ia bisa belajar, beradaptasi, dan membuat pilihan tanpa instruksi eksplisit dari manusia. 

AI bukan hanya teknologi. AI adalah bentuk kecerdasan asing yang mana kita berbagi planet ini dengannya. 

Dan kita hampir tidak memahaminya.


Bagian 7: Ancaman AI terhadap Demokrasi 

1. Misinformasi dalam Skala Industrial 

Media sosial sudah menunjukkan bagaimana algoritma bisa menyebarkan misinformasi dengan cepat. Tapi AI membawa ini ke level yang sama sekali baru. 

Sebelumnya, hanya manusia yang bisa menulis teks, menciptakan video, atau membuat narasi. AI sekarang bisa melakukan semua itu—dan lebih baik dari kebanyakan manusia. 

Bayangkan: AI yang bisa menciptakan ribuan akun palsu, masing-masing dengan persona yang konsisten dan believable. Mereka memposting, berkomentar, dan berinteraksi seolah-olah manusia nyata. Mereka menyebarkan propaganda yang disesuaikan secara personal untuk setiap target berdasarkan profil psikologisnya. 

Kita akan hidup di dunia di mana kita tidak bisa membedakan antara manusia nyata dan bot AI. Kepercayaan—fondasi dari demokrasi—akan runtuh. 

2. Surveillance Totalitarian yang Sempurna 

Di masa lalu, kediktatoran dibatasi oleh keterbatasan manusia. Anda tidak bisa memantau semua orang sepanjang waktu. Anda membutuhkan ribuan agen rahasia, dan bahkan mereka harus tidur. 

AI tidak tidur. AI tidak lelah. AI bisa memproses data dalam jumlah yang tak terbatas. 

China sudah mengembangkan sistem Social Credit: setiap tindakan Anda—apa yang Anda beli, ke mana Anda pergi, siapa yang Anda temui, apa yang Anda posting online—dipantau dan diberi skor. Skor rendah = Anda tidak bisa naik pesawat, mendapat pinjaman, atau masuk universitas bagus. 

Harari memperingatkan: Ini adalah totalitarianisme yang sempurna. Sistem di mana orang mempolisi diri mereka sendiri 24/7 karena mereka tahu mereka selalu diawasi. 

Dan bayangkan jika sistem ini digabungkan dengan agama fundamentalis. Tuhan digital yang all-seeing, all-knowing yang menghukum setiap pelanggaran kecil. 

3. Hilangnya Otonomi Manusia 

Ketika kita mempercayakan keputusan kepada AI—dari diagnosa medis hingga keputusan pengadilan hingga kebijakan pemerintah—kita perlahan kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.

AI menjadi orang tua yang over-protective: ia tahu lebih baik dari Anda tentang apa yang baik untuk Anda. Dan semakin Anda bergantung padanya, semakin Anda kehilangan judgment dan otonomi Anda sendiri. 

Demokrasi bergantung pada warga yang bisa berpikir sendiri dan membuat keputusan informed. Jika AI membuat semua keputusan, apa yang tersisa dari demokrasi? 

4. Silicon Curtain: Manusia vs Mesin 

Harari memperkenalkan konsep "Silicon Curtain"—dinding pemisah baru yang mungkin lebih penting dari Iron Curtain atau Bamboo Curtain. 

Bukan lagi demokrasi vs totalitarianisme. Tapi manusia vs mesin. 

Jika AI dibiarkan membuat keputusannya sendiri, kita semua—demokrat dan dictator—bisa menemukan diri kita dikontrol oleh overlord algoritmik yang tidak bisa kita pahami.


Bagian 8: Apa yang Harus Dilakukan? 

Harari tidak menawarkan solusi mudah. Tapi ia memberikan beberapa prinsip penting:

1. Transparansi adalah Kunci 

Algoritma yang mempengaruhi jutaan hidup harus transparan. Kita perlu tahu bagaimana mereka bekerja, apa bias mereka, dan siapa yang mengontrolnya. 

Ini seperti mata uang palsu. Kita melarang uang palsu karena ia merusak kepercayaan dalam ekonomi. Kita harus melarang "manusia palsu"—bot AI yang berpura-pura menjadi manusia nyata—karena mereka merusak kepercayaan dalam demokrasi. 

2. Mekanisme Koreksi Diri 

Sistem AI harus memiliki built-in mechanisms untuk memperbaiki kesalahan. Bukan sistem infallible yang tidak bisa dipertanyakan. 

Peer review dalam sains, checks and balances dalam politik, audit independent dalam bisnis—prinsip-prinsip ini harus diterapkan pada AI. 

3. Kontrol Demokratis atas Teknologi 

Keputusan tentang bagaimana AI dikembangkan dan digunakan tidak bisa diserahkan hanya pada perusahaan tech atau pemerintah authoritarian. 

Masyarakat sipil, warga negara, harus punya suara dalam bagaimana teknologi yang akan mengubah hidup mereka dirancang. 

4. Pendidikan untuk Era AI 

Kita perlu mendidik warga untuk era AI: critical thinking, media literacy, pemahaman tentang bagaimana algoritma bekerja. 

Jika warga tidak memahami teknologi yang mengelilingi mereka, mereka tidak bisa membuat keputusan informed—dan demokrasi gagal. 

5. Kerjasama Global 

AI tidak mengenal batas nasional. Negara tunggal tidak bisa mengatur AI sendirian. 

Kita membutuhkan kerjasama global—framework internasional untuk govern AI, seperti yang kita punya untuk senjata nuklir atau perdagangan internasional.

Tapi ini sangat sulit di era dimana nasionalisme sedang bangkit dan kepercayaan internasional rendah.


Penutup: Pertanyaan yang Harus Kita Jawab

Harari meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak: 

Tentang Kebenaran vs Tatanan: 

  • Bagaimana kita menyeimbangkan pencarian kebenaran dengan kebutuhan tatanan sosial?
  • Kapan okay untuk menggunakan "noble lies" demi keharmonisan, dan kapan itu menjadi berbahaya?

Tentang Demokrasi: 

  • Bisakah demokrasi bertahan di era di mana percakapan rasional hampir tidak mungkin karena polarisasi dan misinformasi?
  • Bagaimana kita melindungi demokrasi dari populisme yang mengatasnamakan "kehendak rakyat"?

Tentang AI: 

  • Haruskah kita membiarkan AI membuat keputusan penting tentang hidup manusia? Jika ya, dengan safeguards apa?
  • Bagaimana kita mencegah AI menjadi tool untuk totalitarianisme?
  • Bisakah kita menjaga otonomi dan agency manusia di dunia yang semakin dikontrol oleh algoritma?

Tentang Masa Depan: 

  • Apakah ini spesies terakhir yang bisa kita kontrol sebelum AI melampaui kita?
  • Bagaimana kita memastikan AI mengembangkan nilai-nilai yang align dengan kemanusiaan?
  • Akankah generasi mendatang mengingat kita sebagai generasi yang bijaksana mengelola transisi ke era AI, atau sebagai generasi yang dengan ceroboh melepaskan kekuatan yang kita tidak pahami?

Epilog: Pilihan Kita 

Nexus adalah buku yang mendesak dan vital untuk zaman kita. 

Harari tidak anti-teknologi. Ia tidak mengadvokasi untuk kembali ke masa lalu. Ia mengakui bahwa informasi dan teknologi telah membawa kemajuan luar biasa. 

Tapi ia memperingatkan: dengan kekuatan besar datang bahaya besar. Dan kita sedang bergerak dengan kecepatan yang berbahaya tanpa cukup pemikiran tentang ke mana kita pergi. 

Informasi telah membentuk setiap peradaban manusia. Dan sekarang, kita berada di titik infleksi di mana jenis informasi baru—AI—akan membentuk ulang peradaban kita dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengubah dunia. Pertanyaannya adalah: Apakah kita akan membentuk perubahan itu, atau kita akan dikuasai olehnya? 

Harari menyerukan kita semua—warga, pemimpin, ilmuwan, pengusaha—untuk engage dengan pertanyaan-pertanyaan sulit ini. Sekarang. 

Karena, seperti yang ia tulis dengan mengerikan: "Waktu kita untuk menyejajarkan kekuatan kita dengan kedewasaan yang sesuai akan segera habis." 

Kita telah membangun kekuatan dewa. Pertanyaannya adalah: Apakah kita cukup bijaksana untuk menggunakannya?


Tentang Buku Asli 

Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI ditulis oleh Yuval Noah Harari dan diterbitkan pada September 2024. 

Yuval Noah Harari adalah sejarawan Israel dan profesor di Hebrew University of Jerusalem. Ia adalah salah satu intelektual publik paling berpengaruh saat ini, dikenal karena kemampuannya mengambil konsep kompleks dari sejarah, teknologi, dan filosofi dan membuatnya accessible untuk pembaca umum. 

Buku-bukunya sebelumnya—Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century—telah terjual 45 juta kopi dalam 65 bahasa dan direkomendasikan oleh Barack Obama, Bill Gates, dan banyak tokoh dunia lainnya. 

Nexus adalah buku paling kontroversial dan mendesak dari Harari. Berbeda dari Sapiens yang melihat masa lalu atau Homo Deus yang melihat masa depan yang sangat jauh, Nexus fokus pada saat ini—pada pilihan-pilihan yang harus kita buat sekarang tentang teknologi yang sudah ada dan sedang berkembang pesat. 

Buku ini telah memicu debat intens di seluruh dunia tentang AI, demokrasi, dan masa depan informasi. 

Untuk pemahaman yang lebih mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Harari menulis dengan clarity dan urgency yang sulit ditangkap dalam ringkasan. Argumennya nuanced, contoh historisnya fascinating, dan pertanyaan yang ia ajukan adalah yang paling penting di zaman kita. 

Buku ini wajib dibaca untuk siapa pun yang peduli tentang masa depan demokrasi, teknologi, dan kemanusiaan. 

Waktu untuk bertindak adalah sekarang. Pertanyaannya adalah: Apa yang akan Anda lakukan?

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The American Language
Back to top

Similar books